Cinta tidak pernah salah.
Yang salah… hanya waktunya.
Zara mencintai Kenzy dengan cara yang tenang.
Seperti rumah yang selalu menunggu untuk ditinggali.
Seperti doa yang diucapkan pelan setiap malam.
Ia tidak pernah menuntut masa lalu Kenzy.
Ia hanya ingin menjadi masa depan yang dipilihnya.
Namun takdir tidak pernah sesederhana itu.
Karena sebelum Zara… ada Eve.
Perempuan yang pernah menjadi dunia Kenzy.
Yang mencintainya ketika hidup belum dipenuhi luka.
Yang menggenggam tangannya sebelum badai menghancurkan segalanya.
Eve tidak pergi karena tidak mencintai.
Ia pergi karena mencintai terlalu dalam.
Dan ketika ia kembali,
Ia tidak datang untuk merebut.
Ia hanya datang dengan hati yang belum selesai.
Kenzy berdiri di antara dua perempuan yang sama-sama mencintainya dengan cara yang berbeda.
Satu adalah masa lalu yang penuh pengorbanan.
Satu adalah masa kini yang penuh ketulusan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agustin Hariyani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 14
Sudah hampir 5 bulan Kakek Jo tidak muncul di kantor.
Biasanya beliau datang santai,
Berkeliling,
ngobrol dengan staf, dan tentu saja…mampir ke ruang Kenzy cuma buat mengganggu cucunya.
Tapi sejak Zara jadi asisten pribadi Kenzy, Kakek tidak pernah datang ke kantor, ia lebih suka dirumah bermain dengan kucing peliharaannya dan sore hari janjian dengan zara di taman.
Dan sejak zara jadi Asisten pribadi kenzy, waktu bertemu zara jadi jarang karena zara yang sibuk bekerja.
Dan jujur saja.
Kakek Jo kangen.
Apalagi setelah mendengar gosip murahan yang beredar di seluruh gedung Maheswara.
Awalnya beliau cuma dengar sepintas dari Rendi.
Tapi makin lama makin panas.
“Zara cari muka.”
“Zara merayu Pak Kenzy.”
“Pasti ada hubungan nggak benar.”
“Jogging sama Presdir? Pasti Wanita nggak bener.”
Kakek Jo yang awalnya cuma dengar sambil minum teh…
Pelan-pelan meletakkan cangkirnya.
Tatapannya berubah.
“Anak itu kerja keras. Bukan untuk dihina.”
Dan pagi itu.
Mobil hitam dengan plat khusus memasuki basement Maheswara Corp.
Security langsung siaga.
“Presdir datang!”
Kabar itu menyebar cepat.
Tapi tidak ada yang siap untuk apa yang akan terjadi.
Zara sedang menyusun dokumen di ruang Kenzy saat Rendi masuk buru-buru.
“Zara.”
“Iya?”
“Presdir datang.”
Zara langsung senyum.
“Kakek Jo?”
Rendi mengangguk pelan.
Zara tidak sadar… beberapa pegawai yang lewat mendengar ia menyebut Presdir dengan panggilan “Kakek Jo”.
Bisik-bisik makin tajam.
“Tuh kan.”
“Sok dekat banget.”
“Berani banget panggil Kakek.”
Zara tidak peduli.
Ia justru senang.
Sudah lama tidak ketemu partner lomba lempar botolnya.
Sekitar pukul 10 pagi.
Tiba-tiba pengumuman internal berbunyi.
“Seluruh karyawan dimohon berkumpul di area lobby utama. Presiden Direktur ingin menyampaikan sesuatu.”
Semua saling pandang.
“Ada apa?”
“Evaluasi?”
“PHK massal?”
Zara juga kaget.
“Pak, Bapak tahu soal ini?”
Kenzy menggeleng.
“Kakek tidak bilang apa-apa.”
Mereka turun ke lobby.
puluhan karyawan sudah berkumpul.
Kakek Jo berdiri di depan dengan mikrofon.
Tenang.
Berwibawa.
Tapi mata jahilnya khas sekali.
