Area khusus Dewasa
Di mansion kediaman keluarga Corris terdapat peraturan yang melarang para pelayan bertatapan mata dengan anak majikan, tiga kakak beradik berwajah tampan.
Ansel adalah anak sulung yang mengelola perusahaan fashion terbesar di Paris, terkenal paling menakutkan di antara kedua saudaranya. Basten, putra kedua yang merupakan jaksa terkenal. Memiliki sifat pendiam dan susah di tebak. Dan Pierre, putra bungsu yang sekarang masih berstatus sebagai mahasiswa tingkat akhir. Sifatnya sombong dan suka main perempuan.
Edelleanor yang tahun ini akan memasuki usia dua puluh tahun memasuki mansion itu sebagai pelayan. Sebenarnya Edel adalah seorang gadis keturunan Indonesia yang diculik dan di jual menjadi wanita penghibur.
Beruntung Edel berhasil kabur namun ia malah kecelakaan dan hilang ingatan, lalu berakhir sebagai pembantu di rumah keluarga Corris.
Saat Edell bertatapan dengan ketiga kakak beradik tersebut, permainan terlarang pun di mulai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mae_jer, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sang putri
Ruangan besar itu seakan membeku. Tidak ada suara selain deru napas pelayan yang mencoba tetap tenang. Larangan menatap para tuan muda keluarga Corris adalah aturan yang sudah berlaku bertahun-tahun, bahkan sebelum Edel bekerja di sini. Semua pelayan tahu konsekuensinya, melanggar bisa berarti kehilangan pekerjaan, atau … hukuman yang tak pernah diceritakan secara terbuka.
Madam Sin, yang berdiri di sudut ruangan, langsung menatap tajam ke arah para pelayan. Tatapan itu seolah berkata, jangan ada yang berani bergerak atau bicara.
Tuan besar Hart memiringkan kepala, memandangi keponakannya dengan sorot mata yang mengandung tanya.
"Dan alasanmu?"
Pangeran Xavier tersenyum tipis.
"Tidak ada. Aku hanya merasa aturan seperti itu terlalu … kuno." Ia melirik sekeliling, sorot matanya berhenti sepersekian detik di Edel sebelum beralih lagi. Edel tidak menyadari sedang di lihat karena gadis itu sedang menundukkan kepala.
"Pangeran," Lady Corris angkat suara. Nadanya terdengar hati-hati,
"Aturan ini dibuat demi menjaga sopan santun dan batasan. Saya khawatir ..."
"Batasan? Atau jarak?" potong Xavier tanpa mengubah nada suaranya yang tenang, namun tegas.
"Aku hanya meminta untuk melihat wajah mereka. Tidak ada yang salah, bukan? Dan pelayan-pelayan muda itu bebas melihat apa pun yang mereka suka. Hanya melihat, tidak berarti apa pun bukan?"
Lady Corris terdiam. Walaupun dia adalah wanita bangsawan dan istri dari tuan Hart yang memiliki hubungan saudara dengan raja serta ponakannya seorang pangeran yang sangat di hormati seperti Xavier, wanita itu tetap tidak punya hak untuk melawan. Karena Xavier jauh lebih berkuasa darinya sekalipun lelaki itu jauh lebih muda. Di atas dia ada suaminya, dan di atas suaminya ada pangeran Xavier dan raja. Mereka termasuk keluarga kerajaan, tapi tetap harus menuruti perintah dari yang di atas.
"Baiklah, kalau begitu mulai hari ini, larangan tidak boleh melihat para tuan muda di hapus. Semuanya," Tuan Hart berkata dengan tegas, lalu menatap ke para pelayan muda yang masih membungkuk semuanya.
"Berdirilah yang tegak, tidak perlu membungkuk lagi." tambahnya.
Semua pelayan mendengarnya. Rata-rata di antara mereka merasa lega dan senang meski tidak ditunjukkan secara terang-terangan. Hanya Edel yang merasa biasa saja, karena dari awal dirinya memang sudah melanggar aturan. Dan Lady Corris berusaha untuk tetap tersenyum meski tidak terlalu setuju dengan keputusan pangeran dan suaminya.
Makan siang itu berlangsung formal. Para pelayan mondar-mandir membawa hidangan pembuka, sup, dan daging panggang. Setiap langkah harus terukur, setiap gerakan harus mulus. Namun bagi Edel, semua terasa seperti berjalan di atas tali tipis di atas jurang.
Setiap kali ia mendekat ke meja untuk menuangkan anggur atau mengganti piring, ia bisa merasakan tatapan sang pangeran mengikutinya. Bukan tatapan biasa, ada rasa penasaran, mungkin juga tantangan.
Bukan pangeran saja, tetapi tuan muda Basten, Ansel serta Pierre sesekali melirik ke arahnya juga. Edel merasa jadi pembantu di mansion ini memang tidaklah gampang. Meresahkan sekali orang-orang yang menatapnya.
"Aku dengar kau sedang mencari seseorang?" Basten angkat suara, menatap Xavier. Di antara mereka tiga bersaudara, Basten yang paling dekat dengan pangeran Xavier. Keduanya bisa dibilang bersahabat dekat.
Xavier selalu mendukung kasus yang sedang di tangani oleh Basten dan tak jarang membantunya.
Xavier melirik Basten, kemudian menganggukkan kepala.
