Di hari pernikahannya, Andi Alesha Azahra berusia 25 tahun, dighosting oleh calon suaminya, Reza, yang tidak muncul dan memilih menikahi sahabat Zahra, Andini, karena hamil dan alasan mereka beda suku.
Dipermalukan di depan para tamu, Zahra hampir runtuh, hingga ayahnya mengambil keputusan berani yaitu meminta Althaf berusia 29 tahun, petugas KUA yang menjadi penghulu hari itu, untuk menggantikan mempelai pria demi menjaga kehormatan keluarga.
Althaf yang awalnya ragu akhirnya menerima, karena pemuda itu juga memiliki hutang budi pada keluarga Zahra.
Bagaimanakah, kisah Zahra dan Althaf? Yuk kita simak. Yang gak suka silahkan skip!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yulianti Azis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mengungkapkan Rasa
Zahra akhirnya keluar dari kamar setelah merasa bosan. Udara di dalam rumah terasa pengap, sementara pikirannya masih dipenuhi oleh sikap Althaf yang beberapa hari ini terus menghindarinya.
Baru saja ia menuruni anak tangga rumah panggung, langkah Zahra terhenti.
Di halaman, ia melihat Althaf suaminya sedang mencoba membantu Tiara berdiri. Wajah Althaf terlihat jelas kebingungan, tubuhnya kaku, tangannya terangkat setengah hati seolah ragu untuk menyentuh perempuan yang bukan mahramnya.
Sementara itu, Tiara terdengar merengek manja.
“Aduh, Kak Althaf tolong kaa dulu kasihan e. Sakit sekali kakiku, kita bawa motor ndag lihat-lihat sampai na tabrak meki.”
Dada Zahra langsung terasa panas.
Dengan langkah terburu-buru, ia turun sepenuhnya dari rumah panggung. Tanpa sengaja, matanya menangkap sesuatu yang menempel di tiang kayu seekor cicak kecil.
Zahra berhenti sejenak, lalu dengan gerakan cepat, ia mengambil hewan kecil itu. Tangannya langsung disembunyikan ke belakang punggung sebelum ia melangkah keluar pagar.
Melihat Zahra datang, Althaf langsung berkata dengan wajah cemas,
“Ara, tolong bantuin dia berdiri dulu. Aku gak sengaja menabraknya.”
Dalam hati, Althaf merutuki kebodohannya sendiri. Gara-gara pikirannya terus dipenuhi Zahra dan rasa berdebar ingin segera mengungkapkan perasaan, ia lengah dan tak sengaja menabrak Tiara yang sedang berjalan.
Zahra tersenyum tipis, langkahnya makin mendekat.
“Oh, kakimu sakit yaa?”
Wajah Tiara yang tadi terlihat lembut langsung berubah masam.
“Jangan mi kau bantuka. Kak Althaf ku suruh bantuka, soalnya dia harus tanggung jawab.”
Zahra yang sejak tadi menyembunyikan tangannya di belakang, justru maju satu langkah lagi. “Loh kenapa? Mau tanggung jawab kan? Sini aku bantu.”
Senyum jahil terbit di wajahnya.
Tanpa peringatan, Zahra langsung melempar cicak itu tepat ke kaki Tiara yang katanya sakit.
“Aaaaaaaaa!”
Tiara menjerit keras dan spontan berdiri tegak. Tubuhnya melompat menjauh, wajahnya pucat pasi.
Zahra langsung berkata santai, “Tuh kan, langsung sembuh.”
“Kau Zahra!” seru Tiara sambil menunjuk Zahra.
Kebohongannya telah terbongkar, Tiara tak berkata apa-apa lagi. Ia langsung berlari masuk ke dalam rumahnya, meninggalkan Althaf yang masih melongo tak percaya.
Zahra menoleh ke arah Althaf dengan wajah datar. “Lain kali kalau bawa motor, ya hati-hati. Jangan sampai dimanfaatin sama orang lain. Emang mikirin apa sih? Jangan-jangan lagi mikiran cewek ya?”
Althaf menyalakan motor dan lalu mendorong pelan motor itu sambil berjalan mengikuti Zahra yang sudah lebih dulu melangkah.
“Kok tahu aku mikirin cewek?” tanya Althaf tersenyum kecil.
Langkah Zahra mendadak melambat. Wajahnya semakin masam, matanya mulai berkaca-kaca. “Kamu … kamu suka sama seseorang?” tanya Zahra memastikan.
Althaf mengangguk santai.
Dada Zahra terasa nyeri. Tanpa berkata apa-apa lagi, ia langsung berbalik dan naik ke atas rumah. Melihat itu, Althaf panik. Ia buru-buru memarkir motor dan menyusulnya.
Saat tiba di kamar, Althaf tertegun.
Zahra sedang mengemasi pakaiannya ke dalam koper. “Zahra, kamu mau ke mana, hmp?” tanyanya dengan suara tertahan.
Zahra tak menoleh. “Aaku mau pergi saja. Kamu kan udah suka sama seseorang. Padahal kamu udah janji, gak ada suka sama seseorang sebelum kita bercerai.”
Matanya berkaca-kaca saat mengucapkannya. “Padahal apa susahnya nunggu, tinggal 8 bulan lagi kok.”
Melihat itu, Althaf langsung menarik tangan Zahra. Tubuh Zahra tersentak maju dan menabrak dada bidang Althaf.
Keduanya terdiam.
Althaf menatap mata Zahra dalam-dalam, lalu berkata pelan namun tegas, “Aku emang mencintai seseorang. Gak tahu sejak kapan aku mencintainya, dengan tingkahnya yang lucu, tingkahnya yang bar-bar. Aku mencintainya.”
