NovelToon NovelToon
Target

Target

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Mengubah Takdir / Fantasi
Popularitas:189
Nilai: 5
Nama Author: Rick Tur

Fred Tucker, mahasiswa kedokteran diparis, penampilan biasa, agak gempal dan bukan pusat perhatian. satu kali menjadi dirinya menjadi target pembunuh bayaran. Dia harus melarikan diri tanpa tahu penyebabnya. bukan miliarder, bukan siapa-siapa, orang tua biasa saja namun menjadi target mati. hidupnya hancur, orang tua nya mati. Untuk mengetahui apa yang terjadi hidupnya maka Fred harus menjadi pembunuh bayaran. berlatih dan menjadi kuat Dia harus ke berbagai negara sebagai Assassin

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rick Tur, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Dr. E. Mercer

Kereta mengguncang pelan, seperti ingin menidurkan siapa pun yang duduk terlalu lama. Lampu kabin meredup ketika malam turun, membuat wajah penumpang berubah jadi siluet-siluet lelah. Beberapa orang sudah tertidur, kepala miring, mulut sedikit terbuka, tubuh terhuyung mengikuti ritme rel.

Fred tidak bisa.

Matanya perih, tapi ia memaksa tetap terbuka. Ia menahan kantuk seperti menahan napas di bawah air—panik, tegang, siap tersedak kapan saja. Setiap kali kelopak matanya jatuh setengah, bayangan rumah orang tuanya muncul. Dan bersama bayangan itu, rasa takut kembali berdiri tegak di tulang punggungnya.

Ia tidak tidur. Ia berjaga.

Setiap kali kereta berhenti di stasiun kecil, Fred menegang. Ia menatap pantulan kaca, mencoba melihat apakah ada orang yang memperhatikan dia terlalu lama. Tapi orang-orang tampak biasa: pelajar, pekerja, pasangan tua.

Lalu di satu pemberhentian—stasiun yang namanya bahkan tidak sempat ia baca—pintu terbuka dan seorang pria tua masuk.

Pria itu tinggi sedang, bahu sedikit bungkuk, berjanggut tebal yang sudah bercampur putih. Ia memakai mantel panjang yang terlihat usang namun bersih, dan membawa tas kecil kulit seperti tas dokter zaman dulu.

Pria itu melihat sekeliling, lalu duduk tepat di sebelah Fred.

Fred merasakan darahnya turun dingin.

Ia tidak menoleh cepat. Ia menahan diri agar tidak terlihat panik. Ia hanya mengangkat dagu sedikit, memberi anggukan sopan—angggukan orang Prancis yang tidak ingin dianggap kasar.

Pria berjanggut itu membalas dengan anggukan yang sama.

Tidak ada percakapan.

Tidak ada “permisi”.

Tidak ada “boleh duduk?”

Ia duduk, membuka sedikit mantelnya, lalu menatap ke depan seperti orang yang sudah duduk di kursi itu seribu kali.

Fred menelan ludah.

Tenang, katanya pada diri sendiri. Orang tua cuma duduk. Jangan paranoid.

Tapi tubuhnya menolak tenang. Keberadaan pria itu terlalu… tepat. Terlalu “pas”.

Fred memegang tasnya, menahan tangan agar tidak gemetar. Ia menatap lurus ke depan, pura-pura membaca sesuatu di ponsel yang baterainya tinggal sedikit. Ia tidak menulis pesan apa pun. Ia hanya menatap layar kosong seperti orang bodoh.

Waktu berjalan pelan. Kereta melewati kegelapan. Lampu-lampu kota kecil terlihat seperti titik-titik jauh, lalu hilang lagi.

Pria berjanggut itu tidak bergerak banyak. Sesekali ia menghela napas, sesekali ia menggeser posisi. Tapi tidak ada tanda agresi. Tidak ada tatapan yang terlalu lama.

Itu justru lebih menakutkan.

Karena pembunuh yang baik… tidak terlihat seperti pembunuh.

