NovelToon NovelToon
Pamanku Ternyata Jodohku

Pamanku Ternyata Jodohku

Status: sedang berlangsung
Genre:Dosen / Pernikahan Kilat / Nikahmuda
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: EILI sasmaya

Namaku Valerie. Hidupku adalah sebuah kompetisi yang sudah ditentukan kekalahannya bahkan sebelum dimulai. Di rumah ini, aku hanyalah bayangan dari Kakakku yang seorang dokter muda sukses. Orang tuaku menganggapku investasi gagal; mereka mengirim Kakak ke sekolah elit, sementara aku cukup di sekolah pinggiran karena dianggap hanya membuang-buang uang.
Muak menjadi sampah di mata mereka, aku memilih pergi. Aku terjun ke dunia malam, bergaul dengan mereka yang juga merasa terbuang. Meski aku dikelilingi botol minuman dan asap rokok, aku masih punya satu prinsip: aku tidak akan membiarkan diriku hancur sepenuhnya. Aku tetap menjaga harga diriku di tengah liarnya jalanan.
Namun, kebebasan ternyata berasa hambar sampai malam itu tiba. Di sebuah kelab yang bising, aku bertemu dengan Revan, adik angkat Ibu yang sudah bertahun-tahun menghilang untuk mengejar karier dosennya. Saat orang tuaku bahkan tidak sudi mencariku,pria yang terpaut sepuluh tahun dariku inilah yang justru menarikku keluar

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EILI sasmaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 10: TUDUHAN TAK BERDASAR

Revan merasakan desiran hangat yang sudah lama tidak ia rasakan saat pelukan Valerie mengerat di tubuhnya. Beban berat yang ia pikul seolah luruh hanya dalam satu detik. Ia ingin sekali membalas pelukan itu, mendekap istrinya dengan seluruh kerinduan yang sudah lama ia pendam.

​Namun, indra pendengaran Revan yang tajam menangkap suara langkah kaki mahasiswa di ujung koridor. Kesadaran profesionalnya segera kembali. Dengan lembut namun tegas, ia memegang kedua bahu Valerie dan merenggangkan jarak di antara mereka.

​"Erie, cukup," bisik Revan, matanya menyapu koridor dengan waspada.

​Valerie mendongak, matanya yang sembap tampak bingung. "Mas?"

​Revan merapikan kerah baju Valerie yang sedikit berantakan, lalu kembali memasang wajah kaku dan formalnya—wajah Pak Revanza Malik, sang dosen hukum.

​"Ingat di mana kita berada," ucap Revan dengan suara rendah yang berwibawa. "Kita masih di wilayah kampus. Aku tidak ingin satu pun mahasiswa melihat ini dan mulai menyebarkan gosip tentangmu.

Valerie mengerucutkan bibirnya, sedikit kesal karena Revan kembali menjadi sosok "Paman Tua" yang kaku.

"kau harus ingat, di sini kau adalah mahasiswaku. Aku tidak ingin orang-orang mengira nilai-nilaimu nanti adalah hasil dari 'belas kasihan' suamimu. Aku ingin kau berdiri di sini dengan kepalamu sendiri, sebagai Valerie sang pelukis, bukan hanya sebagai istri dari Revanza."

Revan mengambil buku tugas yang diserahkan Valerie tadi, menyembunyikan sapu tangan bersih yang terselip di dalamnya ke dalam saku mantelnya.

"Masih ada kelas setelah ini?" tanya Revan kembali ke mode dosen.

Valerie menghela napas, mencoba mengikuti permainan suaminya. "Ada, Pak. Studio Sketsa Lanjutan."

"Bagus. Pergilah ke kelasmu. Jangan terlambat, atau aku akan memberimu hukuman lagi," ucap Revan dengan kilat jenaka yang sangat tipis di matanya, yang hanya bisa ditangkap oleh Valerie.

