NovelToon NovelToon
Dinikahi Komandan Galak: Istriku Legenda Forensik

Dinikahi Komandan Galak: Istriku Legenda Forensik

Status: sedang berlangsung
Genre:Kriminal dan Bidadari / Pelakor jahat / Dijodohkan Orang Tua / Mafia / Duda / Berbaikan
Popularitas:7.8k
Nilai: 5
Nama Author: Savana Liora

Pernikahan Zoya Ravendra dan Kalandra Dirgantara adalah perjodohan mutlak tanpa tanggal kadaluarsa. Bagi Kalandra, Kepala Unit Reskrim yang ditakuti, Zoya hanyalah istri pendiam yang membebani karena selalu mengurung diri di kamar.

​Namun, pandangan itu hancur saat kasus pembunuhan berantai "The Puppeteer" menemui jalan buntu. Zoya tiba-tiba muncul di TKP, menerobos garis polisi dengan tatapan datar dan berkata:

​"Singkirkan tangan kotormu dari leher korban, Komandan. Dia tidak dicekik. Ada residu sianida di kuku jari manisnya dan lebam mayat ini dimanipulasi."


​Hanya dalam lima menit, Zoya memecahkan teka-teki itu. Kalandra terlambat menyadari bahwa istri yang ia abaikan ternyata adalah "The Scalpel," legenda forensik dunia. Kini, Kalandra tidak hanya harus memburu pembunuh, tapi juga mengejar cinta istrinya yang hatinya lebih sulit diotopsi daripada mayat manapun.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Savana Liora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 4: Analisis 5 Menit

​"Pulang, Zoya! Sekarang!"

​Bentakan Kalandra meledak, memantul di dinding-dinding kontainer gudang yang dingin. Wajahnya merah padam, campuran antara rasa malu dan marah.

Istrinya, yang seharusnya duduk manis di rumah menunggu suami pulang, kini malah berjongkok di depan mayat dengan gaun sutra yang sudah kotor terkena lumpur.

​"Kamu pikir ini wahana rumah hantu? Ini mayat, Zoya! Mayat korban pembunuhan sadis!" Kalandra maju selangkah, hendak menarik bahu istrinya agar berdiri.

"Jangan bikin aku seret kamu di depan anak buahku sendiri. Kamu merusak TKP!"

​Sinta di belakang mendengus keras, melipat tangan di dada dengan angkuh. "Dengar tuh, Bu. Komandan itu sayang sama Ibu, makanya disuruh pulang. Jangan cari perhatian di sini. Nanti kalau Ibu muntah lihat darah, kita lagi yang repot."

​Zoya tidak bergeming. Dia tidak menoleh, tidak juga merespons teriakan suaminya atau sindiran Sinta.

Tangan berbalut sarung tangan lateks itu bergerak tenang, menyentuh rahang kaku mayat dengan kelembutan yang mengerikan.

​"Dokter Rudi," panggil Zoya. Suaranya tidak keras, tapi anehnya terdengar jelas di tengah deru hujan. "Pinjam senter penamu. Sekarang."

​Dokter Rudi yang masih bengong karena kaget, secara refleks merogoh saku rompinya dan menyodorkan senter kecil itu. "Eh... i-ini, Bu."

​"Rudi! Jangan dikasih!" cegah Kalandra. "Zoya, berdiri! Aku hitung sampai ti—"

​Klik.

​Zoya menyalakan senter, mengarahkannya langsung ke mata mayat yang melotot. Dia membuka kelopak mata itu lebih lebar dengan jempolnya.

​"Lihat ini, Mas," potong Zoya datar.

​Kalandra terdiam, napasnya tertahan di tenggorokan melihat keberanian istrinya. Dia terpaksa menunduk, mengikuti arah telunjuk Zoya.

​"Ada bintik-bintik merah di bagian putih matanya," jelas Zoya, nadanya berubah klinis, seolah dia sedang memberi kuliah umum, bukan berdebat dengan suaminya di gudang pelabuhan. "Dalam istilah medis, ini disebut petechiae. Tanda pecahnya pembuluh darah kapiler karena kekurangan oksigen mendadak."

​"Nah kan!" sambar Sinta, masih berusaha cari muka. "Berarti benar dicekik kan? Itu tadi Dokter Rudi juga tahu!"

​Zoya memutar bola matanya malas. Dia menggeser senter ke leher mayat yang putih mulus.

​"Kalau dicekik, tulang hyoid di leher pasti patah atau minimal ada lebam bekas jari. Leher ini bersih. Mulus. Tidak ada trauma tumpul."

Zoya menoleh ke arah Rudi. "Dokter, coba cium aroma mulut korban. Jangan cuma dilihat dari jauh."

​Rudi ragu-ragu mendekat, lalu mengendus pelan di area mulut mayat yang terbuka sedikit. Dahinya berkerut. Dia mengendus lagi, kali ini lebih dalam.

Matanya membelalak.

