Tentang Tenggara yang mencintai dalam diam
Tentang Khatulistiwa yang mencari sebuah perhatian
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erna Lestari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33
Matahari dan Laut yang Menyaksikan: Bulan Madu di Pulau Bunaken
Dermaga kecil di Desa Bunaken ramai dengan suara ombak yang menyapa pantai putih pasir, sementara sinar matahari pagi mulai menyinari permukaan laut yang jernih seperti kristal. Khatulistiwa dan Tenggara turun dari kapal cepat yang membawa mereka dari Manado, wajah mereka bersinar dengan senyum yang tak kunjung pudar.
Setelah serangkaian perayaan pernikahan yang meriah di Makassar, pasangan muda itu memilih Pulau Bunaken sebagai tempat bulan madu—sebuah surga bawah laut yang menjadi rumah bagi terumbu karang paling indah di Indonesia.
Mereka menginap di sebuah vila kecil yang terletak di tepi pantai, dengan balkon yang menghadap langsung ke Laut Maluku. Dinding vila dihiasi dengan anyaman bambu dan lukisan laut lokal, sementara hamparan bunga kamboja merah di halaman depan memberikan sentuhan warna yang ceria.
“Ini tempat yang sempurna untuk merenung dan menikmati keindahan alam setelah hiruk-pikuk persiapan pernikahan,” ujar Tenggara sambil membuka pintu vila dan membantu Khatulistiwa memasuki kamar yang penuh dengan aroma bunga melati.
Di hari pertama mereka tiba, setelah istirahat sebentar dan menikmati sarapan khas daerah berupa tinutuan dan ikan bakar segar, pasangan itu memutuskan untuk menjelajahi pantai dekat vila. Kaki mereka menyentuh pasir putih yang lembut, sementara ombak kecil menyapu kaki mereka dengan lembut. Di kejauhan, beberapa kapal nelayan kecil berlayar perlahan, dan suara burung laut yang terbang tinggi di langit memberikan irama alam yang menenangkan.
“Kita bisa menyelam besok pagi,” ujar Khatulistiwa sambil melihat ke arah laut yang berwarna biru kehijauan.
“Aku sudah mendengar banyak tentang terumbu karang di sini—mereka bilang ada ribuan jenis ikan dan karang yang cantik seperti permata yang tersebar di dasar laut.”
Tenggara mengangguk, matanya bersinar dengan semangat. “Selain menyelam, kita juga bisa mengunjungi desa lokal dan belajar tentang kehidupan masyarakat yang tinggal di sekitar pulau ini,” tambahnya. “Seperti yang kita lakukan dalam usaha kita, penting untuk memahami sejarah dan budaya tempat kita kunjungi.”
Hari berikutnya, mereka bangun sebelum matahari terbit untuk menyaksikan pemandangan matahari terbit dari atas bukit kecil yang terletak di tengah pulau. Dengan membawa secangkir kopi hangat, mereka duduk di atas batu besar yang menjadi tempat favorit wisatawan untuk menikmati pemandangan.
Saat matahari mulai muncul dari balik cakrawala, warna jingga dan merah menyebar ke seluruh langit dan mencerminkan diri di permukaan laut yang tenang. “Ini seperti awal dari kehidupan baru kita,” ujar Khatulistiwa dengan lembut, kepalanya bersandar di bahu Tenggara. “Berkah dan keindahan yang tak terbatas.”
Setelah sarapan, mereka pergi ke pusat penyelaman terdekat untuk memulai petualangan bawah laut. Dengan baju selam yang dikenakan dengan benar dan panduan lokal yang berpengalaman, mereka menyelam ke kedalaman sekitar 15 meter.
Apa yang mereka lihat di bawah laut membuat mereka terpana—terumbu karang yang beragam bentuk dan warna seperti taman bawah laut yang hidup, dengan ikan-ikan berwarna-warni seperti nemo, ikan pari kecil, dan bahkan penyu hijau yang sedang berenang santai di antara karang. Khatulistiwa mengambil kamera bawah laut yang mereka bawa, menangkap setiap momen keindahan alam bawah laut yang luar biasa itu.
Pada sore hari, setelah pulang dari menyelam dan beristirahat sebentar, mereka mengunjungi pasar kecil di desa Bunaken. Di sana, mereka bertemu dengan nelayan yang baru saja kembali dari laut dengan hasil tangkapan segar, serta pedagang yang menjual kerajinan tangan dari kayu dan anyaman daun pandan. Mereka membeli beberapa kerajinan sebagai oleh-oleh bagi keluarga dan teman, serta berbicara dengan beberapa penduduk lokal tentang bagaimana mereka menjaga kebersihan dan kelestarian terumbu karang di sekitar pulau.
“Kita bisa mengambil inspirasi dari sini untuk usaha kita di Makassar,” ujar Tenggara saat mereka sedang membeli ikan bakar untuk makan malam.
“Bagaimana mereka menghidupkan ekonomi lokal sambil menjaga kelestarian alam dan budaya mereka.” Khatulistiwa mengangguk setuju. “Benar sekali. Kita bisa membuat program edukasi tentang kelestarian alam dan budaya di ‘Nusantara Bersejarah’, mengajak orang-orang untuk lebih peduli dengan lingkungan sekitar.”
Malam itu, mereka makan malam di tepi pantai dengan lilin yang menyala lembut dan suara ombak sebagai latar musik. Mereka berbagi cerita tentang masa kecil, mimpi-mimpi mereka untuk masa depan, dan rencana mereka untuk mengembangkan usaha bersama serta menjelajahi lebih banyak tempat indah di Indonesia.
Saat bulan purnama muncul di atas langit dan mencerminkan diri di permukaan laut yang tenang, mereka saling memandang dengan cinta yang lebih dalam dari sebelumnya.
“Terima kasih telah memilih ku Ber sebagai pasangan hidupmu,” ujar Tenggara sambil memegang tangan Khatulistiwa. “ saya janji akan selalu ada untukmu, menjaga cinta kita seperti nelayan menjaga perahu mereka di tengah lautan luas.
” Khatulistiwa tersenyum hangat, mencium bibirnya dengan lembut. “Dan aku juga janji akan selalu mendukungmu, bersama kita akan membangun kehidupan yang penuh dengan cinta, kebahagiaan, dan rasa hormat terhadap sejarah serta alam sekitar kita.”
Di pulau Bunaken yang damai, di bawah langit yang penuh bintang dan laut yang menyaksikan, bulan madu Khatulistiwa dan Tenggara menjadi awal dari perjalanan hidup bersama yang dipenuhi dengan keindahan, makna, dan cinta yang tak tergoyahkan.