Sebuah kepingan masalalu pahit dan manis tentang perjuangan hidup sebuah keluarga kecil sederhana di lereng gunung Prau. Luka yang tak bisa sembuh dan kenangan yang tak bisa di hapus, hingga pada akhirnya berdamai dengan luka dan keadaan adalah jalan terbaiknya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nonaniiss, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Luka di Balik Manisnya Arbei
Dingin lereng Gunung Prau selalu punya cara untuk menusuk tulang, bahkan sebelum matahari sempat menyapa pucuk-pucuk pinus. Di sebuah rumah kecil yang berdiri di antara kabut tebal, aku lahir sebagai anak terakhir. Orang sering bilang, anak bungsu adalah kesayangan, pemanja, dan yang paling banyak mendapatkan keinginan. Namun, kenyataan di lereng gunung ini tidak mengenal definisi itu. Di sini, aku adalah anak kecil yang dipaksa dewasa oleh keadaan, jauh sebelum aku mengerti apa itu arti tanggung jawab.
Ekonomi keluarga kami bukanlah yang termiskin, tapi juga jauh dari kata cukup. Kami hidup di ambang batas yang tipis antara bertahan dan menyerah. Di kamar kecilku, hanya ada satu benda yang menemaniku tumbuh. Pipit, sebuah boneka lusuh yang warnanya merah dengan wajah karetnya yang sudah ada bintik-bintik hitamnya. Ia bukan sekadar mainan, tapi ia adalah saksi bisu dari ribuan rahasia yang tidak pernah kusampaikan pada dunia.
Aku sering melihat anak-anak tetangga berlarian dengan mobil-mobilan plastik baru atau boneka yang bisa berbicara. Apakah aku menginginkannya? Tentu saja. Aku masih anak kecil. Aku ingin punya kotak mainan yang penuh. Tapi, setiap kali keinginan itu muncul di tenggorokan, aku menelannya kembali. Aku melihat tangan Ibuku yang kasar karena sabun cuci, dan aku melihat mata Ayah yang merah karena kurang tidur. Meminta mainan bagiku adalah sebuah kejahatan. Meminta mainan berarti menambah beban di pundak mereka yang sudah hampir rubuh.
Sinar matahari pukul delapan pagi menyelinap di antara celah ventilasi rumah, menciptakan garis-garis cahaya yang menari di atas lantai. Aku sudah berdiri di depan pintu sejak sepuluh menit yang lalu, telingaku tajam menangkap suara deru motor atau langkah kaki yang kukenal. Begitu bayangan Ayah dan Ibu muncul di ujung jalan setapak menuju rumah, jantungku berdegup kencang.
"Ibu! Ayah!" teriakku spontan sambil berlari kecil ke halaman.
Langkah Ibu tampak berat, namun senyumnya langsung mengembang begitu melihatku. Wajahnya yang biasanya cerah kini tampak merah padam, terpanggang matahari pegunungan yang terik. Butiran keringat membasahi pelipis dan kerah bajunya, menandakan perjalanan panjang yang baru saja mereka tempuh.
Aku menghambur ke arah Ibu, hendak memeluknya, namun langkahku terhenti saat pandanganku jatuh pada botol bening yang ia dekap erat. Di dalamnya, butiran-butiran arbei gunung berwarna merah tua dan hitam mengkilap tampak begitu menggoda. Itulah buah kesukaanku, harta karun yang hanya bisa didapat jauh di dalam rimbunnya hutan lereng gunung.
"Ini, Nok... kesukaanmu," ucap Ibu dengan suara yang sedikit parau karena kelelahan.
Saat aku mengulurkan tangan untuk mengambil botol itu, hatiku tiba-tiba mencelos. Aku melihat jemari Ibu. Tangan yang biasanya lembut saat membelai rambutku itu kini dipenuhi goresan-goresan kecil yang memerah. Di beberapa bagian, bekas duri pohon arbei yang tajam masih terlihat jelas, menyisakan luka yang mungkin terasa perih jika terkena keringat.
Pikiran batin mulai berkecamuk. Begitu besarkah usahanya? Hanya demi memetikkan beberapa butir buah untukku, Ibu rela menembus semak berduri dan mendaki jalanan terjal di bawah terik matahari. Rasa haus dan lelahnya seolah hilang hanya karena ingin melihat senyumku.
"Ibu... tangan Ibu luka semua," bisikku lirih, rasa antusiasku kini bercampur dengan rasa haru yang menyesakkan dada.
Ibu hanya tertawa kecil, mengabaikan perih di tangannya. "Tidak apa-apa, hanya tergores sedikit. Tadi Ibu melihat yang paling besar dan manis ada di bagian dalam semak, jadi Ibu paksakan ambil agar kamu senang."
Mendengar itu, aku merasa sangat kecil. Di balik manisnya buah arbei ini, ada tetesan keringat dan rasa sakit yang Ibu sembunyikan dengan senyuman tulusnya. Aku menyadari bahwa yang Ibu bawakan pagi ini bukan sekadar buah, melainkan bukti cinta yang tak terbatas.
"Terima kasih, Bu, Yah," kataku sambil menatap mereka bergantian. Ayah yang berdiri di samping Ibu hanya menepuk bahuku pelan sambil tersenyum bangga.
"Ayo masuk, Ibu dan Ayah harus istirahat. Biar aku ambilkan minum," lanjutku.
Sambil berjalan masuk, aku memegang botol arbei itu dengan sangat hati-hati, seolah-olah botol itu adalah benda paling berharga di dunia. Pagi itu, rasa arbei gunung pemberian Ibu terasa jauh lebih manis dari biasanya, manis yang datang dari sebuah pengorbanan.
Datang dan dukung karyaku yang berjudul "TRUST ME", yuk!
Kritik dan saran dari kakak akan memberi dukungan tersendiri untukku..
Bikin aku jadi semangat terus untuk berkarya..
Ditunggu ya, kak..
Terima kasih..
🥰🥰🥰