NovelToon NovelToon
CEO IMPIAN MONTIR IDAMAN

CEO IMPIAN MONTIR IDAMAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Romansa Fantasi / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:5.7k
Nilai: 5
Nama Author: Ais_26

Ia berlutut pelan di depan ibunya.

“Bu…” suaranya hampir tak terdengar.

Ibunya bergerak sedikit. Mata itu terbuka perlahan.

Butuh dua detik untuk menyadari.

“Ara?”

Ara tersenyum, air mata akhirnya jatuh.

“Iya Bu. CEO-nya belum dapat tapi anaknya pulang dulu”

Ibunya duduk tegak, lalu memeluknya tanpa kata.

“Eleh. Kaya raya siapa yang mau sama modelan kaya kamu tuh? Paling ada Mang Diman. Itu baru kaya tujuh turunan gak habis-habis. Mau Ibu jodohin?” katanya sambil ketawa terbahak-bahak

Ara langsung panik setengah jengkal

“Eh jangan Diman dong Bu! Nanti anak Ibu jadi istri ketiga terus Ara punya anak tiri enam!”

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ais_26, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 34

Danu langsung menunduk hormat dan menjabat tangan beliau.

“Assalamu’alaikum, Pak.”

“Wa’alaikumussalam. Selamat datang,” jawab Ayah Ara hangat.

Di belakang mereka, beberapa orang mulai menurunkan baki-baki seserahan dari mobil. Kotak-kotak yang sudah dihias itu dibawa satu per satu menuju rumah.

Mobil bak yang berisi barang-barang besar juga berhenti di dekat halaman.

Beberapa pemuda membantu menurunkannya dengan hati-hati.

Sementara itu, Danu dipersilakan masuk ke dalam rumah.

Ruang tamu yang sudah disiapkan untuk akad terlihat rapi. Di tengah ruangan ada meja kecil tempat penghulu dan wali nanti duduk.

Beberapa saksi juga sudah hadir.

Suasana perlahan menjadi lebih tenang.

Danu duduk bersila di tempat yang sudah disiapkan.

Tangannya berada di atas lutut, tapi jemarinya sedikit saling menggenggam.

Ayahnya duduk di samping.

“Tenang saja,” bisiknya pelan.

Danu mengangguk.

Di kamar pengantin, Ara hanya bisa mendengar suara-suara samar dari ruang depan.

Tangannya yang sejak tadi berada di pangkuan perlahan saling menggenggam.

Hijab putihnya jatuh lembut di bahu.

Rangkaian melati di samping kepalanya bergoyang sedikit ketika ia menarik napas.

Raina yang berdiri di dekat pintu menoleh ke arahnya.

“Ra…” kata Raina pelan.

“Iya?”

“Rombongan Danu sudah datang.”

Jantung Ara berdetak lebih cepat.

Ia menarik napas perlahan.

Hari itu benar-benar tiba.

Sementara di ruang depan di ruang akad, meja sudah disiapkan. Penghulu duduk di satu sisi, para saksi juga sudah menempati tempat mereka.

Danu duduk bersila di depan wali.

Ruangan perlahan menjadi sangat hening.

Penghulu membuka map di depannya.

“Baik, sebelum kita mulai prosesi akad nikah…”

Semua orang mulai memusatkan perhatian.

Pagi itu, satu kalimat akan segera diucapkan.

Kalimat yang akan mengubah hidup dua orang sekaligus.

Penghulu membuka map di depannya, lalu menatap ke arah Danu dan Ayah Ara.

“Baik, sebelum kita mulai prosesi akad nikah, mari kita awali dengan membaca basmalah.”

“Bismillahirrahmanirrahim,” ucap beberapa orang bersamaan.

Udara terasa lebih khidmat.

Penghulu kemudian menjelaskan secara singkat maksud dari akad nikah yang akan dilakukan pagi itu. Suaranya tenang, teratur, membuat suasana semakin terasa sakral.

Danu duduk bersila di depan Ayah Ara.

Tangannya berada di atas lutut, namun jemarinya saling menggenggam pelan.

Ayahnya yang duduk di samping menoleh sedikit.

“Tarik napas dulu,” bisiknya pelan.

Ia menarik napas dalam, lalu menghembuskannya perlahan.

Sementara itu di kamar pengantin, Ara duduk dengan punggung tegak di kursi kecil dekat ranjang.

Kebaya putihnya terlihat anggun di bawah cahaya lampu kamar. Hijabnya tersusun rapi, dengan untaian melati yang menjuntai lembut di sisi kepala.

Tangannya berada di pangkuan, menggenggam ujung kain batiknya.

Dari balik pintu, suara penghulu terdengar samar.

“Ra…” panggil ibunya lembut.

Ara menoleh.

“Akadnya sudah mulai.”

Ara mengangguk pelan.

Matanya sempat terpejam sebentar, seolah menenangkan dirinya sendiri.

Di ruang akad, penghulu kemudian berkata,

“Sekarang kita masuk pada prosesi ijab kabul.”

Beberapa orang langsung menegakkan posisi duduknya.

Ayah Ara maju sedikit ke depan.

Danu pun Merapatkan duduknya.

