Tiga tahun mengabdi sebagai seorang istri yang patuh dan di jadikan pengasuh anaknya. Marissa akhirnya menyerah setelah tahu dia di khianati. Bahkan putra sambung yang dia rawat selama ini tak lagi memihaknya.
Marissa marah, Dia yang seorang artis terkenal takkan akan diam dan akan balas semuanya.
Di sisi lain, Mendengar kakak angkat sekaligus wanita yang di cintainya terkhianati. Tentu saja Dylan murka. Pria itu takkan pernah mengampuni siapapun yang berani menyakiti Marissa, Wanita yang sejak dulu diam-diam ia sukai.
•••••
"Kau mencintaiku? Aku kakak mu..." Marissa Nugroho
" Kita sudah menjadi pasangan kakak beradik, Apa salahnya kita menjadi pasangan suami istri..." Dylan Sean Abraham.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon El Viena2106, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Icha Tidak Butuh
"PAPAAAA!!!
Kenan berlari menyambut kepulangan Gilang dengan berlari. Bocah kecil itu langsung memeluk Gilang yang baru saja pulang dari rumah sakit.
"Papa...
" Kenan.. " Pria itu berjongkok mensejajarkan tingginya dengan tinggi sang putra.
"Ini sudah malam Ken, Kau tidak tidur.." Kenan menggelengkan kepalanya.
"Aku gak bisa tidur Pa...
"Den Kenan tidak mau tidur Pak.. Katanya dia nunggu bapak pulang.." Sahut Bibi yang sejak tadi juga bingung bagaimana cara membujuk majikan kecilnya agar segera tidur.
"Ya udah Bi, Gapapa.. Biar dia tidur sama saya setelah ini. Bibi kalau mau istirahat, Istirahat saja dulu.." Bibi pun mengangguk lalu pamit undur diri. Wanita paruh baya itu berjalan masuk ke kamarnya untuk istirahat.
Gilang kembali menatap sang putra yang tak ceria seperti biasanya.
"Ya sudah ayo sekarang Kenan masuk kamar biar Papa temenin tidurnya.." Kenan mengangguk. Gilang pun berdiri dan mengantar sang putra semata wayangnya itu masuk ke dalam kamar.
Kenan naik ke atas tempat tidurnya di ikuti oleh Gilang yang ikut menyusul lalu berbaring disana.
"Sekarang tidurlah.." Kenan memeluk guling kemudian memejamkan matanya. Sejak kecil Kenan memang sudah terbiasa tidur selalu di temani. Apalagi sejak Gilang menikahi Icha, Wanita itu tak pernah absen menemani Kenan tidur sampai bocah itu benar-benar terlelap.
Terkadang Icha juga membacakan dongeng. Meski akhir-akhir ini sikap Kenan berubah terhadap Icha wanita itu tetap melakukan tugasnya sebagai seorang ibu dengan baik.
Tapi setelah Kenan enggan dan berontak setiap di nasehati Icha bahkan sering menolak permintaan bocah itu, Dan sejak saat itulah Icha tak lagi menemani Kenan itupun terjadi selama satu minggu ini.
"Sepertinya dia sudah tidur.. " Gumam Gilang memerhatikan putranya yang telah terlelap. Dengan hati-hati Gilang bangkit dari tempat tidur Kenan. Pria itu hendak keluar namun pergerakan itu terhenti setelah Gilang melihat foto yang berbeda terletak di atas meja belajar putranya.
Gilang meraih sebuah foto disana. Foto yang jelas membuat dia terkejut dan tak menyangka sama sekali.
Foto itu adalah foto Kenan dan Lula. Tampaknya Kenan dan Lula berfoto dengan tawa yang lebar seolah terlihat sangat bahagia sekali.
"Kenapa ada foto ini? Kemana foto Kenan dan Icha?." Gilang mencari foto Icha dan Kenan yang biasanya foto tersebut yang berada di atas meja belajar putranya.
"Kenapa tidak ada?" Gilang menggeledah seluruh tempat, Baik itu lemari, Laci satu ke laci yang lainnya. Sayangnya foto Kenan dan Icha tidak ada.
Padahal di kamar sang putra, Ada beberapa foto Icha dan Kenan bahkan foto bertiga bersamanya juga. Tapi sekarang foto-foto itu tak ada satupun yang tersimpan dan semua berganti dengan foto lula.
"Pa, Aku bosan sama fotoku dan Bunda.. Aku mau ganti dengan fotoku yang bareng tante Lula saja..
Ucapan Kenan beberapa waktu yang lalu kembali Gilang ingat. Kenan pernah mengatakan kalau bocah itu bosan dengan adanya foto Kenan yang bersama Icha dan ingin mengganti semuanya dengan foto Lula di rumah ini.
"Apa jangan-jangan Icha mendengar ucapan Kenan waktu itu...
...****************...
Rasa lelah yang mendera membuat Gilang mengantuk dan tertidur. Pagi harinya, Pria itu terbangun. Seperti biasanya Gilang langsung pergi ke kamar mandi.