Zara sudah merasa tidak enak.
Kenzy berdiri di sampingnya.
“Kakek mau bikin apa…”
Kakek Jo mulai bicara.
“Selamat pagi semuanya.”
“Selamat pagi, Pak!”
“Saya dengar akhir-akhir ini ada banyak cerita menarik di gedung ini.”
Beberapa orang langsung kaku.
Zara mulai merasa jantungnya tidak beres.
Kakek Jo melanjutkan dengan santai,
“Cerita tentang seorang karyawan yang katanya tidak etis. Katanya penjilat. Katanya merayu.”
Suasana langsung tegang.
Zara ingin menghilang saja
Kenzy rahangnya mengeras.
Lalu…
Kakek Jo tersenyum lebar.
“Supaya tidak ada lagi gosip murahan dan mengganggu kenyamanan dan juga kinerja kita semua… saya akan luruskan.”
Hening.
Sunyi total.
“Zara tidak sedang merayu siapa pun.”
Semua menatap Zara.
Zara ingin pingsan.
“Ya Allah…pengen terbang aja…hilang.”
Kakek Jo lanjut dengan suara mantap,
“Karena Zara adalah tunangan cucu saya.”
Dunia berhenti.
Semua karyawan terkejut, terlebih yang sudah menyebarkan gosip.
Lift seakan macet.
AC berhenti berhembus.
Kenzy melotot.
Zara melotot.
Serempak.
“KAKEK?!”
Tapi mikrofon masih di tangan beliau.
“Ya. Tunangan. Jadi kalau ada yang melihat mereka bersama, itu bukan cari muka. Itu namanya hubungan keluarga.”
Suara bisik berubah jadi heboh total.
“Apa?!”
“Tunangan?!”
“Sejak kapan?!”
Kenzy benar-benar membeku.
Zara bahkan lupa cara berkedip.
Kalimat yang melintas di kepala mereka sama :
“Dari sekian banyak hari tanpa kakek di kantor… baru hari pertama comeback sudah bikin heboh dan drama.”
Kakek Jo menutup dengan santai,
“Dan kalau ada yang tidak suka… silakan bekerja lebih baik daripada menyebar gosip.”
Mic turun.
Senyum puas.
Kerumunan mulai bubar.
Tapi Kenzy dan Zara?
Masih berdiri.
Seperti patung pajangan lobby.
Zara pelan-pelan menoleh ke Kenzy.
“Pak…”
Kenzy masih mematung.
“Ya.”
“Kita tunangan ya?”
Kenzy menatap lurus ke depan.
“Saya baru tahu.”
Zara menarik napas panjang.
“Ini level drama sudah bukan gosip lagi. Ini sinetron 300 episode.”
Kenzy akhirnya menoleh ke arah kakeknya yang berjalan mendekat dengan santai.
“Kakek.”
“Iya, Ken?”
“Itu tadi apa.”
Kakek Jo tersenyum polos.
“Strategi manajemen krisis.”
Zara hampir tersedak.
“KEK ITU BUKAN STRATEGI ITU BOM!”
Kakek Jo tertawa kecil.
“Daripada cucu Kakek dan calon cucu mantu dihina terus, lebih baik sekalian dibungkam.”
Zara freeze lagi.
“CALON APA?”
Kenzy menutup wajahnya sebentar.
Untuk pertama kalinya dalam hidupnya sebagai Maheswara
Ia tidak punya kontrol atas situasi.
Dan yang lebih parah,
Ia tidak sepenuhnya benci ide itu.
Zara masih berdiri dengan wajah merah campur panik.
“Pak… sekarang saya harus bersikap gimana di kantor?”
Kenzy menatapnya.
Lama.
Lalu berkata pelan,
“Kita perlu bicara.”
Kenzy menggandeng tangan zara.
Zara langsung deg-degan lagi.
Kakek Jo tersenyum puas melihat dua anak muda itu berjalan menuju lift.
Gedung Maheswara resmi heboh.
Gosip berubah arah.
Tapi satu hal pasti,
Drama baru saja dimulai.