Kirana adalah gadis ceria, polos dan kebal bully apa jadinya kalau ia bertemu dengan seorang pemuda raja bully yang tidak sengaja mobilnya ia tabrak saat pulang dari kampus, dan parahnya ia harus rela menjadi pelayan dirumah pemuda itu, karena sang pemuda dendam gara-gara kejadian itu ia diputuskan pacarnya, baca keseruan, kekonyolan dan kekocakan mereka berdua di novel ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sabia X, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Teman laknat
Dewa membalikkan tubuhnya, bersikap senormal mungkin walau jantungnya berdetak cepat karena panik.
“Nah lho tuh dia anaknya, woy Wa.” panggil Aldo yang melihat Dewa berdiri tidak jauh dari mereka.
“Aish, ngapain kalian kesini," tanya Dewa pura-pura terkejut.
“Didatangi bukannya bersyukur, malah tanya kenapa, loe sakit apa dah sampai gak ngampus, curiga gue.” ucap Aldi to the point.
“HoOh, kelihatan baik-baik aja, bohong loe ya, biasanya loe ajak kita kalau bolos.” tambah Aldo lagi, Dewa yang mendengar ucapan-ucapan sahabat nya memutar bola matanya malas dan menggeplak kepala Aldi.
“Sembarangan nuduh orang bolos, dah yuk ke kamar nanti aku cerita.” balas Dewa berbalik melangkah menuju kamarnya, namun matanya sempat melirik ke pintu kamar disampingnya, berharap si pendek tidak bikin ulah, agar teman-teman nya tidak tahu kalau mereka serumah, bisa gawat, dan habis nanti di di bully oleh teman-teman laknatnya. Mereka berempat pun masuk kedalam kamar Dewa yang hanya bersebelahan dengan kamar Kirana, sementara Ana ngedumel kesal.
“Duh, kenapa teman-teman mas Dewa tuh kesini, untung aja gak ketahuan, bisa habis ditanya macam-macam, kan malas jawabnya, kok berasa jadi selingkuhan.” ucap Ana terkikik geli sembari kembali berguling-guling di tempat tidur, sementara tiga cowok itu sudah menatap Dewa meminta penjelasan.
“Loe itu ditanya dari tadi gak dijawab sakit apa sih loe?” akhirnya Cristian kini yang gantian bertanya, bukan ya tidak mau jawab Dewa hanya malas kalau ditertawakan, ia menghela nafas panjang sebelum menjawab.
“Diare.” jawab Dewa singkat padat dan jelas, membuat ketiga cowok itu ternganga mendengar jawaban Dewa, mereka saling lirik dan tawa mereka pecah.
“Huahahaha..” Dewa hanya mendengus kesal mendengar tawa teman-teman laknatnya.
“Serius loe, diare?, kok bisa,” tanya Aldi penasaran.
“Bacot loe, ya bisa namanya juga salah makan, teman nya sakit malah ditertawakan, hampir masuk rumah sakit gue semalam,” jawab Dewa kesal melihat teman-temannya memandang dirinya aneh karena terkena diare.
“Gak usah marah, gak gitu maksudnya, aneh aja, makan apa loe dah sampe kena diare, kan loe pemilih makanan.” ucap Cristian menengahi.
“Cilok.” jawab Dewa singkat, namun mampu membuat ketiga temannya terkejut.
“Cilok?!” serempak mereka bertanya.
“Iya, itu semua gara-gara..,” Dewa langsung menghentikan ucapannya.
“Gara-gara apa?, kok loe bisa makan cilok, loe kan gak pernah makan, makanan yang seperti itu,” sahut Aldo curiga. Dewa merutuki dirinya sendiri yang hampir keceplosan menceritakan ia makan cilok gara-gara si Ana.
“Itu gara-gara loe Al, loe pernah cerita tentang cilok, jadi gue penasaran, dan kemaren ada yang jual didepan rumah, jadi gue beli, ternyata saosnya kepedesan jadilah gue sakit.” jawab Dewa ngeles secara lancar bak perosotan.
“O.. gitu,” jawab Aldi manggut-manggut percaya dengan ucapan Dewa.
“Trus sekarang gimana, dah baikan loe?” tanya Cristian sembari berdiri dan menuju kulkas, membuka nya, dan ia langsung ternganga melihat isi didalamnya.
“Mau dong minumannya,” ucap Aldo yang melihat Cristian didepan kulkas, tanpa tahu wajah Cristian yang shock. Cristian tidak menjawab, namun mengambil botol dan melemparkannya kearah Aldo.
“Minum tuh,” ucap Cristian yang kembali duduk membawa sebotol air mineral.
“Lha, kok air mineral, yang soda Tian.” decak Aldo kesal.