"Ssst... Sakit banget sih.." Gilang mencoba bercermin melihat wajahnya yang babak belur itu. Kemarin sakitnya belum terlalu terasa, Tapi sekarang sungguh sangat ngilu.
"Ck, Mau ngelawan tapi orang tua.. " Gilang berdecak kesal mengingat pukulan Brian kemarin. Andai Brian bukan orang tua mungkin dia sudah lawan sampai babak belur juga.
"Sepertinya ini harus di kompres agar lebih mendingan.." Kata Gilang, Usai membersihkan diri dan berpakaian, Gilang keluar dari kamarnya dan ia baru saja sadar kalau semalam dia tidak tidur di kamar yang biasa dia tempati tapi justru di kamar Icha.
"Ini kan kamar Icha.. Jadi??" Gilang menggelengkan kepalanya, Ada apa dengannya. Bahkan dia tidak sadar kalau sejak tadi dia mandi di kamar istrinya atau lebih tepatnya calon mantan istri.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Bi.. Bibi..."
"Ya, Pak..
"Tolong ambilkan saya air hangat, Sekalian sama handuk kecil yah buat kompres..." Bibi pun mengangguk patuh.
"Baik Pak..." Bibi pun hendak menuju dapur..
"Bi..
"Ya, Pak..
"Kenan? Dia..
"Den Kenan udah berangkat Pak.. Tadi di jemput sama bus sekolahnya bareng sama teman-temannya. Jadi mereka berangkat bareng.."
"Ohya sudah kalau begitu.. " Gilang kembali duduk di sofa itu. Beberapa kali Pria itu menyentuh ujung bibirnya yang sobek akibat pukulan dari Brian, Di tambah pagi dengan Dylan.
Ucapan Icha kembali terdengar. Wanita itu, Wanita yang sangat mencintainya dulu kini telah tiada.
"Ya! Bayi yang aku kandung telah tiada Gilang.. Dan kau ingin tahu siapa yang telah melenyapkannya? Yang menghabisi bayiku adakah ayahnya sendiri.. Dan kau tahu? Aku tidak sedih dengan semua ini karena apa? Karena akan lebih baik bayi itu pergi daripada harus punya ayah semacam kamu.. Aku tidak ingin anakku bernasabkan seorang Gilang.."
Gilang bersandar di sofa itu, Jujur Gilang merasa menyesal sekali. Andai saja kemarin dia tak menampar istrinya itu mungkin saja bayi itu masih ada. Kalau sudah begini tak ada bedanya dia dengan Dimas. Sama-sama pembu-nuh.
"Huuuffft..." Gilang menghembuskan nafas kasarnya. Tak lama pria itu terperanjat ketika kembali melihat ada yang berbeda.
Ya, Foto pernikahan mereka tidak ada di dinding. Tak hanya itu, Vas kesayangan Icha yang dulu dia belikan pun juga tidak ada.
"Kemana? Kenapa semuanya menghilang..
"Pak, Ini air hangat sama handuk nya.." Ucap Bibi seraya meletakkan baskom kecil yang berisikan air hangat beserta handuk di atas meja.
"Bi..
"Ya Pak...
"Foto pernikahan ku dan Icha, Dan semua foto yang berpajang di dinding kenapa tidak ada? Lalu barang-barang milik Icha hadiah dari aku kemana? Kok gak ada semua?" Bibi hendak berkata tapi dia ragu.
"Bi!
"E.. Itu pak.. Anu..
"Anu gimana?
"E... Pak, Sebenarnya beberapa hari yang lalu Nyonya bakar barang-barang itu Pak.. Foto pernikahan, Foto bareng sama Den Kenan juga terus barang-barang lainnya. Kata Nyonya, Nyonya udah gak butuh barang-barang itu lagi.. Pak Gilang sama Den Kenan juga udah gak peduli kan? Nyonya juga bilang kalau katanya rumah ini sebentar lagi akan di huni sama Ibu baru Den Kenan makanya Nyonya buang semua biar rumah ini bersih.." Jelas Bibi dengan kepala yang menunduk. Tapi apa yang di katakan oleh Bibi memang benar, Icha sudah tak butuh semua itu.
"Dia melakukan semua itu?" Bibi mengangguk..
"Iya pak..." Gilang bersandar dengan lemas di sandaran sofa. Ternyata Icha sudah menyiapkan segalanya.
Ya, Mau bagaimana lagi. Icha paling benci dengan sebuah pengkhianatan. Icha bertahan karena awalnya Gilang memang tidak pernah main tangan atau main perempuan. Hanya sikap pria itu berubah menjadi dingin dan datar itu saja. Icha bertahan juga demi Kenan. Namun setelah Icha di khianati oleh ayah dan anak itu tentu saja Icha tanpa pikir panjang langsung membuang semuanya. Untuk apa di pelihara barang-barang itu. Foto Kenan dan Lula pun Icha yang mencetak bermodal foto mereka yang tersimpan di ponsel Kenan. Bahkan foto itu di jadikan wallpaper di benda pipih milik bocah itu.
"Seniat ini kau merencanakan perpisahan inj Icha...
•
•
•
TBC
hancur kan siaoa saja yg pernah menyakiti mu Icha.
lanjut thor