NovelToon NovelToon
Sistem Dua Kekasih

Sistem Dua Kekasih

Status: sedang berlangsung
Genre:Identitas Tersembunyi / Teen School/College / Sistem
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Yapari

Saat Jepang berada diambang kepunahan karena krisis populasi, cinta bukan lagi pilihan, melainkan tugas negara yang menekan. Pemerintah membuat ulang kurikulum SMA bernama Sistem Dua Kekasih. Semua murid dipaksa berpasangan dengan lawan jenis, duduk berdampingan, tinggal bersama, dan semuanya dihitung berdasarkan poin.

Cerita berfokus pada Naruse Takashi, seorang remaja tanpa tujuan hidup yang hanya ingin mengabdi kepada seorang gadis biasa, yang dia percaya sebagai belahan jiwanya.

Kira-kira, siapakah yang akan menjadi belahan jiwa Naruse?

Genre: Drama, Psychological, Romance, School, System.

Catatan:
1. Cerita ini fiktif belaka.
2. Update satu Minggu 3-5 Kali.
3. Ada BAB Spesial tiap 20 BAB.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yapari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 19 — Tawaran —

Tanpa terasa, waktu sudah menunjukkan sore hari. Ini waktunya para murid untuk pulang sekolah karena jam belajar telah habis.

Beberapa mungkin ada yang langsung kembali ke asrama, atau mungkin ada juga yang nongkrong dengan teman-teman baru.

Dan pilihanku tidak keduanya, karena aku ingin menyelesaikan urusan dengan seorang gadis yang merepotkan.

Aku sampai berat hati berpisah dengan Elena, meski hanya sebentar... rasanya tetap saja menyesakkan. Apalagi dia baru menangis di hadapanku saat waktu istirahat tadi.

Sekarang, kakiku melangkah menuju tempat yang sudah ditentukan gadis itu.

Tempatnya masih sama ketika aku dipukul oleh Satoshi Akanji, dan juga saat aku berbaring di pangkuan Elena.

Angin sore berhembus pelan menggelitik kulit. Dedaunan beterbangan.

Begitu aku tiba, rupanya dia sudah menunggu.

Posisinya bersender di satu pohon besar. Hanya ada kami berdua di sini.

Umi Shiina. Aku tidak tahu apakah itu nama asli atau nama samaran, tapi aku tidak ingin ambil pusing.

"Lama juga, Takashi-kun."

Dia menyapaku. Wajahnya tampak santai.

"Aku harus menghadapi pasanganku dulu."

"Sejak kapan kau jadi budak seorang gadis?"

"Berisik, cepat katakan urusanmu!"

Aku berusaha menahan diriku agar tidak menunjukkan emosi yang berlebihan. Untuk saat ini, aku tidak punya petunjuk harus menganggap gadis ini sebagai ancaman atau tidak.

Yang jelas, jika Elena merasa terusik dan tidak nyaman dengan kehadirannya... maka aku akan mengurusnya dengan benar.

"Kau sudah berubah, ya?"

"Apa maksudmu?"

Gadis itu berdiri tegak. Posisinya tak lagi menyender ke batang pohon. Lalu, dia berjalan mendekat ke arahku.

Langkahnya terhenti ketika jarak kami berkisar dua meter.

"Sepertinya kau sangat menyayangi gadis itu, apa yang terjadi? Dulu kau selalu menjaga jarak dengan banyak gadis."

"Untuk apa aku memberitahumu?"

"Ayolah, jangan dingin begitu. Aku jadi sedih."

"Lalu, apa urusanmu?"

"Kau tidak mau basa-basi? Paling tidak bernostalgia dulu, kan?"

"Itu bukan kata yang tepat."

Aku ingin segera mengakhirinya. Tapi kalau berkaca pada sifatnya dulu, mungkin akan sedikit sulit untuk mendesaknya.

"Begini, Takashi-kun."

Suaranya lebih tegas. Tatapannya juga menajam.

"Kau ingin hidup tenang dengan gadis itu, kan?"

"..."

Aku hanya mengangguk. Entah kenapa, mulutku terkunci dengan sendirinya. Suaraku tak bisa keluar.

