NovelToon NovelToon
Ternyata Aku Istri Kedua

Ternyata Aku Istri Kedua

Status: sedang berlangsung
Genre:Pelakor / Cerai / Selingkuh
Popularitas:3.5k
Nilai: 5
Nama Author: Tya

Aku menikah dengannya karena cinta.
Kupikir itu cukup.
Nyatanya, setelah akad terucap, aku baru tahu—
cinta itu bukan hanya milikku.
Saat hati dipaksa berbagi dan kebenaran menyakitkan terungkap, aku harus memilih:
mempertahankan pernikahan yang dibangun atas cinta,
atau pergi demi harga diri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 8

Aku terdiam. Kata-kata Arumi menggantung di udara, seperti palu yang siap memecahkan kerasnya kepalaku sendiri.

“Demi anak kamu aku antarkan ke Bram ya?”

“Tapi Rum…” suaraku melemah. Bayangan wajah Bram membuat dadaku kembali sesak. Luka yang belum sempat sembuh terasa disayat ulang.

“Ini demi kamu. Lagian selama ini kan semua aman terkendali,” ucap Arumi lembut namun tegas.

Aku menggenggam ujung bajuku. Aman? Apa benar semuanya aman? Atau aku hanya sedang pura-pura kuat selama ini?

“Rum… aku takut,” bisikku lirih. “Takut dia berubah lagi. Takut aku cuma jadi rahasia lagi.”

Arumi menggenggam tanganku erat. “Ran, sekarang bukan cuma soal kamu. Ada anak kamu. Kamu gak bisa terus lari.”

Air mataku jatuh tanpa izin. Anak ini… darah dagingku. Apa aku tega membesarkannya tanpa sosok ayah? Tapi bagaimana jika ayahnya justru jadi sumber luka?

Di luar, angin sore berhembus pelan seolah ikut mengaduk perasaanku.

“Aku temenin kamu,” lanjut Arumi. “Kita cuma ngomong baik-baik. Kalau dia tetap gak bertanggung jawab, kamu tinggal. Tapi setidaknya kamu sudah berjuang.”

Aku mengangkat wajahku. Hati kecilku tahu… aku memang harus menghadapi semuanya.

Perlahan aku mengangguk.

“Baik, Rum… tapi kamu jangan tinggalin aku.”

Arumi tersenyum kecil. “Gak akan, Ran. Kita hadapi bareng-bareng.”

Arumi mengantarkanku sampai ke depan rumah besar itu—rumah yang pernah kuanggap sebagai tempat pulang.

Jantungku berdegup tak karuan. Tanganku dingin, keringat mulai membasahi telapak.

Arumi menatapku sekilas, memberi isyarat agar aku kuat.

Ting… tong…

Suara bel terdengar nyaring di tengah sore yang terasa begitu sunyi.

Tak lama pintu terbuka.

“Non Rania…” suara itu lembut namun penuh keterkejutan.

Aku menatap wajah tua yang sangat kukenal. Bi Irah—asisten rumah tangga yang sejak awal selalu baik padaku.

“Bi…” suaraku tercekat.

Matanya langsung berkaca-kaca. “Astaghfirullah… Non sehat? Kok kurusan begini, Non?”

Aku tak mampu menjawab. Tenggorokanku terasa kering.

Arumi maju sedikit. “Bram ada, Bi?”

Bi Irah terlihat ragu sejenak, lalu mengangguk pelan. “Tuan ada, Non. tapi lagi keluar sebentar.”

Jantungku semakin tak terkendali mendengarnya.

Bi Irah membuka pintu lebih lebar. “Masuk dulu, Non… sudah lama rumah ini sepi.”

Kata itu seperti menyentil hatiku.

Aku melangkah masuk. Aroma rumah ini masih sama—perpaduan wangi kayu dan parfum yang biasa Bram pakai. Kenangan langsung menyeruak tanpa permisi.

Tak lama pintu terbuka lebar.

Bram berdiri di ambang pintu. Matanya melebar, lalu seketika berubah menjadi sorot bahagia yang begitu jelas.

