Alena Alexandria, sang hacker jenius yang ditakuti dunia bawah tanah, tewas mengenaskan dalam pengejaran maut.
Bukannya menuju keabadian, jiwanya justru terlempar ke dalam tubuh mungil seorang bocah terlantar berusia lima tahun.
Sialnya, yang menemukan Alena adalah Luca, remaja 17 tahun berhati es, putra dari seorang mafia dari klan Frederick.
"Jangan bergerak atau aku akan menembakmu," desis Luca dingin sambil menodongkan senjata ke arah bocah itu.
"Ampun, Om. Maafkan Queen," ucapnya, mendongak dengan mata berkaca-kaca.
"Om?"
Dapatkah Alena bertahan hidup sebagai bocah kesayangan di sarang mafia, ataukah Luca akan menyadari bahwa bocah di pelukannya adalah ancaman terbesar yang pernah masuk ke kediaman Frederick?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 28
"Makanlah, Sayang. Mama sudah membuatkan makan malam kesukaanmu. Lasagna ini masih hangat," ucap Ava dengan nada selembut sutra.
Ia meletakkan nampan di atas meja nakas. Seketika aroma masakan Ava memenuhi kamas.
Luca hanya menggeleng pelan. Ia duduk di tepi ranjang, menatap kosong ke arah jendela yang menampilkan kegelapan malam Milan.
Pikirannya tidak berada di ruangan itu. Pikirannya tertinggal di gerbang mansion Harley, pada siluet daster pink yang kini entah sedang ketakutan atau sedang menangis di bawah kuasa Sean.
"Luca, mau sampai kapan kau bersikap seperti anak kecil begini? Kalau kau sakit bagaimana?" Ava mulai kehilangan kesabaran.
Sejak pulang dari misi penjemputan yang gagal total karena ulah Edgar, Luca berubah menjadi sosok yang murung dan tak tersentuh.
"Aku memang masih kecil di mata kalian, bukan?" Luca menyahut sinis tanpa menoleh. "Jadi, perlakukan saja aku seperti anak kecil yang sedang tidak nafsu makan. Lalu, singkirkan itu, aku tidak akan pernah memakannya!"
"Luca!" Sebuah suara berat terdengar dari ambang pintu. Edgar berdiri di sana, matanya berkilat tajam melihat pembangkangan putranya.
Ava segera berdiri, merentangkan tangannya di depan dada Edgar untuk menahan suaminya yang mulai terpancing amarah.
"Biarkan ini jadi urusanku, Edgar. Keluarlah sebentar."
"Tapi, Honey, dia sudah keterlaluan! Dia membentakmu hanya karena kesalahannya sendiri. Aku tidak terima dia bersikap tidak sopan pada ibunya!" napas Edgar memburu, rahangnya mengeras, siap melancarkan omelan yang lebih keras.
"Tak masalah. Bagaimanapun juga dia putra kita. Sifat keras kepalanya itu, kita berdua tahu dari mana asalnya." Ava mengecup bibir Edgar singkat, sebuah perlakuan menenangkan yang selalu berhasil meluluhkan sang suami.
Ia membisikkan sesuatu yang membuat Edgar akhirnya mengembuskan napas panjang dan berbalik pergi, tak mau lagi berdebat dengan duplikat dirinya yang sedang terluka itu.
Setelah pintu tertutup, Ava kembali duduk di samping Luca. Tanpa kata, ia menarik kepala remaja itu ke dalam pelukannya.
Awalnya Luca menegang, namun perlahan bahunya merosot dan ia menyandarkan wajahnya di bahu sang ibu.
"Jangan marah pada papamu," bisik Ava sambil mengusap rambut Luca. "Dia melakukan ini bukan tanpa alasan. Dia menyayangimu dengan caranya yang kaku. Dia tidak ingin melihatmu pulang dalam peti mati hanya karena kau nekat menerjang ranjau Sean semalam."
"Jika tidak mau membantuku, setidaknya jangan hentikan aku, Ma," ucap Luca dari balik pelukan. "Setiap detik aku di sini, Queen ada dalam bahaya. Sean itu monster."
Ava melepaskan pelukannya sedikit, menatap mata biru putranya yang kini tampak meredup.
"Apa kau sudah menemukan jawabannya? Pertanyaan yang papa ajukan semalam. Apa pentingnya Queen dalam hidupmu? Kenapa kau sampai mengabaikan nyawamu sendiri demi dia?"
Seketika, bayangan Queen melintas di benak Luca. Queen yang ketus dan bermata dingin saat pertama kali mereka bertemu, Queen yang tiba-tiba manja dan merengek minta ayam goreng, Queen yang menggemaskan saat pipinya menggembung marah karena dilarang mandi sendiri dan Queen yang dengan tenang mengeluarkan peluru dari lengannya.
"Dia milikku," jawab Luca dengan tegas dan penuh keyakinan.
"Hanya itu? Tidak ada yang lain? Hanya sebatas kepemilikan?" tanya Ava memancing.
"Maksud Mama?" Luca mengernyit bingung.
Ava mendekat, menyampirkan helaian rambut Luca yang jatuh di dahi lalu membisikkan sesuatu yang membuat jantung Luca seolah
berhenti berdetak sesaat.
"Kau harus menjemputnya dan menjaganya dengan baik jika kau berpikir bahwa suatu hari nanti, dialah yang akan menjadi jodohmu dan calon istrimu. Lindungi dia bukan sebagai pengawal, tapi sebagai pria yang menjaga masa depannya."
Luca membelalak. Ia menjauhkan kepalanya. Wajahnya memerah padam dalam sekejap.
"I–itu jelas tidak mungkin, Ma! Dia masih bocah! Dia lima tahun, aku tujuh belas! Mama bicara apa, sih?!"
Ava terkekeh. "Usia hanyalah angka di dunia kita, Luca. Sepuluh atau lima belas tahun dari sekarang, dia akan menjadi wanita paling genius dan mempesona yang pernah kau temui. Kau bisa menunggunya sampai dia dewasa, bukan? Frederick adalah klan yang penyabar jika itu soal mendapatkan apa yang mereka inginkan."
Ava berdiri, menepuk pundak Luca dengan lembut sebelum beranjak menuju pintu.
"Mama akan bicara pada Papa supaya dia meminjamkan pasukan elitnya untuk membantumu menjemput Queen. Tapi dengan satu syarat, makan malammu harus habis dan kau harus mulai berpikir tentang apa yang Mama katakan tadi. Jangan jemput dia sebagai aset, jemput dia sebagai ratumu."
Setelah Ava keluar, Luca terdiam membisu. Ia menatap piring lasagna di atas meja, namun pikirannya melayang jauh.
Jodoh? Calon istri?
"Sial," umpat Luca pelan sambil menutup wajahnya dengan satu tangan. "Mama benar-benar sudah gila."
Namun, entah kenapa, bayangan Queen yang sudah dewasa, dengan kecerdasan yang sama dan mata yang tetap berani, membuat jantungnya berdegup dengan irama yang berbeda.
Luca meraih garpunya, mulai menyantap makan malamnya dengan rakus. Ia butuh tenaga.
ternyata Sean juga manusia biasa😌