"Kau hanyalah pemeran pengganti dalam hidupku, Shena. Jangan bermimpi lebih!"
Shena berhenti bermimpi dan memilih pergi. Tapi justru saat itulah, Devan baru menyadari bahwa rumahnya terasa mati tanpa suara Shena. Sang CEO arogan itu kini rela membuang harga dirinya hanya untuk memohon satu kesempatan kedua.
Bagaimana jadinya jika sang pembenci justru berubah menjadi pemuja yang paling gila? Masih adakah tempat untuk Devan di hati Shena yang sudah beku di Hati nya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Veline ll, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 2: Penjara Emas Nyonya Adiguna
Sinar matahari pagi menembus celah gorden blackout di kamar penthouse yang mewah itu. Shena terbangun dengan tubuh yang kaku dan persendian yang terasa linu. Ia tidak tidur di ranjang king-size yang empuk, melainkan meringkuk di atas karpet bulu di sudut ruangan, masih dengan gaun pengantin yang kini sudah kusut masai.
Ia mengerjap, menatap sekeliling kamar yang terasa asing. Untuk sesaat, ia berharap semua yang terjadi kemarin hanyalah mimpi buruk. Ia berharap ia masih berada di kamarnya yang kecil, menunggu Sarah masuk untuk meminjam lipstik atau sekadar bercerita tentang rencana pernikahannya.
Namun, beratnya cincin berlian di jari manisnya menyadarkannya. Itu bukan mimpi. Ia benar-benar telah menikah. Ia benar-benar telah menjadi istri pengganti bagi Devan Adiguna—pria yang paling dihormati sekaligus ditakuti di kalangan pebisnis kota ini.
Klik.
Pintu kamar mandi terbuka. Devan keluar hanya dengan balutan jubah mandi sutra berwarna hitam. Rambutnya masih basah, dan aroma sabun maskulin yang mahal segera memenuhi ruangan. Pria itu tidak menoleh sedikit pun pada Shena yang masih duduk di lantai. Ia berjalan menuju walk-in closet seolah-olah Shena adalah benda mati yang tak kasat mata.
"Bangun," perintah Devan dingin tanpa melihat ke belakang. "Cuci wajahmu. Ibu dan Ayah mertua akan datang untuk sarapan pagi ini. Jangan sampai mereka melihat wajah menyedihkanmu itu."
Shena berusaha bangkit, meskipun kakinya sedikit mati rasa. "Ibu dan Ayah... maksudmu orang tuaku?"
Devan berbalik, menatapnya dengan pandangan merendahkan. "Siapa lagi? Mereka pasti ingin memastikan bahwa 'dagangan' mereka diterima dengan baik olehku. Jangan hancurkan sandiwara ini di depan mereka, atau kau tahu apa konsekuensinya."
Shena menelan ludah. Ia melangkah menuju kamar mandi. Di dalam sana, ia menatap pantulan dirinya di cermin besar. Matanya sembap, riasannya luntur, dan ada bekas merah di bahunya akibat tekanan gaun yang terlalu lama ia kenakan.
Tuhan, bagaimana aku bisa bertahan menghadapi pria ini setiap hari? batinnya pilu.
|Sarapan Penuh Kepalsuan|
Tiga puluh menit kemudian, Shena sudah berganti pakaian dengan gaun kasual yang sopan. Ia turun ke ruang makan megah di mana meja panjang sudah dipenuhi dengan berbagai hidangan mewah. Di sana, ayahnya, Bram, dan ibunya, Martha, sudah duduk dengan wajah yang dipaksakan ceria.
"Shena! Sayang, bagaimana malam pertamamu?" Martha langsung berdiri dan memeluk Shena, namun matanya terus melirik ke arah Devan, mencari tanda-tanda apakah menantunya itu puas atau tidak.
Shena melirik Devan yang sedang memotong steak dengan tenang. Devan mendongak, lalu memberikan senyum tipis—senyum yang sangat sempurna hingga Shena pun nyaris percaya bahwa itu tulus.
"Shena sedikit kelelahan, Ma," sahut Devan lembut, tangannya tiba-tiba meraih tangan Shena di atas meja dan menggenggamnya erat. "Pesta kemarin sangat menguras energinya. Tapi dia istri yang luar biasa."
Genggaman Devan begitu kuat hingga kuku-kukunya hampir menusuk kulit Shena, namun Shena hanya bisa tersenyum kaku.
"Syukurlah," Bram menarik napas lega.
"Devan, kami minta maaf soal Sarah. Kami benar-benar tidak menyangka dia akan seberani itu. Tapi Shena... dia anak yang penurut. Dia akan menjadi istri yang jauh lebih baik untukmu."
