NovelToon NovelToon
Rumah Untuk Ibu Susu Bayi Bos Sawit

Rumah Untuk Ibu Susu Bayi Bos Sawit

Status: sedang berlangsung
Genre:Duda / Cinta Seiring Waktu / Ibu susu
Popularitas:6.7k
Nilai: 5
Nama Author: Anna

“Untung bapak kamu banyak duit, mun mak, dak sudi nyak nyusui nikeu.”

Kelebihan kadar hormon proklaktin dan pertemuan tidak sengajanya dengan Rizal membawa Nadya pada pilihan nekat—menjadi ibu susu untuk Adam putra Rizal yang mengalami kelainan dan alergi susu formula.

Namun, siapa sangka kehadiran Rizal dan juga sang putra Adam justru memberi kenyamanan untuk Nadya. Meski disertai fitnah dan anggapan buruk Sartini—Ibu mertua Rizal, yang menginginkan Rizal turun ranjang dengan Dewi adek kandung Almarhum istri Rizal.

Bagaimana Nadya menjalani kehidupan barunya dan akankah dia menemukan apa yang dia cari pada diri Rizal dan Adam?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Susu 2

Waktu masih menunjukkan pukul delapan lebih sepuluh menit saat mobil yang dikendarai Rizal sampai di rumah sakit besar, di Ibu kota Kabupaten. 

Laki-laki itu dengan tergesa mengajak Nadya turun bahkan setengah berlari menuju ruang khusus anak di rumah sakit itu. 

“Dokter Retno apakah sudah pulang, Sus?” tanyanya pada salah satu Suster jaga. 

“Sepertinya masih di ruangannya, Pak.” 

Tanpa menunggu keterangan lain dari suster, Rizal lekas mengetuk pintu ruangan dokter anak yang menangani kasus bayinya. 

Seketika, dokter paruh baya yang sedang membereskan barang-barangnya itu terkejut saat Rizal datang dengan napas tersengal dan seorang wanita muda di gandengannya. 

“Pak Rizal?”

“Dokter, saya sudah menemukan wanita yang siap mendonorkan ASI untuk anak saya,” seru Rizal tanpa basa-basi. 

Dokter Retno menautkan alisnya, kaca mata yang baru ia lepas dari mata sipitnya kembali ia kenakan. “Duduk dulu Pak Rizal, bicara dengan tenang.” 

Rizal menelan ludahnya, mengatur napasnya yang ngos-ngosan—lelah karena berlarian bercampur kesenangan. Pun gadis manis di belakangnya yang tak kalah ngos-ngosan. 

“Mau ngajak mati kayaknya ini orang,” gumam Nadya sembari mengusap peluh di pelipisnya. 

Dokter Retno yang masih belum paham dengan maksud kedatangan Rizal, menatap dengan raut heran. Dokter paruh baya itu kemudian menyodorkan dua gelas air mineral kepada Rizal dan juga Nadya. 

“Minum dulu, Pak.”

Rizal menghabiskan air mineralnya dalam sekali teguk, setelah sedikit tenang ia mulai menceritakan tentang kondisi Nadya dan juga maksud kedatangannya.

Dokter berpengalaman itu manggut-manggut paham, ia kemudian mengajukan beberapa pertanyaan kepada Nadya sebelum memberi saran lanjutan. 

“Baik, Pak Rizal. Kondisi Ibu Nadya memang memungkinkan dia bisa menjadi pendonor asi. Namun, kita perlu melakukan tahap pemeriksaan untuk menguji kelayakan. Dan lagi, karena kondisi Ibu Nadya disebabkan kelainan hormon, kita mungkin perlu melakukan beberapa tindakan induksi dan juga pendukung lain agar asi yang dihasilkan tetap lancar,” jelas dokter Retno. 

“Lakukan apapun yang terbaik untuk asi anak saya, Dok,” sahut Rizal penuh harap. 

“Baik, besok pagi saya akan menjadwalkan pemeriksaan menyeluruh untuk Ibu Nadya, saya sarankan malam ini menginap di dekat sini saja agar Bu Nadya tidak kelelahan,” ujar dokter Retno seraya tersenyum hangat. 

Rizal mengangguk pelan. “Terimakasih sarannya, Dok. Kalau begitu kami pamit undur diri, maaf mengganggu waktu dokter.” 

Di ruangan yang berbatas kaca bening, Rizal menatap boks bayi dengan mata berkaca-kaca, pundaknya merosot pelan menandakan kelegaan, bibirnya merapalkan rasa syukur terdalam. 

“Akhirnya aku bisa menyelamatkan anak kita, Dik. Semoga kamu bisa melihatnya dari surga,” gumamnya sembari mengusap bulir bening di ujung matanya. 

Sementara di sampingnya, Nadya berdiri dengan tatapan jengah, sudah lebih dari satu jam sejak mereka keluar dari ruangan dokter Retno dia menunggu Rizal meratapi kesedihannya. 

