NovelToon NovelToon
TRANSMIGRASI: DIKIRA ISTRI BODOH, TERNYATA RATU BISNIS

TRANSMIGRASI: DIKIRA ISTRI BODOH, TERNYATA RATU BISNIS

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Time Travel / Cinta Seiring Waktu / Reinkarnasi / Fantasi Wanita
Popularitas:5.3k
Nilai: 5
Nama Author: Savana Liora

​Blurb:

​Dulu, Sora Araminta hanyalah "Istri Sampah" yang gila harta. Kini, tubuhnya diisi oleh Elena, konsultan bisnis legendaris yang lebih galak dari preman pasar.

​Saat sang suami, Kairo Diwantara, melempar cek dengan tatapan jijik agar Sora tutup mulut, dia pikir istrinya akan girang. Salah besar.

​Elena justru melempar balik surat cerai tepat ke wajah CEO sombong itu.

"Aku resign jadi istrimu. Simpan uangmu, kita bicara bisnis di pengadilan."

​Elena pikir Kairo akan senang bebas dari benalu. Namun, pria itu malah merobek surat cerainya dan menyudutkannya ke dinding dengan tatapan berbahaya.

​"Keluar dari kandangku? Jangan mimpi, Sora. Kamu masih milikku."

​Sial. Sejak kapan CEO dingin ini jadi seobsesif ini?!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Savana Liora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 4: Pembekuan Aset

​Brak!

​Pintu kamar tidur itu kembali terbanting keras, kali ini dari sisi luar. Getarannya merambat sampai ke meja rias, membuat botol-botol parfum mahal bergoyang pelan seolah ikut ketakutan.

​Kairo sudah pergi.

​Elena menghela napas panjang, lalu menjatuhkan tubuhnya kembali ke sofa. Dia memijat pelipisnya yang berdenyut. Konfrontasi dengan pria narsistik yang punya ego sebesar benua itu ternyata cukup menguras energi.

​"Menolak cerai tapi membenci istri. Logika macam apa itu?" gumam Elena sinis. Dia melirik serpihan kertas di lantai—sisa-sisa proposal bisnisnya yang jenius. "Dia pikir merobek kertas akan mengubah fakta kalau neraca keuangan rumah tangga ini bobrok?"

​Ponsel Sora yang tergeletak di meja nakas tiba-tiba bergetar panjang. Bukan panggilan masuk, tapi rentetan notifikasi pesan singkat.

​Elena meraih ponsel itu. Layarnya menyala, menampilkan sederet pesan dari bank.

​*BANK ALERT: Kartu Kredit Platinum ***4567 Anda telah DIBLOKIR sementara atas permintaan pemegang utama.

BANK ALERT: Transaksi Anda ditolak. Hubungi layanan pelanggan.

*BANK ALERT: Akses rekening tambahan ***8890 telah DIBEKUKAN.

​Elena membaca pesan-pesan itu satu per satu dengan wajah datar. Sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman mengejek.

​"Oh, wow. Langkah klasik," komentarnya pelan. "Sanksi ekonomi. Dia pikir dengan memotong akses uang, aku akan lari merangkak memohon ampun di kakinya?"

​Ini taktik standar. Di dunia korporat, pemegang saham mayoritas sering melakukan ini untuk menekan direksi yang membangkang. Bekukan aset, matikan arus kas, buat mereka kelaparan sampai menyerah.

​Kairo pasti sedang duduk di mobil mewahnya sekarang, tersenyum puas membayangkan Sora menangis bombay karena tidak bisa belanja online.

​"Sayang sekali, Mas Kairo," bisik Elena pada layar ponsel yang menyala. "Kau lupa satu hal. Aku bukan konsumen. Aku produsen."

​Elena bangkit dari sofa. Rasa sakit di pergelangan tangannya sudah tidak terasa karena adrenalin. Dia berjalan menuju satu ruangan yang belum dia masuki sejak bangun tadi.

​Walk-in closet.

​Elena mendorong pintu ganda berwarna putih itu. Lampu sensor otomatis menyala terang, mengungkapkan "surga" bagi sebagian besar wanita, tapi "gudang" bagi Elena.

​Ruangan itu luasnya dua kali lipat kamar tidur apartemen lama Elena. Rak-rak kaca menjulang sampai langit-langit, dipenuhi ratusan tas, sepatu, dan baju bermerek yang tertata rapi seperti di butik Paris.

​Aroma kulit asli yang mahal menguar di udara.

​Elena berjalan menyusuri lorong tas. Matanya memindai label-label itu dengan cepat.

​Hermia Birkin kulit buaya. Channello klasik warna hitam. Louis Vondon edisi terbatas. Gucciano dengan motif bunga norak.

