NovelToon NovelToon
Kontrak Rahim Sang CEO Miliarder

Kontrak Rahim Sang CEO Miliarder

Status: tamat
Genre:CEO / Showbiz / Dikelilingi wanita cantik / Tamat
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Alvaraby

"Di dunia para penguasa, segalanya bisa dibeli—termasuk keturunan. Namun, apa jadinya jika rahim yang disewa justru membawa cinta yang tak terduga?"

Adrian Ardilwilaga adalah definisi sempurna dari kekuasaan dan kekayaan. Sebagai CEO Miliarder dari Ardilwilaga Group, ia memiliki segalanya, kecuali satu hal yang sangat dituntut oleh dinasti keluarganya: seorang pewaris. Pernikahannya dengan Maya Zieliński, wanita sosialita kelas atas yang anggun namun menyimpan rahasia kelam tentang kesehatannya, berada di ambang kehancuran karena tekanan sang mertua yang otoriter.

Demi menjaga status dan cinta Adrian, Maya merancang sebuah rencana nekat—sebuah kontrak rahim ilegal. Pilihan jatuh kepada Sasha Vukoja, seorang mahasiswi seni berbakat asal Polandia yang sedang terdesak kesulitan ekonomi. Sasha setuju untuk menjadi ibu pengganti, tanpa pernah menyangka bahwa ia akan jatuh hati pada sang pemberi kontrak.
Ketegangan memuncak saat Arthur, sang pangeran mahkota, lahir.Bagaimana kelanjutannya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alvaraby, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Benih yang Salah Alamat

Klinik privat di Singapura itu tidak terlihat seperti rumah sakit. Dengan dinding berlapis kayu ek dan aroma teh hijau yang menenangkan, tempat itu lebih mirip resor kesehatan eksklusif bagi kaum elite. Namun, bagi Adrian, tempat ini adalah medan laga terakhir untuk harga dirinya.

Adrian duduk di ruang tunggu VVIP, mencoba memfokuskan pikirannya pada dokumen bisnis di tabletnya. Namun, konsentrasinya buyar saat pintu otomatis terbuka. Langkah kaki ringan terdengar, bukan langkah tajam high heels Maya, melainkan suara sepatu datar yang ragu-ragu.

Adrian mendongak, dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, dunia yang biasanya ia kendalikan dengan jemari besinya seolah berhenti berputar.

Aleksandra "Sasha" Vukoja berdiri di sana. Ia mengenakan gaun katun sederhana berwarna biru pucat yang kontras dengan kulitnya yang seputih pualam. Rambut pirang gelapnya dibiarkan tergerai, jatuh di bahunya dengan gelombang alami. Namun, yang membuat napas Adrian tertahan adalah matanya—abu-abu bening seperti langit Warsawa setelah hujan, menyimpan pancaran kecerdasan sekaligus kerentanan yang murni.

Di mata Sasha, Adrian Ardilwilaga bukan sekadar "klien". Pria yang berdiri menyambutnya itu tampak seperti kekuatan alam. Tubuh Adrian yang masif, terbungkus kemeja linen yang pas, memancarkan aura maskulinitas yang begitu pekat hingga Sasha merasa udara di ruangan itu mendadak menipis. Adrian memiliki wajah yang keras dengan garis rahang yang tegas, namun ada gurat kesedihan yang tersembunyi di balik matanya yang tajam—sebuah luka yang hanya bisa dikenali oleh jiwa yang sama-sama pernah merasa kesepian.

"Aleksandra?" suara Adrian berat, bergetar karena sesuatu yang belum ia pahami.

"Sasha. Panggil saya Sasha, Tuan Ardilwilaga," jawabnya dengan aksen Polandia yang lembut, terdengar seperti melodi di telinga Adrian yang selama ini terbiasa dengan nada bicara Maya yang penuh tuntutan.

________________________________________

Selama prosedur konsultasi medis, Adrian tak mampu melepaskan pandangannya dari Sasha. Ada daya tarik magnetis yang melampaui logika. Bukan hanya karena kecantikan fisik Sasha yang blasteran Polandia itu begitu klasik, tapi karena cara Sasha berbicara tentang seni dan harapannya untuk masa depan.

"Saya melakukan ini bukan hanya untuk uang," bisik Sasha saat mereka hanya berdua di taman dalam klinik, sementara Maya sedang sibuk berdebat dengan dokter tentang protokol hormon. "Saya ingin menyelesaikan studi saya di bidang restorasi seni. Saya ingin menyelamatkan sesuatu yang hampir hancur menjadi indah kembali."

Adrian menatap tangan Sasha yang jemarinya panjang dan lentik. "Kamu adalah orang baik, Sasha. Dan aku... aku merasa bersalah harus melibatkanmu dalam kerumitan hidup kami."

Sasha menatap Adrian, memberanikan diri menyentuh lengan pria itu sekilas. Sentuhan itu ringan, namun bagi Adrian, itu terasa seperti sengatan listrik yang membakar hingga ke sumsum tulang belakang. "Anda tidak tampak seperti pria yang rumit, Tuan. Anda hanya tampak seperti pria yang sedang mencari sesuatu yang hilang."

