NovelToon NovelToon
Papa Tiri Anti Bakteri

Papa Tiri Anti Bakteri

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintamanis / CEO / Romansa
Popularitas:512.4k
Nilai: 5
Nama Author: kenz....567

Xavier Rey Lergan hidup dalam sangkar steril akibat dirinya yang mengidap Myshopobia, hingga orang tuanya nekat menjodohkannya dengan Nara, seorang single mom. Pernikahan ini menjadi medan tempur antara si perfeksionis dan wanita tangguh yang tak mau diatur.

"Nara, sudah kubilang jangan diletakkan di sini!" bentak Xavier saat melihat barang berserakan.

"Diam Tuan Bakteri! Ini kamarku, keluar! Kamu kan belok!" balas Nara sengit.

"Aku hanya anti bakteri, bukan anti wanita!" seru Xavier tak terima.

Di tengah pertikaian, hadir Raya seorang putri kecil Nara yang polos. "Papa Laya balu cekalang! Halusnya dali dulu mama cali Papa balu, kenapa balu cekalang? Papa lama, buang aja ke celokan!" ucapnya menggemaskan.

Akankah kesterilan Xavier runtuh oleh kehangatan keluarga kecil ini, ataukah perbedaan prinsip tentang kebersihan akan memisahkan mereka selamanya?

"Bagaimana bisa aku menikahimu, sementara aku tak suka bekas orang lain?"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kenz....567, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Luka Nara

Di belahan kota yang berbeda. Terlihat, seorang wanita berusia 25 tahun tengah menatap putri kecilnya yang tengah tertidur lelap di atas bed pasien rumah sakit. Di tangan mungil gadis kecil itu, terpasang infusan yang mengalirkan cairan penolong. Wajah gadis itu tampak sangat menggemaskan saat tertidur, namun pemandangan itu justru membuat hati Nara Geisya Rodriguez tersayat dan hancur berkeping-keping.

"Papa Laya mau Papa ...," gumam anak itu lirih dalam tidurnya, memanggil sosok yang sangat ia rindukan.

Nara memejamkan matanya, menahan air mata yang hampir jatuh. Ia mengelus kepala putrinya perlahan agar sang buah hati kembali terlelap dalam tidurnya. Setelah memastikan putrinya tenang, Nara beranjak berdiri. Ia mengambil ponsel dan tasnya dengan gerakan yang penuh tekad yang dipaksakan. Saat ia berbalik untuk keluar ruangan, ia berpapasan dengan kedua orang tuanya yang baru saja datang membawakan makanan.

"Mau kemana Nara?" tanya Angkasa Rodriguez, sang ayah yang menatap putrinya dengan dahi berkerut, bingung melihat Nara yang tampak terburu-buru.

"Aku ada perlu sebentar, Pa," ucap Nara singkat tanpa menatap mata ayahnya.

"Nara, kamu mau bertemu lagi dengan pria baj1ngan itu? Mau mengemis lagi padanya agar dia menjenguk Raya? Dimana harga dirimu, Nara?" tanya Angkasa dengan nada suara yang meninggi, tidak tahan melihat putrinya terus-menerus merendahkan diri di depan mantan suaminya.

"Sayang, tenang," tegur Jingga, istri Angkasa. Ia memegang lengan suaminya, mencoba meredam emosi pria itu. Walaupun Nara adalah putri sambungnya, bagi Jingga, Nara sudah dianggap seperti putri kandungnya sendiri yang ia besarkan dengan kasih sayang.

Nara berhenti melangkah. Ia menoleh ke arah ayahnya dengan tatapan hancur. "Ayah sudah jadi orang tua, masih tanya dimana harga diriku sebagai ibu? Pa, aku akan melakukan apapun untuk putriku, termasuk menjatuhkan harga diriku ke titik terendah sekalipun!" seru Nara dengan suara bergetar sebelum akhirnya ia melesat pergi meninggalkan ruangan.

Angkasa menatap kepergian putrinya dengan tatapan tak percaya dan penuh amarah. Ia memalingkan wajah ke arah Jingga dengan napas memburu.

"Kamu sering memanjakan dia, membuatnya menjadi keras kepala seperti ini. Andaikan saat itu aku tak mendengarkanmu dan melarangnya menikah, putriku tak akan jatuh ke tangan pria br4ngsek sepertinya!" sentak Angkasa yang kemudian berlalu pergi dengan emosi yang meluap-luap.

Jingga hanya bisa memejamkan matanya sejenak, mencoba tetap sabar menghadapi badai yang sedang menghantam keluarganya.

Di sisi lain, Nara baru saja memarkirkan mobilnya di depan sebuah kafe yang cukup tenang. Kaca tengah spion mobilnya memantulkan bayangan wajahnya yang sendu, namun lipstik merah yang ia poleskan mencoba menutupi pucat di bibirnya. Rambutnya yang tergerai indah sebenarnya menambah pesonanya, namun tatapan matanya menyiratkan rasa kecewa yang luar biasa dalam. Nara mengatur napasnya berkali-kali sebelum akhirnya memberanikan diri turun dari mobil. Dengan kacamata hitam yang masih bertengger di hidungnya, ia melangkah masuk ke dalam kafe untuk menemui seorang pria yang sudah menunggunya di sudut ruangan.

