Andini (23) menganggap pernikahannya dengan Hilman (43) adalah sebuah penghinaan. Baginya, Hilman hanyalah "pelayan gratis" yang membiayainya bergaya hidup mewah. Selama tujuh tahun, Andini buta akan pengorbanan Hilman yang bekerja serabutan demi masa depan ia dan anak nya. Namun, saat kecelakaan merenggut nyawa Hilman, Andini baru menyadari bahwa kemewahan yang ia pamerkan berasal dari keringat pria yang selalu ia hina. Sebuah peninggalan suaminya dan surat cinta terakhir menjadi pukulan telak yang membuat Andini harus hidup dalam bayang-bayang penyesalan seumur hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gibrant Store, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Luka di Jemari
Sore itu, langit di atas kawasan industri tampak mendung, seolah-olah awan ikut berduka menyaksikan derita yang tak kunjung usai. Hilman pulang dengan langkah yang lebih lambat dari biasanya. Bahunya merosot, dan tangan kanannya dibalut dengan sepotong kain perca yang sudah basah oleh rembesan darah.
Di pabrik tadi, saat ia mencoba memaksakan diri mengangkat mesin pres yang macet—pekerjaan yang seharusnya dilakukan oleh tiga orang namun ia kerjakan sendiri demi upah lembur tambahan—sebuah plat besi tajam jatuh dan menghantam jari-jarinya. Luka itu cukup dalam, menyayat hingga hampir mengenai tulang. Namun, karena ia tak ingin kehilangan jam kerjanya, Hilman hanya membasuhnya dengan air keran, membungkusnya dengan kain seadanya, dan lanjut bekerja hingga bel pulang berbunyi.
Sesampainya di teras rumah, Hilman berhenti sejenak untuk mengatur napas. Rasa nyut-nyutan di jarinya mulai menjalar ke seluruh lengan, membuat kepalanya terasa berdenyut. Ia berharap, setidaknya kali ini, Andini akan melihatnya bukan sebagai mesin uang yang rusak, melainkan sebagai suami yang sedang kesakitan.
Ceklek.
Pintu terbuka. Andini keluar dengan pakaian rapi, aroma parfum mewahnya langsung menyerbak, beradu dengan bau anyir darah dan keringat dari tubuh Hilman.
"Mas, baru pulang?" tanya Andini tanpa melihat wajah suaminya. Ia sibuk memakai anting-anting perak (pemberian Reno yang sebenarnya hanya imitasi) di depan cermin kecil teras. "Bagus deh. Cepat mandi, lalu antarkan aku ke butik di depan mall. Reno janji mau membelikan aku dress baru untuk acara makan malam nanti."
Hilman mengangkat tangan kanannya yang dibalut kain kotor. "Dek... jari Mas luka. Tadi kena plat besi di pabrik. Rasanya nyeri sekali, Mas nggak sanggup kalau harus menyetir motor sekarang."
Andini menghentikan aktivitasnya. Ia melirik ke arah tangan Hilman dengan tatapan jijik. "Luka lagi? Mas, kamu itu kenapa sih ceroboh terus? Kemarin pingsan, sekarang jari luka. Kamu sengaja ya supaya nggak perlu antar aku?"
"Mas nggak sengaja, Andini. Ini beneran luka dalam. Tolong... bisa ambilkan kotak obat? Tolong bantu Mas bersihkan lukanya, Mas susah kalau pakai tangan kiri sendiri," pinta Hilman dengan suara yang sangat rendah, hampir memohon.
Andini mendengus keras. Ia melipat tangannya di dada, matanya menatap tajam ke arah kain berdarah itu. "Duh, Mas! Aku sudah dandan rapi begini, tangan aku sudah bersih pakai kuteks mahal. Kamu mau aku pegang-pegang tanganmu yang penuh oli dan darah itu? Nanti kalau bajuku kena noda darah, kamu sanggup bayar laundry-nya? Enggak, kan?"
"Andini, ini cuma sebentar. Lukanya perih sekali..."
"Obati saja sendiri!" bentak Andini. "Laki-laki kok manja sekali sih. Cuma luka jari saja kayak mau mati. Lihat tuh tukang bangunan di depan, tangan mereka kasar dan sering luka tapi nggak pernah merengek sama istrinya. Mas itu harusnya malu! Sudah miskin, penyakitan, manja pula!"
Andini kemudian meraih tasnya dan melangkah turun dari teras, melewati Hilman seolah pria itu hanya sebongkah batu yang menghalangi jalan. "Aku berangkat naik ojek online saja kalau kamu nggak mau antar. Dan ingat, bersihkan sendiri darahmu itu, jangan sampai menetes ke lantai ruang tamu. Aku baru saja menyuruh Syifa mengepelnya!"
Hilman berdiri mematung. Ia menatap punggung istrinya yang menjauh, lalu menatap jarinya yang mulai kembali meneteskan darah ke atas semen. Rasa sakit di jarinya mendadak hilang, digantikan oleh rasa kebas yang menjalar di hatinya. Ternyata, bagi Andini, selembar baju dan kebersihan tangannya jauh lebih berharga daripada luka fisik suaminya.
Dengan langkah gontai, Hilman masuk ke rumah. Ia duduk di lantai dapur yang dingin. Syifa keluar dari kamar, matanya langsung tertuju pada tangan ayahnya.
"Ayah... darah!" Syifa berlari kecil, wajahnya pucat karena takut.