Fred mempertahankan jarak kecil di antara siku mereka. Ia menghitung detik di kepalanya, berusaha mengalihkan rasa takut. Ia mencoba mengingat wajah Maëlle di stasiun—cara Maëlle berdiri menunggu, seolah dunia di depannya hanya garis tembak.

Jangan jadi pahlawan. Jadi yang selamat.

Fred mengulang kalimat itu dalam hati seperti doa.

Malam semakin dalam. Penumpang semakin sedikit. Fred mulai merasakan kepalanya berat. Ia berkali-kali memaksa dirinya mengedip keras, menepuk paha pelan, menggigit bagian dalam pipinya agar tetap sadar.

Entah jam berapa—jam di ponselnya sudah mati—pria berjanggut itu akhirnya bergerak.

Ia berdiri pelan, merapikan mantelnya, mengangkat tas kecilnya.

Fred merasakan ototnya mengencang. Ia menoleh sedikit, hati-hati.

Pria itu menatap Fred, lalu berkata dengan suara rendah, sangat biasa, seolah mereka kenalan lama:

“Aku turun di sini.”

Fred mengangguk reflek. “Oke…”

Dan tepat saat Fred menoleh sedikit lebih jauh—sekadar memastikan stasiun apa ini—sesuatu dingin menyentuh sisi lehernya.

Bukan pisau.

Bukan peluru.

Sebuah tusukan cepat, halus—seperti gigitan serangga yang terlambat terasa sakitnya.

Fred tersentak, tangan naik ke leher, tapi jari-jarinya seperti telat satu langkah dari pikirannya. Di sela keramaian kecil penumpang yang turun-naik, tidak ada yang melihat.

Pria berjanggut itu menekan sesuatu cepat, nyaris tak terlihat, lalu melepaskan.

Fred mencoba berdiri, tapi dunia sudah bergeser. Suara kereta jadi jauh. Lampu kabin berputar seperti lingkaran samar.

“Apa…,” Fred berbisik, tapi lidahnya tebal.

Matanya mencoba menangkap wajah pria itu.

Pria itu hanya mengangguk sekali lagi. Tenang.

Lalu Fred jatuh—bukan jatuh keras, tapi jatuh seperti orang yang tiba-tiba lupa cara menahan tubuh.

Gelap menelan semuanya.

Ketika Fred membuka mata, ia mengira ia masih di kereta.

Tapi tidak ada bunyi rel.

Tidak ada getaran lantai.

Yang ada hanya kasur empuk, bau sabun bersih, dan cahaya siang yang terang dari jendela.

Ia berkedip beberapa kali, jantungnya langsung memukul dada. Ia duduk cepat—terlalu cepat—lalu pusing menghantam. Tapi ia tidak terikat.

Tangannya bebas.

Kakinya bebas.

Tidak ada luka di leher selain titik kecil yang nyaris tidak terasa.

Fred memandang sekeliling. Kamar itu sederhana tapi rapi: dinding putih, lemari kayu, meja kecil dengan teko air. Di dinding ada foto-foto: seorang pria berjanggut muda di samping beberapa orang berseragam medis, foto hitam putih seorang perempuan tua tersenyum, dan… beberapa piagam.

Fred mengerjap, menahan napas.

Ini bukan tempat yang disiapkan untuk “menyiksa”.

Ini terlalu… normal. Terlalu seperti rumah orang baik.

Namun normal juga bisa palsu.

Ia turun dari tempat tidur, kaki sedikit lemas. Matanya menyapu ruangan, mencari apa pun yang bisa dijadikan alat bertahan: gunting, lampu, apa saja.

Yang paling dekat: pena di meja.

Fred meraihnya, menggenggam seperti senjata. Terasa konyol, tapi lebih baik daripada tangan kosong.

Pintu kamar terbuka.

Seseorang masuk pelan.

Pria berjanggut itu.

Fred mundur satu langkah, pena terangkat. “Mau apa kau?!” suaranya serak, penuh amarah dan takut bercampur jadi satu.

Pria itu tidak terkejut. Ia bahkan tidak mengangkat tangan seperti orang yang menenangkan. Ia hanya berdiri di ambang pintu, menatap Fred dengan mata lelah, lalu berkata pelan:

“Aku disuruh menyelamatkan kamu.”

