NovelToon NovelToon
Murim'S Engineer

Murim'S Engineer

Status: tamat
Genre:Dikelilingi wanita cantik / Time Travel / Reinkarnasi / Tamat
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: PENALIAR

Seorang insinyur muda cerdas mati dan transmigrasi ke dunia murim.ingin membuktikan jika ilmu pemgetahuan mampu mengalahkan seni bela diri murim

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PENALIAR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 28: Buaian di Tengah Badai

Jin Hyun lahir dengan tangisan yang menggema di seluruh paviliun.

Tangisannya keras, penuh energi, seolah sudah protes sejak lahir. Aku menggendongnya untuk pertama kali—tubuh mungil itu begitu ringan, begitu rapuh. Aku takut salah pegang, takut jatuhkan.

Hyerin tersenyum melihatku kikuk.

"Oppa, kau bisa perang melawan ratusan musuh, tapi takut gendong bayi?"

"Ini berbeda." Aku menatap wajah mungil itu. Mata Hyun masih terpejam, tapi mulutnya bergerak-gerak mencari ASI. "Ini... ini bagian dari diriku. Darah dagingku. Aku tidak mau menyakitinya."

"Kau tidak akan menyakiti dia." Hyerin meraih tanganku, membantuku menggendong lebih nyaman. "Dia kuat. Seperti ayahnya."

---

Berita kelahiran Jin Hyun menyebar cepat.

Dalam sehari, seluruh markas tahu. Dalam dua hari, utusan dari klan-klan sahabat mulai berdatangan dengan hadiah. Bahkan dari Klan Utara—surat dari Dae-ho yang ditulis tangan sendiri.

"Saudaraku,

Selamat atas kelahiran putramu. Maaf tidak bisa datang langsung. Situasi di sini semakin runyam. Tapi untuk keponakanku, aku kirim hadiah kecil: sepasang gelang giok dari gunung utara. Konon bisa menangkal roh jahat.

Jaga mereka baik-baik. Kau tahu, aku ingin jadi paman yang baik.

Dae-ho"

Hyerin membaca surat itu sambil tersenyum. "Dia orang baik."

"Dia saudaraku." Aku menatap Hyun yang tertidur lelap di buaian. "Dan dia akan jadi paman yang baik."

---

Tapi badai tidak pernah menunggu.

Tiga minggu setelah kelahiran Hyun, kabar buruk datang dari selatan. Klan Selatan sudah selesai mengonsolidasi pasukan. Mereka siap menyerang besar-besaran.

Jin-wook melapor dengan wajah tegang.

"Intelijen kita bilang, mereka kumpulkan sekitar tiga ribu pasukan. Dua ribu infanteri, lima ratus kavaleri, lima ratus pemanah. Plus dukungan dari tiga klan sekutu."

Tiga ribu lawan empat ratus. Rasio hampir 1:8.

"Kapan?"

"Mereka akan bergerak dalam dua minggu. Musim panas, cuaca cerah, tanah kering. Kondisi ideal untuk perang."

Aku diam, memikirkan. Di sampingku, Hyerin ikut mendengarkan sambil menggendong Hyun.

"Kita tidak bisa lawan langsung," katanya. "Terlalu banyak."

"Setuju. Kita harus bertahan, manfaatkan benteng dan mesiu."

"Tapi mereka pasti tahu kelemahan kita." Jin-wook menatapku. "Mereka punya informasi dari dalam. Pengkhianat mungkin masih ada."

---

Malam itu, aku tidak bisa tidur.

Aku duduk di samping buaian Hyun, menatap wajahnya yang damai. Dia tidak tahu apa pun tentang perang, tentang kematian, tentang dunia kejam di luar sana. Dia hanya tahu kehangatan, susu ibu, dan buaian yang bergoyang.

Hyerin datang dari belakang, membungkusku dengan selimut.

"Oppa, kau harus istirahat."

"Aku tidak bisa. Pikiranku terus bekerja."

Dia duduk di sampingku. "Ceritakan."

Aku menghela napas. "Aku takut, Hyerin-ah. Bukan untuk diriku sendiri. Tapi untuk kalian. Untuk Hyun. Dia baru lahir. Dia belum lihat apa pun. Kalau kita kalah..."

