NovelToon NovelToon
Dinikahi Tuan Muda Lumpuh: Istriku Ternyata Dokter Bedah Jenius

Dinikahi Tuan Muda Lumpuh: Istriku Ternyata Dokter Bedah Jenius

Status: sedang berlangsung
Genre:Menjual Anak Perempuan untuk Melunasi Hutang / Kriminal dan Bidadari / Slice of Life / Pernikahan Kilat / CEO / Dijodohkan Orang Tua
Popularitas:10.9k
Nilai: 5
Nama Author: Savana Liora

​"Kau pikir aku akan menyentuhmu? Aku lumpuh."

​Ucapan dingin Elzian Drystan di malam pertama mereka langsung dibalas senyum miring oleh istrinya.

​"Otot betis kencang, tidak ada atrofi, dan pupilmu melebar saat melihatku. Kau tidak lumpuh, Tuan. Kau hanya pembohong payah."

​Dalam detik itu, kedok Ziva Magdonia sebagai istri 'tumbal' runtuh. Dia adalah ahli bedah syaraf jenius yang mematikan. Rahasia Elzian terbongkar, dan kesepakatan pun dibuat: Elzian menghancurkan musuh yang mencoba membunuhnya, dan Ziva memastikan tidak ada racun medis yang bisa menyentuh suaminya.

​Namun, saat mantan kekasih Elzian datang menghina, Ziva tidak butuh bantuan.

​"Hidungmu miring dua mili, silikon dagumu kadaluarsa... mau kuperbaiki sekalian?"

​Bagi Ziva, membedah mental musuh jauh lebih mudah daripada membedah otak.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Savana Liora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 20: Operasi dengan Pena

​​Mata Ziva menyapu ruangan dengan liar, mencari satu benda—apa saja—yang bisa menyelamatkan nyawa di detik-detik terakhir ini. Pandangannya menabrak sosok Elzian yang duduk kaku di kursi rodanya, hanya berjarak lima langkah dari posisi Pak Broto terkapar.

​Mata Ziva terkunci pada saku jas hitam Elzian. Di sana, menyembul sebuah benda logam mengkilap dengan ujung berlambang bintang putih.

​Pena Montblanc.

​"Itu dia," desis Ziva.

​Tanpa membuang waktu sedetik pun, Ziva melompat bangkit dan menerjang ke arah suaminya. Elzian tersentak saat Ziva tiba-tiba merogoh saku jasnya dengan kasar.

​"Pinjam ini," ucap Ziva cepat.

​Ziva tidak menunggu izin. Dia mencabut pena seharga puluhan juta rupiah itu. Dengan gerakan tangan yang terlatih dan didorong adrenalin, Ziva memutar paksa selongsong pena itu, mematahkan mekanisme pegasnya hingga bunyi krak terdengar nyaring. Dia menarik isi tintanya dan melemparnya ke sembarang arah, menyisakan tabung logam kosong yang runcing di ujungnya.

​"Minuman! Aku butuh alkohol! Yang kadarnya paling tinggi!" teriak Ziva sambil berbalik badan.

​Seorang pelayan yang gemetar ketakutan berdiri tak jauh darinya, memegang nampan berisi gelas-gelas kristal. Ziva menyambar satu gelas berisi cairan bening. Dia mengendus sekilas. Baunya menyengat.

​"Vodka murni. Bagus," gumam Ziva.

​Dia kembali berlutut di samping Pak Broto yang kini sudah tidak bergerak. Wajah pria itu sudah abu-abu gelap, bibirnya membiru. Dia sudah tidak sadarkan diri.

​"Minggir! Beri dia ruang!" bentak Ziva pada istri Pak Broto yang masih menangis meraung-raung.

​Ziva menuangkan setengah isi gelas Vodka itu ke tabung pena di tangannya untuk mensterilkannya, lalu menyiramkan sisanya ke leher Pak Broto yang berlemak. Bau alkohol yang tajam langsung menyeruak, bercampur dengan bau keringat dingin dan kepanikan.

​"Apa yang kau lakukan?! Kau mau membunuhnya?!" jerit istri Pak Broto histeris saat melihat Ziva mengacungkan benda tajam itu.

​"Dia akan mati kalau aku tidak melakukan ini! Diam atau aku jahit mulutmu sekalian!" balas Ziva garang.

​Ziva tidak punya waktu untuk membius. Ini bedah darurat di lantai dansa.

​Tangan kiri Ziva meraba leher Pak Broto dengan cepat dan presisi. Jarinya menekan kuat, mencari celah sempit di antara tulang rawan tiroid dan krikoid.

​"Ketemu," bisik Ziva.

​Matanya menyipit fokus. Dunia di sekitarnya seolah melambat. Suara jeritan, musik yang mati, bisik-bisik tamu, semuanya lenyap. Yang ada hanya dia, pasien, dan titik target.

​Ziva memegang tabung pena itu seperti memegang pisau bedah. Dia menarik napas panjang, lalu dengan satu gerakan hentakan yang kuat dan tegas, dia menusukkan ujung logam pena itu menembus kulit leher Pak Broto.

​CROT!

​Darah segar muncrat seketika, menyembur mengenai wajah dan gaun hitam velvet Ziva yang elegan.

​"KYAAAAA!!!" Jeritan ngeri membahana di seluruh ruangan. Beberapa tamu wanita pingsan melihat darah yang memancar.

​Ziva tidak berkedip. Dia tidak peduli darah yang menodai wajahnya. Tangannya tetap stabil, mendorong tabung pena itu lebih dalam hingga menembus trakea.

​"Ayo... bernapaslah..." perintah Ziva pelan, menahan tabung itu agar tidak bergeser.