Nara duduk di hadapan pria itu dan meletakkan tasnya di kursi sebelah. Ia melepas kacamata hitamnya, namun ia enggan menatap langsung mata pria di hadapannya. Pria itu adalah Zeno Elmore, mantan suaminya.

"Raya sakit, dia ... dia mau ketemu kamu, Zeno," ucap Nara dengan suara yang diusahakan tetap tegar.

Pria di hadapannya itu justru meletakkan cangkir kopinya dengan gerakan santai. Ia menatap Nara dengan pandangan yang datar, seolah kabar tentang anak kandungnya yang sedang sakit bukanlah hal yang penting. "Mila juga sedang sakit, dia dirawat di rumah sakit tepat di depan kafe ini. Aku bisa bertemu denganmu sekarang karena lokasinya dekat. Katakan saja pada Raya jika aku sedang sibuk bekerja, biar dia tidak merasa kecewa," jawab Zeno tanpa beban sedikit pun.

Mendengar itu, emosi Nara yang sejak tadi ia tahan pun akhirnya tersulut hebat. "ZENO! Raya juga putrimu! D4rah dagingmu sendiri! Kenapa tidak bisa sekali saja kamu perhatian padanya?! Dia hanya bisa bertemu denganmu sesekali, itu pun sangat sebentar! Dan sekarang, saat dia sedang sakit parah, kamu justru memilih menemani putri dari wanita mur4han itu!" teriak Nara, mengabaikan tatapan mata pengunjung kafe lainnya.

Pernikahan mereka yang berjalan selama 5 tahun berakhir kandas karena pengkhianatan Zeno. Nara yang dulu memutuskan menikah muda karena cinta, kini harus menelan pil pahit kenyataan bahwa suaminya memiliki anak lain dari kekasih gelapnya, anak yang usianya hampir sama dengan putrinya sendiri. Zeno lebih memilih membahagiakan selingkuhannya dan anak hasil perselingkuhan itu, membuat Nara memutuskan untuk bercerai. Namun, karena Raya yang selalu merindukan sosok ayah, Nara terpaksa terus berhubungan dengan pria itu.

"Jaga ucapanmu, Nara!" bentak Zeno dengan mata membulat penuh amarah.

"Apa yang perlu aku jaga, hah?! Aku harus menjulukinya wanita baik-baik? Wanita baik-baik mana yang tega merebut suami orang dan ayah dari seorang balita, Zeno?!" balas Nara dengan suara yang semakin meninggi.

"Kamu—" Zeno beranjak berdiri dari kursinya, menatap Nara dengan tajam seolah ingin melenyapkannya. Tapi Nara tidak gentar sedikit pun, ia menantang tatapan mantan suaminya itu dengan penuh emosi yang meluap.

"Aku tak masalah jika putriku tidak mendapat nafkah sepeser pun darimu. Berikan saja semua uangmu untuk wanita mur4han itu. Karena aku tahu, kamu sebenarnya kere! Kamu tidak mampu membiayai dua putri sekaligus, aku paham itu! Anggap saja ... aku sedang mengasihani fakir miskin yang berlagak sok berselingkuh!"

"Kurang aj4r kamu!" Zeno yang sudah kehilangan kesabaran mengangkat tangannya tinggi-tinggi, berniat melayangkan tamparan keras ke wajah Nara.

Namun, sebelum tangan itu mendarat, sebuah tangan lain yang terbungkus sarung tangan hitam yang sangat bersih menahan pergelangan tangan Zeno dengan kuat di udara. Waktu seakan berhenti berputar bagi Nara. Ia menoleh perlahan dan menatap sosok pria tampan yang tiba-tiba muncul dan berhasil melindunginya. Pria itu menatap Zeno dengan tatapan yang luar biasa dingin dan meremehkan.

"Jangan kamu kira kamu seorang pria, maka kamu bisa seenaknya menyakiti wanita," ucap pria itu dengan suara yang berat dan berwibawa.

Zeno yang merasa kesal dan malu pun menarik tangannya dengan kasar. Pria yang menolong Nara itu tak lain adalah Xavier, yang kebetulan sedang berada di kafe tersebut untuk sebuah urusan bisnis. Dengan gerakan yang penuh rasa j1jik, Xavier segera melepas sarung tangannya yang baru saja menyentuh kulit Zeno dan membuangnya begitu saja ke lantai seolah itu adalah sampah beracun. Ia kemudian mengambil sepasang sarung tangan baru dari tas yang dibawa Atlas dan langsung mengenakannya kembali.

"Aku tak suka ikut campur dengan urusan orang lain. Tapi, karena aku memiliki seorang ibu dan tiga saudara perempuan, mana bisa aku melihat 'banci' sepertimu melakukan hal memuakkan tadi di depan mataku," ucap Xavier dengan nada menghina yang sangat kental.