"Nggak apa-apa, Nak. Cuma luka kecil," bohong Hilman sambil mencoba menyembunyikan tangannya.
Namun Syifa tidak diam saja. Tanpa disuruh, ia mengambil kotak obat plastik yang disimpan di atas lemari es. Gadis kecil itu duduk di depan ayahnya, membuka botol alkohol dengan tangan kecilnya yang gemetar.
"Biar Syifa yang obati, Yah. Mama... Mama mungkin lupa kalau Ayah sakit," bisik Syifa.
Air mata Hilman akhirnya jatuh juga saat melihat tangan kecil putrinya dengan telaten menuangkan obat merah ke lukanya. Setiap kali Syifa meniup-niup luka itu agar tidak perih, Hilman merasa hatinya seolah disayat sembilu. Putrinya yang masih kecil memiliki empati yang jauh lebih besar daripada wanita yang ia nikahi selama tujuh tahun.
"Makasih ya, Syifa. Ayah nggak apa-apa kok," ucap Hilman sambil mengusap air matanya.
Malam itu, Andini tidak pulang hingga larut. Hilman duduk di teras, jarinya yang sudah diperban seadanya oleh Syifa masih terasa berdenyut kencang. Ia mencoba memejamkan mata, namun suara Reno di telepon tempo hari kembali terngiang. Ia tahu, Andini sedang bersama pria itu sekarang. Ia tahu, di saat ia menahan sakit di rumah, istrinya sedang tertawa di atas penderitaannya.
Ia merogoh saku jaketnya, mengeluarkan buku tabungan rahasia itu. Ia menatap angka di sana. Rp999.000.000.
Hanya kurang satu juta lagi. Hanya satu juta lagi.
Rencana Hilman awalnya adalah bekerja lembur di pelabuhan malam ini untuk menggenapkan angka itu menjadi satu miliar. Namun dengan kondisi jari yang terluka parah, mustahil baginya untuk memanggul peti kayu.
Tiba-tiba, ponsel Hilman berbunyi. Sebuah pesan masuk dari Andini.
"Mas, aku butuh uang dua juta sekarang. Reno mengajakku ke lounge mewah dan aku malu kalau cuma pesan minuman murah. Kirim sekarang ke rekeningku, atau jangan harap aku pulang malam ini!"
Hilman menatap pesan itu dengan tatapan kosong. Dua juta. Uang yang seharusnya ia gunakan untuk menggenapkan masa depan istrinya sendiri, kini diminta untuk membiayai pengkhianatan istrinya bersama pria lain.
Hilman menarik napas panjang, yang segera diikuti oleh rasa sesak di paru-parunya. Ia terbatuk, dan sapu tangannya kembali merah. Ia menatap jarinya yang terluka, lalu menatap foto pernikahan mereka yang ada di dinding ruang tamu.
Jika uang ini bisa membuatnya pulang malam ini, maka biarlah, pikir Hilman dalam keputusasaan yang paling dalam.
Hilman bangkit, berjalan kaki menuju ATM di ujung jalan karena ia tak sanggup menyetir motor. Dengan tangan yang dibalut perban berdarah, ia menekan tombol-tombol di mesin ATM. Ia mentransfer dua juta rupiah ke rekening Andini.
Saldo di buku tabungannya yang tadinya hampir satu miliar, kini berkurang. Harapannya untuk melihat angka satu miliar hari ini pun pupus. Ia harus bekerja satu atau dua hari lagi untuk mengembalikannya.
Tak lama setelah uang terkirim, Andini membalas: "Nah, begitu dong. Jadi suami harus berguna. Aku pulang telat, nggak usah ditunggu."
Hilman tersenyum getir di bawah lampu jalan yang remang. Ia berjalan pulang dengan tubuh yang terasa semakin ringan, seolah nyawanya perlahan menguap ke udara. Ia tidak marah pada Andini yang tidak mau mengobati jarinya. Ia tidak marah pada Andini yang memerasnya di saat ia terluka. Ia hanya merasa sedih karena ia menyadari satu hal:
Andini tidak pernah mencintainya. Dan mungkin, ia memang sedang mempersiapkan segalanya untuk seorang wanita yang bahkan tidak akan sudi meneteskan air mata di makamnya nanti.
Sesampainya di rumah, Hilman kembali duduk di lantai dapur. Ia melihat sisa obat merah yang dipakai Syifa tadi. Ia menatap jarinya yang lukanya mulai terbuka lagi karena tekanan saat berjalan tadi. Ia membiarkannya. Ia merasa luka di jarinya tidak ada apa-apanya dibanding luka di dadanya yang kini mulai terasa menjalar ke seluruh sarafnya.
"Satu juta lagi, Tuhan... hanya satu juta lagi," bisik Hilman sebelum ia kembali terbatuk hebat dan jatuh pingsan di atas lantai dapur yang dingin, tepat di bawah jemuran baju-baju cantik Andini yang baru saja ia setrika sore tadi.
Andini, di sisi lain kota, sedang mengangkat gelas wine-nya. "Cheers, Reno! Suamiku baru saja kirim uang. Dia memang bodoh, tapi setidaknya dia ATM yang setia."
Reno tertawa, sementara di rumah sunyi itu, Syifa terbangun karena mendengar suara ayahnya terjatuh. Gadis kecil itu menangis histeris mencoba membangunkan ayahnya, sementara ibunya sedang merayakan "kemenangannya" bersama pria lain