Blurb:
Dulu, Sora Araminta hanyalah "Istri Sampah" yang gila harta. Kini, tubuhnya diisi oleh Elena, konsultan bisnis legendaris yang lebih galak dari preman pasar.
Saat sang suami, Kairo Diwantara, melempar cek dengan tatapan jijik agar Sora tutup mulut, dia pikir istrinya akan girang. Salah besar.
Elena justru melempar balik surat cerai tepat ke wajah CEO sombong itu.
"Aku resign jadi istrimu. Simpan uangmu, kita bicara bisnis di pengadilan."
Elena pikir Kairo akan senang bebas dari benalu. Namun, pria itu malah merobek surat cerainya dan menyudutkannya ke dinding dengan tatapan berbahaya.
"Keluar dari kandangku? Jangan mimpi, Sora. Kamu masih milikku."
Sial. Sejak kapan CEO dingin ini jadi seobsesif ini?!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Savana Liora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22: Tanda Tangan Setengah Hati
"Tunggu sebentar. Pasal 4 ayat 2. Apa-apaan ini?"
Suara Elena memecah keheningan di ruang rapat kantor notaris Sanjaya & Rekan yang terletak di lantai 30 gedung pencakar langit SCBD. Ruangan beraroma lavender itu terasa membeku. Elena melempar draf Akta Hibah ke atas meja mahoni mengkilap, membiarkan kertas-kertas itu meluncur dan berhenti tepat di depan hidung Pak Sanjaya, notaris senior yang sudah berkeringat dingin sejak sepuluh menit lalu.
Kairo, yang duduk di sebelah Elena dengan kaki disilangkan santai, hanya melirik sekilas. "Ada masalah?" tanyanya datar sambil memutar pena Montblanc di jari-jarinya.
"Jangan pura-pura bodoh, Kairo," desis Elena. Telunjuknya menukik tajam ke paragraf bermasalah itu. "Di sini tertulis: Pihak Kedua dilarang memindahtangankan, menjual, atau menjaminkan aset tanpa persetujuan tertulis dari Pihak Pertama. Ini hibah atau penjara properti? Kau memberiku mobil tapi kuncinya masih kau pegang."
Kairo menegakkan duduknya, menatap Elena dengan sorot mata yang tak mau kalah. "Itu prosedur standar keamanan aset keluarga, Sora. Dua unit apartemen itu nilainya puluhan miliar. Aku tidak bisa membiarkanmu menjualnya minggu depan cuma karena butuh uang tunai untuk... kabur ke luar negeri?"
"Aku tidak sebodoh itu menjual aset produktif demi uang receh," bantah Elena cepat. "Properti itu investasi jangka panjang. Menjualnya sekarang adalah kerugian."
"Bagus kalau kau sadar," Kairo menyeringai tipis, ekspresi yang sangat menyebalkan. "Kalau begitu, klausul itu tidak akan jadi masalah buatmu, kan? Tanda tangan saja."
Elena menggertakkan gigi. Kairo menggunakan logika Elena untuk menjebak dirinya sendiri. Jika Elena menolak keras, Kairo akan curiga dia memang berniat kabur. Tapi jika menerima, dia tidak punya kendali penuh.
Elena menarik napas panjang, menenangkan detak jantungnya. Dia menatap Pak Sanjaya yang pura-pura sibuk merapikan kacamata.
"Pak Notaris," panggil Elena. "Saya setuju dengan klausul larangan jual itu. Biarkan saja di sana."
Kairo tersenyum menang, mengira ia telah menyudutkan istrinya.
"Tapi," lanjut Elena, suaranya meninggi. "Saya minta ditambahkan satu pasal tambahan di bagian 'Hak Pemanfaatan'."
Senyum Kairo memudar. "Pasal apa lagi?"
Elena mengambil pena dari tangan Pak Sanjaya. Dengan gerakan cepat, dia mencoret bagian kosong di halaman terakhir draf dan menuliskan kalimatnya sendiri. "Tulis ini ke dalam akta resmi, Pak," perintahnya.
Pak Sanjaya membaca tulisan Elena dengan suara gemetar. "Pihak Pertama dilarang memasuki, mengakses, atau menggunakan properti tersebut tanpa izin tertulis atau persetujuan lisan dari Pihak Kedua, demi menjamin privasi dan kenyamanan Pihak Kedua sebagai pemilik sah."
Keheningan melanda ruangan. Kairo menatap Elena dengan mata menyipit tajam, rahangnya mengeras.
"Kau melarangku masuk ke properti yang kubeli dengan uangku sendiri?" tanya Kairo rendah, nadanya berbahaya. "Kau lupa siapa yang membayar tagihannya?"
"Dulu uangmu. Sekarang, setelah tanda tangan, itu asetku," balas Elena tenang, bersedekap dada menantang dominasi suaminya. "Kau bilang ini demi keamanan aset keluarga, kan? Nah, aku juga butuh keamanan privasi. Aku butuh ruang kerja yang tenang. Tanpa inspeksi mendadak. Tanpa suami yang tiba-tiba muncul pakai kunci master."
"Itu konyol," Kairo tertawa sinis. "Kau istriku. Tidak ada hukum yang melarang suami masuk ke rumah istrinya."
"Ada. Namanya etika dan perjanjian. Kalau kau mau aku tanda tangan klausul 'tidak boleh jual', kau harus tanda tangan klausul 'dilarang masuk sembarangan'. Itu negosiasi setara. Take it or leave it."
Kairo menatap wajah keras kepala istrinya. Ia sadar Elena serius. Wanita ini lebih memilih tidak mendapatkan apartemen sama sekali daripada mendapatkannya tanpa privasi. Dan Kairo butuh Elena tetap kooperatif.