“Rea… akhirnya kamu pulang,” ucapnya cepat, suaranya penuh lega. “Aku nyariin kamu ke kontrakan Arumi. Ternyata kamu di sini…”

Langkahnya maju satu, seolah ingin langsung memelukku.

Refleks aku mundur.

Wajah bahagianya sedikit goyah melihat reaksiku.

Arumi yang berdiri di sampingku menatap Bram dengan tatapan tegas. “Kami memang sengaja ke sini, Mas.”

Bram mengernyit bingung. “Maksudnya?”

Aku menarik napas panjang. Tanganku bergetar, tapi kali ini aku tidak boleh lemah.

“Aku ke sini bukan untuk kembali seperti dulu, Mas,” suaraku pelan namun berusaha tegas.

Bram terdiam. Bahagia di wajahnya perlahan berubah menjadi cemas.

“Aku cuma mau kejelasan,” lanjutku. “Tentang aku… dan tentang anak yang aku kandung.”

Seisi ruangan mendadak terasa sunyi.

Wajah Bram pucat. “Anak…?”

Aku mengangguk pelan, air mataku jatuh tanpa bisa kutahan.

“Iya, Mas. Aku hamil.”

Kalimat itu menggantung di udara, berat, penuh makna.

Bram terlihat tak percaya. Tangannya terangkat ingin menyentuhku, tapi ia ragu. “Rea… kamu serius?”

“Menurut Mas ini bercanda?” suaraku mulai bergetar.

Arumi maju selangkah. “Sekarang bukan soal kaget atau tidaknya, Mas. Ini soal tanggung jawab.”

Bram terdiam. Matanya tak lepas dari perutku, seolah mencoba mencerna kenyataan yang baru saja menghantamnya.

Dan untuk pertama kalinya, aku melihat pria itu benar-benar kehilangan kata-kata.

Tidak pernah terlintas di pikiranku sebelumnya…

Bram menetaskan air mata.

Aku dan Arumi saling pandang, bingung.

Reaksi ini jauh dari yang kubayangkan. Tidak ada penolakan. Tidak ada kemarahan.

Yang ada justru… haru.

“Ini yang aku nantikan dari dulu…” suaranya bergetar. “Terima kasih, Rea…”

Tiba-tiba ia mendekat dan memelukku erat.

“Bram…” lirihku kaget, tanganku kaku di samping tubuhku.

“Kau tahu alasan aku nikah lagi?” lanjutnya dengan suara pecah. “Karena Monika tidak bisa memberikanku keturunan. Dan aku… aku sangat mencintaimu, Rea.”

Kalimat itu membuat tubuhku menegang.

Mencintaiku?

Entah kenapa kata itu sekarang terdengar berbeda. Dulu mungkin aku akan luluh. Tapi sekarang, hatiku tidak lagi utuh seperti dulu.

Aku perlahan melepaskan pelukannya.

“Jadi… aku hanya karena kamu ingin anak?” tanyaku pelan, namun tajam.

Bram terdiam.

“Mas menikahiku bukan sepenuhnya karena cinta… tapi karena kebutuhan?” Air mataku mulai jatuh lagi. “Kalau Monika bisa punya anak… apakah Mas tetap akan mencariku?”

Ruangan terasa semakin sunyi.

Arumi menatap Bram dengan tatapan penuh tuntutan jawaban.

Bram menggeleng cepat. “Bukan begitu, Rea. Aku memang ingin anak. Tapi aku juga mencintaimu. Kamu berbeda. Kamu masuk ke hidupku tanpa aku rencanakan.”

“Tapi kamu tetap menyakitiku,” balasku lirih. “Kamu menjadikanku istri kedua tanpa kejujuran di awal.”

Bram menunduk. Kali ini ia benar-benar tidak bisa membantah.

“Aku gak mau anak ini tumbuh dari kebohongan lagi,” lanjutku. “Kalau kamu memang serius, bukan cuma karena dia… tapi karena ingin memperbaiki semuanya.”