​"Aset tidak bergerak," gumam Elena, jarinya menyentuh permukaan tas kulit yang lembut. "Ratusan juta ditumpuk di lemari, berdebu, nilai depresiasinya berjalan setiap detik. Bodoh."

​Sora si pemilik tubuh lama mungkin melihat ini sebagai koleksi. Elena melihat ini sebagai modal kerja.

​"Mina!" teriak Elena lantang.

​Detik berikutnya, pintu kamar terbuka. Mina muncul dengan wajah cemas, masih membawa nampan berisi teko kopi cadangan.

​"Ya... ya, Nyonya? Nyonya tidak apa-apa? Tadi saya dengar suara bantingan..."

​"Lupakan bantingannya. Masuk sini," perintah Elena sambil melambaikan tangan. "Bawa tripod lampu yang biasa Sora pakai untuk selfie. Kita akan kerja lembur."

​Mina masuk ke dalam walk-in closet dengan ragu. Matanya membulat melihat Nyonya-nya sedang menurunkan tas-tas mahal dari rak paling atas dengan gerakan kasar.

​"Nyonya! Hati-hati! Itu tas Hermia seharga mobil! Jangan dilempar begitu!" pekik Mina histeris saat Elena melemparkan sebuah tas oranye ke karpet.

​"Diam dan bantu aku. Tata semua tas yang kulempar ini di meja tengah. Kita akan melakukan likuidasi aset," jawab Elena tanpa menoleh. Dia terus menurunkan tas-tas itu. "Siapkan akun sosial media Sora. Apa nama akunnya?"

​"Eh? Akun... Sora_Official?" jawab Mina bingung. "Nyonya mau pamer tas lagi? Tapi kan Tuan Kairo baru saja marah..."

​"Bukan pamer. Jualan," koreksi Elena. Dia berbalik, menatap Mina dengan mata berkilat tajam. "Kairo memblokir semua kartuku. Dia pikir aku akan mati kelaparan tanpa uangnya. Jadi, kita akan ubah tumpukan kulit mati ini menjadi uang tunai. Cash keras."

​Mulut Mina menganga lebar. "Jualan? Nyonya mau jual tas pemberian Tuan? Tuan bisa mengamuk, Nyonya! Itu kan hadiah ulang tahun, hadiah anniversary..."

​"Hadiah yang diberikan dengan uang tapi tanpa hati itu bukan hadiah, Mina. Itu kompensasi," potong Elena dingin. Dia menyambar sebuah tas clutch bertabur kristal. "Lagipula, secara hukum barang-barang ini milikku. Apa yang kulakukan dengan milikku adalah urusanku."

​Elena duduk di kursi rias yang ada di tengah ruangan closet. Dia menyalakan ring light besar yang menyilaukan.

​"Pegang ponselnya. Arahkan kameranya padaku. Pastikan pencahayaannya bagus. Kalau videonya buram, gajimu bulan depan kupotong," ancam Elena, meski dia sendiri tidak tahu siapa yang menggaji Mina.

​Mina dengan tangan gemetar memegang ponsel Sora. Dia membuka aplikasi BuzzLive, platform live streaming paling populer saat ini.

​"Judulnya apa, Nyonya?" tanya Mina takut-takut.

​Elena berpikir sejenak. Dia butuh judul yang clickbait, provokatif, dan mengundang simpati sekaligus rasa penasaran. Sesuatu yang akan membuat algoritma menggila.

​"Tulis ini: CUCI GUDANG NYONYA SULTAN: JUAL MURAH DEMI SURVIVAL. SUAMI PELIT, ISTRI BANGKIT."

​Mina menelan ludah. "Nyonya yakin? Tuan Kairo bisa membunuh kita..."

​"Tekan tombol Live sekarang."

​Mina memejamkan mata dan menekan tombol merah di layar.

​"Tiga, dua, satu... Live."

​Elena langsung mengubah ekspresinya. Wajah datarnya yang dingin berubah menjadi wajah profesional yang ramah namun tegas. Aura "Hiu Betina"-nya keluar.

​"Selamat malam, warga internet yang budiman," sapa Elena ke arah kamera. Suaranya jernih, percaya diri, dan berkelas.

​Dalam hitungan detik, jumlah penonton melonjak. 50 orang. 200 orang. 1.000 orang. Notifikasi beruntun muncul di layar. Sora adalah istri selebriti, tentu saja pengikutnya banyak. Biasanya mereka nonton Sora pamer atau menangis. Malam ini, mereka akan melihat sesuatu yang beda.

​@NetizenJulid: Judulnya ngeri amat, Kak? Ada apa nih?