"Kalau begitu, aku punya satu tawaran bagus."

Dia mengajukan tawaran, dan kupikir ini akan lebih merepotkan.

"Tawaran?"

Suaraku terdengar pelan, hampir berbisik.

"Ya, kalau kau bisa membuatku jadi ketua kelas 1-B... aku akan menjamin kebebasanmu dengan gadis itu. Jika ada yang berusaha menganggu, aku pasti membantu. Untuk urusan yang menonjol, serahkan padaku!"

Mendengar tawarannya, kepalaku jadi sedikit miring. Maksudku secara harfiah.

"Kau serius?"

"Kenapa aku harus bohong?"

Kedengarannya memang menggiurkan, tapi aku tidak bisa membaca rencana sebenarnya. Kenapa gadis ini malah ingin jadi ketua kelas?

"Umm... bisa katakan alasanmu?"

Aku tidak punya pilihan selain bertanya. Walau aku tahu, jawabannya belum tentu sesuai keinginanku. Dia bisa saja berbohong.

Mendengar pertanyaanku, dia menaikkan alisnya sebelum membuka mulutnya untuk menjawab.

"Pasanganku penyuka novel mata-mata. Jadi, aku ingin dia menguak identitasku yang sebenarnya suatu hari nanti."

"Hah? Kau serius bilang begitu?"

Otakku seketika membeku. Ini aneh sekali. Dia jelas berbohong, tapi karena kebohongannya begitu nampak, aku malah ragu.

"Kau tidak percaya?"

"Ya, kupikir kau tidak mungkin melakukan lelucon seperti itu."

"Lelucon? Terserah kau saja mau percaya atau tidak. Pada akhirnya, kita sama-sama jatuh cinta pada orang biasa."

Nadanya terdengar lirih. Kepalanya sedikit turun, dan tubuhnya tampak gelisah.

Jangan bilang, dia benar-benar serius ingin melakukannya?

Keadaan jadi hening sesaat. Sembari menikmati suara angin sore yang berhembus, aku berusaha mencerna semua kata-katanya.

"Hei, Takashi-kun. Kau tahu?"

Dia lalu memanggilku, memecah keheningan.

"Aku ini tidak punya nama tetap, karena aku selalu menyamar sebagai orang lain dan menggali informasi."

"Ya, aku tahu."

"Sayangnya kau tidak tahu satu hal ini."

"Apa itu?"

Pembicaraan kami jadi semakin serius. Kami tidak akan berhenti sebelum mencapai kesepakatan.

"Dari sekian banyaknya nama, Umi adalah yang paling bermakna bagiku."

"Maksudmu, laut?"

Dia mengangguk pelan.

"Lautan itu luas, indah, dan berbahaya di saat yang bersamaan. Dan satu hal lagi, yaitu belum terjamah sepenuhnya."

"Sepertinya aku mulai paham maksudmu. Kau berharap sesuatu pada Ayano-kun, kan?"

"Kau benar. Aku ingin dia mencari tahu diriku yang sebenarnya. Tidak hanya itu, kuharap dia juga bisa memecahkan masalah yang aku buat nantinya."

Sudah kuduga, ternyata memang merepotkan.

Aku tidak menyangka ini sama sekali. Tapi setidaknya, aku yakin kalau dia bukan ancaman.

Mungkin kami bisa berteman sebagai orang normal sekarang, tidak seperti dulu.

"Baiklah, Umi Shiina. Aku akan membantumu jadi ketua kelas 1-B."

"Benarkah?! Kalau begitu, kita sepakat!"

Mengetahui bahwa aku menerima tawarannya, mata gadis ini berbinar. Dia tampak senang sampai kepalanya mengangguk beberapa kali.

Sejak awal, tawarannya memang tidak buruk. Dia bilang akan menjamin ketenangan hidupku dan Elena, makanya aku tidak punya alasan kuat untuk menolak.

"Sebenarnya ada satu hal lagi yang ingin kukatakan, apa kau mau mendengarnya?"

"Eh? Masih ada?"

