Di jagat hiburan, nama Leonard Abelano bukan sekadar aktor, dia adalah jaminan rating. Setiap drama yang dibintanginya pasti menyentuh angka dua digit. Leo, begitu publik memanggilnya, punya segalanya: struktur wajah yang dipahat sempurna, status pewaris takhta bisnis Abelano Group, dan sebuah reputasi yang membuatnya dijuluki "Duta Kokop Nasional."
Bagi penonton, cara Leo mencium lawan mainnya adalah seni. Namun bagi Claire Odette Aimo, itu adalah ancaman kesehatan masyarakat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
The London Set
London di bulan Oktober selalu terasa seperti sebuah melodi yang pilu—dingin, lembap, dan dipenuhi kabut tipis yang menyelimuti bangunan-bangunan tua bergaya Victorian.
Bagi Claire, kembali ke kota ini adalah sebuah dejavu yang tidak diinginkan.
Ia berdiri di tengah Trafalgar Square, mengenakan trench coat Burberry yang elegan. Di sekelilingnya, kru film sibuk mengatur pencahayaan dan memblokade kerumunan turis yang histeris karena melihat dua bintang besar New York sedang melakukan syuting di sana.
"Oke, Claire, Leo. Kita masuk ke adegan reuni. Kalian adalah mantan kekasih yang tidak sengaja bertemu setelah lima tahun. Claire, ingat, kamu benci dia tapi kamu juga merindukannya. Leo, kamu ingin dia kembali," instruksi Sutradara Han melalui megafon.
Claire menarik napas dalam. Ia menatap Leo yang berdiri sepuluh meter darinya. Leo terlihat sangat "Inggris" dengan sweter turtleneck hitam dan mantel panjang, ia tampak seperti pangeran yang keluar dari buku dongeng.
"Action!"
Claire berjalan melintasi alun-alun, matanya menatap kejauhan, sampai bahunya sengaja bersenggolan dengan Leo. Ia berhenti, berbalik, dan ekspresinya berubah menjadi keterkejutan yang dingin.
"Leo?" suara Claire bergetar sesuai naskah.
Leo menatapnya. Tatapan itu tidak ada dalam naskah, terlalu dalam, terlalu nyata. "Sudah lama sekali, Odette," sahutnya, menggunakan nama tengah Claire yang hanya dipanggil saat mereka masih di sekolah dulu.
"CUT! Bagus sekali! Kita pindah ke close-up!"
Begitu kamera berhenti merekam, Claire langsung membuang muka. "Jangan panggil aku Odette. Itu tidak ada di naskah," bisiknya tajam.
Leo hanya memasukkan tangan ke saku mantelnya, tampak santai meski suhu London menusuk tulang. "Anggap saja itu improvisasi. Lagipula, panggilan itu membuatmu terlihat lebih... manusiawi. Tidak seperti patung es yang sedang akting."
Claire mendelik. "Ingat ya, Abelano. Kita punya kesepakatan tertulis. Tidak ada adegan ciuman yang berlebihan. Aku sudah bicara dengan produser, semua adegan intim akan diambil dengan teknik camera angle."
Leo terkekeh, langkahnya mendekat hingga mereka berdiri sangat dekat di bawah rintik hujan London. "Kamu sangat protektif terhadap bibirmu, Claire. Apa kamu takut kalau aku menyedot mubseperti alat cleaner, kamu akan jatuh cinta?"
"Aku takut tertular kuman dari semua aktris yang pernah kamu cium sebelumnya," balas Claire pedas.
"Oh, tenang saja. Untukmu, aku sudah menyiapkan pembersih mulut paling mahal," goda Leo dengan kedipan mata yang membuat kru di sekitar mereka salah fokus.
Malam harinya, setelah proses syuting yang melelahkan, Claire kembali ke hotelnya di kawasan Mayfair. Namun, ia dikejutkan dengan kehadiran sebuah mobil Rolls-Royce hitam yang sudah menunggunya di depan lobi.
Seorang pria paruh baya dengan setelan jas kaku turun dari mobil. Claire mengenalinya sebagai asisten pribadi ayahnya.
