Shen Yu, seorang pemuda yang memikul takdir terlarang sebagai pewaris Raja Iblis Purba (Tangan Asura, Mata Iblis, dan Jantung Ketiadaan), memimpin sekelompok jenius buangan untuk melawan takdir mereka: Ye Qing sang Dewa Pedang Bintang, Su Ling pemilik Mata Iblis Surgawi, Feng Jiu sang Ratu Phoenix, dan Long Tu sang Jenderal Setengah Naga.
Setelah menghancurkan ambisi Sekte Mayat dan menolak menjadi wadah pengorbanan bagi Istana Langit Utara, Shen Yu melakukan langkah gila: ia meledakkan Jantung Iblis untuk merobek dinding realitas, membawa timnya melarikan diri ke dalam celah dimensi yang mematikan.
Tiga tahun berlalu dalam kehampaan. Kini, mereka muncul kembali di Benua Roh Abadi, sebuah dunia tingkat tinggi yang jauh lebih buas dan kuno. Dengan kekuatan yang telah berevolusi mencapai ranah Nascent Soul, Shen Yu tidak lagi berniat lari.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CHAPTER 11
Kaki Gunung Puncak Asura - Gerbang Batu.
Tiga ratus murid Sekte Serigala Besi berdiri dalam formasi tempur. Mereka menunggangi Serigala Angin setinggi sapi, memegang tombak dan pedang yang berkilauan.
Di depan mereka, Patriark Serigala Besi seorang pria kekar bermata satu dengan ranah Jiwa Baru Lahir Awal (Nascent Soul Awal) duduk di atas tandu yang dipikul oleh empat murid kekar.
"Mana 'Patriark Asura' itu?!" teriak wakil patriark. "Keluar dan serahkan Harta Karun gunung ini! Jika tidak, kami akan membantai setiap makhluk hidup di sini, bahkan tikus tanah sekalipun!"
Hening.
Hanya suara angin yang berhembus melewati celah bebatuan.
Lalu, dari kabut ungu yang menyelimuti jalan setapak menuju puncak, sesosok bayangan berjalan turun perlahan.
Bukan Shen Yu. Bukan Ye Qing.
Itu adalah seorang pemuda bertelanjang dada, hanya mengenakan celana kain kasar yang penuh lumpur. Tubuhnya pucat seperti mayat, dengan garis-garis hitam samar di bawah kulitnya. Dia menyeret sebuah pedang hitam besar yang terlihat terlalu berat untuk tubuhnya.
Cang Wu.
Dia berhenti sepuluh tombak di depan pasukan musuh. Matanya kosong, tanpa emosi, seperti mata ikan mati.
"Hah?" Wakil Patriark Serigala Besi melongo. "Siapa pengemis ini? Mana gurumu?"
Cang Wu tidak menjawab. Di dalam kepalanya, hanya ada satu perintah yang bergema dari transmisi suara Shen Yu:
"Bunuh. Makan. Tumbuh."
"Bocah bisu!" Wakil Patriark mendengus. "Pasukan Depan! Cincang dia dan gantung kepalanya di gerbang sebagai peringatan!"
Sepuluh murid elit (ranah Pembentukan Pondasi Menengah) melompat turun dari serigala mereka. Pedang mereka bersinar dengan Qi Logam.
"Mati kau, Sampah!"
Sepuluh pedang ditebaskan serentak ke arah tubuh Cang Wu ke leher, jantung, dan perut.
TRANG! TING! KLANG!
Suara yang terdengar bukan suara daging yang terpotong. Melainkan suara logam menghantam logam.
Para murid itu terbelalak. Pedang mereka... memantul? Bahkan ada yang retak?
Kulit pucat Cang Wu tidak tergores sedikit pun. Di bawah kulit itu, Tulang Iblis Sembilan Hantu memancarkan aura pertahanan mutlak terhadap serangan fisik tingkat rendah.
Cang Wu memiringkan kepalanya. Dia menjatuhkan pedang besarnya. Dia tidak butuh pedang.
Dia menerjang maju.
Bukan dengan jurus bela diri. Dia menerjang seperti binatang buas yang kelaparan.
Dia menabrak murid terdepan, menjatuhkannya ke tanah.
"Le-Lepaskan!" teriak murid itu panik, memukul kepala Cang Wu dengan gagang pedang.
Cang Wu tidak peduli. Dia membuka mulutnya dan menggigit leher murid itu.
KRAK. SREET.
Darah muncrat. Cang Wu merobek tenggorokan musuhnya dengan gigi. Dia menelan potongan daging itu mentah-mentah.
"IBLIS!!" teriak murid-murid lain ketakutan.
Cang Wu bangkit, mulutnya berlumuran darah segar. Matanya yang tadi kosong kini menyala merah. Rasa darah membangkitkan kegilaan yang ditanamkan Shen Yu.
Dia melompat ke murid kedua. Tangan kosongnya menusuk dada murid itu. Jari-jarinya yang diperkuat Tulang Iblis menembus zirah kulit dan tulang rusuk seperti menusuk tahu.
Dia menarik keluar jantung yang masih berdetak, lalu meremasnya hancur.
"Monster... Dia monster!!"
Formasi garis depan kacau balau. Mereka adalah kultivator yang terbiasa bertarung dengan teknik indah dan jarak jauh. Mereka belum pernah menghadapi kebrutalan primal seperti ini.