Valerie tersenyum kecil, ia tahu itu adalah cara Revan menunjukkan rasa senangnya. "Baik, Pak Dosen. ​Valerie berbalik dan berjalan menjauh dengan langkah yang jauh lebih ringan dari sebelumnya. Revan tetap berdiri di koridor itu, menatap punggung Valerie sampai gadis itu menghilang dari pandangannya.

Malam itu, suasana apartemen terasa berbeda. Tidak ada lagi ketegangan yang menyesakkan dada. Revan, yang baru saja selesai mandi, menghampiri Valerie yang sedang asyik memandangi surat usang itu di meja makan.

​"Ganti pakaianmu, Erie. Kita makan di luar malam ini," ucap Revan lembut.

​Valerie menoleh, matanya berbinar. "Kencan?"

​Revan berdehem, sedikit salah tingkah. "Anggap saja perayaan karena tugas hukummu selesai tepat waktu."

​Malam itu, restoran yang dipilih Revan terasa begitu tenang dan hangat, sangat kontras dengan hiruk-pikuk masa lalu yang mendadak melintas di benak Valerie. Saat mereka duduk bersiap untuk memesan, cahaya lilin di meja memantul di mata Valerie, membawanya kembali ke lorong waktu yang gelap.

FLASHBACK: KEBEBASAN YANG SEMU

Sepuluh tahun yang lalu, kepergian Revan ke luar negeri adalah awal dari isolasi total bagi Valerie. Tanpa sosok pelindung, ia menjadi samsak bagi ambisi orang tuanya. Ia dipaksa hidup dalam bayang-bayang Adrian, kakaknya yang selalu sempurna, si dokter muda masa depan yang menjadi standar emas keluarga.

"Kenapa kau tidak bisa seperti kakakmu?!"

Kalimat itu menjadi sarapan paginya. Ketika kuasnya dipatahkan dan mimpinya diinjak-injak, Valerie memilih untuk menghilang.

​Ia kabur. Namun, di luar sana, ia justru terjerembab ke dalam lingkaran pergaulan bebas yang liar. Teman-teman barunya, termasuk Bara dan Giska, menganggap alkohol adalah air mineral dan obat-obatan terlarang adalah tiket menuju kesenangan.

​Valerie melihat mereka semua hancur perlahan. Ia melihat bagaimana teman-temannya kehilangan kesadaran dan martabat demi "pelarian". Di saat itulah, Valerie sadar, bahwa ia yang membengkak saat ini untuk bebas, bukan untuk merusak dirinya sendiri. Meski ia berada di lingkungan yang "beracun", Valerie tetap teguh. Ia menolak setiap kali ditawari pil haram atau botol minuman keras. Baginya, melukis adalah satu-satunya cara ia tetap waras. Ia hanya butuh tempat untuk bersembunyi dari perbandingan orang tuanya yang menyesakkan dada. Ia lebih memilih disebut "anak cupu" di tengah lingkaran pergaulan bebas itu, daripada harus kehilangan kendali atas tubuhnya sendiri.

Hingga malam itu tiba, malam di mana salah satu temannya dengan licik mencampurkan sesuatu ke dalam minumannya, membuat dunianya berputar, dan berakhir di pelukan Revan yang menyelamatkannya dari fitnah Arsen.

KEMBALI KE MASA KINI

"Erie? Kau melamun lagi?" Revan menyentuh jemari Valerie di atas meja.

Valerie tersentak, lalu tersenyum tipis. "Aku hanya sedang berpikir... jika malam itu kau tidak datang, mungkin aku sudah hancur oleh orang-orang yang kuanggap teman. Aku selalu bangga karena berhasil menjaga diriku sendiri selama pelarian, tapi ternyata aku hampir gagal di detik terakhir."

Revan menatapnya dalam, genggamannya mengerat. "Kau tidak gagal, Erie. Kau bertahan dengan sangat hebat. Itulah kenapa aku berjanji pada diriku sendiri untuk tidak akan pernah membiarkanmu kembali ke lingkungan seperti itu lagi."

