Andini (23) menganggap pernikahannya dengan Hilman (43) adalah sebuah penghinaan. Baginya, Hilman hanyalah "pelayan gratis" yang membiayainya bergaya hidup mewah. Selama tujuh tahun, Andini buta akan pengorbanan Hilman yang bekerja serabutan demi masa depan ia dan anak nya. Namun, saat kecelakaan merenggut nyawa Hilman, Andini baru menyadari bahwa kemewahan yang ia pamerkan berasal dari keringat pria yang selalu ia hina. Sebuah peninggalan suaminya dan surat cinta terakhir menjadi pukulan telak yang membuat Andini harus hidup dalam bayang-bayang penyesalan seumur hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gibrant Store, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Akar yang Terlupakan
Di dalam taksi yang melaju kencang meninggalkan area sekolah, Andini memeluk kotak sepatu usang itu seolah-olah benda itu adalah jantungnya sendiri. Di sampingnya, Syifa tertidur karena kelelahan emosional yang luar biasa, kepalanya bersandar pada lengan Andini yang gemetar. Suara deru mesin taksi dan rintik hujan yang kembali membasahi kaca jendela membawa pikiran Andini melayang jauh ke belakang—ke masa sepuluh tahun yang lalu, ke saat di mana semuanya dimulai.
Mengapa ia menikah dengan Hilman?
Pertanyaan itu sering ia ajukan pada dirinya sendiri dengan nada penuh kebencian selama tujuh tahun terakhir. Namun hari ini, di bawah rahasia besar keluarga bangsawan yang baru terungkap, jawaban itu muncul kembali dengan warna yang sangat berbeda. Bukan warna kemiskinan yang kelabu, melainkan warna pengorbanan yang begitu murni hingga menyakitkan untuk diingat.
Pertemuan di Bawah Langit Runtuh
Sepuluh tahun yang lalu, Andini adalah seorang gadis yatim piatu yang hancur. Ibunya baru saja meninggal dunia karena kanker yang menggerogoti sisa tabungan mereka, meninggalkannya sendirian di kontrakan sempit dengan gunungan hutang biaya rumah sakit. Dunia Andini runtuh. Ia berdiri di pinggir jembatan penyeberangan pada suatu malam yang sangat dingin, berniat mengakhiri segalanya. Ia merasa tidak ada lagi alasan untuk bernapas di dunia yang begitu kejam ini.
Saat itulah, seorang pria dengan jaket kulit kusam dan wajah yang sangat tenang menarik lengannya. Pria itu adalah Hilman.
"Dunia memang pahit, tapi jangan biarkan kepahitan itu menang," ucap Hilman saat itu. Suaranya tidak menghakimi, hanya ada ketenangan yang magis di sana.
Hilman tidak memberinya uang yang banyak. Ia hanya memberinya sebungkus nasi hangat dan sebuah janji: "Aku akan menjagamu seumur hidupku, asalkan kamu mau menemaniku yang tidak punya apa apa ini."
Andini melihat harapan di mata Hilman itu. Ia tidak tahu bahwa Hilman baru saja membuang statusnya sebagai ahli waris konglomerat. Ia hanya tahu bahwa ada seorang pria asing yang menawarkan sebuah "Harapan" di saat ia sebatang kara.
Pesta Pernikahan Tanpa Gemerlap
Mereka menikah tiga bulan kemudian. Tidak ada gaun pengantin sutra, tidak ada gedung mewah. Mereka menikah di kantor urusan agama dengan saksi dua orang tetangga dan seorang penjaga masjid. Andini ingat betul, saat itu Hilman hanya mampu membelikannya sebuah cincin perak tipis yang harganya mungkin tidak seberapa.
"Maaf, Din. Hanya ini yang bisa aku berikan sekarang. Tapi aku janji, suatu hari nanti aku akan memberimu istana," bisik Hilman sambil menyematkan cincin itu di jari manis Andini.
Andini saat itu tersenyum tulus. Ia merasa menjadi wanita paling beruntung. Ia mencintai Hilman karena ketulusannya, karan meskipun Hilman bekerja serabutan apa pun—mulai dari tukang parkir hingga kuli bangunan—hanya agar Andini bisa makan daging seminggu sekali.