​Detik pertama, hening.

Detik kedua, masih hening.

​Lalu, terdengar suara itu.

​Hhhsssss...

​Suara desisan udara yang tersedot masuk melewati lubang pena. Suara terindah bagi seorang dokter.

​Dada Pak Broto yang tadi diam mematung, tiba-tiba tersentak naik. Paru-parunya yang kelaparan akhirnya mendapatkan pasokan oksigen, meski bukan lewat hidung, melainkan lewat lubang kecil di lehernya.

​"Hhh... hhh..."

​Dada pria gempal itu mulai naik turun dengan ritme cepat dan rakus. Warna kulitnya yang abu-abu perlahan mulai memerah kembali. Oksigen mulai mengalir ke otaknya.

​Ziva menghembuskan napas yang sejak tadi dia tahan. Bahunya merosot lega. Dia mengambil serbet dari meja terdekat, menyumpalkannya di sekitar lubang pena untuk menahan pendarahan, sambil tetap memegangi pena itu agar tetap tegak.

​"Dia hidup," gumam Ziva.

​Ziva mendongak. Dia melihat sekelilingnya. 

Ratusan pasang mata menatapnya dengan pandangan horor bercampur takjub. Mereka melihat Ziva seperti melihat dewi kematian yang baru saja membatalkan pencabutan nyawa.

Gaun hitamnya yang indah kini ternoda bercak darah merah gelap, wajahnya terciprat titik-titik merah, membuat penampilannya semakin mirip Ratu Kegelapan yang mengerikan namun mempesona.

​Ziva menatap istri Pak Broto yang kini terduduk lemas di lantai dengan mulut menganga.

​"Panggil ambulans," ucap Ziva datar, suaranya tenang seolah dia baru saja memesan kopi, bukan melubangi leher orang. "Suamimu selamat. Tapi dia butuh operasi lanjutan untuk mengeluarkan daging itu."

​Tidak ada yang bergerak selama beberapa detik. Mereka masih terlalu syok mencerna apa yang baru saja terjadi.

​"Sekarang!" bentak Ziva.

​Barulah orang-orang tersadar dan mulai sibuk menelepon. Tim medis hotel berlarian masuk membawa tandu.

​Ziva perlahan berdiri saat petugas medis mengambil alih penanganan Pak Broto. Dia mundur beberapa langkah, membiarkan para profesional bekerja. Kakinya terasa sedikit gemetar—efek samping adrenalin yang mulai surut.

​Ziva mengambil tisu basah dari tasnya, membersihkan darah di pipinya dengan gerakan kasar. Dia merasa lengket dan kotor. Dia ingin pulang.

​Saat dia berbalik badan, matanya bertemu dengan sepasang mata hitam pekat yang menatapnya dari jarak dekat.

​Elzian.

​Pria itu masih duduk di kursi rodanya, di tengah kerumunan yang membelah memberinya jalan. Namun, tatapannya tidak lepas sedikit pun dari Ziva.

​Elzian tidak terlihat jijik melihat darah di tubuh istrinya. Dia tidak terlihat takut.

​Justru sebaliknya.

​Mata Elzian menggelap, pupilnya melebar sempurna. Dia menatap Ziva dengan intensitas yang membakar. 

Ada kekaguman yang nyaris gila di sana. Ada rasa bangga. Dan yang paling kuat... ada obsesi.

​Seolah-olah Ziva adalah karya seni paling brutal dan paling indah yang pernah dia lihat seumur hidupnya.

​Ziva terpaku di tempatnya. Jantungnya yang tadi berdetak kencang karena operasi darurat, kini berdetak dengan ritme yang berbeda saat ditatap sedemikian rupa oleh suaminya.

​"Elzian..." panggil Ziva pelan, merasa canggung dengan tatapan itu. "Maaf, aku merusak jas dan penamu..."

​Elzian tidak menjawab. Dia menjalankan kursi rodanya mendekat, mengabaikan semua orang. Dia berhenti tepat di depan Ziva, lalu mengulurkan tangannya.

​Bukan untuk mengambil pena yang rusak. Tapi ibu jarinya terulur, menyapu lembut sisa noda darah yang tertinggal di sudut bibir Ziva.

​Sentuhan itu dingin, tapi membakar kulit Ziva.

​"Persetan dengan pena itu," bisik Elzian serak. Matanya menatap Ziva lekat-lekat, seolah ingin menelannya bulat-bulat. "Kau luar biasa."

1
Warni
🥰🤭🤭🤭🤭😂
Warni
Lebih galak Ziva.
Warni
😫
Warni
😂
Warni
🤭
Warni
Ngambek nanti si Suami klu tulisannya di ejek jelek.
Savana Liora: hahaha
total 1 replies
Aidil Kenzie Zie
kalau orang mengira Elzian lumpuh maka kakinya adalah istrinya sendiri. good job Ziva
Ma Em
Akhirnya Ziva bisa mengalahkan Elzian akibat egonya yg terlalu tinggi dan keras kepala orang lain tdk ada yg berani melawan Elzian tapi Ziva bisa mengalahkan nya hebat kamu Ziva .
Savana Liora: iya. mantap
total 1 replies
Warni
🥰
Warni
Mengamuk.🤣
Warni
😂
Warni
😁
Warni
😂
Warni
Jangan bilang Dokter Rayn di pindah tugaskan.🤭
Warni
😂🥰🥰🥰
Warni
🥰
Warni
🤣
Warni
Oh mampus.
Savana Liora: tau rasa dia
total 1 replies
Aanisa aliya
lanjutkan
Savana Liora: besok ya
total 1 replies
Warni
Ohhh,mantap pak.Suami siaga.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!