Hati Shena mencelos. Ayahnya berbicara seolah-olah ia baru saja menjual barang pengganti yang lebih berkualitas setelah barang utama mengalami kerusakan. Tidak ada yang bertanya apakah dia bahagia. Tidak ada yang bertanya mengapa matanya sembap.
"Aku tahu, Pa," jawab Devan, suaranya kini terdengar berat dan penuh makna terselubung. "Shena memang sangat berharga. Aku akan memastikan dia mendapatkan apa yang layak dia dapatkan di rumah ini."
Shena hanya bisa menunduk, pura-pura sibuk dengan makanannya yang terasa hambar. Di bawah meja, Devan melepaskan tangan Shena dengan gerakan yang seolah membuang sampah.
|Kontrak yang Tak Tertulis|
Setelah orang tua Shena pulang dengan wajah puas membawa cek tambahan dari Devan, suasana rumah kembali mencekam. Devan berdiri di balkon, membelakangi Shena.
"Kau lihat tadi?" Devan bersuara tanpa menoleh. "Orang tuamu bahkan tidak peduli padamu. Mereka hanya peduli pada uangku. Kau hanyalah tumbal bagi mereka."
"Aku tahu," jawab Shena lirih. "Aku melakukan ini juga untuk mereka."
Devan berbalik, menyeringai sinis. "Jangan berlagak seperti pahlawan. Kau di sini karena kau tidak punya pilihan lain. Dan sekarang, dengarkan aturanku."
Ia melangkah mendekat, mengintimidasi Shena hingga gadis itu terdesak ke meja makan.
"Pertama, di depan orang lain, kita adalah pasangan bahagia. Aku tidak mau reputasiku rusak karena skandal pernikahan pengganti. Kedua, jangan pernah masuk ke ruang kerjaku tanpa izin. Ketiga, jangan pernah mencoba mencari tahu tentang Sarah."
Mendengar nama kakaknya disebut, Shena memberanikan diri bertanya. "Apa kau masih sangat mencintainya?"
Rahang Devan mengeras. "Cinta? Sarah adalah wanita pertama yang berani mempermalukanku. Aku akan menemukannya, Shena. Dan saat aku menemukannya, aku akan memastikan dia menyesal telah kabur."
"Lalu aku? Apa peranku di sini?"
"Kau?" Devan menyentuh helai rambut Shena dengan kasar. "Kau adalah pengingat bagiku tentang pengkhianatan itu. Kau akan tetap di sini sebagai Nyonya Adiguna yang kesepian. Aku akan memberimu kemewahan, perhiasan, dan kartu kredit tanpa batas, tapi aku tidak akan pernah memberimu kehadiranku."
Devan pergi begitu saja, meninggalkan Shena di ruang makan yang luas namun terasa seperti penjara.
|Malam yang Panjang|
Malam harinya, Shena mencoba menyibukkan diri. Ia membereskan pakaiannya ke dalam lemari, namun ia melihat separuh bagian lemari itu sudah terisi dengan pakaian-pakaian mahal milik Sarah yang belum sempat dipakai. Devan belum membuangnya.
Shena menyentuh sebuah gaun sutra berwarna merah milik kakaknya. Air mata kembali menetes. Ia rindu Sarah, tapi ia juga membenci kakaknya karena meninggalkan beban seberat ini di bahunya.
Tiba-tiba, suara mobil terdengar masuk ke garasi. Devan pulang, namun ia tidak sendirian. Suara tawa seorang wanita terdengar dari arah ruang tamu.
Shena turun dengan ragu, hanya untuk melihat Devan sedang duduk di sofa dengan seorang wanita cantik bergaun mini yang tampak sangat akrab dengannya. Devan sengaja meninggalkan pintu terbuka, seolah ingin Shena melihatnya.
"Siapa dia, Dev?" tanya wanita itu sambil melirik ke arah tangga.
Devan menyesap minumannya, lalu menatap Shena dengan pandangan datar. "Hanya orang asing yang dititipkan orang tuanya di rumahku. Jangan pedulikan dia."
Hati Shena hancur berkeping-keping. Di hari pertama mereka menikah, Devan sudah membawa wanita lain ke rumah dan menghinanya secara terang-terangan.
Shena tidak bersuara. Ia berbalik dan kembali ke atas, mengunci pintu kamar mandi, dan menangis di bawah kucuran air shower yang deras agar suaranya tidak terdengar. Ia baru sadar, "Mengejar Cinta" dalam judul hidupnya ini bukan tentang ia mengejar Devan, melainkan tentang bagaimana ia harus bertahan hidup sampai Devan menyadari bahwa hati yang ia cari sebenarnya ada di depan matanya.
...****************...
Jangan lupa like dan Comment yaෆ╹ .̮ ╹ෆ
Terimakasih!!!!