Seminggu kematian mertuanya, Azalea dijatuhi talak oleh Reza, dengan alasannya tidak bisa memberikan keturunan kepadanya. Padahal selama tiga tahun pernikahan, Reza tinggal di kota, sementara Azalea tinggal di kampung mengurus mertuanya yang sakit-sakitan.
Azalea yang hidup sebatang kara pun memutuskan untuk merantau ke kota mencari pekerjaan. Ketika hendak menyebrang, Azalea melihat gadis kecil berlari ke tengah jalan, sementara banyak kendaraan berlalu lalang. Azalea pun berlari menyelamatkan gadis kecil itu.
Siapa sangka gadis kecil itu adalah Elora, putri dari mendiang kakaknya yang meninggal tiga tahun yang lalu.
Enzo, mantan kakak iparnya meminta Azalea menjadi pengasuh Erza dan Elora yang kekurangan kasih sayang.
Di kota inilah Azalea menemukan banyak kebenaran tentang Reza, mantan suaminya. Lalu, tentang Jasmine, mendiang kakak kandungnya.
Ketika Azalea akan pergi, Enzo mengajaknya nikah. Bukan karena cinta, tetapi karena kedua anaknya agar tidak kehilangan kasih sayang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Santi Suki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35
Siang itu langit terlihat cerah ketika Azalea mendorong kursi roda Mami Elsa keluar dari ruang terapi rumah sakit. Angin yang sejuk bertiup menyelinap masuk dari pintu kaca besar, membuat suasana terasa lebih segar.
Sesi terapi hari itu berjalan cukup lama, tetapi hasilnya membuat Azalea merasa lega.
“Alhamdulillah ....” Azalea tersenyum lega sambil memijat lembut bahu mertuanya. “Tangannya sudah normal kembali, Mi. Tadi waktu latihan menggenggam bola juga sudah kuat.”
Mami Elsa menggerakkan jari-jarinya perlahan. Tidak ada rasa sakit seperti sebelumnya.
“Iya,” jawabnya pelan. “Sekarang Mami sudah bisa makan sendiri. Tidak perlu kamu suapi lagi.”
Nada suaranya terdengar biasa saja, tetapi di dalam hatinya sebenarnya ada rasa sungkan.
Selama berminggu-minggu Azalea menyuapinya, membersihkan tubuhnya, bahkan merawatnya seperti seorang anak merawat ibunya sendiri. Hal yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.
Azalea tersenyum hangat. “Kalau begitu bagus, Mi. Berarti perkembangan Mami sangat cepat.”
Mami Elsa menatap wajah menantunya itu sekilas.
Wanita muda itu tampak sedikit kurus, mungkin karena kelelahan mengurus rumah, anak-anak, dan dirinya. Namun, wajahnya tetap lembut dan selalu tersenyum.
“Kita pulang, Mi,” lanjut Azalea sambil mulai mendorong kursi roda menuju pintu keluar. “Elora sudah memasang muka cemberut sejak tadi pagi.”
Mami Elsa mengangkat alis. “Kenapa?”
Azalea tertawa kecil. “Dia marah karena tidak diajak ikut ke rumah sakit.”
“Ah, anak itu memang sangat menempel denganmu.”
Mereka berjalan menuju parkiran. Di sana mobil sudah menunggu. Sopir pribadi keluarga mereka segera turun dan membuka pintu.
Azalea membantu Mami Elsa duduk dengan hati-hati di kursi belakang. Setelah kursi roda dilipat dan dimasukkan ke bagasi, mobil pun mulai berjalan pulang.
Beberapa menit suasana di dalam mobil terasa tenang. Kemudian Mami Elsa berkata pelan, “Anak-anak terlalu menempel sama kamu.”
Azalea menoleh sedikit. “Maksud Mami?”
“Bahkan tidur pun kamu bersama Elora.”
Azalea terdiam.
“Tidak baik seorang istri pisah ranjang dengan suaminya,” lanjut Mami Elsa. Baru kali ini mengomentari hal itu.
Wajah Azalea langsung memerah. Ia menunduk cepat-cepat agar tidak terlihat.Jantungnya tiba-tiba berdetak lebih cepat. Sebenarnya bukan ia tidak mau tidur bersama Enzo. Namun, sejak awal pernikahan mereka terjadi begitu cepat dan penuh situasi yang rumit. Ia tidak pernah berani mengambil langkah itu sebelum Enzo sendiri yang memintanya.
“Mungkin kalau Elora sudah bisa ditinggal tidur sendiri, Mi,” jawab Azalea hati-hati.
Mami Elsa memandangnya. “Kenapa?”
“Mami tahu sendiri kalau tengah malam Elora bangun dan tidak melihat aku ... ” Azalea tersenyum kecil. “Dia bisa menangis keras.”
Mami Elsa menghela napas. “Anak itu memang manja.”
Beberapa detik ia terdiam, lalu berkata lagi,
“Besok lusa ulang tahun Elora yang keempat.”
Azalea langsung menoleh. “Empat tahun?”