"Ya, ini tentang pasanganmu."

"Pasanganku?"

Padahal suasananya sudah lebih cair dan menenangkan, tapi tak lama kami mulai serius lagi. Perubahannya terjadi begitu saja sampai aku hanya bisa mengikutinya.

Kini kami saling bertatapan. Dan aku jadi sensitif ketika dia ingin membicarakan Elena.

"Ada apa dengan pasanganku?"

Aku pun bertanya dengan tegas. Meski begitu, aku harus menahan emosi yang bergejolak.

"Begini, aku ingin memberi satu saran."

"Saran apa?"

Tatapannya mengunci mataku, kemudian dia mulai bicara lagi.

"Biarkan gadis itu tahu segalanya tentangmu."

"Hah?"

Aku hampir kehabisan kata-kata.

"Tidak baik jika kau terus menyembunyikannya, Takashi-kun. Cinta itu datang ketika kalian bisa saling memahami dan memaafkan, jadi secepat mungkin kau harus mengungkapnya."

"Mustahil, aku tidak akan bisa. Terlebih lagi, aku sudah melarangnya untuk bertanya."

"Kenapa kau melarangnya?"

"Dia pasti akan menjauhiku. Memangnya siapa yang mau bersama dengan pembunuh?"

"Terus kenapa? Lagipula kau tidak ditahan. Kau hanya mempertahan—"

"Cukup."

Aku memotong kata-katanya pelan. Sebisa mungkin aku tidak berteriak, padahal tubuhku terasa begitu panas dan menyesakkan.

"Kumohon, jangan lakukan itu! Aku tidak siap kehilangannya."

"Keras kepala juga kau ini. Kau kan belum mencobanya."

"Justru karena itu aku takut."

"Astaga. Ya, sudahlah. Padahal kau tidak sedang menyembunyikan bangkai."

Dia menghela napas panjang, lalu melangkah maju sampai posisi kami berdekatan.

"Maaf, Takashi-kun. Anggap saja aku tidak pernah memberimu saran, kau hanya perlu membantuku jadi ketua kelas."

Setelah mengatakan itu, dia langsung pergi. Dan aku jadi sendirian sekarang.

Di tengah hamparan rerumputan yang hijau ini, aku berpikir kalau aku masih tertinggal. Posisiku tidak jelas.

Ah, sial. Gadis itu benar-benar berhasil memengaruhiku.

1
Ftomic
rill 3 season ga ni?
Yapari Napa: semoga/Bye-Bye/
total 1 replies
Apa Cuba
makan nih jejak
🦊 Ara Aurora 🦊
Eh nggak jadi deh mau jam tangan kek gitu /Frown/ ribet menurutku aturan jam tangan nya terlalu banyak aturannya /Sob//Sob/
🦊 Ara Aurora 🦊
Jam tangan yg unik itu thor gue juga mau jam tangan kek gitu donc thor❓😭 /Grievance/thor balik mampir di ceritaku yg berjudul: Lampu Ajaib & Cinta Albino 🙏
🦊 Ara Aurora 🦊
kok seperti ribet itu yah... Masa di tempatkan Zona Transisi tdk ada tempat tidur pribadi... suhu di kontrol pada 16°C ... Pencahayaan tdk dimatikan penuh... Total Kapasitas 150 murid dalam satu ruangan gitu maksudnya? 🤔 aish ribetnya terdengar sulit 🙃😭
🦊 Ara Aurora 🦊: Waduh... wkwkwk 😂😂
total 3 replies
🦊 Ara Aurora 🦊
Mmm.. Aish belum ada sih bisa di koment bagian ini thor... Gue udah mampir yah thor 🙏
🦊 Ara Aurora 🦊: Sama2 kak 😊
total 2 replies
Ftomic
Very interesting. Sistemnya di dunia nyata dan realistis, trus premisnya oke. Keep it up bro!
Yapari Napa: wah makasih ya reviewnya/Smirk/
total 1 replies
Apa Cuba
alurnya kek classroom of the elite ni cuma versi tinggal bareng cewek
Ftomic: mana pacingnya sama lagi agak lambat
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!