Gian pergi ke desa untuk menghilangkan penat di kota. Tapi saat menikmati keindahan desa, dia bertemu dengan Anisa, wanita galak dengan paras alami yang cantik.
Pertemuannya dengan Anisa membuat Gian ingin cepat-cepat kembali ke kota, tapi suatu kejadian mengharuskan Gian untuk tetap bertahan di desa dan sering bertemu dengan Anisa.
Sampai suatu ketika, Anisa dan Gian terpergok oleh beberapa warga sedang berdua di sebuah gubuk di tengah sawah dengan minim pakaian, warga pun marah dan memaksa Gian dan juga Anisa untuk menikah.
Mereka menjalani pernikahan masih dengan perasaan saling membenci, bagaimana kelanjutan pernikahan mereka? Berpisah atau bertahan? Stay tuned!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fareed Feeza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
12
Tak menjawab pertanyaan Lulu, Gian langsung mengeluarkan ponselnya, terlihat dari raut wajahnya penasaran sedikit kesal tapi Gian tak bisa mengucapkan itu.
Gian berkali-kali menempelkan benda pipih itu di telinganya, tapi sepertinya tak ada jawaban dari si penerima.
"Kamu kenapa sih Gian? Kok keliatan uring-uringan gini?"
"Bu, stop ya membiarkan Nisa pergi keluar rumah dengan siapapun selain keluarga kita, nanti kalau ada apa-apa dengan wanita itu bagaimana? Om Guntur pasti sangat kecewa."
"Ekhem ... Om Guntur atau kamu yang kecewa?"
"J-jelas Om Guntur, aku sih tidak masalah."
"Oh gitu ... Nanti Ibu deh yang izin sama om Guntur, yang terpenting Ibu membiarkan Nisa keluar rumah dengan orang baik, bukan orang yang tidak baik. Hari sangat peduli sama Nisa."
Merasa buntu harus menjawab apa, akhirnya Gian pergi dari hadapan Lulu dan segera berjalan ke arah kamarnya.
Gian ... Gian ...
***
"Selamat sore Tante." Sapa Hari saat memasuki rumah dengan Nisa yang berjalan di belakangnya.
Lulu yang sedang menikmati camilan dan juga majalah di sofa langsung beranjak saat melihat yang di tunggu sudah tiba.
"Ya ampun, yang habis jalan-jalan ... Seneng Nis?" Tanya Lulu dengan suara sedikit si keraskan, berharap Gian mendengar.
Nisa tersenyum, "Seneng Bu, Liat ini ... Kak Hari beli kan Nisa ponsel."
Lulu lagi-lagi mengeraskan suaranya, "Apaaa? Ponsel keluaran terbaru? Yaampun ... Makasih loh Hari."
Benar saja, niatan Lulu akhirnya tepat sasaran ... Gian keluar dari kamarnya. "Hari kamu boleh pulang sekarang, Nisa kamu naik!" Titah Gian dari lantai dua, pria itu sama sekali tidak turun, dengan tatapan tajamnya dia berbalik berjalan masuk ke dalam kamarnya berharap Nisa menuruti apa yang dia perintahkan.
Nisa bergegas naik, ucapan terimakasih sudah banyak dia ucapkan pada Hari saat di mall dan di jalan tadi.
*Pintu kamar di buka.
"Kamu kenapa sih Gian? Kalau Hari tau tentang kita gimana?"
"Kenapa? Masalah?" Sahut Gian, pria itu berdiri di hadapan Nisa dengan tangan di kedua saku celananya.
"Loh? Bukannya kamu yang suruh aku buat gak kasih tau tentang kita?"
"Kamu ... Jangan samakan ini dengan di desa, jika ada masalah nantinya, keluargaku yang akan kena imbasnya oleh om Guntur! Mengerti?!" Sentak Gian.
Nisa hanya bisa diam, dia tak bisa banyak memberontak ... mengingat Gian adalah suami sahnya, yang tidak boleh dia bantah sama sekali, apalagi jika perintahnya itu mengarah kepada kebaikan.
Gian melihat paper bag yang sudah tak asing lagi baginya sedang ada di genggaman Nisa. "Apa itu? Ponsel?"
"Sudah tau nanya!"
Nisa meletakan paper bag itu, membuka sepatunya lalu hendak bersiap ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Lebih baik aku mandi, daripada mendengarkan ocehannya. Batin Nisa.
Tanpa izin, Gian langsung meraih paper bag ... Dan benar saja ada box ponsel dan isinya kosong.
"Apa yang kau berikan pada Hari, sampai dia rela memberikan ini? Aku tau ini tidak murah."
Nisa langsung menghentikan langkahnya. "Bukan urusanmu!" Sahut Nisa lalu melanjutkan langkahnya ke dalam kamar mandi.