@PecintaTas: Itu Hermia asli di belakang?

@FansKairo: Mana suami gantengnya?

​Elena mengabaikan komentar basa-basi. Dia langsung mengangkat tas pertama. Sebuah Vercelli hijau neon.

​"Oke, kita langsung saja. Saya tidak punya waktu untuk drama, saya butuh uang tunai malam ini juga," kata Elena cepat dan lugas.

​"Item pertama. Tas Vercelli Neon Limited Edition. Kalian lihat warnanya? Hijau stabilo yang menyakitkan mata. Suami saya membelikan ini tahun lalu karena dia lupa ulang tahun saya dan menyuruh asistennya beli barang termahal di toko tanpa melihat modelnya. Kondisi? 100% baru. Saya tidak pernah pakai karena saya tidak mau dikira rambu lalu lintas berjalan."

​Mina yang memegang kamera menahan napas. Nyonya-nya sedang me-roasting selera Tuan Kairo di depan ribuan orang!

​"Harga toko 150 juta. Saya jual cepat malam ini 80 juta saja. Siapa cepat dia dapat. Transfer langsung, barang dikirim via kurir instan malam ini juga. Tidak ada booking, tidak ada keep. Uang masuk, barang keluar."

​Komentar meledak.

​@SultanBintaro: 80 juta?! Murah banget woy! Deal!

@ResellerTas: Kak, serius itu asli? Ada sertifikat?

@HatersSora: Pasti barang KW, makanya murah.

​Elena mendekatkan tas itu ke kamera, menunjukkan jahitan rapi dan sertifikat keasliannya.

​"Sertifikat lengkap, kotak lengkap, bahkan debu di kotaknya pun orisinal dari rumah gedongan ini," jawab Elena sarkas. "Akun @SultanBintaro, saya DM nomor rekening pribadi saya sekarang. Ingat, rekening atas nama Sora Araminta, bukan rekening suami. Lima menit tidak transfer, saya lempar ke penawar berikutnya."

​Ting! Notifikasi mobile banking (dari bank lain yang Elena tahu dari ingatan milik Sora, tidak diblokir karena itu rekening masa gadis Sora yang saldonya cuma sisa recehan) berbunyi.

​Uang masuk. 80 juta rupiah.

​"Sold!" seru Elena. Dia melempar tas mahal itu ke arah Mina yang nyaris menjatuhkan ponsel saking kagetnya. "Bungkus, Mina. Selanjutnya!"

​Elena mengambil tas kedua. Channello hitam klasik.

​"Item kedua. Ini klasik. Elegan. Sayangnya, tas ini punya memori buruk. Suami saya memberikan ini sebagai permintaan maaf karena ketahuan makan malam dengan mantannya. Tas sogokan," ujar Elena tanpa beban, membongkar aib rumah tangga semudah membuka bungkus permen.

​Jumlah penonton tembus 10.000.

​"Kondisi 99% mulus. 1% ternoda air mata saya yang dulu bodoh menangisi pria brengsek. Harga pasar 200 juta. Saya lepas 120 juta. Anggap saja kalian membeli sejarah."

​Komentar semakin liar.

​@GosipLambe: Anjayyy suaminya dispill! Kairo Diwantara makan sama mantan?

@IstriSah: Keren banget Nyonya Sora malam ini! Savage!

@BuyerSultan: SAYA AMBIL! 120 JUTA!

​Dalam satu jam, Elena sudah menjual sepuluh tas. Total uang tunai yang masuk ke rekening pribadinya hampir 1 miliar rupiah.

​Dia beraksi seperti pialang saham di lantai bursa. Cepat. Taktis. Memainkan emosi pembeli. Menciptakan kelangkaan.

​"Ayo, tinggal tiga tas lagi! Jangan sampai kalah cepat. Uang suami kalian tidak akan dibawa mati, lebih baik dipakai beli tas murah dari istri CEO yang sedang bangkrut ini!" teriak Elena memanaskan suasana.

​Keringat dingin mengucur di dahi Mina. "Nyonya... sudah 50 ribu penonton. Ini... ini bisa viral..."

​"Bagus," Elena tersenyum miring ke kamera. "Biar viral. Biar satu dunia tahu. Biar Kairo tahu, kalau dia menutup satu pintu, aku akan menjebol dindingnya."

​Sementara itu, di seberang kota.

​Di lantai teratas gedung pencakar langit Diwantara Tower. Ruangan itu gelap, hanya diterangi lampu kota Jakarta yang gemerlap di bawah sana.

​Kairo duduk di kursi kebesarannya, membelakangi meja kerja. Tangannya memegang gelas wiski, matanya menatap kosong ke arah jendela. Dia baru saja sampai kantor kembali setelah pertengkaran hebat di rumah.

