Nigista, seorang gadis cantik yang terlahir dengan kelebihan yang tak biasa, harus berjuang untuk bertahan hidup di tengah caci maki orang-orang sekitarnya. Dia hanya ingin hidup normal, seperti manusia lainnya, tapi takdir sepertinya tak berpihak padanya.
Nigista Kanaya Putri, nama yang indah, tapi ironisnya, di rumahnya dia lebih sering dipanggil "Si pembawa Sial" oleh ibunya sendiri. Setiap musibah yang menimpa keluarga selalu saja dia yang disalahkan.
Tapi, Nigista memiliki kemampuan unik - dia bisa mendengar bisikan-bisikan dari orang-orang yang butuh pertolongan, sebuah kelebihan yang membuatnya sering merasa terjebak. Di sekolah, dia menjadi target bully-an teman-temannya karena sering menjerit-jerit ketika bisikan itu datang, membuatnya dicap sebagai "gadis aneh"
Yok ikuti kisah Nigista
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kak Nya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Nigista Dan Dunianya
"Makasih Raden, udah mau anter gue." ucap Adara, senyuman terbit di bilah bibirnya.
Raden menganggukan kepalanya dengan netral berkelana.
'Gista udah pulang belum ya?'
"Gue langsung balik ya dar,"
"Gak mau masuk dulu buat ketemu mama? Kemaren dua janji loh mau makan masakan mamaku."
"Lain kali aja ya, gue buru-buru mau jemput mama di rumah sakit."
Adara mengangguk, ia melambaikan tangannya pada Raden yang sudah meninggalkan halaman rumahnya. Setelah kepergian Raden, Adara masuk ke dalam rumahnya langsung menuju kamarnya namun langkahnya terhenti saat mendengar suara tangisan seseorang.
"Mama buka pintunya.."
Brak!
"Gista!" Adara membuka pintu gudang dengan kasar, matanya melebar saat melihat tubuh saudari kembarnya yang berantakan
"A-adara sakitt.." ucap Gista sebelum matanya tertutup sepenuhnya
"Gista!" Adara menggoyang-goyangkan tubuh Gista berharap saudarinya itu sadar. "TOLONG!" Adara berteriak histeris
"Adara kenapa?"
Mata Adara melebar saat melihat adanya Raden. "Raden? Kenapa lo ada disini?"
"Gak penting itu, Gista kenapa dar??"
"Gue gak tau, bantu gue den bawa Gista ke kamar."
Raden mengakat Gista dengan hati-hati membaringkannya di atas kasur, memastikan dia nyaman. Gista yang masih tidak sadarkan diri, matanya masih tertutup rapat.
"Dar, kayaknya Gista demam deh." ucap Raden saat merasakan panas di tubuh Gista
"Demam?'
Raden mengangguk. "Iya, badan Gista panas banget, apa gak sebaiknya Gista bawa ke rumah sakit aja?"
"Iya den gue maunya gitu juga tapi tunggu mama pulang."
"Kompres aja dulu supaya panasnya turun,"
Adara menurut, gadis itu pergi mengambil baskom serta handuk kecil sebagai kompresnya.
"Maaf ma, Gista minta maaf." Gista tak henti-hentinya meracau meminta ampun pada mamanya
"Tolong!"
"Tolong buka pintunya mama, Gista gak akan gak bohong."
Raden tertegun, ia berpikir keras apa yang terjadi pada Gista yang sebenarnya.
Pint..
Bunyi klakson mobil Arabella terdengar nyaring tandanya wanita itu telah pulang dari kantornya.
"Mama." Adara yang mendengar suara mobil mamanya membuat Adara bergegas pergi meninggalkan kamar Gista
Kini tinggalah Gista dan Raden di kamar tersebut dengan Gista yang masih belum juga siuman, Raden memandang wajah Gista yang terlihat sangat pucat.
"Sebenarnya apa yang terjadi sama lo sta? Kenapa lo sampe kek gini." gungam Raden, tangannya bergerak mengusap kepala Gista
"Gista?" panggil Raden saat melihat tubuh Gista bergerak-gerak
"Ampun ma, Gista takut." Gista kembali mengigau, kepalanya terus menggeleng dengan mata masih terpejam
"Gista, bangun sta.." Raden menepuk pelan wajah Gista
Mata Gista terbangun lebar, ia langsung memeluk Raden hal itu tentunya membuat Raden terkejut.
"Sakit den, saat gue menginginkan untuk bahagia, tiba-tiba semesta memberikan cambukan, gue ..." Gista menggantung ucapannya membuat kening Raden mengerut. "G-gue gak tau kesalahan apa yang gue perbuat di masalalu sampai gue terus dihukum seperti ini.."
'Sesakit itu lo selama ini sta?'
"Rasanya ingin mati ditempat saat mama mulai nyiksa gue.."
Tangan Raden terangkat menangkup wajah Gista. "Hei, gak boleh ngomong gitu."
"Gue capek den ..."
"Capek boleh, nyerah jangan. Gue yakin lo anak yang kuat makannya dikasih ujian seperti ini." tutur Raden, ia menghapus air di pipi Gista.
"G-gue gak bisa den, gue gak sekuat yang lo bayangkan."
Raden menggelengkan kepalanya. "Lo kuat melebihi yang gue bayangkan.
Gue gak tau masalah apa yang sedang lo alamin sekarang, gue masih belum paham sepenuhnya tapi.. Gue janji bakal selalu ada di samping lo, kalo lo mau cerita gue siap dengerin lo 24 jam." sambungnya
______________
Demam Gista masih belum turun, Adara sudah meminta mamanya untuk bawa Gista ke rumah sakit namun wanita paru baya itu menolaknya secara mentah-mentah.
"Sta, kita ke rumah sakit ya?" sejak tadi Adara membujuk Gista agar mau berobat ke rumah sakit, walaupun mamanya tak mau menghantar Gista ke rumah sakit Adara bisa sendiri membawa saudarinya itu.
"Enggak dar nanti mama marah,"
"Udah lo gak usah pikirin itu, yang terpenting saat ini lo sembuh dulu. Oke?"
"Gue gak suka bau obat-obatan."
"Ini buka perihal suka gak sukanya lo, tapi ini demi kesehatan lo Gista."
"Gue tidur aja ya dar, besok juga sembuh."
"Ck, lo keras kepala banget sih. Lo ini demam tinggi Nigista, butuh obat."
"Enggak kok, demamnya udah turun berkat kompresanmu."
Adara mendengkus kesal, ia benar-benar sangat kesal pada Gista. "Terserah, capek gue sama lo sta."
"Maaf.." lirih Gista sembari memandang kepergian Adara. "Gue cuma gak mau lo ribut sama mama lagi dar karena gue."