Tangan mereka kemudian saling berjabat.

Genggaman itu kuat.

Hangat.

Penuh makna.

Penghulu menatap keduanya sebentar, lalu mengangguk.

“Silakan, Pak.”

Ayah Ara menarik napas, lalu mengucapkan kalimat ijab dengan suara mantap dan jelas.

Setiap kata terdengar tegas di ruangan yang sunyi itu.

Para tamu menahan napas.

Ketika kalimat itu selesai…

Semua mata langsung tertuju pada Danu.

Satu detik terasa panjang.

Dua detik terasa lebih panjang lagi.

Danu menarik napas pelan.

Lalu dengan suara yang jelas dan mantap ia menjawab,

“Aku terima nikahnya Ara .... binti… dengan maskawin tersebut, tunai.”

Ruangan sempat hening sejenak.

Kemudian saksi yang duduk di samping berkata tegas,

Suara itu langsung disusul oleh banyak orang.

“Sah!”

“Allahu akbar!”

Beberapa orang tersenyum lega.

Beberapa lainnya mengangguk penuh syukur.

Ayah Ara melepaskan genggaman tangan Danu, lalu menepuk punggung tangannya pelan.

“Alhamdulillah,” ucapnya lirih.

Danu menunduk sebentar.

Sementara itu di kamar pengantin, Ara yang sejak tadi menunggu tiba-tiba mendengar suara itu.

“Sah!”

Matanya langsung berkaca-kaca.

Raina yang berdiri di sampingnya langsung memegang tangannya.

“Ra…”

Ara tertawa kecil di tengah rasa haru.

“Sudah ya…”

Ibunya memeluk bahunya dengan lembut.

Pagi itu, dengan satu kalimat yang sederhana, kehidupan Ara benar-benar berubah.

Ia bukan lagi hanya seorang anak perempuan di rumah itu.

Ia kini adalah seorang istri.

Dan di ruang depan, Danu baru saja memulai perannya sebagai seorang suami.

Beberapa saat kemudian, penghulu kembali berkata,

“Sekarang kita lanjutkan dengan doa untuk kedua mempelai.”

Semua orang menundukkan kepala.

Doa dipanjatkan.

Memohon keberkahan.

Memohon ketenangan.

Memohon agar rumah tangga yang baru saja dimulai itu selalu dijaga oleh Tuhan.

Sementara di kamar pengantin, Ara menarik napas panjang.

Untuk pertama kalinya pagi itu, ia tersenyum lega.

Karena semuanya sudah terjadi.

Ia dan Danu… sekarang sudah sah.

Dan sebentar lagi, untuk pertama kalinya sebagai suami istri… mereka akan saling bertemu.

Doa dari penghulu perlahan selesai.

“Alhamdulillahi rabbil ‘alamin,” ucapnya menutup doa.

Beberapa orang mengaminkan dengan pelan. Suasana yang sejak tadi khidmat perlahan berubah menjadi lebih hangat. Senyum mulai terlihat di wajah para tamu yang hadir.

Penghulu kemudian menutup map di depannya.

“Baik, selanjutnya kita akan melakukan penandatanganan berkas pernikahan.”

Di kamar pengantin, Raina yang sejak tadi berdiri di dekat pintu langsung menoleh ke arah Ara.

“Ra… sudah selesai.”

Ara mengangkat wajahnya.

Ibunya berdiri di sampingnya lalu menggenggam tangannya dengan lembut.

“Ayo,” ucap ibunya pelan.

Ara berdiri perlahan.

Kebaya putih yang ia kenakan jatuh anggun sampai ke kaki, kain batik yang melilit pinggangnya tersusun rapi. Hijab putihnya membingkai wajahnya dengan lembut, sementara untaian melati di samping kepalanya bergoyang pelan setiap kali ia melangkah.

Ibunya dan Raina menuntunnya keluar dari kamar.

Langkah Ara terasa pelan.

Bukan karena ragu.

Tapi karena ia tahu, beberapa langkah ke depan akan mempertemukannya dengan seseorang yang kini sudah sah menjadi suaminya.

Ketika mereka sampai di ruang akad, beberapa orang langsung menoleh.

Bisikan kecil terdengar.

“Itu Ara…”

“MasyaAllah, cantik sekali…”

Ara menunduk sedikit, menahan rasa haru yang tiba-tiba memenuhi dadanya.

Di depan, kursi akad pengantin sudah disiapkan dengan rapi. Kursi itu menghadap para tamu, dihiasi rangkaian bunga putih yang lembut.

Danu yang sejak tadi duduk di kursi itu perlahan menoleh.

Pandangannya langsung berhenti.

Ara.

Dengan kebaya putih, hijab anggun, dan rangkaian melati yang menghiasi kepalanya, ia terlihat sangat berbeda pagi itu.

Lebih dewasa.

Lebih tenang.

Ibunya dan Raina menuntun Ara hingga sampai di depan kursi akad.

1
Irmha febyollah
ko di ulang2 kk
Irmha febyollah
lah kmren si Danu ngantarin gorengan ini ngantar motor SMA karyawan blg gak tau rumah si Ara.
Wati Anja
ko ga ada lanjutannya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!