​Emosinya masih belum stabil. Bayangan Sora yang menatapnya dengan dingin, Sora yang meremas cek, Sora yang berkata "Aku muak denganmu"—semua itu berputar di kepalanya seperti kaset rusak.

​"Tuan Kairo."

​Suara asisten pribadinya, Reza, terdengar ragu dari arah pintu.

​Kairo tidak menoleh. "Keluar. Aku bilang jangan ganggu aku kecuali kantor ini kebakaran."

​"I... ini lebih parah dari kebakaran, Tuan," suara Reza bergetar.

​Kairo memutar kursinya perlahan. Wajahnya menyeramkan. "Apa?"

​Reza berjalan mendekat sambil menunduk dalam-dalam, menyodorkan sebuah tablet ke atas meja mahoni Kairo.

​"Nyonya Sora... Nyonya Sora sedang live streaming, Tuan."

​"Apa peduliku?" Kairo mendengus kasar. "Paling dia menangis curhat ke netizen kalau aku memblokir kartunya. Biarkan saja. Biar dia malu sendiri."

​"Bukan curhat, Tuan. Nyonya... Nyonya sedang berjualan."

​Kening Kairo berkerut. "Jualan?"

​Dia melirik ke layar tablet itu.

​Di sana, di layar yang jernih, dia melihat Sora.

​Tapi itu bukan Sora yang dia kenal.

​Wanita di layar itu memakai kemeja putihnya—kemeja Kairo yang kebesaran—dengan lengan digulung asal. Rambutnya diikat kuda tinggi, menampilkan leher jenjang yang putih. Wajahnya bersinar, penuh semangat, dan tertawa lepas.

​Di tangannya, wanita itu memegang sebuah jam tangan Rolex pria.

​Itu jam tangan Kairo.

​"Oke, item bonus terakhir!" suara Elena terdengar jernih dari speaker tablet. "Ini jam tangan pria. Saya temukan tergeletak di meja rias. Kayaknya punya suami saya yang ketinggalan. Daripada jadi sampah, kita uangkan saja. Siapa mau jam tangan bekas tangan CEO yang suka marah-marah? Auranya negatif, tapi besinya asli emas. Buka harga 50 juta saja!"

​Prang!

​Gelas wiski di tangan Kairo pecah berkeping-keping karena cengkeraman yang terlalu kuat. Cairan amber dan darah segar menetes ke karpet mahal.

​Reza mundur ketakutan. "Tuan..."

​Kairo tidak merasakan sakit di tangannya. Matanya terpaku pada layar tablet. Pada senyum istrinya yang terlihat begitu... hidup. Begitu menantang. Begitu liar.

​Dia menjual jam tangan Kairo? Jam tangan yang Kairo cari-cari tadi pagi?

​Dan caption di layar itu: SUAMI PELIT, ISTRI BANGKIT.

​Kairo menatap angka penonton di pojok layar. 75.000 orang. Dan kolom komentar penuh dengan orang-orang yang menertawakan Kairo Diwantara.

​Tapi anehnya, di tengah kemurkaan yang meledak di dadanya, ada perasaan lain yang menyelinap. Perasaan asing yang membuat darahnya berdesir panas.

​Wanita di layar itu... tidak terlihat seperti boneka pajangan lagi. Dia terlihat seperti lawan yang sepadan.

​Kairo menyeka darah di tangannya dengan sapu tangan, matanya tidak lepas dari wajah Elena yang sedang berteriak "SOLD OUT!" dengan gembira.

​"Reza," panggil Kairo. Suaranya rendah, tenang, tapi jauh lebih menakutkan daripada teriakannya.

​"Ya, Tuan?"

​"Siapkan mobil. Kita pulang lagi ke rumah."

​Kairo berdiri, mengambil tablet itu.

​"Dan beli jam tangan itu. Beli semua barang yang dia jual. Pakai akun anonim. Jangan sampai ada satu pun barang dari rumahku yang jatuh ke tangan orang lain."

​Reza melongo. "Maksud Tuan... kita borong dagangan Nyonya?"

​"Lakukan saja!" bentak Kairo. Dia berjalan cepat menuju pintu keluar, langkahnya lebar dan penuh obsesi. "Aku akan pastikan dia tidak punya apa-apa lagi untuk dijual selain dirinya sendiri."

1
Rossy Annabelle
next,,seruuuu iih🤯
Savana Liora: #terbit🤭
total 3 replies
wwww
ayok ges ramaikan novelnya seru loh ceritanya 😍
Savana Liora: iyaa ayok mari mari sinii
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!