Damian adalah psikopat yang jatuh cinta, mencintai dengan cara menyiksa, menghancurkan, dan merusak.
Dia mengubah Alexa dari gadis polos menjadi Ratu Mafia paling kejam. Setiap malam dipenuhi darah, penyiksaan, pembunuhan.
Tapi yang paling mengerikan, Alexa mulai menikmatinya. Di dunia ini, cinta adalah peluru paling mematikan. Dan mereka berdua sudah ditembak tepat di bagian jantung.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mentari_Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pengkhianat di Dalam
Pagi datang dengan cahaya yang menyakitkan. Aku membuka mata dan langsung merasakan sakit di seluruh tubuh. Seperti habis dipukuli. Tapi bukan itu yang membuatku sakit. Itu pikiran-pikiran yang berputar sejak semalam.
Damian sudah tidak ada di sofa. Kamar kosong. Hanya aku sendirian dengan bayangan-bayangan malam kemarin yang masih menghantui.
Delapan orang mati, dan aku merasa aman di pelukan pembunuhnya.
Ada apa denganku?
Aku bangun dengan kepala pusing. Berjalan ke kamar mandi. Menatap pantulan wajahku di cermin. Mata bengkak, wajah pucat, bibir pecah-pecah. Aku terlihat seperti mayat hidup.
Tapi yang paling menakutkan adalah mataku. Ada sesuatu yang berbeda di sana. Sesuatu yang kosong. Seperti cahaya di dalamnya mulai padam.
Aku kehilangan diriku sendiri.
Perlahan. Tapi pasti.
Aku mencuci wajah dengan air dingin. Mencoba membersihkan pikiran-pikiran kacau ini. Tapi tidak berhasil. Semuanya tetap di sana. Menempel seperti darah kering yang tidak bisa dihapus.
Pintu kamar terbuka. Aku keluar dari kamar mandi.
Damian berdiri di tengah kamar. Mengenakan jas hitam sempurna. Rambut tersisir rapi. Wajah bersih tanpa jejak darah semalam. Seperti tidak terjadi apa-apa.
Tapi matanya gelap. Lebih gelap dari biasanya.
"Mandi dan berpakaian yang rapi," katanya tanpa pembukaan. Suaranya datar. Dingin. "Ada sesuatu yang harus kau saksikan."
Jantungku langsung tenggelam. "Sesuatu apa?"
"Jangan banyak bertanya, lakukan saja."
Dia keluar dan langsung menutup pintu. Aku berdiri di sana, gemetar. Entah kenapa aku tahu hari ini akan lebih buruk dari kemarin.
***
Tiga puluh menit kemudian, aku berdiri di koridor dengan dress hitam sederhana yang disiapkan pelayan. Rambutku disisir rapi. Tapi tanganku tidak bisa berhenti gemetar.
Damian menungguku di ujung koridor. Dia mengulurkan tangan. Aku menatap tangannya. Tangan yang membunuh delapan orang semalam. Tangan yang kemudian memelukku dengan lembut.
Aku mengambilnya. Karena aku tidak punya pilihan lain. Kami berjalan bersama. Turun tangga. Melewati ruang tamu yang sudah dibersihkan. Tidak ada jejak darah. Tidak ada jejak mayat. Seperti tidak pernah ada pertempuran di sini.
Tapi aku melihatnya. Aku tahu apa yang terjadi. Kami keluar ke halaman belakang. Dan aku melihat mereka.
Semua staff mansion. Pelayan, pengawal, supir, tukang kebun, juru masak. Semuanya berdiri berbaris rapi. Mungkin ada empat puluh orang. Wajah mereka tegang. Takut.
Di tengah halaman, ada tiga kursi. Dan tiga orang terikat di sana. Dua pria. Satu wanita.
Aku mengenali mereka. Pelayan yang sering membersihkan kamarku. Pengawal yang berjaga di pintu depan. Dan juru masak yang membuat sarapanku.