Namun, suasana damai itu hancur saat mereka baru saja hendak menikmati hidangan pembuka. Pintu restoran terbuka, dan sosok Adrian masuk dengan langkah terburu-buru, diikuti oleh Arsen yang memasang wajah penuh kepalsuan.

Adrian langsung menghampiri meja mereka, matanya menatap tajam ke arah Revan. "Kau masih bisa makan dengan tenang setelah apa yang kau lakukan semalam?"

Valerie berdiri, mencoba melindungi suaminya. "Apa maksudmu, Kak? Mas Revan hanya melindungiku!"

"Melindungimu?" Adrian tertawa sinis, wajahnya yang kaku sebagai dokter tampak sangat mengintimidasi. "Giska baru saja melapor padaku. Dia bilang Revan-lah yang selama ini membiayai pergaulan bebasmu di luar sana agar kau terus menjadi pemberontak dan menjauh dari keluarga, supaya dia bisa terus mengambil hati Kakek sebagai satu-satunya orang yang bisa 'mengendalikanmu'. Dia memeliharamu seperti peliharaan, Valerie!"

Arsen mengangguk provokatif di belakang Adrian. "Benar, Valerie. Revan membayar Giska untuk memastikan kau tetap di dunia malam agar skandal ini bisa diciptakan di waktu yang tepat. Kau hanya boneka dalam rencana besar Revan untuk menguasai saham Adiwijaya."

​Valerie menoleh ke arah Revan, matanya mencari bantahan. Namun, Revan justru diam membeku dengan wajah yang mendadak pucat.

"Mas... katakan itu tidak benar," bisik Valerie.

Revan tertegun sejenak, bukan karena merasa bersalah, melainkan karena ia tidak menyangka Arsen akan sejauh ini menggunakan Giska, satu-satunya orang yang Valerie anggap sebagai teman di masa sulitnya, untuk menebar racun.

​Melihat keraguan di mata Valerie, Revan menarik napas panjang. Ia berdiri, menyejajarkan tingginya dengan Adrian yang masih menatapnya dengan penuh kebencian.

​"Tuduhan yang sangat rapi, Arsen," ucap Revan dengan suara yang sangat tenang, namun matanya berkilat tajam ke arah Arsenio yang berdiri di belakang Adrian. "Membayar seseorang untuk memberikan kesaksian palsu adalah keahlianmu sejak kita masih di firma hukum yang sama, bukan?"

​"Jangan memutarbalikkan fakta, Revan!" bentak Adrian. "Giska punya bukti transfer rutin dari rekening yang berhubungan denganmu!"

​Revan terkekeh dingin. "Rekening yang berhubungan denganku, atau rekening perusahaan cangkang yang kau buat atas namaku, Arsen? Kau lupa siapa yang mengajarkanmu cara melacak aliran dana?"

​Revan kemudian beralih menatap Valerie. Ia memegang kedua tangan istrinya itu, mengabaikan tatapan sinis Adrian. "Erie, lihat aku. Jika aku memang ingin kau terus berada di dunia malam, aku tidak akan memaksamu masuk ke jurusan Seni. Aku tidak akan memaksamu belajar hukum. Aku tidak akan membawamu pulang ke apartemen."

Valerie menatap mata Revan, mencari kejujuran di sana. Di saat yang sama, Arsenio mulai merasa terdesak. "Valerie, jangan percaya padanya! Dia hanya pandai bersilat lidah karena dia seorang pengacara!"

"Cukup, Arsen!" Valerie menyentak tangannya dari genggaman Revan, namun bukan untuk menjauh, melainkan untuk berdiri di depan suaminya, menghadapi kakaknya sendiri.