Tidak terasa waktu cepat berlalu. Bagi Azalea, kematian Jasmine ketika melahirkan terasa baru terjadi kemarin.
Mami Elsa mengangguk. “Selama ini Enzo tidak pernah merayakan ulang tahun anak-anaknya.”
Azalea terkejut. “Kenapa?”
“Mungkin karena terlalu banyak kenangan dengan Jasmine.”
Suasana di dalam mobil mendadak sunyi. Nama itu masih terasa seperti bayangan yang sesekali muncul di tengah kehidupan mereka.
“Terutama Elora,” lanjut Mami Elsa pelan. “Hari dia lahir adalah hari Jasmine meninggal.”
Azalea menunduk. Ia sangat sedih. Bahkan Elora sendiri tidak pernah benar-benar merasakan ulang tahun seperti anak-anak lain.
“Coba kamu bicara dengan Elora,” kata Mami Elsa. “Mungkin kita bisa merayakannya kecil-kecilan.”
Azalea tersenyum lembut. “Baik, Mi.”
Sore hari rumah kembali ramai oleh suara anak-anak. Erza dan Elora sedang menggambar di ruang keluarga. Kertas dan pensil warna berserakan di meja.
“Mommy! Lihat ini!” seru Elora sambil mengangkat gambarnya.
Azalea yang baru masuk langsung menghampiri. “Wah, ini gambar apa?”
“Ini Mommy, Daddy, aku, Kak Erza, sama Oma!”
Azalea tersenyum melihat gambar sederhana itu. Lima orang berdiri sambil berpegangan tangan.
Sementara Erza memperlihatkan gambar kerbau yang besar. “Ini kerbau yang di kampung dulu.”
“Bagus sekali,” puji Azalea.
Tidak lama kemudian suara pintu depan terdengar.
Enzo pulang dari kantor. Seperti biasa, begitu sampai rumah ia langsung menuju kamar untuk mandi.
Sementara itu Azalea masuk ke kamar mereka untuk menyiapkan pakaian suaminya. Ia meletakkan kaus dan celana santai di atas tempat tidur.
Suara air dari kamar mandi terdengar jelas. Biasanya setelah selesai menyiapkan pakaian, Azalea langsung keluar kamar. Namun, kali ini ia tetap berdiri di sana. Ada sesuatu yang ingin ia bicarakan dengan Enzo. Tentang ulang tahun Elora.
Beberapa menit kemudian pintu kamar mandi terbuka. Azalea refleks menoleh.
“Astaghfirullah!” Wanita itu langsung membalikkan badan dengan wajah merah padam.
Enzo yang baru keluar juga ikut terkejut. Saat itu ia hanya memakai handuk pendek yang dililitkan di pinggang. Rambutnya masih basah. Tangannya sedang mengusap rambut dengan handuk kecil.
“Lea?” panggilnya heran.
Azalea berdiri membelakangi sambil menutup wajahnya. “I-iya…”
“Ada apa?”
“Sebenarnya ... ” Azalea berusaha menenangkan suaranya. “Ada yang mau aku bicarakan sama Mas.”
Enzo mengerutkan kening. “Sekarang?”
Azalea mengangguk cepat walau Enzo tidak bisa melihatnya. “Aku tunggu di gazebo saja. Kita bicarakan sesuatu yang penting.”
Tanpa menunggu jawaban, Azalea langsung berlari keluar kamar. Langkahnya cepat sekali. Pipinya masih panas. Baru saja ia melihat sekilas dada bidang Enzo dan perutnya yang berotot. Pemandangan itu membuat jantungnya berdebar tidak karuan.
Saat melewati ruang keluarga, Erza dan Elora masih duduk di lantai sambil menunjukkan gambar kepada Mami Elsa. Azalea melintas begitu cepat.
“Lea?” panggil Mami Elsa.
Namun, Azalea sudah keburu keluar menuju taman belakang. Belum sempat rasa penasaran Mami Elsa hilang, Enzo juga melewati ruang keluarga dengan langkah panjang. Rambutnya masih sedikit basah, sekarang sudah memakai kaus rumah.
“Mau ke mana?” tanya Mami Elsa.
“Ke belakang sebentar, Mi.” Enzo terus berjalan menuju taman.
Mami Elsa menatap ke arah pintu belakang dengan alis terangkat. Di dalam hatinya muncul rasa penasaran. “Mereka kenapa?” batinnya.
Sementara di gazebo belakang rumah Azalea berdiri sambil memegang dadanya yang masih berdebar. Ia mencoba menenangkan diri. Tidak lama kemudian langkah kaki Enzo terdengar mendekat. Dan perasaan Azalea kembali berdebar tanpa alasan yang jelas.
Enzo mau menerima masa lalu nya Lea 🤗
dn akhirnya kini Enzo tahu kalau Reza yg di maksud itu adalah Reza karyawan nya sndri 🤣
lagian nih ya walaupun Reza mendekati setengah mati si Lea juga GK bakal peduli maaassss 😂