Setelah Addam mendapat pesan aneh dari sahabat Astrid–adik tirinya, Addam memutuskan untuk mencari tahu kejadian sebenarnya yang dialami oleh adiknya itu.
Untungnya Addam tidak sendirian. Dalam upayanya menjalankan rencananya, Addam ditemani dan diberi bantuan oleh Naya, sahabat Astrid yang mengabarinya pesan aneh itu. Bukan hanya mereka berdua, seorang teman Addam yang bernama Mahesa juga ikut membantu mereka mencari Astrid.
Langkah demi langkah sulit harus ditempuh oleh Addam, Naya, dan Mahesa hingga mereka menemukan kebenaran yang tak pernah mereka duga.
Akankah mereka semua pada akhirnya bisa menemukan Astrid setelah banyak jalan dan rintangan yang dilalui?
Apa yang sebenarnya terjadi pada Astrid?
Bagaimana mereka menjalani kembali hari-hari mereka setelah kejadian besar itu terungkap?
🍀🍀🍀
Cerita ini fiksi. Jika terdapat kemiripan nama, lokasi, ataupun peristiwa dalam cerita, mohon dimaafkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rin Arunika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
4. Untuk Naya
Sebenarnya tadi Naya ingin sekali menanyakan kabar tentang Astrid pada Addam. Tapi niatnya itu harus ia urungkan karena Naya masih merasa sungkan pada Addam. Terlebih lagi pria itu masih terlihat sibuk dengan aktifitasnya, agak kurang tepat rasanya untuk membicarakan hal seberat itu.
“Siapa sih ‘penipu’ yang lo maksud itu, Trid?” Naya memegangi kepalanya frustrasi.
Kini, Naya telah merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur dengan ponsel di genggaman tangannya. Ia lalu memilih untuk membuka akun sosial media miliknya dengan maksud menyegarkan kembali fokusnya.
Tak ada yang berbeda dari beranda sosial media miliknya. Hanya postingan-postingan receh yang cukup menggelitik perut.
Hingga ketika Naya menekan pemberitahuan ‘kenangan’, suasana hati gadis itu kembali mendung dan bergemuruh.
Postingannya dari satu tahun lalu kembali melintas dan memperlihatkan potret Naya dan Astrid yang tengah berfoto bersama di perpustakaan.
Ah benar. Perpustakaan adalah tempat yang sering kedua gadis cantik itu kunjungi selain kafe kopi. Pikiran Naya kembali melayang pada momen yang terjadi dibalik foto itu.
Saat itu, Astrid tengah mengerjakan bagian akhir dari cerita yang nantinya akan diserahkan pada Naya.
“Nay. Menurut kamu, ending yang bagus itu happy ending atau sad ending?” Astrid berbicara setengah berbisik pada Naya yang berdiri di sebelahnya.
Ya. Peraturan perpustakaan yang melarang pengunjung untuk berbicara keras memang mengharuskan mereka untuk berbincang setenang mungkin.
“Kalau menurut Aku, ending yang bagus itu ending yang susah dilupakan pembaca, Trid. Mau itu happy atau sad ending, asal sesuai dengan keseluruhan cerita, menurutku dua-duanya bagus.” Naya mengulum senyum setelah berkata demikian.
“Iya juga ya? Eh, kok kamu pinter, Nay? Ya Ampun...” Astrid menahan tawanya.
Tiba-tiba saja ponsel yang berada di tangan Astrid bergetar karena sebuah pesan masuk yang diterimanya. Tak lama setelah membaca pesan itu, kedua pipi Astrid terlihat merona seperti tomat yang mulai matang.
“Cieee...” Naya menggoda Astrid yang terlihat senyum-senyum sendirian.
Alih-alih menolak atau membantah, Astrid justru semakin merekahkan senyumnya hingga kedua matanya ikut tersenyum.
“Guru ganteng yang kamu ceritain itu?” Naya kembali menggoda Astrid.
Wajah Astrid yang tampak semakin berseri-seri telah cukup jelas untuk menjawab pertanyaan Naya barusan.
“Ayo cepet kenalin, Trid. Aku gak sabar pengen kasih kalian restu.” Naya terlalu senang melihat sahabatnya itu salah tingkah.
Garis senyum di wajah manis Astrid semakin lebar. “Nanti deh nanti kalau udah resmi, aku kenalin…” kata Astrid.
Naya sempat cemberut sebelum senyumnya kembali merekah. “Ya udah cepet resmiin, Trid,”
“Tapi menurut kamu, dia oke, kan?” Astrid menunjukkan layar ponselnya pada Naya. Terlihat jelas potret seorang pria yang tengah duduk berteman sebuah buku.
“Wah…! Side profile-nya oke banget!” ceplos Naya beberapa saat setelah melihat foto yang Astrid tunjukan. “Dia ngajar mata pelajaran apa?”
“Seni budaya” kata Astrid. “Namanya juga ganteng lho, Nay. Cocok sama orangnya…”
Melihat Astrid tersenyum simpul menghadirkan kehangatan tersendiri yang memeluk hati kecil Naya saat itu.
Jika Naya bisa memutar waktu, ingin sekali ia kembali pada momen menyenangkan itu dan memeluk Astrid erat-erat. Hari-hari yang Naya lalui saat ini benar-benar berat. Sangat berat untuk ia lalui sendirian.
Setelah beberapa lama Naya larut dalam lamunannya, tiba-tiba saja ia teringat sebuah hal yang membangkitkan semangatnya seketika.
“Bener juga! Kenapa Aku gak coba dateng lagi aja ke tempat kerja Astrid? Lagian nanti Senin aku kan gak ke kantor!” kedua mata Naya berbinar cerah.