Fred menelan ludah. “Bohong. Kamu… kamu menyuntik aku di kereta.”

Pria itu mengangguk, seolah itu fakta biasa. “Iya.”

“Itu bukan cara menyelamatkan!”

“Kalau aku bertanya dulu, kamu akan panik. Dan kalau kamu panik, orang lain akan melihat.” Pria itu melangkah masuk satu langkah, tetap menjaga jarak. “Namaku E. Mercer.”

Nama itu membuat darah Fred berhenti sesaat.

Fred menggenggam pena lebih kuat. “Maëlle kasih aku alamat E. Mercer. Tapi kamu bisa saja mencuri kertas itu.”

Pria itu menghela napas pendek, lalu menunjuk dinding tanpa dramatik.

“Lihat.”

Fred menoleh.

Di dinding, salah satu piagam tergantung rapi dalam bingkai. Hurufnya jelas.

Dr. E. Mercer

Ada cap institusi medis. Ada tanda tangan. Ada stempel resmi. Dan di sampingnya, foto pria berjanggut itu memakai jas dokter, tanpa mantel tua, dengan senyum yang lebih muda.

Fred menelan ludah.

Memang… mungkin itu bisa dipalsukan.

Tapi ada terlalu banyak detail. Foto-foto di dinding, tumpukan buku medis di rak kecil, sertifikat lain yang bertahun-tahun berbeda. Bahkan bau rumah ini—bau hidup yang berlangsung lama, bukan panggung yang dipasang semalam.

“Aku…” Fred menurunkan pena sedikit, tapi belum sepenuhnya percaya. “Kenapa aku di sini? Ini… bukan Inggris.”

Mercer mengangguk. “Kamu tidak harus sampai Inggris.”

“Maëlle bilang—”

“Maëlle ingin kamu sejauh mungkin, secepat mungkin,” potong Mercer pelan. “Itu keputusan orang yang sedang dikejar. Rasional. Tapi jalur ke Inggris sekarang terlalu… terlihat. Terlalu mudah diprediksi.”

Fred memijat keningnya, mencoba menahan pusing. “Jadi kamu culik aku untuk—”

“Untuk memotong jalur,” jawab Mercer. “Menghapus pola. Kamu masih bergerak menjauh dari Paris, tapi dengan cara yang tidak mudah dilacak.”

Fred menatap lehernya, meraba titik kecil. “Apa yang kamu suntikkan?”

“Sedatif ringan. Aman. Kamu bangun tanpa sakit kepala berat, kan?” Mercer menatap Fred seperti dokter memeriksa pasien, bukan penculik memeriksa korban.

Fred ingin membantah, tapi ia memang tidak merasa sakit selain pusing ringan.

Mercer menarik kursi dan duduk, memberi sinyal bahwa ia tidak akan menyerang. “Kamu lapar?”

Fred tidak menjawab.

Mercer melanjutkan, suaranya tetap datar, tapi ada sesuatu yang lebih berat di bawahnya. “Maëlle sedang mencoba mencari tahu kenapa kamu jadi target.”

Fred menatapnya tajam. “Kamu kenal Maëlle?”

Mercer mengangguk pelan. “Aku kenal… versi Maëlle yang masih punya banyak nama. Aku punya hutang padanya. Dan dia punya hutang padaku. Kami saling menutup pintu ketika diperlukan.”

Fred merasakan tenggorokan kering. “Maëlle baik-baik saja?”

Mercer diam sepersekian detik—jeda yang terasa seperti jawaban tanpa kata.

“Kondisinya rumit,” kata Mercer akhirnya. “Di stasiun waktu baku tembak… pria yang kamu lihat mengincarmu itu belum mati.”

Fred membeku.

“Belum mati?” Fred mengulang, suaranya retak.

Mercer mengangguk. “Maëlle pikir dia selesai. Tapi pria itu lolos. Dan kalau dia lolos, dia akan melapor bahwa Maëlle ikut campur.”