Mereka semua menangis. Mulut disumpal dengan kain. Mata merah bengkak. Marco berdiri di samping mereka. Wajahnya datar. Tapi ada kepuasan di matanya.
"Pagi yang sangat indah," kata Damian dengan suara keras. Semua orang langsung diam. "Terlalu indah untuk dirusak dengan pengkhianatan."
Dia melepaskan tanganku. Berjalan ke tengah. Berdiri di depan ketiga orang yang terikat itu.
"Kemarin malam," lanjutnya, "mansion ini diserang. Delapan orang masuk. Mereka tahu tata letak bangunan. Mereka tahu di mana kamar istriku. Mereka tahu jadwal pergantian shift pengawal."
Dia berhenti. Menoleh menatap semua staff yang berdiri di sana.
"Seseorang membocorkan informasi," katanya pelan. Tapi suaranya menusuk seperti pisau. "Seseorang di antara kalian yang aku beri makan, aku beri tempat tinggal, aku beri gaji, mengkhianatiku."
Tidak ada yang bergerak. Semua seperti patung. Damian kembali menatap tiga orang yang terikat.
"Dan aku menemukan mereka."
Marco mengambil sesuatu dari dalam jasnya. Pistol hitam besar. Dia menyerahkannya pada Damian.
Damian memeriksa pistol itu. Memutar-mutarnya di tangan. Lalu mengarahkannya ke pelayan wanita yang terikat.
"Sinta," panggilnya. "Bekerja di sini selama lima tahun. Aku percaya padamu. Membiarkanmu masuk ke kamar pribadiku untuk membersihkan. Dan kau, menjualku pada Dimitrov untuk dua ratus juta."
Wanita itu menggeleng kuat. Menangis histeris di balik sumpalan kain.
"Dua ratus juta," ulang Damian. Suaranya makin dingin. "Kau jual nyawa istriku dengan harga segitu."
DUAR!
Tembakan meledak. Wanita itu menjerit. Lututnya meledak. Darah menyembur. Tubuhnya membungkuk kesakitan tapi masih terikat di kursi.
Aku menutup mulut dengan tangan. Menekan teriakan yang hampir keluar.
"Dan kau, Hadi," Damian berpindah ke pria pertama. "Pengawal yang aku latih sendiri. Yang aku ajarkan cara bertarung. Cara menembak. Kau jual informasi jadwal shift untuk seratus lima puluh juta."
DUAR!
Lutut pria itu meledak. Dia berteriak di balik sumpalan kain. Suaranya teredam tapi masih terdengar. Suara kesakitan yang mengerikan.
Aku merasakan mual melanda. Kepala pusing. Lutut terasa lemas.
"Jangan pingsan," bisik seseorang di sampingku.
Aku menoleh. Seorang pelayan tua berdiri di sana. Wajahnya pucat tapi dia menatapku dengan tatapan yang simpati?
"Kalau Nyonya pingsan, Tuan akan marah," bisiknya lagi. Sangat pelan. "Bertahanlah sampai hal ini selesai."
Aku mengangguk kecil. Mencoba bernapas. Masuk. Keluar. Masuk. Keluar.
Damian sudah berpindah ke pria terakhir. Juru masak yang selalu tersenyum ketika menyajikan makanan.
"Dan kau, Budi," kata Damian. "Yang paling menyedihkan. Kau tidak dapat uang apapun. Kau melakukannya karena Dimitrov menculik putrimu yang berusia tujuh tahun."
Pria itu menangis. Mengangguk kuat. Seperti memohon pengertian.
"Aku paham," kata Damian. Suaranya sedikit lebih lembut. Hanya sedikit. "Aku paham kau melakukannya untuk keluarga. Tapi tetap saja."
DUAR!
Lutut pria itu meledak. Dia jatuh ke samping. Kursi ikut terjatuh. Darah menggenang di rerumputan.
"...pengkhianatan adalah pengkhianatan," lanjut Damian. "Dan hukumannya hanya satu."
Dia berjalan kembali ke wanita pertama. Sinta. Yang masih menangis dengan lutut berdarah. Tubuhnya gemetar hebat. Shock.