"Kita tidak akan kalah."

"Kau tidak tahu itu."

"Aku tahu." Dia meraih tanganku. "Karena aku punya kau. Dan kau punya aku. Dan kita berdua punya ribuan orang yang percaya pada kita." Dia menatap Hyun. "Dan sekarang, kita punya dia. Alasan untuk terus berjuang."

Aku menatapnya. Matanya penuh keyakinan.

"Kau hebat," bisikku.

"Kita hebat."

---

Dua minggu persiapan yang melelahkan.

Setiap hari, dari pagi hingga malam, aku di benteng. Memeriksa persediaan, mengatur posisi senjata, melatih pasukan. Para prajurit belajar menggunakan senapan, meriam, dan bom. Para penduduk desa membantu membuat perangkap, menggali parit, menyiapkan logistik.

Hyerin memimpin dari dalam, mengoordinasi dukungan warga. Para ibu menyiapkan perban dan obat. Anak-anak membantu mengirim makanan ke pos-pos jaga. Semua bekerja tanpa lelah.

Jin-wook menjadi komandan lapangan. Dia bergerak cepat, mengatur pertahanan di tiga titik utama. Anak muda itu punya bakat alami—mungkin warisan dari ayahnya, Gong Jinsung.

Song Hwa memimpin produksi senjata. Dalam dua minggu, bengkel menghasilkan: 200 senapan baru, 50 meriam portabel, 1000 bom berbagai ukuran, dan 500 ranjau darat.

Baek Dongsu mengatur intelijen. Mata-matanya tersebar di seluruh wilayah, melaporkan setiap gerakan musuh.

---

H-3.

Laporan dari selatan: pasukan Selatan sudah bergerak. Mereka akan tiba dalam tiga hari.

Aku memanggil semua pemimpin untuk rapat terakhir.

"Kita sudah siap sebisanya," kataku. "Sekarang tinggal jalankan rencana. Tapi ada satu hal yang penting: apa pun yang terjadi, jangan panik. Perang bukan hanya soal membunuh musuh, tapi juga menjaga moral."

Jin-wook mengangguk. "Pasukan siap."

Song Hwa melapor. "Senjata cukup untuk dua minggu pertempuran intensif."

Baek Dongsu menambahkan. "Intelijen terus memantau. Mereka belum tahu tentang ranjau dan jebakan kita."

"Bagus." Aku menatap mereka semua. "Sekarang, kembali ke pos masing-masing. Kita akan hadapi ini bersama."

---

Malam H-1.

Aku duduk di paviliun bersama Hyerin dan Hyun. Bayi itu tidur nyenyak di buaian, tidak peduli dengan kehebohan di luar.

"Oppa, besok perang dimulai."

"Iya."

"Kau akan di mana?"

"Di benteng depan. Bersama pasukan."

Dia diam. Lalu berkata, "Aku mau ikut."

"TIDAK."

"Oppa, aku bisa bertarung. Lukaku sudah sembuh. Aku masih pendekar level tinggi."

"Kau masih menyusui. Kau tidak bisa tinggalkan Hyun."

"Bawa dia. Aku bisa gendong sambil bertarung."

Aku memegang kedua bahunya. "Dengar. Tugasmu bukan bertarung. Tugasmu menjaga Hyun tetap hidup. Kalau aku mati di medan perang, setidaknya kalian berdua masih ada. Kalian adalah masa depan."

Dia menangis. "Tapi aku tidak mau kehilangan kau!"

"Aku juga tidak mau kehilangan kalian. Karena itu aku akan bertarung sekuat tenaga. Dan aku akan kembali. Janji."

---

Fajar H-Hari.

Langit mendung, seolah alam ikut bersedih. Di kejauhan, debu mulai terlihat—pasukan Selatan mendekat.

Aku berdiri di atas benteng utama, dikelilingi para komandan. Di sampingku, Jin-wook dengan pedang terhunus. Di belakang, ratusan prajurit bersenapan siap menembak.

"Pasukan Selatan," kata Jin-wook pelan. "Mereka datang seperti banjir."

Aku mengangguk. "Biarkan. Banjir bisa dibendung."

Pasukan pertama muncul di cakrawala. Barisan rapi, spanduk berkibar. Ribuan orang berjalan dalam formasi, seperti lautan manusia.