Fred merasakan jantungnya jatuh ke perut. “Jadi… Maëlle sekarang—”

“Sekarang Maëlle jadi buronan di jaringan pembunuh bayaran,” kata Mercer, tanpa melebih-lebihkan. “Mereka tidak suka ada orang yang merusak kontrak. Mereka apalagi tidak suka orang yang mengeksekusi ‘rekan’ di luar aturan mereka.”

Fred menatap lantai. Di kepalanya, wajah Maëlle di stasiun muncul lagi—berdiri menunggu dengan pistol, mengorbankan dirinya agar Fred bisa pergi.

“Kenapa dia melakukan itu?” Fred berbisik, lebih ke dirinya sendiri.

Mercer menatap Fred lama, lalu berkata pelan: “Karena dia sudah memilih.”

“Memilih apa?”

“Memilih untuk melindungimu,” jawab Mercer. “Dan pilihan itu… mengubah posisinya. Dari pemburu jadi target.”

Fred menggenggam ujung selimut, merasakan kemarahan yang bercampur bersalah. “Aku tidak minta dilindungi.”

Mercer mengangguk. “Kebanyakan orang tidak minta. Dunia tetap memilih mereka.”

Fred menatap Mercer lagi, matanya tajam. “Kalau kamu benar mau menyelamatkanku… maka jawab satu hal. Kenapa aku?”

Mercer menarik napas panjang. Tatapannya berubah lebih serius—seperti dokter yang akan menyampaikan diagnosis yang buruk.

“Aku belum punya jawaban final,” katanya jujur. “Tapi aku punya dugaan yang cukup kuat untuk membuatmu berhenti berpura-pura bahwa kamu ‘tidak spesial’.”

Fred menahan napas.

Mercer melanjutkan, perlahan, memilih kata. “Orang tuamu… bukan bunuh diri.”

Kalimat itu membuat udara di kamar terasa lebih dingin.

Fred membeku. Wajahnya memucat. “Apa?”

Mercer menatap Fred, suaranya lebih pelan, tapi lebih tajam. “Itu pesan. Dan pesan itu bukan hanya untuk menyakitimu. Itu untuk mengendalikanmu. Untuk mengarahkan kamu ke suatu tempat. Atau memaksa kamu melakukan sesuatu.”

Fred menelan ludah, air mata naik lagi, tapi kali ini bukan cuma duka—ini kemarahan.

“Arahkan… ke mana?”

Mercer mengangkat bahu sedikit. “Itu yang sedang Maëlle cari tahu. Tapi karena Maëlle sekarang diburu, pekerjaannya jadi lebih sulit. Dan karena kamu sekarang hidup… mereka mungkin akan mempercepat langkah.”

Fred menatap piagam di dinding lagi—Dr. E. Mercer—seolah mencari kepastian bahwa ini bukan mimpi.

“Jadi sekarang aku harus apa?” tanya Fred, suaranya pelan, habis.

Mercer berdiri pelan. “Sekarang, kamu istirahat dulu. Lalu kamu belajar dua hal: bagaimana cara tetap hidup, dan bagaimana cara jadi orang yang tidak mudah dipindahkan seperti paket.”

Fred menatapnya, getir. “Aku mahasiswa kedokteran.”

Mercer mengangguk. “Bagus. Kedokteran mengajarkan satu hal yang paling berguna dalam situasi begini: membaca orang.”

Ia melangkah ke pintu, lalu berhenti sebentar.

“Dan Fred,” kata Mercer tanpa menoleh, “kalau kamu masih berpikir kamu tidak spesial… itu justru yang membuatmu paling berbahaya bagi mereka. Karena orang yang tidak sadar nilainya, sering membawa sesuatu tanpa pernah menjaganya.”

Pintu tertutup pelan.

Fred berdiri sendirian di kamar, pena masih di tangannya, tapi sekarang pena itu terasa konyol lagi.

Di luar jendela, siang terang.

Dan di tempat lain—entah di mana—Maëlle sedang berlari di bayangan, bukan lagi sebagai pemburu.

Melainkan sebagai buronan.

Dan Fred akhirnya sadar: perjalanan ini belum dimulai.

Ini baru pembuka.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!