Damian mengarahkan pistol ke kepalanya.
"Selamat jalan," bisiknya.
DUAR!
Kepala wanita itu terhentak ke belakang. Darah memercik. Tubuhnya terkulai. Tidak bergerak lagi. Dunia berputar. Aku merasakan lantai bergerak di bawah kakiku.
Tidak. Tidak lagi.
Damian berpindah ke Hadi. Pistol terarah ke kepala.
DUAR!
Lalu ke Budi.
DUAR!
Tiga mayat. Tiga kursi berdarah. Darah mengalir di rumput hijau yang indah.
Kontras yang menyakitkan mata. Damian berbalik menghadap semua staff yang berdiri di sana. Wajahnya tenang. Seperti baru selesai rapat biasa.
"Ini yang terjadi pada pengkhianat," katanya dengan suara yang terdengar oleh semua orang. "Tidak peduli alasannya. Tidak peduli siapa yang menyuruh. Kalian bekerja untukku. Kalian setia padaku. Atau kalian mati."
Dia berhenti sebentar. Menatap satu per satu wajah yang berdiri di sana.
"Ada lagi yang ingin mengaku?" tanyanya.
Tidak ada yang menjawab. Semua terlalu takut untuk bergerak.
"Bagus," kata Damian. "Marco, bersihkan ini. Dan tingkatkan keamanan. Aku tidak ingin kejadian kemarin terulang."
"Baik, Tuan," jawab Marco.
Damian berjalan kembali ke arahku. Tangannya menggenggam tanganku yang dingin.
"Ayo masuk," katanya lembut. Sangat lembut. Kontras mengerikan dengan apa yang baru saja dia lakukan.
Tapi aku tidak bisa bergerak. Kakiku membeku. Mataku masih tertuju pada tiga mayat di sana. Tiga orang yang baru saja hidup beberapa menit lalu. Sekarang sudah jadi mayat.
Dan salah satunya, Budi. Dia melakukannya untuk putrinya. Putrinya yang berusia tujuh tahun. Sekarang gadis kecil itu tidak punya ayah lagi. Karena Damian.
"Alexa," panggil Damian. Suaranya lebih keras. "Masuk. Sekarang."
Tapi aku tidak bisa. Lututku tiba-tiba lemas. Kepala berputar. Dunia menjadi hitam.
Aku jatuh.
***
Ketika aku membuka mata, aku sudah di kamarku. Berbaring di tempat tidur. Selimut menutupi tubuhku sampai dada.
Dan Damian duduk di tepi tempat tidur. Tangannya mengelus rambutku dengan gerakan lembut. Sangat lembut.
"Kau pingsan," katanya pelan ketika melihat aku sadar.
Aku menatapnya. Pria yang baru saja membunuh tiga orang tanpa belas kasihan sekarang mengelusku seperti sedang merawat anak kecil yang sakit.
"Kenapa?" bisikku. Suaraku serak. "Kenapa kau membunuh mereka?"
"Karena mereka mengkhianatiku."
"Tapi Budi, dia melakukannya untuk putrinya."
"Aku tahu," potong Damian. Tangannya berhenti mengelus. "Dan aku sudah mengirim orang untuk menyelamatkan putrinya dari Dimitrov. Dia sekarang aman di panti asuhan terbaik dengan biaya pendidikan sampai kuliah yang aku tanggung."
Aku terdiam. Bingung.
"Tapi kau tetap membunuhnya..."
"Ya," jawab Damian. "Karena pengkhianatan tidak bisa dimaafkan. Aku paham alasannya. Aku simpati dengan situasinya. Tapi aku tetap harus membunuhnya. Kalau tidak, yang lain akan pikir pengkhianatan bisa dimaafkan dengan alasan yang tepat."
Dia mulai mengelus rambutku lagi.
"Ini duniaku, Alexa," lanjutnya. "Dunia di mana kelemahan akan membunuhmu. Di mana belas kasihan adalah kesalahan fatal. Aku tidak bisa lemah. Tidak boleh lemah. Karena kalau aku lemah, kita berdua akan mati."