“Heh laki! Mau sampe pagi kita berdiri di sini? Dokter itu tadi bilang, saya harus banyak istirahat!” celetuk Nadya, akhirnya.

Rizal yang baru tersadar ada orang lain di sampingnya tersentak kecil, bibirnya mengulum senyum canggung. 

“Maaf, aku lupa kalau ada kamu. Aku akan carikan hotel untuk kamu menginap. Ah, sampai lupa, Aku Rizal, kamu bisa panggil aku Bang Rizal, atau sesuka kamu sajalah. Nama kamu?” 

“Apa kamu ndak denger waktu dokter tanya tadi?” sahut Nadya ketus. 

Rizal tersenyum masam, lalu kembali bertanya dengan suara pelan. “Kamu mau menemui preman-preman itu dulu buat nyelesain urusanmu atau—”

“Nyak mangan dulu. Lapar!” sergah Nadya. (saya mau makan dulu, laper!) 

***

Matahari sudah tinggi saat Nadya menyelesaikan rangkaian pemeriksaan. Wajah gadis muda itu pucat, tangannya sedikit gemetar. Ia berulang kali menelan ludahnya, saat Suster meletakkan seorang bayi di pangkuannya. 

“Sudah tau caranya menyusui, Bu?” tanya Suster itu ramah. 

“Belum.” sahut Nadya datar, dalam hati gadis berwajah manis itu mengumpat keras. ‘Ini pertama kalinya tetekku dihisap, Setan!’

“Baik, saya bantu, ya? Caranya sama saja kok kaya netek’in…,” suster itu menggantung ucapannya, lalu terkikik pelan. 

Nadya mendelik seketika, bibirnya terkatup rapat menahan segala umpatan kotor yang tertahan di tenggorokan. Belum reda dengan amarah di dadanya, gadis manis itu kembali dikejutkan dengan tangan suster yang begitu santai mengeluarkan tetek sebelah kanannya, lalu mengarahkan ke bibir bayi mungil di pangkuannya. 

Seketika, bibir bayi mungil itu mengulum udara seolah mencari sesuatu. Kepalanya bergerak pelan merasakan kehangatan, naluri alaminya bekerja—tanda ia ingin menyusu. 

Alis Nadya mengerut dalam, bibirnya berdesis lirih, matanya terpejam—menahan geli bercampur perih saat bayi yang terbungkus bedong berwarna biru muda itu mulai menghisap coco melonnya. 

“Akhhh!” teriakan kecil lolos dari bibir Nadya, wajahnya meringis, tangannya meremas erat ujung selimut yang mengalasi tubuh sang bayi. 

“Tahan sedikit, Bu. Lidah bayi baru lahir memang sedikit kasar, beda dengan milik bapaknya,” celetuk suster yang masih setia mendampingi Nadya.  

Nadya memutar bola matanya—muak. Namun, ia tak memiliki kekuatan untuk menjawab mulut lemes suster itu, fokusnya masih pada rasa aneh yang menjalar di dadanya, bukan hanya di teteknya tapi jauh di lubuk hatinya. Sebuah getaran yang lebih dari sekedar rasa nyeri dan geli melainkan kelegaan. 

Tiga hari sudah Nadya menjalani pelatihan menyusui di rumah sakit, beberapa kali ia mendapatkan suntik laktasi induksi sebagai perangsang teteknya agar menghasilkan ASI lebih banyak, juga pengarahan stimulasi coco melon termasuk pumping, baik dengan alat maupun hisapan langsung sebagai penunjang kelancaran produksi ASI. 

Gadis muda yang belum genap berusia dua puluh lima tahun itu, terduduk lemas di kursi tunggu begitu selesai menyusui Adam—bayi yang menjadi anak susunya. 

Gurat lelah tergaris di wajah manisnya, berulang kali ia menghela napas berat sambil memejamkan mata. Terselip senyum getir di bibir mungilnya yang bergumam pelan. “Apalah yang ada dipikiran kamu Nadya … tau-tau netekin bayi, lawang betul hidup kamu ini.” 

(Lawang\=gila)

Nadya masih bermain dengan pikirannya saat Rizal datang dengan satu plastik cemilan di tangannya.

“Makan es krim nih biar ilang capeknya,” tawar laki-laki tampan itu sambil menyodorkan sebatang es krim coklat. 

Nadya berdecih pelan, sudut matanya melirik sinis. “Ogah,” tolak gadis manis itu, ketus. 

“Kenapa? Adam nggak akan pilek kok kalo cuma makan satu bungkus doang,” tawar Rizal lagi.

“Saya alergi es krim, coklat pula, bisa pecah kepala saya.” sahut Nadya sambil memalingkan muka. 

Rizal terdiam sejenak, alisnya berkerut tipis. “Alergi?” 

“Kenapa kaget? Kamu pikir betina nggak ada yang alergi makanan begituan?” 