Tepat pada saat itu, ponsel di tas Nara berdering nyaring. Nara segera mengangkatnya dengan tangan gemetar setelah melihat nama penelponnya. "Halo Pa ...," ucap Nara pelan. Namun, detik berikutnya matanya membulat sempurna saat mendengar kabar dari seberang telepon. Tubuhnya seakan lemas seketika.

"Raya kejang?!" pekik Nara dengan suara yang melengking karena panik. Ia segera mematikan ponselnya dengan terburu-buru. Matanya yang sudah dipenuhi air mata menatap Zeno yang juga menunjukkan raut wajah kecemasan sesaat.

"Raya kejang! Kamu masih mau diam di sini, hah?! Anak kamu sedang bertaruh nyawa, Zeno!" teriak Nara sambil terisak hebat. Ia merasa jiwanya hampir tercerabut. Ia sudah merendahkan harga dirinya sedalam mungkin hanya untuk membawa pria ini ke rumah sakit, namun hasilnya justru seperti ini.

Zeno terlihat sangat bimbang antara harus pergi ke rumah sakit Raya atau tetap di rumah sakit depannya untuk Mila. Namun, sebuah telepon masuk ke ponsel Zeno membuat pria itu justru menatap Nara dengan tatapan yang sangat menyakitkan. "Nara, maaf ... Mila ... Mila juga sedang butuh aku ...,"

Nara tertawa hambar di tengah tangisannya, sebuah tawa yang penuh dengan keputusasaan. "URUS SAJA ANAKMU ITU! JANGAN PERNAH LAGI TEMUI PUTRIKU! RAYA TAK BUTUH AYAH PECUUND4NG SEPERTIMU!" teriak Nara sekuat tenaga sebelum akhirnya ia berlari keluar kafe menuju mobilnya. Ia mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi, tidak peduli lagi pada keselamatannya asalkan ia bisa sampai di samping Raya.

Sementara itu, Xavier masih berdiri di tempatnya, menatap kepergian mobil Nara dengan kening berkerut. Ada sesuatu dari wanita itu yang menarik perhatiannya,sesuatu yang sangat asing bagi dunianya. "Kira-kira, mengapa dia masih mau menemui mantannya yang kotor itu? Apa dia tak merasa ... j1jik?" tanya Xavier tanpa menoleh ke arah Atlas.

"Hah? Gimana maksudnya Tuan?" tanya Atlas yang merasa bingung dengan pertanyaan mendadak bosnya itu.

Xavier menghela napas panjang, ia merasa udara di kafe itu mulai terasa penuh bakteri. "Lupakan, otakmu juga sepertinya sudah penuh kuman hari ini. Cepat bersihkan," ucap Xavier dan segera masuk ke dalam mobil mewahnya yang selalu steril, meninggalkan Atlas yang hanya bisa mendengus kesal di belakangnya.

1
Diah205L
habis ini minta dibelikan cireng sama papa anti bakteri
Esther Lestari
Xavier sesayang itu sama Raya, makanan ringan pun benar2 diperhatikan demi kesehatan Raya.
Yakin kamu akan bertahan hanya 3 bulan Vier??
Diah205L
papa anti bakteri hajar tuh zenong
Shee_👚
yang dolal nya banyak ya laya🤭
haechanoona
ini nanti masih ada tambahan part update-an kan ya?
ririen handayani
/Sob//Sob//Sob//Sob//Sob//Sob//Sob//Sob//Sob/
awesome moment
utk urusan kelg, vier bisa menahan smua hal. dia menyontoh xander. yg syg nya ke zira, sm.spt syg.nya ke vier, vina dan vira. raya mendapatkan cinta tulus ayah dri vier. zeno makin menghilang
ririen handayani
goodddd job Nara 👍👍👍👍👍😄😄😄😄😄
Rahmat
wow keren langsung skakmat tuh zeno raya udah dpt papa bakteri hebat lg pelakor noh gak ada sejarahx mampus semua
vivinika ivanayanti
anaknya kemarin cewek kayaknya kak Ra ....🤭🤭🤭
Call Me_Rara: eh iya, aku lupaaaa😭
total 1 replies
AFPA
kirain anaknya bunga jg perempuan
Neng Duwi
bukan nya anak si zeno sama si bunga bangke itu cewek ya? kok tiba-tiba cowok
Windi Windiawati
yang simpel yang waras kacamata boby mana mah mamah udalah🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
AriNovani
terhura aku vierrr 😭😭
dyah EkaPratiwi
nah sukurin kamu zeno kehilangan raya
mksh kak ditunggu lagi up nya, udah nungguin dr tadi😍
Yulia
wkwkwkk...aku puas banget,,mantap Thor,,zeno ..bye🤣🤣
Nining Wia
iya ih ... koq KD berubah JD laki anak si zenzen dan bunga
Esther Lestari
Cireng dimakan masih hangat gitu enak Raya, tapi papa bakterimu gak ngerti cireng😂
AriNovani
dalam hati Xavier: Sabar, Sabar 😂
AriNovani
satu kata syukurin 🤪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!