Cang Wu mengamuk. Dia mematahkan lengan, merobek wajah, dan meminum darah musuh-musuhnya. Setiap tetes darah yang dia telan diserap oleh tulang-tulangnya, membuat kulitnya semakin keras dan gerakannya semakin cepat.
Dalam waktu sebatang dupa, sepuluh murid elit itu sudah menjadi tumpukan daging tak berbentuk.
Cang Wu berdiri di atas mayat mereka, meraung ke arah sisa pasukan.
"GRAAAAAAGH!!"
Raungan itu bukan suara manusia. Itu suara hantu lapar.
Tiga ratus pasukan Sekte Serigala Besi mundur selangkah secara insting. Serigala tunggangan mereka merengek ketakutan, mencium bau predator yang jauh lebih tinggi dalam rantai makanan.
Di Atas Tandu Patriark.
Wajah Patriark Serigala Besi merah padam karena marah dan malu. Pasukan elitnya dibantai oleh satu bocah tanpa Qi?!
"Sampah tidak berguna!" teriak Patriark. "Itu pasti Mayat Hidup yang dikendalikan! Minggir!"
Patriark itu berdiri. Tekanan Jiwa Baru Lahir Awal meledak.
"Bocah Iblis, berani kau mempermalukan sektemu? Mati!"
Patriark mengulurkan tangan raksasa yang terbuat dari Qi, berniat meremukkan Cang Wu menjadi debu.
Cang Wu tidak lari. Dia mendongak, menatap tangan raksasa itu. Instingnya menyuruhnya lari, tapi perintah Gurunya mutlak. Dia menggeram, siap menerima kematian.
Namun, tangan raksasa itu tidak pernah sampai.
Dari puncak gunung, seberkas sinar pedang perak melesat turun. Cepat. Sangat cepat.
SWUSH!
Tangan Qi raksasa itu terpotong rapi di pergelangan tangan, lalu buyar menjadi angin.
"Siapa yang mengizinkan orang tua ikut campur dalam ujian anak-anak?"
Suara itu tenang, namun bergema di seluruh lembah.
Di atas sebuah pohon pinus di sisi tebing, berdiri Shen Yu dengan tangan di belakang punggung. Di sebelahnya, Ye Qing sedang menyarungkan pedangnya kembali.
Patriark Serigala Besi mendongak. Wajahnya pucat pasi saat merasakan aura Shen Yu.
"Jiwa Baru Lahir... Puncak?!"
Kaki Patriark itu lemas. Informasi intelijennya salah! Rumor mengatakan pendiri sekte baru ini hanyalah kultivator liar yang beruntung. Tidak ada yang bilang dia adalah Monster Puncak!
"Senior... Senior ampun!" Patriark itu langsung menjatuhkan diri dari tandu, berlutut di tanah. "Junior mata buta! Junior tidak tahu Gunung Tai ada di sini! Mohon ampuni nyawa anjing ini!"
Seluruh pasukannya ikut berlutut, gemetar ketakutan.
Shen Yu melayang turun, mendarat di samping Cang Wu yang masih berlumuran darah.
Shen Yu menepuk kepala Cang Wu yang kotor. Cang Wu seketika tenang, aura membunuhnya surut, kembali menjadi murid yang patuh.
"Kau lulus," kata Shen Yu pada Cang Wu.
Lalu Shen Yu menatap Patriark yang bersujud.
"Kau datang ke rumahku, membawa senjata, mengancam akan meratakannya... dan sekarang kau minta ampun?"
"Dunia ini tidak seindah itu, Patriark Serigala."
Shen Yu mengangkat tangan kanannya. Qi hitam berkumpul.
"Tolong! Kami akan menjadi bawahan! Kami akan menjadi anjing penjaga Sekte Asura! Tolong jangan bunuh kami!" jerit Patriark itu putus asa.
Shen Yu berhenti sejenak.
"Anjing penjaga?"
Dia melihat pasukannya yang masih ada sekitar 200 orang. Membangun sekte butuh tenaga kasar. Butuh orang untuk menambang, membangun tembok, dan menjadi umpan meriam.
"Baiklah," kata Shen Yu. "Kalian boleh hidup."
Patriark itu menghela napas lega. "Terima kas—"
"Tapi," potong Shen Yu.
"Aku tidak butuh pemimpin yang lemah dan tidak setia."
Shen Yu menjentikkan jarinya.
BAM!
Kepala Patriark Serigala Besi meledak. Tanpa peringatan.
Darahnya menciprat ke wajah wakil patriark di sebelahnya.
Shen Yu menatap sisa pasukan yang kini membeku dalam teror mutlak.
"Mulai hari ini, Sekte Serigala Besi bubar. Kalian semua adalah Budak Perang dari Sekte Iblis Asura."
"Siapa yang keberatan, silakan temani mayat ini."
Hening.
Lalu, serentak, dua ratus orang itu bersujud sampai dahi mereka menyentuh tanah.
"KAMI BERSEDIA MELAYANI PATRIARK ASURA!"
Shen Yu berbalik, jubah hitamnya berkibar.
"Cang Wu, bersihkan dirimu. Ye Qing, atur budak-budak baru ini. Suruh mereka membangun gerbang sekte yang layak dalam tiga hari."
Shen Yu berjalan kembali ke puncak gunung. Langkah pertama penaklukan telah selesai. Darah telah tumpah, dan nama Sekte Asura kini tertulis dengan tinta merah di peta Wilayah Selatan.
10 bab sehari kek pelit bener