Laki-laki dengan mata sendu itu, tersenyum samar sembari menyimpan kembali es cream yang dibawanya ke dalam plastik. “Cuma heran aja, perempuan ‘kan biasanya paling suka sama yang manis-manis.” 

Seringai sarkastik terbit dari bibir Nadya, ia menoleh ke arah Rizal, menatap tajam bola mata amber milik laki-laki itu, lalu berucap pelan sebelum beranjak dari duduknya. "Ngobati lelah itu pake arak atau vodka, bukan pake makanan bocah bayi begini.” 

Rizal terbahak seketika, tangan lebarnya mengusap wajah, lalu megikuti langkah Nadya yang mulai menjauh. 

“Kalau pakai itu, bisa-bisa Adam teler nanti,” celetuknya, sambil mengimbangi langkah kaki Nadya. “Oh ya, kata dokter Retno, besok Adam sudah boleh dibawa pulang, kamu ada yang mau disiapkan atau mau menyelesaikan urusan yang kemarin?” imbuhnya kemudian. 

“Anterin saya ambil baju ganti di kontrakan,” sahut Nadya. 

“Urusanmu dengan preman itu?” 

Nadya menghentikan langkahnya, menoleh tajam ke arah Rizal.

“Itu urusan saya, urusan kita cukup yang menyangkut tetek aja.” 

Bersambung. 

Jalan-jalan ke kota Kalianda, jangan lupa beli terasi menggala

Kalau kamu penasaran dengan kisah Bang Rizal dan Nadya

Bisalah kasih like, komen, dan bintang limanya.

Skrrrrrttt🌴

1
Ita Nuryani
gak pernah dobel up tor
Anna: Lagi ngerjain 2 judul, Kak, jadi hemat bab biar bisa up setiap hari. 🙏
total 1 replies
Ratih Tupperware Denpasar
nenek lampir sewot lihat nad nad dikasi ATM.
Anna: kita bikin makin jantungan. 😄
total 1 replies
Ratih Tupperware Denpasar
akankah setelah ini trio kwek kwek yg selalu berisik tahu siapa sebenarnya nadia?
Anna: siap, terima kasih sarannya, Kak. 🫶
total 4 replies
SooYuu
ih dikitnya upnya kak, berasa ngedip dah bersambung aja😩
Anna: istigfar.
total 1 replies
SooYuu
suruh isep ppnya😭 eh lah keceplosan😩😩
Anna: Hehh, otewe kata Bang Rizal. 😗
total 1 replies
SooYuu
dih🤣🤣
Anna: ape luu. Kata Dewi🫢
total 1 replies
Ratih Tupperware Denpasar
kok up nya cuma sedikit. up yg banyak dong kak...kukasi secangkir kopi deh
Anna: inginnya begitu, tapi apalah daya otak tak sampai ... 😖
total 1 replies
Linceu thea
nah zal hayoo ... tanya hasna sana 😂😂😂
Anna: Rizal menggaruk tengkuk yang tak gatal.
total 1 replies
gendhis jawi
hbs ini adam sakit gr2 sufor
Anna: kita bikin panik Bang Rizal.
total 1 replies
Dae_Hwa💎
Jangan sampai mulut ibu, saya bekap pakai kaos partai.
Anna: Yang ada bantengnya, biar sekalian nyruduk.
total 1 replies
SooYuu
kirain glundung dari kasur 🤣
Anna: glundung??? trauma eyy 🫢
total 2 replies
Linceu thea
tenang nad masih ada mas rijal 😂😂😂
Dae_Hwa💎
Selamat untuk karya barunya, Kak Anna 🥰
Semangat 🔥
Anna: Awwww 🫶
total 1 replies
SooYuu
udahlah Has iklhas saja, kali ini pun kau takkan menang. instingku mengatakan demikian🤣
SooYuu
wah, memang abang rizal ini macam buaya2 pada umumnya
SooYuu
iyuh R&H 😭😭
Anna: pake benang emas.catet.
total 1 replies
Linceu thea
ya bersambung ga jadi deh ikut nimpuk pala ma sur nih 😄😄😄
Linceu thea: 😂😂 biar amunisi ny kuat lanjut thor
total 2 replies
Rehan Atar
widih nunggu lagi ..... gasss kenceng nulisnya thor dah nyandu penasaran sama preman2 yg ngejar nadya 😄
Anna: Preman sedang war THR🌴
total 1 replies
nayla tsaqif
Ujian cinta kita katanya,, cinta kamj aja kali naa hasna,, 🤭
Anna: Jatuh cinta memang manis .... apalagi .... 🌴
total 1 replies
Yessi Kalila
pengin coba pindang baung.... kaya apa rasanya y
Anna: nikmat betull, Kak. Apalagi kepalanya behhhh ... mertua betamu juga nggak bakal saya bukain pintu. 🤣
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!