"Ya, namanya Fiora. Kalian masih ingat? Putri sah dan pewaris dari keluarga Valreich. Gadis yang dibesarkan bersamaku di kerajaan. Tapi saat ibunya meninggal ia pergi dan tinggal lama di negara kelahiran ibunya. Sejak saat itu kami hanya berkabar lewat surat. Harusnya dia sudah kembali ke negara ini tiga bulan lalu, tapi putri Fiora tiba-tiba menghilang."
"Putri?" Lady Corris angkat suara dengan nada bertanya.
"Ya, dua belas tahun lalu, saat umurnya tujuh tahun, Fiora diangkat menjadi putri raja, dia adalah adik angkatku. Statusnya adalah putri. Sampai sekarang kami masih mencari keberadaannya." ucap Xavier. Sesekali matanya menatap ke Edel, bukan mencurigai sesuatu, tetapi ia seperti merasa gadis itu familiar, seperti pernah melihatnya entah di mana.
"Kau ada fotonya?" tanya Basten.
Xavier menggeleng. Hanya ada foto kecilnya. Aku tidak pernah lihat wajahnya setelah dewasa. Kami juga kesulitan menemukannya karena itu." ucap Xavier.
"Bagaimana dengan keluarga ibunya, kau tidak meminta gambarnya yang sekarang dari mereka? Dan mencari tahu dia hilang di mana. Kita akan kesulitan mencarinya kalau sang putri hilang di negeri ibunya." kata Basten lagi.
Xavier mendesah berat.
"Seluruh keluarga ibunya meninggal dalam kebakaran. Tidak ada satu pun barang yang tersisa. Fiora di pastikan tidak ada dalam kebakaran itu. Karena hari itu, telah dipastikan dia berangkat ke negara ini tapi memakai identitas yang berbeda. Kemungkinan besar dia di culik." ucapnya.
Tuan Hart menyandarkan tubuh ke kursinya, wajahnya tegang.
"Kalau begitu, masalah ini lebih rumit dari yang kita kira," gumamnya pelan.
Ansel yang sejak tadi diam akhirnya ikut bicara.
"Kalau dia menggunakan identitas berbeda, berarti ada alasan kuat dia ingin bersembunyi. Atau ada orang yang sengaja menyembunyikannya." nada suaranya datar, namun matanya sedikit menyipit, seperti sedang menimbang sesuatu.
Pierre yang duduk di ujung meja hanya mengangkat alis.
"Kalau benar diculik, siapa yang berani menyentuh anggota keluarga kerajaan? Apalagi putri yang diangkat langsung oleh raja? Dia juga merupakan pewaris keluarga bangsawan." ia meneguk anggurnya, pandangan matanya singkat meneliti wajah Xavier.
"Kau yakin dia masih hidup?"
Xavier mengangguk mantap.
"Ya. Aku yakin. Fiora bukan tipe yang menyerah pada keadaan. Dia gadis yang kuat … dan mau berjuang. Kalau dia masih bisa bernapas, dia pasti mencari cara untuk kembali."
Edel yang berdiri tak jauh dari meja mencoba fokus pada tugasnya, tapi pembicaraan itu membuat telinganya bergetar. Nama Fiora … terasa asing sekaligus menimbulkan rasa aneh di dadanya. Ia tak berani menatap, hanya terus menunduk sambil menuangkan anggur ke gelas Pierre.
Lelaki itu sesekali menatapnya dengan wajah penuh minat. Basten yang menyadarinya menyipitkan matanya tidak suka. Dan Pierre segera berdeham lalu pura-pura minum anggurnya. Hanya Ansel yang tampak tenang meski diam-diam dia juga suka. mencuri-curi pandang pada Edel.
"Kasihan sang putri, semoga saja dia masih hidup dan tidak apa-apa." Lady Corris kembali berbicara.
"Basten, aku ingin kau turut membantuku mencari keberadaan sang putri. Bagaimana?"
Basten menatap sepupunya sesaat, menimbang-nimbang, kemudian menganggukkan kepala setuju.
semangat berjuang demi menghalalkan kayi ya Denis
jd rontok, meleh hatiku😂😂
Matanya mengerjap, melihat - merasa bukan Denis yang tengah berbaring di sisi ranjang.
Akari memastikan kalau pria yang ada itu bukan Denis.
Akari baru sadar kalau itu Halver - berteriak ia - memanggil nama Halver.
Halver langsung membuka mata mendengar suara Akari. Tatapannya tajam ke arah wajah Akari yang tersenyum lebar.
Akari senang sekali seperti tak percaya kakaknya datang. Langsung memeluk Halver dengan manjanya - bilang kangen kakak. Halver tersenyum, ia juga merindukan Akari.
Akari masih memeluk Halver, ia sangat manja kalau sama Halver.
Perbincangan Akari dan Halver tentang kenapa bisa terluka, Akari harus berlatih lebih giat - biar musuh takut padanya. Akari tersenyum lalu mengangguk.
Denis datang membawa bubur buatannya. Akari nggak mau, bosan setiap hari makan bubur.
Halver menegor Akari dan menyuruh makan.
Akari mau tidak mau - akhirnya makan bubur disuapin Denis.
kan pake celana jeans kann di awal
akari sangat sekali didepan halver holt, denis harus sabar menghadapi akari😀
apalagi halver holt dah merestui akari dan denis menikah, tapi denis harus hati-hati sama raja timur dan Pangeran berengsek luis,raja timur dan luis gak akan tinggal diam pasti akan memaksa akari pulang...
denis bisa menjaga dan melindungi akari....