"Nona Claire, Tuan Besar sudah menunggu Anda di restoran The Ritz. Beliau sedang bersama Tuan dan Nyonya Abelano. Ada pembicaraan keluarga yang harus diselesaikan."
Darah Claire seolah membeku. Pembicaraan keluarga antara Aimo dan Abelano biasanya hanya berarti satu hal dalam kamus konglomerat, Merger.
Makan malam di The Ritz adalah definisi dari kemewahan yang menyesakkan. Ruangan privat itu hanya diisi oleh denting perak bersentuhan dengan porselen mahal dan percakapan tenang tentang bursa saham serta ekspansi properti di Eropa.
Ayah Claire, sang penguasa Aimo Group, dan Tuan Abelano tampak seperti dua raja yang sedang membagi wilayah kekuasaan melalui obrolan santai.
Tidak ada perjodohan paksa, tidak ada pengumuman merger yang dramatis. Hanya makan malam antar kolega bisnis tingkat atas. Namun, bagi Claire, suasana ini jauh lebih berbahaya karena keberadaan laki-laki di depannya.
Leo duduk tepat di hadapan Claire. Ia tampil sangat sopan, menjawab pertanyaan ayahnya dengan nada rendah yang berwibawa, sangat jauh dari citra "Duta Kokop" yang dibahas media. Namun, di balik sikap sempurnanya, mata cokelat Leo tidak berhenti bergerak nakal.
Saat hidangan Appetizer disajikan, Leo mulai beraksi.
Claire sedang menyesap white wine-nya dengan anggun ketika ia merasakan sesuatu menyentuh ujung sepatunya. Ia tersentak hampir tersedak, namun berhasil menjaga ekspresi wajahnya agar tetap datar.
Di bawah meja yang tertutup taplak beludru panjang, Leo dengan sengaja menggeser kakinya, mengusik pergelangan kaki Claire.
Claire memberikan tatapan "Hentikan atau aku akan membunuhmu" dari balik gelasnya.
Leo hanya membalas dengan senyum simpul yang amat tipis, lalu menoleh ke arah Ayah Claire. "Paman, aku dengar Claire sangat berdedikasi di lokasi syuting. Tadi siang di Trafalgar, dia bahkan menolak menggunakan pemanas ruangan agar tetap fokus pada karakternya. Sangat mengagumkan."
Ayah Claire tertawa bangga. "Putriku memang keras kepala jika menyangkut pekerjaan, Leo."
Saat hidangan utama berupa wagyu steak tiba, Claire merasa ponselnya yang diletakkan di atas pangkuan bergetar berkali-kali.
Leo Abelano: Kamu terlihat sangat cantik kalau sedang menahan marah.
Leo Abelano: Potong dagingmu pelan-pelan, Claire. Jangan bayangkan itu leherku.
Leo Abelano: Oh, omong-omong, lipstick merahmu itu... sangat menggoda untuk dihapus.
Claire mengepalkan tangannya di bawah meja. Ia melirik Leo yang sedang asyik memotong dagingnya seolah tidak melakukan apa-apa.
"Claire, kenapa wajahmu merah? Apa udaranya terlalu panas?" tanya Nyonya Abelano dengan nada khawatir yang lembut.
Claire tersenyum paksa, melirik Leo yang sekarang menopang dagu sambil menatapnya dengan penuh kemenangan.
"Tidak, Tante. Hanya saja... ada gangguan kecil di bawah meja yang membuat saya sedikit tidak nyaman," jawab Claire tenang namun tajam.
Tuan Abelano mengernyit. "Gangguan apa?"
"Sepertinya ada kucing liar yang masuk ke restoran mewah ini, Paman," sambung Leo dengan nada jenaka, memotong sebelum Claire bisa menjawab lebih jauh. "Atau mungkin hanya imajinasi Claire karena dia terlalu lelah syuting denganku seharian."
Leo kemudian menjangkau botol air mineral di tengah meja, namun tangannya sengaja bersentuhan dengan tangan Claire selama beberapa detik lebih lama dari yang seharusnya.
Ia mencondongkan tubuh, berbisik sangat pelan hingga hanya Claire yang bisa mendengarnya.
"Selamat datang di duniaku, Odette. Ini baru hidangan pembuka."
🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷
Happy reading dear 🥰🥰😍🥰🥰
keren....