Gian mengepalkan tangannya, dia sebenarnya sangat ingin merogoh isi tas Nisa, tapi menurutnya itu adalah perilaku yang berlebihan, karena Nisa juga mempunyai privasi.
.
.
"Sekarang udah jadi orang kota Bu, Nisa udah punya ponsel." Ledek Gian di meja makan saat menyantap makan malam bersama.
"Wah ... Kamu belikan Gian?" Tanya Akbar.
"Bukan dong Yah, Hari yang belikan. Hari baik sekali sama Nisa."
"Hari temannya Gian? Ayah kira dia cuma mau mengedukasi Nisa tentang hidup di kota." Balas Akbar.
"Hari sangat tertarik dengan culture pedesaan, maka dari itu dia minta izin sama Ibu untuk mengajak Nisa jalan-jalan."
Gian yang tadinya hendak meledek dan menggoda Nisa malah terkena serangan balik dari kedua orang tuanya, pria itu langsung mengubah raut wajahnya menjadi kesal saat kedua orangtuanya terus memuji Hari.
"Kalian jangan menyesal kalau nanti akhirnya Nisa hamil oleh Hari, aku tau Hari orangnya bagaimana!" Kata Gian berusaha mengingatkan.
"Aku tidak segampang itu ya!" Sahut Nisa yang tak tahan diam untuk pernyataan Gian kali ini.
"Yasudah kalau begitu, kamu hamili Nisa ... Jangan sampai keduluan Hari, iya kan Yah? Hahahah." Kata Lulu terkekeh, dia selalu menanggapi semua omongan Gian dengan bercanda, sehingga membuat Gian tambah kesal.
"Apaan sih Bu! Gian ingin mempunyai anak yang lahir dari seorang wanita yang terhormat dan tidak gampangan."
"Yasudah, biarlah Hari menghamili Nisa ... Bila perlu kita nikahkan dulu. Cepatlah kamu ceraikan Nisa." Tantang Lulu.
Nisa hanya tersenyum kecil, sambil melihat ke arah Lulu dan juga Akbar.
"Kenapa? Sesenang itu di bela oleh kedua orang tuaku?" Ucap Gian, pria itu langsung menyelesaikan makan malamnya dengan segera dan menutup pembahasan.
...
Di dalam kamar, Nisa beranjak naik ke tempat tidur ... Keberadaan Gian tidak terlihat saat ini.
Kemana pria itu? Bukankah dia sudah selesai makan malam lebih dulu? Ah terserah lah.
*Brugh
Suara lumayan kerasa berasal dari arah kamar mandi, Gian terpleset di lantai karena jalan berhati-hati saat keluar dari kamar mandi.
Nisa langsung berlari ke arah sumber suara terlihat Gian yang sedang mengusap-usap bokongnya dengan posisi terduduk di lantai.
"Ya ampun! Kamu ngapain duduk di lantai Gian?!"
"Apa kau bilang? Matamu sudah rabun?! Aku jatuh ... Bukan sengaja duduk di lantai." Oceh Gian sambil menahan rasa sakit dan malu.
"I-iya ... Maaf ... Sini biar aku bantu bangun."
Gian tak menolak, karena saat ini dia sangat butuh bantuan orang lain, bokongnya benar-benar terasa nyeri untuk di pakai berjalan, karena jatuhnya yang lumayan keras.
Untuk pertama kalinya, Gian baru berdekatan dengan Nisa malam ini, sebelah tangannya melingkar pada leher Nisa dengan kaki kirinya yang terasa nyeri di pakai berjalan.
"Ayo hati-hati... " Ucap Nisa dengan lembut sambil meletakan Gian di tempat tidur dengan sangat pelan.
Gian masih meringis kesakitan, tangannya terus mengusap bokongnya. "Awh .... "
"Mau bangunkan Ayah Ibu?"
"Tidak."
"Mau ku telpon ambulance?" Tawar Nisa lagi.
"Tidak!"
"Lalu apa maumu?!"
"Mauku? Gunanya tanganmu itu apa? Kau yang harus memijatku ! Karena musibah ini pasti gara-gara air yang menggenang sehabis kamu mandi sore tadi!" Kata Gian menyalahkan.
"Sudah jatuh masih saja bermulut pedas!" Nisa menarik sebelah tangan Gian, sebelah tangannya lagi memijat lembut bokong Gian yang katanya terasa nyeri.
Walaupun Nisa kesal dengan sikap dan tutur kata Gian, dia tetap memijat dengan lembut area bokong Gian.
"Lebih baik kamu tengkurap, biar aku leluasa memijatnya." Kata Nisa yang lebih tau tentang pijat memijat tradisional.
Gian menurut, kali ini tak ada sepatah katapun yang keluar dari mulutnya.