Rahmat hanyalah siswa SMA biasa—miskin, bodoh, diremehkan, dan dipaksa menanggung hutang satu miliar yang ditinggalkan ayahnya.
Ibunya terbaring di rumah sakit, deb collector bernama tomy terus mengancamnya, memukuli Rahmat sampai hampir mau mati, ia diberi waktu lagi selama dua bulan.
Waktu hanya tersisa dua bulan. Saat segalanya terasa mustahil, sebuah suara muncul di kepalanya.
[Sistem Analisis Nilai Aktif.]
[Menampilkan nilai sebenarnya dari segala hal]
Dari jam tangan rongsok bernilai jutaan, hingga saham perusahaan raksasa yang diam-diam akan runtuh—Rahmat kini bisa melihat apa yang tak terlihat orang lain.
Namun dunia investasi bukan taman bermain.
Satu kesalahan berarti kehancuran.
Satu langkah terlambat berarti ibunya menjadi “jaminan”.
Bisakah seorang bocah 16 tahun membalikkan nasibnya, menembus dunia finansial yang penuh manipulasi, dan menumbangkan perusahaan yang menghancurkan keluarganya?
(bismillah, ayo ramai, support penulis kecil ini yaallah 😭🙏wkw)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon R.A Wibowo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11.5—Menjual Emas
Sore menjelang dengan cahaya jingga yang mulai turun perlahan di ufuk barat. Jalanan kota sedikit lebih ramai dibanding pagi tadi. Suara kendaraan bercampur dengan pedagang kaki lima yang mulai membuka lapak.
Rahmat tidak langsung pulang.
Langkahnya justru berbelok ke pusat pertokoan lama di sudut jalan protokol. Deretan ruko berdempetan, papan nama emas berkilau memantulkan cahaya senja.
Ia berhenti di depan salah satu toko emas terbesar di area itu.
Etalase kacanya bersih. Lampu LED di dalamnya membuat kalung, gelang, dan batangan emas bersinar tajam.
Rahmat menarik napas pelan.
Di dalam tas kecilnya, ada satu benda.
Emas hasil gacha item.
Batangan 100 gram. Murni.
Ia masuk.
Bel kecil di atas pintu berbunyi nyaring.
Beberapa pelanggan sedang melihat-lihat perhiasan. AC menyemburkan udara dingin. Aroma logam bercampur parfum ruangan terasa tajam.
Rahmat berjalan ke meja kaca tempat transaksi buyback dilakukan.
Seorang penjaga toko, pria sekitar 40-an dengan rambut klimis dan senyum profesional, menatapnya dari atas ke bawah.
Seragam sekolah.
Tas biasa.
Wajah muda.
“Kak,” ujar Rahmat santai, “aku punya emas. Bisa cek berapa harga yang kudapatkan?”
Penjaga itu sempat terdiam sepersekian detik.
Anak sekolah? Bawa emas?
Ia tersenyum tipis. “Boleh, dek. Emasnya mana?”
Rahmat mengeluarkan batangan emas itu dari kotak kecilnya dan meletakkannya di atas meja kaca.
Kilau kuningnya langsung menarik perhatian.
Penjaga itu membeku sepersekian detik.
Berat. Solid. Tidak terlihat murahan.
Namun ia tetap mempertahankan ekspresi netral.
“Hmm… kita cek dulu ya.”
Ia mengambil alat uji XRF dari bawah meja. Mesin kecil dengan layar digital. Emas dimasukkan, sensor ditempelkan.
Beberapa detik hening.
Angka muncul.
99.99%
Mata penjaga itu melebar sangat tipis.
Ia memeriksa lagi.
Angka tetap sama.
Berat: 100 gram.
Tangannya sedikit berkeringat.
‘Ini asli… dan kualitas tingkat tinggi… harga pasar bisa di atas 310 juta… "
Tatapannya kembali ke Rahmat.
Anak ini.
Masih bocah.
Seragam sekolah.
Tidak mungkin paham detail harga pasar.
Senyum kecil muncul di sudut bibirnya.
‘Dia mudah ditipu…’
Ia meletakkan emas itu kembali ke meja, berdeham ringan.
“Dek, untuk harga emas sekitar… 100 juta.”
Ia tersenyum, seolah memberi kabar baik.
Rahmat mengangkat alis sedikit.
“100 juta? Serius?”
Nada suaranya terdengar terkejut.
Namun bukan karena nominalnya.
Melainkan karena keberanian kebohongan itu.
[DING!]
━━━━━━━━━━━━━━━
[Skill Aktif: Analisis Psikologi – 75% Akurasi]
[Kondisi Lawan Bicara: Serakah – Percaya Diri – Berniat Menipu]
[Estimasi Nilai Asli yang Ia Ketahui: > Rp310.000.000]
━━━━━━━━━━━━━━━
Rahmat hampir tersenyum.
Ia menatap penjaga itu lebih lama.
“100 juta ini bener?”
Penjaga itu mengangguk santai. “Iya dek, harga pasar lagi turun. Lagi nggak bagus. Lagian kamu masih sekolah kan? Ini udah bagus banget.”