Naya memang pernah mendatangi tempat kerja Astrid setelah sahabatnya itu tak bisa dihubungi. Namun usahanya saat itu tak membuahkan hasil. Orang-orang yang ditanyainya saat itu memiliki jawaban yang nyaris sama, mereka tak mengetahui kabar Astrid karena menghilangnya gadis itu bertepatan dengan hari dimana ia dikabarkan mengambil cuti.
“Tapi kalau diinget-inget lagi, waktu itu Astrid gak pernah bilang dia mau cuti...” Naya menautkan alisnya ketika ia mengingat kembali momen itu. Ia jelas merasa ada sesuatu hal aneh yang tiba-tiba saja mengganjal dalam isi kepalanya.
Dititik itu, Naya membulatkan tekad untuk mencari dan menemukan keberadaan Astrid, sahabatnya.
Tepat sekali saat itu pandangan Naya berhenti pada papan styrofoam yang tersimpan di atas meja kerjanya. Naya segera meraih papan itu dan melepaskan sejumlah kertas berisi catatan kecil yang menempel di sana. Kertas-kertas itu lalu Naya kumpulkan dan ia masukkan pada sebuah amplop coklat. Amplop itu kini aman berada di dalam laci di bawah meja.
Selanjutnya, Naya menaruh sebuah foto polaroid dirinya dan Astrid di tengah papan itu. Karena ia tak menemukan perekat, Naya akhirnya menggunakan sebuah pin untuk membuat foto itu menempel pada papan.
Naya mengambil nafas dalam sambil memandangi foto itu. “Trid. Tolong bertahan ... Tunggu aku sampai aku bisa nemuin kamu,” kata Naya dengan garis wajah terlihat tegas.
#
Siang hari ketika Naya tengah menggulir layar ponselnya untuk memesan makanan, gadis itu mendengar pintu kontrakannya diketuk oleh seseorang di luar sana.
Tok! Tok! Tok!
Hanya tiga kali ketukan cepat dan suara itu tak lagi terdengar.
Naya hanya berdecih. Paling orang iseng, begitu pikirnya.
Kemudian gadis itu memilih lanjut memesan makanan dan menunggu kurir datang mengantar pesanannya.
Naya baru beranjak dari tempat tidurnya ketika kurir itu mengirim pesan dan memberi tahu bahwa pesanannya sudah hampir sampai.
Tetapi ketika Naya membuka daun pintu kontrakannya, ia mendadak terdiam sesaat. Raut wajahnya tampak bingung. Sebuah kotak paket yang berada di depan pintu itu adalah penyebab langkah Naya terhenti.
“Ini? Apa jangan-jangan orang yang tadi ngetuk pintu?” gumam Naya sambil menatap kotak paket itu.
Namun ponsel Naya keburu berbunyi karena panggilan masuk dari kurir yang mengirim pesanannya telah sampai.
Baru setelah Naya mengambil pesanannya, gadis itu akhirnya membawa masuk kotak itu dan mengamati setiap sisinya dengan seksama.
“Perasaan aku gak pesan apa-apa …” gumam Naya bingung.
Dan memang ada yang aneh. Nama pengirim yang tertera di kotak itu hanya satu huruf; A, tetapi nama penerimanya adalah benar, Nayana Anindya. Baru sekilas saja rasanya benar-benar mencurigakan sekaligus menakutkan.
Makanan yang dipesannya tadi akhirnya Naya kesampingkan. Ia lebih memilih mendahulukan membuka paket itu. Tidak lupa pula Naya menyiapkan ponselnya untuk merekam setiap momen ketika dirinya membuka paket misterius itu.
Kotak yang terlihat rapi itu lalu Naya buka perlahan. Ternyata cukup mudah membuka paket itu. Lalu bisa terlihat bahwa isi kotak itu adalah gulungan kertas foto glossy dengan ukuran sekitar 5R. Dengan ragu, Naya mengambil gulungan foto itu dan membukanya perlahan.
Kedua mata Naya semakin terbelalak ketika gulungan foto itu mulai terbuka seluruhnya.
Foto dari dalam paket misterius itu menampilkan potret Astrid yang tengah berada di dalam sebuah mobil, tepatnya Astrid yang terduduk di kursi penumpang bagian belakang.
Kondisinya sangat mengejutkan. Kedua tangannya terikat ke belakang dan mulutnya tertutup lakban hitam yang tampaknya telah menempel lama. Wajah Astrid terlihat pucat dengan bulir air mata yang penuh menggenangi pelupuk matanya.
Lewat potret itu, Naya bisa melihat jelas bahwa kedua mata Astrid tengah berteriak meminta pertolongan.
Tak hanya satu lembar, di sana ada empat lembar foto yang digulung menjadi satu. Dan semua foto itu sama-sama menampilkan potret Astrid yang tampak mengkhawatirkan.
Saat itu juga tubuh Naya terasa lemas, dadanya terasa sesak, seperti ada batu besar yang menimpa dadanya. Tangisnya pecah. Kombinasi antara takut, khawatir, dan rasa terkejut yang luar biasa; semua berkumpul dan menyatu dalam isi kepala Naya.
Lembaran foto itu lalu terjatuh ke lantai. Jemari Naya seperti tak sanggup menggenggam hal mengerikan itu.
Naya tak bisa lagi menahan air matanya. Kedua tangannya memeluk lututnya dan ia membenamkan wajahnya diantara kedua lututnya.
Setiap detik waktu yang berlalu terasa sangat lambat ketika perasaan menyakitkan itu datang menyerang.
#
#
#
*Foto yang Astrid tunjukkan ke Naya