Namun, perlahan-lahan, racun itu masuk.
Racun itu bernama "iri hati". Melihat teman-teman sekolahnya menikah dengan pria kaya, melihat kemewahan yang terpampang di media sosial, dan melihat betapa lambatnya kemajuan ekonomi mereka, membuat hati Andini yang dulu tulus perlahan-lahan membatu. Ia mulai malu membawa Hilman ke acara reuni. Ia mulai membenci aroma keringat Hilman yang pulang kerja. Ia lupa bahwa pria itu berbau keringat karena mengangkut semen demi membelikannya bedak.
Dosa di Balik Kebohongan
Andini membelai rambut Syifa yang sedang tertidur. Air matanya menetes mengenai dahi anaknya. Ia teringat kejadian lima tahun yang lalu, saat Syifa jatuh sakit parah. Mereka tidak punya uang untuk biaya rumah sakit.
Andini mengamuk hebat malam itu. "Kamu bilang mau kasih aku istana, Mas! Lihat sekarang! Anakmu hampir mati dan kita bahkan nggak punya uang buat beli obat! Kamu laki-laki nggak berguna!"
Hilman hanya diam. Ia keluar rumah tanpa membawa apa-apa. Tiga hari kemudian, ia pulang dengan wajah yang sangat pucat dan membawa uang jutaan rupiah. Syifa pun selamat.
Andini saat itu merasa senang, namun ia tidak pernah bertanya dari mana uang itu berasal. Ia justru curiga Hilman mencuri atau melakukan hal ilegal. Ia semakin menjauhi Hilman, menganggap suaminya adalah pria rendahan.
Sekarang, setelah melihat dokumen medis itu, Andini baru menyadari. Uang jutaan itu adalah hasil keringat, lelah, lapar Hilman. Bahkan memberikan tubuhnya sendiri dalam keadaan sakit untuk menebus nyawa Syifa, sementara Andini—ibunya—hanya bisa memaki dan mengeluh di pojok ruangan.
"Kenapa aku begitu buta, Mas?" raung Andini dalam hati, menggigit bibirnya agar tidak membangunkan Syifa. "Kenapa aku mencintai Reno yang hanya memuja wajahku, dan membuang mu yang memuja jiwaku?"
Ia teringat betapa Hilman selalu menyiapkan air hangat setiap sore. Bukan karena Hilman tidak punya kerjaan lain, tapi karena Hilman tahu Andini sering merasa sakit tulang jika terkena air dingin. Hilman melakukan semua itu dengan ginjal yang perlahan-lahan mulai digerogoti racun ureum.
Setiap kali Andini menolak pelukan Hilman dengan alasan "bau oli", Hilman sebenarnya sedang menahan sakit yang luar biasa di pinggangnya. Setiap kali Andini melempar nasi goreng buatan Hilman karena dianggap kurang enak, Hilman sebenarnya sedang menahan lapar karena porsinya ia berikan pada Andini.
Cinta yang Menjadi Belati
Andini membuka salah satu surat di dalam kotak sepatu yang bertuliskan: "Untuk Andini, jika aku mulai terlihat membosankan."
"Dek, aku tahu matamu mulai berpaling pada dunia yang lebih berkilau. Aku tidak menyalahkan mu. Cantikmu memang pantas berada di tempat yang lebih mewah dari rumah petak ini. Aku sengaja membiarkanmu berpikir aku hanya buruh miskin, karena aku ingin melindungi.mu dari keluargaku yang kejam. Kalau kamu tahu siapa aku, mereka akan menggunakan mu untuk menyakitiku. Biarlah hanya aku yang dibenci, asalkan kamu tetap aman di sisiku."
Andini meremas surat itu hingga lecek. Hilman tidak menyembunyikan kekayaannya karena pelit.
Hilman menyembunyikan itu semua karena ia tahu bahwa keluarganya, cinta adalah titik lemah yang mudah dihancurkan. Hilman memilih menjadi budak agar istrinya tidak menjadi sandera!