"Kau pikir selembar kertas bisa menghalangiku, Sora?" bisik Kairo, mencondongkan tubuh. "Aku bisa membeli seluruh gedung apartemen itu kalau aku mau."
"Kertas memang tidak bisa," Elena membalas bisikan itu, mendekatkan wajahnya. "Tapi aku akan memasang kunci digital dengan enkripsi ganda. Silakan saja kalau mau mencoba mendobrak."
Pertempuran tatapan mata terjadi selama lima detik, membuat Pak Sanjaya hampir pingsan karena tegang. Akhirnya, Kairo mendengus kasar dan menyandarkan punggungnya kembali.
"Masukkan pasal itu, Pak Sanjaya," perintah Kairo ketus.
Sepuluh menit kemudian, draf final tercetak. Elena membaca ulang dengan teliti. Apartemen di Kuningan dan Menteng resmi menjadi miliknya. Dia tidak bisa menjualnya, tapi Kairo juga tidak bisa mengganggunya. Cukup adil.
Elena membubuhkan tanda tangannya di atas materai. Kairo menyusul dengan gerakan kasar, seolah menyerahkan wilayah kekuasaan pada musuh.
"Selamat, Bu Sora," kata Pak Sanjaya lega, menyerahkan kotak beludru berisi kunci kartu.
"Terima kasih, Pak." Elena tersenyum tulus, merasakan berat yang menyenangkan dari kotak itu. Berat dari sebuah aset, dan sebuah kebebasan kecil.
"Ayo pergi. Aku ada rapat jam dua," Kairo berdiri, langsung berjalan keluar tanpa menoleh.
Di depan lobi gedung, mobil Alphard hitam Kairo sudah menunggu. Pak Ujang membukakan pintu. Kairo berhenti, menoleh pada Elena. "Masuk. Kita makan siang dulu sebelum aku ke kantor."
Namun, Elena melangkah mundur. "Tidak, terima kasih. Aku tidak lapar."
Kairo mengernyit. "Lalu kau mau ke mana? Pulang?"
"Tidak juga," Elena menggeleng, menunjuk ke jalan raya. "Aku mau ke Kuningan. Unit baruku."
"Untuk apa? Unit itu kosong, furnitur baru datang lusa," kata Kairo, nada suaranya meninggi karena kesal ditolak di tempat umum.
"Justru karena kosong, aku mau bersih-bersih. Mengukur ruangan. Memastikan fengshui-nya cocok untuk... meditasi," jawab Elena berbohong. Tujuannya adalah menginstalasi perangkat server pribadinya di tempat steril tanpa mata-mata Kairo.
"Aku antar," Kairo menawarkan dengan nada memerintah.
"Jangan repot-repot. Waktumu adalah uang," tolak Elena halus. "Lagipula, sesuai pasal yang baru kita tanda tangani... kau dilarang masuk tanpa izin. Dan hari ini, aku tidak memberi izin."
Wajah Kairo berubah gelap. Dia merasa dipermainkan oleh aturannya sendiri. "Sora, jangan memancing kesabaranku," Kairo melangkah maju, memblokir jalan Elena. "Pulang bersamaku, atau..."
"Atau apa?" tantang Elena. "Kau mau menyeretku lagi di lobi SCBD ini? Silakan kalau mau masuk akun gosip lagi."
Kairo melihat sekeliling. Lobi ramai dengan eksekutif. Ia tidak bisa membuat keributan. "Oke," katanya dingin, melepaskan pintu mobil. "Pergilah ke 'istana' barumu itu."
Elena tersenyum menang dan berbalik badan.
"Tapi ingat satu hal, Sora." Suara Kairo menghentikan langkahnya.
Kairo menatapnya dengan tatapan yang menjanjikan konsekuensi. "Kau masih istriku. Rumah utamamu adalah di sisiku, bukan di apartemen studio sempit itu." Ia maju satu langkah, merendahkan suaranya menjadi ancaman. "Pulang sebelum jam tujuh malam. Makan malam harus sudah tersedia di meja saat aku sampai rumah."
Elena hendak membantah, tapi Kairo memotong.
"Kalau lewat dari jam tujuh kau belum menampakkan batang hidungmu..." Kairo menyeringai kejam. "Aku kenal pemilik gedung apartemen Kuningan itu. Satu telepon dariku, aku bisa meminta manajemen gedung mereset paksa semua kode pintu digitalmu. Saat itu terjadi, kau akan tahu kertas perjanjian tadi tidak ada artinya di hadapan kekuasaanku."
Ancaman itu nyata. Kairo punya koneksi untuk melakukannya.
Elena mengepalkan tangan. Kebebasannya masih setengah. Dia punya tempat, tapi waktunya masih dijatah.
"Kau tiran, Kairo," desis Elena.
"Aku suami yang disiplin," balas Kairo santai, lalu masuk ke mobil. "Jam tujuh, Sora. Jangan telat. Tik tok."
Pintu Alphard tertutup, dan mobil itu melaju pergi. Elena melihat jam tangannya. Pukul sebelas siang. Dia punya waktu delapan jam. Cukup untuk memasang server dan menyembunyikan jejak digital.
Dia mengangkat tangan memanggil taksi.
"Ke Kuningan, Pak. Ngebut. Saya punya deadline dengan setan."
msih nunggu dimna elena alias sora mengungkapkan jati dirinya ke kairo, dripd trus berbohong yg ada nnti kairo kecewa, gk buruk jg klo jujur kairo kan bucin psti bsa nerima apa adanya 💪