Nada suaranya dibuat seperti orang dewasa yang sedang “membantu”.
Seolah memberi kebaikan.
Padahal jelas memotong lebih dari 200 juta.
Sistem bergetar lagi.
[DING!]
━━━━━━━━━━━━━━━
[Refleksi Ancaman – Mode Pasif Aktif]
[Terdeteksi: Upaya Manipulasi Finansial]
[Saran: Balikkan Tekanan Psikologis]
━━━━━━━━━━━━━━━
Rahmat menyandarkan siku ke meja kaca etalase.
Gerakannya santai.
Tidak terburu.
“Om,” katanya ringan, “alat uji XRF yang barusan dipakai itu nunjukin kadar 99,99%, kan?”
Penjaga itu terdiam.
Hanya sepersekian detik.
Tapi cukup terlihat.
Darimana bocah ini tahu nama alatnya?
Rahmat melanjutkan.
“Beratnya 100 gram. Kalau harga buyback emas hari ini sekitar tiga juta koma seratus per gram…”
Ia berhenti.
Menatap lurus ke mata pria itu.
“Harusnya kisaran 300 jutaan. Bahkan lebih.”
Suasana berubah.
AC masih dingin.
Tapi udara terasa lebih berat.
Penjaga itu memaksakan senyum. “Kamu tahu dari mana?”
Rahmat menyeringai tipis.
“Google gratis, Om.”
Padahal bukan Google.
Di sudut penglihatannya, sistem menampilkan grafik harga real-time. Angka, spread margin, bahkan rekomendasi toko dengan rating terbaik di radius dua kilometer.
Penjaga itu mencoba tetap tenang.
“Kamu anak kecil jangan sok ngerti pasar. Toko ini juga ambil margin. Biaya operasional, pajak, risiko…”
Rahmat mengetuk meja pelan.
Tok.
Tok.
Tok.
Setiap ketukan terasa seperti tekanan kecil.
“Margin wajar 3–5%,” katanya datar.
“Bukan 50%.”
Ia mendekat sedikit.
“Yang ngotak dikit dong?!”
Beberapa pegawai lain mulai melirik dari belakang etalase.
Seorang ibu yang tadi melihat gelang ikut menoleh, memperhatikan percakapan itu.
Penjaga toko mulai merasa tidak nyaman.
Rahmat menunduk sedikit. Suaranya merendah, tapi justru lebih tajam.
“Kalau saya upload video hasil tes tadi ke media sosial…”
Ia mengangkat ponsel pelan.
“…terus saya tag toko ini karena coba beli emas 310 juta jadi 100 juta…”
Ia mengangkat bahu ringan.
“Lumayan sih buat konten.”
Wajah penjaga itu langsung pucat.
Reputasi.
Toko emas hidup dari kepercayaan.
Satu video viral bisa menghancurkan bisnis bertahun-tahun.
Sistem berbunyi lagi.
━━━━━━━━━━━━━━━
[Refleksi Ancaman: Berhasil]
[Lawan Bicara: Panik – Takut Reputasi Rusak]
[Rekomendasi: Tekan Sedikit Lagi]
━━━━━━━━━━━━━━━
Rahmat mendekat sedikit lagi.
“Om,” katanya pelan, “atau saya bisa bawa ini ke toko sebelah. Yang di ujung jalan itu. Rating-nya lebih bagus.”
Kalimat itu bukan ancaman keras.
Tapi sangat realistis.
Penjaga itu menelan ludah.
Ia salah memilih mangsa.
Bocah ini bukan bodoh.
Bukan polos.
Dan jelas tidak takut.
“Eh eh tunggu dulu, dek,” katanya cepat. “Kita bisa nego.”
Rahmat diam.
Ia tidak langsung tersenyum.
Tidak menunjukkan kemenangan.
Ia hanya menunggu.
Penjaga itu menarik napas panjang.
“Oke… kalau 290 juta gimana?”
Rahmat tidak menjawab.
Tatapannya tetap datar.
Sunyi menjadi tekanan.
Penjaga itu berkeringat.
“310 juta. Fix. Cash transfer sekarang.”
Hening beberapa detik.
Rahmat akhirnya tersenyum kecil.
“Nah gitu dong, Om. Dari tadi jujur kan enak.”
Beberapa pegawai di belakang pura-pura sibuk. Tapi jelas mereka mendengar semuanya.
Transaksi diproses.
Emas ditimbang ulang. Dokumen dicetak. Nomor rekening diminta.
Beberapa menit terasa lama.
Lalu—
Notifikasi masuk.
Saldo bertambah Rp310.000.000.
Angka di layar ponselnya meningkat drastis.
Rahmat menatapnya sebentar.
Tidak terlalu lama.
Karena bagi orang yang terbiasa melihat angka ratusan juta hari ini—
Euforia jadi lebih sunyi.
Ia memasukkan ponsel ke saku.
Sebelum pergi, ia berhenti di depan penjaga toko.
“Om…”
“I-iya?”
Penjaga itu tidak lagi tersenyum percaya diri.
Rahmat menatapnya tenang.
“Lain kali jangan remehkan bocah.”