Adrian terpaku. Selama bertahun-tahun, Maya hanya melihatnya sebagai trofi, sebagai mesin kekuasaan, atau sebagai subjek manipulasi. Baru kali ini, seorang wanita asing melihat melampaui otot dan kekayaannya, menyentuh inti jiwanya yang hampa.

Adrian merasakan dorongan protektif yang luar biasa. Ia ingin melindungi Sasha—bukan hanya sebagai "wadah" untuk anaknya, tapi sebagai seorang wanita yang dalam sekejap telah membuat hatinya yang beku mulai berdenyut lagi.

________________________________________

Dari balik dinding kaca ruang konsultasi, Maya memperhatikan interaksi mereka. Ia adalah wanita yang sangat peka terhadap perubahan atmosfer. Ia melihat bagaimana bahu Adrian yang biasanya tegang menjadi rileks saat berada di dekat Sasha. Ia melihat bagaimana mata Adrian, yang biasanya dingin kepadanya, kini bersinar dengan binar yang belum pernah ia lihat selama pernikahan mereka.

Maya merasa ulu hatinya seperti diremas. Kecemburuan itu datang bukan karena cinta yang tulus, melainkan karena rasa kepemilikan yang terancam. Ia telah menghancurkan mental Adrian agar pria itu tetap berada di bawah kendalinya, namun kini, hanya dalam hitungan jam, seorang gadis dari Warsawa telah mencuri atensi pria itu.

Maya keluar dari ruangan, langkahnya bergema di lantai granit. Ia sengaja menyelipkan tangannya di lengan Adrian dengan posesif, menatap Sasha dengan tatapan yang bisa membekukan air.

"Sasha, sayang," kata Maya dengan senyum yang tidak sampai ke mata. "Terima kasih sudah bersedia. Ingat, kontrak kita sangat ketat. Setelah prosedur ini berhasil, kamu akan mendapatkan perawatan terbaik, tapi interaksi pribadimu dengan suamiku harus dibatasi demi ketenangan pikiranmu... dan privasi kami."

Sasha menunduk, merasakan intimidasi yang dingin dari Maya. "Saya mengerti, Nyonya."

Adrian merasakan ketegangan itu dan segera menarik lengannya dari genggaman Maya. "Dia bukan tawanan, May. Dia manusia yang membantu kita."

"Dia adalah investasi, Adrian," potong Maya tajam. "Dan aku tidak ingin investasiku terganggu oleh sentimentalitas yang tidak perlu."

________________________________________

Malam itu di hotel mereka di Singapura, ketegangan memuncak. Adrian berdiri di balkon, menatap arah kamar klinik tempat Sasha menginap, sementara Maya memperhatikan suaminya dengan amarah yang membara.

"Kamu menyukainya, kan?" tuduh Maya tiba-tiba.

Adrian berbalik, wajahnya gelap. "Apa maksudmu?"

"Jangan bodohi aku, Adrian! Aku melihat caramu menatapnya. Kamu menatapnya seolah dia adalah penyelamatmu, bukan sekadar ibu pengganti! Apa karena dia orang Polandia? Apa karena dia mengingatkanmu pada versiku yang belum 'rusak'?"

"Aku menyukainya karena dia memiliki sesuatu yang tidak kamu miliki, May," jawab Adrian dengan nada yang sangat tenang namun menyakitkan. "Dia punya kejujuran. Dia tidak memalsukan hidupnya untuk mengikat orang lain."

PLAK!

Maya menampar wajah Adrian. Napasnya terengah-engah. "Ingat satu hal, Adrian. Anak yang dikandungnya adalah anakmu dan anakku secara hukum. Begitu dia lahir, gadis itu akan aku depak kembali ke negaranya dan kamu tidak akan pernah melihatnya lagi. Jangan berani-berani jatuh cinta padanya."

Adrian memegang pipinya yang memerah, menatap Maya dengan tatapan kosong. "Kamu bisa mengontrol kontraknya, May. Kamu bisa mengontrol hukumnya. Tapi kamu tidak akan pernah bisa mengontrol apa yang aku rasakan di sini," Adrian menunjuk dadanya.

Di saat yang sama, di kamar kliniknya, Sasha memegang perutnya yang masih rata. Ia merasakan konflik besar sedang menyelimuti dirinya. Ia datang untuk uang, untuk pendidikan, tapi pertemuan dengan Adrian telah mengubah segalanya. Ia merasakan tarikan yang tak terbendung pada pria itu—sebuah cinta pada pandangan pertama yang terlarang dan berbahaya.

Istana itu kini bukan lagi sekadar tanpa pewaris; istana itu kini menjadi medan perang bagi tiga hati yang saling bersinggungan. Adrian yang ingin bebas, Sasha yang terjebak dalam rasa, dan Maya yang mulai menyadari bahwa meskipun ia memenangkan permainan manipulasi, ia sedang kehilangan hati suaminya selamanya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!