​"Baunya... agak pahit," gumam Rudi, wajahnya memucat. "Seperti kacang almond?"

​"Bingo," ucap Zoya dingin. "Sianida."

​Keheningan mencekam menyelimuti tenda itu. Kalandra ternganga. Sianida? Zat beracun mematikan itu?

​"Tapi... tapi nggak mungkin, Bu!" sanggah Rudi panik, merasa otoritasnya diganggu. "Saya sudah periksa seluruh lengan, paha, leher. Tidak ada bekas suntikan! Kalau diminum, pasti ada sisa muntahan atau luka bakar kimia di bibir. Bibirnya utuh!"

​Kalandra menatap istrinya, mencari keraguan di wajah itu. Tapi yang dia temukan hanya keyakinan mutlak.

"Zoya, jangan asal tebak. Kalau ini sianida, mana jalan masuknya? Rudi benar, badannya bersih."

​Zoya menghela napas panjang, seolah sedang menghadapi sekumpulan murid TK yang lamban belajar. Tanpa bicara, dia meletakkan senter, lalu tangannya bergerak turun ke kaki mayat.

​Dengan satu gerakan sentak, Zoya melepas sepatu hak tinggi yang masih melekat di kaki kanan mayat.

​"Kalian terlalu fokus pada tubuh bagian atas karena si pelaku memanipulasi posisinya seperti boneka," ujar Zoya sambil mengangkat kaki pucat itu tinggi-tinggi. "Pelaku ini cerdas, tapi dia juga arogan. Dia pikir polisi terlalu bodoh untuk memeriksa sampai ke bawah sini."

​Zoya merenggangkan jari kelingking dan jari manis kaki mayat itu.

​"Senter," perintah Zoya.

​Kalandra, tanpa sadar, langsung menyambar senter dari tangan Rudi dan menyorot ke arah yang ditunjuk istrinya.

​Di sana, tersembunyi di antara lipatan kulit jari kaki yang keriput karena lembap, ada sebuah titik merah sangat kecil. Hampir tak kasat mata.

​"Bekas suntikan jarum mikro," bisik Zoya. "Dia menyuntikkan sianida dosis tinggi langsung ke pembuluh vena di kaki. Kematian terjadi kurang dari satu menit. Setelah itu, dia mendandani mayat ini, menaruh es kering di sekitar leher untuk memalsukan lebam mayat, lalu mengikatnya."

​Zoya melepaskan kaki mayat itu, membiarkannya jatuh berdebum pelan ke peti. Dia berdiri, menatap Kalandra yang masih mematung dengan mulut setengah terbuka.

Ekspresi Kalandra campur aduk—antara takjub, malu, dan tidak percaya bahwa wanita yang baru saja membedah kronologi pembunuhan dalam lima menit ini adalah istri yang dia sebut "beban" tadi pagi.

​Sinta mundur perlahan, wajahnya merah padam karena malu. Dokter Rudi sibuk mencatat dengan tangan gemetar, sadar bahwa dia baru saja dipecundangi oleh seorang ibu rumah tangga.

​Zoya melepas sarung tangan lateksnya dengan bunyi plak yang nyaring. Dia melempar sarung tangan kotor itu tepat ke dada bidang Kalandra.

​"Mayatnya sudah bicara, Mas," ucap Zoya datar, merapatkan kembali mantel mahalnya yang basah. "Dia bukan boneka. Dia korban pembunuhan berencana dengan eksekusi level ahli. Sekarang tugas Mas menangkap pelakunya, bukan memarahi aku."

​Tanpa menunggu jawaban, Zoya membalikkan badan. Rambutnya yang basah berkibar pelan saat dia berjalan menembus hujan kembali ke mobil mewahnya, meninggalkan Kalandra yang berdiri kaku seperti patung di tengah badai, menggenggam sarung tangan bekas istrinya seolah itu adalah benda paling berharga sekaligus paling menampar harga dirinya malam ini.

1
olyv
🤣🤭 pak komandan fall in love bu dok
Savana Liora: hahaha
total 1 replies
olyv
hahah dadah ulat bulu 🤣
Savana Liora: hahaha
total 1 replies
olyv
🤣🤣🤣🤣 ngakak...senjata makan tuan
Savana Liora: tau rasa dia
total 1 replies
olyv
👍👍
Yensi Juniarti
mulai posesif mas pol ini 🤣🤣🤣
Savana Liora: hahaha iya
total 1 replies
Warni
Wah sdh di teror gais
Savana Liora: mulai ya
total 1 replies
Warni
🤣
Warni
😫
Warni
🥰😂
Warni
😂
tutiana
hadir Thor⚘️⚘️⚘️
Savana Liora: selamat baca kk
total 1 replies
Warni
😂
Warni
Di sentil
Warni
🥰
Warni
Wauuu🥰
Warni
😱
Warni
🥰
olyv
wokeh thor... semangat 👍👍💪💪💪
Savana Liora: siap kk
total 1 replies
Warni
Akur🤣
Warni
Wau
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!