Ia menelan ludah, jantungnya berdebar kencang. “Andi Alesha Azahra, aku mencintaimu.”
Jantung Zahra berdegup keras. Lidahnya kelu, suaranya tercekat di tenggorokan. Sama seperti Zahra, jantung Althaf juga berdebar hebat. Ia sudah pasrah siap jika Zahra menamparnya, atau bahkan membencinya.
Namun beberapa menit berlalu. Zahra tetap diam.
Althaf kembali bicara dengan suara merendah, “Kamu gak suka sama aku?”
Kepercayaan dirinya runtuh. “Aku maklum, aku hanya seorang anak petani miskin yang mencintai seorang putri raja.”
Baru saja ia hendak melanjutkan ucapannya, tiba-tiba.
Bibir Zahra menempel di bibirnya.
Althaf membeku. Ia terkejut, hingga akhirnya kedua insan itu hanyut dalam ciuman tersebut.
Saat Zahra melepaskannya, ia berkata dengan wajah merah dan suara malu-malu, “Aku juga mencintaimu, Pak KUA.”
Althaf tersenyum. Keduanya kembali berciuman.
Namun tiba-tiba, pintu kamar terbuka tanpa diketuk.
“Kak Althaf na panggil Ki mama—”
Lagi-lagi suara itu, siapa lagi kalau bukan Karel.
Zahra dan Althaf spontan saling menjauh. Wajah keduanya langsung memerah. Sementara Karel meringis, lalu buru-buru keluar dengan wajah panik.
Althaf berdecak kesal. Momen pentingnya kembali diganggu sang adik.
Zahra akhirnya berkata sambil memalingkan wajah, “Kamu pergi mandi gih. Udah mau magrib waktunya sholat magrib.”
Althaf menatap Zahra yang jelas-jelas salah tingkah. Ia terkekeh kecil, lalu kembali menarik Zahra ke dalam pelukannya.
“Aku mencintaimu, Zahra.”
Zahra tersenyum, membalas pelukan itu.
“Aku juga mencintaimu.”
*
*
Malam harinya, usai salat Isya berjamaah, suasana rumah terasa lebih hangat dari biasanya. Althaf menarik Zahra ke dalam pelukannya. Dadanya dipenuhi rasa lega dan bahagia cinta yang ia simpan diam-diam akhirnya berbalas.
“Kamu benar-benar cinta sama aku?” tanya Althaf pelan, suaranya nyaris berbisik.
Zahra justru menatapnya balik, lalu bertanya, “Emang kamu beneran cinta sama aku?”
Althaf terkekeh kecil. “Tentu saja.”
Zahra ikut tertawa kecil. Keduanya terdiam, saling berpelukan tanpa kata, menikmati detik-detik yang terasa sederhana tapi bermakna.
Tiba-tiba suara Mak Mia terdengar dari luar. “Thaf, Zahra! Makan malam mi dulu, Nak!”
Zahra langsung menegakkan badan. “Ayo makan.”
Namun Althaf mendekat dan berbisik nakal di telinganya, “Tapi aku pengin makan kamu.”
Tubuh Zahra langsung merinding. Wajahnya memanas. Ia segera melepaskan diri dan berlari keluar kamar.
Althaf hanya tertawa kecil, geleng-geleng kepala.
Seusai makan malam, Althaf masuk ke kamar lebih dulu. Sementara itu, Zahra justru dilanda rasa takut yang tiba-tiba. Ia berdiri ragu di ruang tengah, membayangkan jika masuk kamar entah kenapa pikirannya melayang ke hal-hal yang membuat jantungnya berdegup tak karuan.
Akhirnya, ia memilih membantu Mak Mia membereskan bekas makan.
“Mak,” ucap Zahra pelan setelah semuanya rapi, “Zahra boleh nggak tidur di kamar mamak malam ini?”
Mak Mia mengerutkan kening. “Kenapa, Nak? Berkelahi Ki sama Althaf? Sini, ku marahi itu anak.”
Zahra cepat-cepat menggeleng. “Bukan, Mak.” Ia menunduk, suaranya mengecil. “Aku takut di-unboxing.”
Mak Mia makin bingung. “Unboxing? Apa itu?”
Zahra meringis, lalu berbisik, “Zahra takut anu, Mak … dihamili.”
Mak Mia terdiam sejenak. Lalu, tawa kecil keluar dari bibirnya. “Astaga ini anak ee.”
Zahra makin meringis. “Emak … ayolah.”
Mak Mia menghentikan tawanya, lalu menatap Zahra lembut. “Nak, dosa seorang istri kalau menolak suaminya, apalagi sampai menjauhki. Tapi semua itu harus pakai rasa saling mengerti.”
Setelah ceramah panjang yang membuat Zahra hanya bisa mengangguk pasrah, akhirnya ia melangkah menuju kamar.
Pelan-pelan, Zahra mengintip ke dalam. Napasnya lega saat melihat Althaf sudah tertidur. Ia masuk, menutup pintu perlahan, lalu naik ke ranjang. Ranjang itu cukup luas untuk dua orang.
Zahra memejamkan mata.
Tiba-tiba, sebuah lengan melingkar di pinggangnya dari belakang.
Zahra terkejut dan refleks menegang.
Althaf berbisik lembut, “Kalau kamu belum siap, aku nggak bakal sentuh kamu.”
Ketegangan di tubuh Zahra perlahan luruh. Ia menarik napas panjang. “Maaf ya,” ucapnya lirih.
Althaf hanya mengeratkan pelukan dengan hati-hati.
Untuk pertama kalinya sejak empat bulan pernikahan mereka, Zahra dan Althaf tidur seranjang.
mana syar'i pulak lagi