"Kak Adrian, kau bilang Giska melapor padamu? Kapan? Sejak kapan seorang dokter muda yang sibuk sepertimu punya waktu untuk mendengarkan laporan dari seorang gadis kelab malam?" tanya Valerie dengan nada curiga.

Adrian terdiam sejenak, wajahnya tampak kaku. "Dia menghubungiku karena dia merasa bersalah, Valerie!"

"Bohong," desis Valerie. "Giska tidak pernah merasa bersalah soal uang. Tapi dia takut pada ancaman. Dan aku tahu siapa yang paling ahli mengancam di sini."

Valerie merogoh tasnya, ia mengeluarkan ponselnya dan mencoba menghubungi Giska di depan mereka semua. Namun, nomor Giska sudah tidak aktif.

"Mas Revan memang mengirim uang untukku melalui Giska dulu," ucap Valerie tiba-tiba, membuat Revan terkejut. "Tapi aku tahu itu bukan untuk merusakku. Karena setiap kali Giska mendapatkan uang itu, dia selalu membawakan aku makanan sehat dan peralatan lukis, lalu berbohong bahwa itu adalah 'bonus' dari pekerjaannya. Aku baru sadar sekarang, itu adalah caramu menjagaku agar aku tidak kelaparan di jalanan, kan Mas?"

Revan terpaku. Ia tidak menyangka Valerie menyadari detail itu.

Valerie menoleh pada Arsenio dengan tatapan jijik. "Kau pikir kau bisa menghancurkanku dengan menggunakan Giska? Kau salah, Arsen. Kau justru membuktikan bahwa suamiku jauh lebih peduli padaku daripada kakaku sendiri yang hanya peduli pada nama baik keluarga!"

"Valerie! Jaga bicaramu!" teriah Adrian murka.

"Ayo pergi, Mas," Valerie menarik tangan Revan. "Aku sudah kehilangan selera makan di sini."

Saat mereka berjalan melewati Adrian dan Arsen, Revan berhenti sejenak di samping telinga Arsenio. "Permainanmu terlalu kasar, Arsen. Besok pagi, bersiaplah menghadapi audit dari firma pusat. Aku sudah mengirimkan semua data transaksi ilegalmu kepada dewan direksi."

Wajah Arsenio seketika pucat pasi. Ia mematung saat Revan dan Valerie melangkah keluar dari restoran dengan kepala tegak.

​Keheningan menyelimuti kabin mobil. Valerie menatap keluar jendela, sementara Revan fokus mengemudi, meski tangannya yang terluka masih terasa sedikit kaku.

​"Erie," panggil Revan pelan. "Terima kasih karena sudah percaya padaku."

​Valerie menoleh, ia tersenyum tipis namun matanya menyimpan kesedihan. "Aku tidak hanya percaya padamu, Mas. Aku hanya menyadari betapa jahatnya orang-orang di sekitarku, bahkan keluargaku sendiri."

​Valerie menghela napas panjang. "Kenapa Kak Adrian begitu membencimu? Padahal dulu kalian cukup dekat sebelum Mas berangkat ke luar negeri."

​Revan terdiam cukup lama sebelum menjawab. "Karena Adrian tahu satu rahasia yang Kakek simpan rapat-rapat, Erie. Rahasia tentang alasan sebenarnya kenapa aku diangkat anak oleh keluarga Adiwijaya. Dan rahasia itu adalah ancaman terbesar bagi posisinya sebagai pewaris utama."

​Valerie mengernyit. "Rahasia apa?"

Revan menepikan mobilnya di pinggir jalan yang sepi. Ia menatap Valerie dengan tatapan yang sangat serius. "Ini bukan sekadar tentang belas kasihan karena ibuku adalah ART di sana, Erie. Ada alasan yang lebih gelap dari itu..."

1
Nur Mei
semangat ngetiknya kak😁
EILI sasmaya: Terimakasih, 🥰
total 1 replies
sweet chil
tetap semangat Thor .. 🌹
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!