“Gak ada, adanya begitu semua.” jawab Cristian malas.
“Bohong lu, biasanya isi kulkas minuman bersoda semua.” balas Aldo berdiri, ia tidak percaya, sementara Dewa hanya melirik malas, ia ingat kalau si ikan buntal sudah mengeluarkan semua minuman bersoda nya, dengan alasan tidak sehat. Sementara Cristian hanya mendengus, membiarkan Aldo melihat sendiri isi kulkas Dewa yang isinya hanya buah dan air mineral semua, sampai Aldo membuka kulkas dan mengerjab lucu.
“Astaga, kok berubah. Wa kemana minuman kesukaan kita.” tanya Aldo heboh.
“Belum sempat beli.” jawab Dewa santai, mana mungkin ia jujur dengan apa yang terjadi dengan isi kulkas nya. Aldo kembali duduk dengan wajah cemberut membuat Aldi terkekeh.
“Sudah minum yang ada, trus gimana Wa, sudah baikan loe.” tanya Cristian lagi yang belum mendapat jawaban dari Dewa.
“Mendingan, sudah gak lemes.” jawab Dewa datar.
“Oh iya, tadi gue lihat Oliv jalan sama Lucas Wa, kayaknya mereka beneran pacaran deh.” ucap Aldi yang langsung mendapatkan sikutan dari Aldo, Dewa hanya diam tidak merespon, bagaimana pun ia kesal, bukan karena Oliv yang dekat dengan lucas, ia kesal aja karena tuh cewek mutusin hanya gara-gara hal sepele, harga dirinya merasa terhina, serasa kayak orang tidak mampu saja, padahal kan ia kaya.
“Dah gak usah bahas Oliv, hari ini gue lihat si Kirana gak ada ngampus juga, kemana tuh bocah, ikutan ngilang, padahal gue pengen lihat kalau tuh bocah marah-marah, lucu aja.” seloroh Cristian yang langsung membuat Dewa menoleh, tatapannya tajam menatap Cristian yang tersenyum manis, tanpa tahu ada yang tiba-tiba kesal.
“HoOh lho Wa, tu botol Yakult gak ada masuk, biasanya bertiga sama geng nya,” tambah Aldi antusias. Namun Aldo yang melihat wajah Dewa seperti nya kesal, jadi bertanya-tanya dalam hati, seperti ada yang tidak biasa, pada sahabatnya itu bila menyangkut Ana.
“Kalian ngapain bahas tuh si ikan buntal, bikin tambah kesal,” ucap Dewa garang, padahal ia hanya tidak ingin mereka sadar kalau mereka dekat, walau dekatnya dengan artian berbeda.
“Slow lah, kita kan hanya penasaran, tuh cewek beda aja dari yang lain, gak ada jaim-jaimnya sama sekali, loe bully aja ia gantian ngatain loe, pokoknya tuh cewek lucu aja.” ucap Cristian yang dari awal melihat Ana sudah agak lain, membuat Dewa mendengus kesal. Dalam pikirannya pokoknya tidak ada yang boleh membully si ikan buntal selain dirinya. Terlebih ada yang memuji, pokoknya tidak boleh titik tidak peke koma.
“Pokoknya gak ada yang boleh baik sama tuh si ikan buntal, awas aja kalian kalau sampai baik-baik kin tuh bocah,” peringat Dewa garang membuat mereka bertiga saling lirik, merasa ada yang aneh dengan ucapan Dewa, walau terkesan jahat, tapi ada kesan posesif didalamnya.
“Dah yuk main game, gak usah bahas tu bocah lagi.” akhirnya Aldo menengahi ketegangan diantara mereka, dan mereka langsung mengangguk, mengangkat hp masing-masing. Dan terjadilah teriakan dan kata-kata mutiara yang terlontar dari bibir mereka yang laknat, Ana yang mendengar keributan itu hanya menghela nafas panjang.
“Pantes aja mas Dewa kayak gitu kelakuan, lha temannya semua kelakuan kek setan, gak tahu apa aku sudah lapar, kenapa sih mereka gak pulang-pulang, mana gak boleh keluar lagi sama mas Dewa, duh merana nya perut aku.” gerutu Ana dengan wajah kesal berjalan menuju meja belajarnya, ia ingat kalau disana ia masih mempunyai cemilan yang ia ambil dari kulkas yang ada di dapur.
Datang dan dukung karyaku yang berjudul "TRUST ME", yuk!
Kritik dan saran dari kakak akan memberi dukungan tersendiri untukku..
Bikin aku jadi semangat terus untuk berkarya..
Ditunggu ya, kak..
Terima kasih..
🥰🥰🥰