Bram mengangkat wajahnya perlahan. Di matanya ada penyesalan… dan juga tekad yang belum bisa sepenuhnya kupercaya.

“Kasih aku kesempatan, Rea,” pintanya pelan.

Dan di saat itu, aku sadar…

Keputusan yang kuambil hari ini akan menentukan masa depan anakku.

“Jadi rencana kamu selanjutnya apa?” tanya Arumi mantap, menatap Bram tanpa ragu.

Bram menarik napas panjang, lalu menatap kami bergantian.

“Menceraikan Monika.”

Aku terdiam. Jantungku seperti berhenti sesaat.

“Kamu serius dan yakin?” Arumi bertanya lagi, memastikan tidak ada keraguan dalam kalimat itu.

“Kenapa tidak yakin?” jawab Bram cepat, kali ini menatapku lekat-lekat. “Aku sudah lama mempertimbangkan ini.”

Aku menggeleng pelan. “Tapi kamu menyakiti perasaannya, Bram…”

Ada jeda sebelum ia menjawab.

“Gak, Arumi… Rea,” suaranya lebih tenang. “Aku akan pisah dan ngomong baik-baik dengannya. Aku gak mau ada kebohongan lagi. Semua akan aku jelaskan.”

“Kamu pikir itu mudah?” Arumi menyela.

“Monika itu istrimu yang sah. Dia juga punya hati.”

Wajah Bram menegang. “Aku tahu. Dan justru karena itu aku harus jujur. Aku gak mau terus hidup dalam pernikahan yang setengah hati.”

Aku menatap lantai. Perasaanku campur aduk. Ada harapan… tapi juga rasa bersalah yang menggerogoti.

“Rea,” panggil Bram lembut. “Aku gak mau kamu dan anak kita merasa jadi bayangan. Kalau aku memilih kamu, aku mau itu jelas. Tanpa sembunyi-sembunyi.”

Anak kita.

Kata-kata itu membuat dadaku menghangat, tapi juga berat.

“Dan kalau nanti Monika tidak terima?” tanyaku pelan.

Bram terdiam sesaat. “Aku siap menghadapi

konsekuensinya.”

Ruangan kembali sunyi.

Arumi menatapku, seolah menyerahkan keputusan padaku.

****

1
Nur Janah
Bagus Rania rezeki mu udah di atur oleh author 😄😄
Tya: wkwkwk 🤭
total 1 replies
Nur Janah
bukannya kaca depan mobil Rania udah pecah karena preman ya Thor kok suaminya masih nggak percaya
Mamah Kaila
dasar lu nya aja yg lemah tololnya mendarah daging, udah tau dr awal dibohongi bukan nya pergi malah bertahan ya nikmati aja penderitaan lu, udahlah males baca cerita kayak gini
Agung Santosa
y iya,,lu aja yng tol**l,,mau aja dngrin omngn tmn lu,,udh tau posisi lu g mnguntungkn,,klo dasrnya lemah ya lemah aja,,g ush² pura² kuat,,
Mamah Kaila
perempuan bodoh
Nur Janah
semoga Leon datang tepat waktu
Nur Janah
aku juga baca satu milyar 30 hari
Tya: wih 😍, pokoke love sakkenon deh
total 1 replies
Nur Janah
pergi Rania yg jauh,yg ada nanti keluarga Bram menyalahkan kamu lebih tragisnya nanti anakmu di ambil dan kamu di ceraikan
Nur Janah
kan kamu di bohongi LG ran,pergi lh yg jauh.jangan biarkan suatu saat anakmu di ambil mereka
Nur Janah
kadang hidup setelah terluka hanya melanjutkan hidup saja tanpa makna,jadi curhat Thor🤭🤭
Tya: gak papa kak 🤭
total 1 replies
Nur Janah
siapa yg akhirnya di plih oleh bram
Nur Janah
Rania hamil ya thor
Nur Janah
pergi aja deh ran,sebelum kamu d cap pelakor
Nur Janah
baru baca Thor,semoga ceritanya seru aku kasih bunga biar semangat up nya
Tya: trimakasih kak 😍 semoga betah
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!