Tangannya bergerak ke pipiku. Mengusap air mata yang mengalir tanpa aku sadari.
"Aku tahu kau membenciku sekarang," bisiknya. Ada sesuatu di suaranya. Sesuatu seperti kesedihan? "Aku tahu kau pikir aku monster. Dan mungkin kau benar. Tapi aku melakukan ini untuk melindungimu. Untuk melindungi kita."
Aku menatap matanya. Mata gelap yang menatapku dengan tatapan yang kompleks. Kebencian, obsesi, kepemilikan, dan sesuatu yang lain. Sesuatu yang aku takut untuk mengidentifikasi.
"Berapa banyak lagi?" tanyaku. "Berapa banyak orang lagi yang harus mati?"
Damian diam lama. Tangannya masih di pipiku. Hangat. Lembut.
"Sebanyak yang diperlukan," jawabnya akhirnya. "Sampai tidak ada lagi yang berani menyakitimu. Sampai tidak ada lagi yang berani mengkhianatiku. Sampai dunia tahu bahwa kau milikku dan siapa pun yang menyentuhmu akan mati dengan cara paling menyakitkan."
Dia membungkuk. Mencium dahiku dengan lembut.
"Istirahatlah," bisiknya. "Nanti malam ada perjamuan dengan partner bisnis dari Jepang. Kau harus tampil sempurna sebagai istriku."
Dia berdiri. Berjalan ke pintu. Tapi sebelum keluar, dia berhenti.
"Oh, dan Alexa," katanya tanpa berbalik. "Putri Budi akan baik-baik saja. Aku tidak membunuh anak-anak. Aku bukan monster sebegitu."
Lalu dia keluar.
Meninggalkanku sendirian dengan pikiran yang lebih kacau dari sebelumnya.bDia membunuh ayah gadis itu tapi menyelamatkan dan membiayai hidup gadis itu.
Dia menyiksa orang-orang tapi memelukku dengan lembut. Dia monster tapi dia bilang melakukan semua ini untuk melindungiku.
Siapa sebenarnya Damian Alexandro Vincenzo?
Dan pertanyaan yang lebih menakutkan, apakah aku mulai memahaminya?
Apakah aku mulai memaafkannya?
Tapi kenapa dadaku tidak terasa sebenci itu sebelumnya?
Kenapa aku merasakan sesuatu yang hangat ketika dia mengelus rambutku? Kenapa aku tidak menolak ketika dia mencium dahiku?
Aku kehilangan akal sehatku, perlahan tapi pasti. Dan yang paling menakutkan adalah, aku tidak yakin aku ingin mendapatkannya kembali. Karena di dunia gila ini, mungkin satu-satunya cara bertahan adalah dengan menjadi gila juga.
***
Sore datang dengan cahaya jingga yang masuk melalui jendela. Aku masih berbaring di tempat tidur. Tidak tidur. Hanya menatap langit-langit sambil pikiran terus berputar.
Tiga mayat. Tiga orang yang mati di depan mataku. Berapa banyak orang yang sudah mati karena Damian?
Berapa banyak lagi yang akan mati? Dan berapa lama lagi sampai aku menjadi salah satunya?
Atau berapa lama lagi sampai aku menjadi sepertinya?
Pembunuh yang tidak merasakan apapun. Monster yang berkulit manusia. Pintu terbuka. Pelayan yang sama masuk dengan gaun untuk perjamuan malam nanti. Gaun merah darah, tentu saja merah. Warna favorit Damian sepertinya. Warna darah.
Dan di suatu tempat di mansion besar ini, di ruang bawah tanah yang gelap, masih ada pertanyaan yang belum terjawab. Berapa banyak mata-mata lain yang masih bersembunyi?
Berapa banyak orang di sekitar kami yang sebenarnya bekerja untuk musuh? Dan yang paling menakutkan, apakah aku bisa mempercayai siapa pun lagi? Bahkan diriku sendiri?