Di tengah mereka, sebuah tandu besar—komandan tertinggi. Aku tidak bisa melihat wajahnya dari sini, tapi pasti seseorang yang percaya diri.

Mereka berhenti sekitar setengah li dari benteng. Seorang utusan maju dengan bendera putih.

"Bicaralah!" teriak Jin-wook.

Utusan itu berteriak, "Panglima Tertinggi Klan Selatan memberi kesempatan terakhir! Menyerah! Buka gerbang! Kalian akan diperlakukan dengan hormat!"

Jin-wook menatapku. Aku menggeleng.

Dia berteriak balik, "KAMI TIDAK AKAN MENYERAH! KEMBALI DAN KATAKAN PADA PANGLIMAMU, KALAU DIA MAU MASUK, SILAKAN COBA!"

Utusan itu kembali ke barisannya.

Beberapa saat kemudian, genderang perang berbunyi. Pasukan Selatan mulai bergerak.

Perang dimulai.

---

Gelombang pertama: seribu infanteri maju dengan tameng dan tangga.

Mereka berjalan cepat, percaya diri. Tapi mereka tidak tahu, di depan mereka, tanah penuh ranjau.

DUAR! DUAR! DUAR!

Ledakan pertama. Puluhan prajurit terpental. Yang lain terkejut, berhenti. Tapi komandan mereka berteriak, "MAJU! ITU HANYA JEBEKAN!"

Mereka maju lagi. Ranjau terus meledak. Tapi jumlah mereka terlalu banyak. Seratus tewas, sembilan ratus masih hidup.

Sekarang mereka masuk jarak tembak meriam.

"Tembak!" teriakku.

DOR! DOR! DOR!

Meriam-melepaskan proyektil besi. Puluhan lagi jatuh. Tapi mereka terus maju.

Gelombang pertama mencapai tembok. Tangga-tangga dipasang. Prajurit mulai naik.

Di atas tembok, pasukan kami siap dengan senapan.

DOR! DOR! DOR!

Satu per satu, prajurit Selatan jatuh dari tangga. Tapi mereka terus datang. Seperti semut.

Pertempuran berlangsung berjam-jam. Gelombang pertama hancur—hanya dua ratus selamat mundur. Tapi kami juga kehilangan lima puluh orang.

Istirahat sebentar. Lalu gelombang kedua datang.

---

Hari pertama berakhir dengan kedua belah pihak kelelahan.

Kami kehilangan seratus orang. Selatan kehilangan delapan ratus. Rasio 1:8—sangat baik untuk kami. Tapi mereka masih punya dua ribu lebih.

Malam itu, di paviliun, Hyerin mengobati lukaku—luka kecil, kena serpihan panah. Hyun tidur di buaian, tidak terganggu.

"Oppa, kau hebat hari ini."

"Belum selesai. Besok mereka akan coba lagi."

"Kita bisa bertahan?"

Aku diam. Jujur, aku tidak tahu.

Tapi Hyerin meraih tanganku. "Aku percaya padamu. Kita semua percaya."

---

[Bersambung ke Bab 29]

1
Q. Zlatan Ibrahim
terimakasi atas semangatnya
SR07
semangat updatenya bro
.
halo semua.. saya pembaca baru 👋😊
Q. Zlatan Ibrahim: terimakasih atas dukunganya
total 1 replies
SR07
ayo semangat updatenya 💪
SR07
lanjut bro
Q. Zlatan Ibrahim: terima kasih...masih harus banyak belajar
total 5 replies
Mika Dion
mantap Thor isi babnya panjang lain dari yg lain
Q. Zlatan Ibrahim: siap om mika
total 2 replies
Mika Dion
masih sepi...mungkin Krn masih baru y
Mika Dion
mampir thor
Nona Dalla
ini yang aku tunggu" sejak tadii 😄🤣
Kang Nyimak
semangat teruss
Kang Nyimak
SENI ADALAH LEDAKAN
Q. Zlatan Ibrahim: mencoba memadukan sains ditengah dunia bela diri
total 2 replies
Kang Nyimak
sebagus ini sepi?, serius?
Q. Zlatan Ibrahim: mkasih bang..masih belajar
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!