NovelToon NovelToon
ABU DARI SIKLUS ABADI

ABU DARI SIKLUS ABADI

Status: sedang berlangsung
Genre:Perperangan / Romansa Fantasi / Action / Fantasi Isekai / Komedi
Popularitas:747
Nilai: 5
Nama Author: Varss V

Ash adalah pria dari dunia lain yang datang tanpa misi heroik. Ia bercanda, bertarung, dan bertahan hidup dengan cara yang terasa terlalu santai untuk dunia yang penuh perang dan kebohongan. Namun di balik tawanya, ada sesuatu yang tersegel di dalam dirinya kekuatan purba yang mulai bangkit setiap kali ia kehilangan. Saat konflik antar kerajaan, malaikat, Naga, dan iblis memanas, Ash terjebak di pusat siklus kehancuran yang jauh lebih tua dari peradaban mana pun. Semakin kuat ia menjadi, semakin tipis batas antara manusia dan monster. Pada akhirnya, dunia tidak hanya bertanya apakah Ash bisa menyelamatkan mereka, tetapi apakah ia masih Ash yang sama.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Varss V, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

# BAB 26 - BAYANGAN YANG TERSISA

Malam pertama setelah pertempuran terasa panjang sekali.

Ash tidak bisa tidur. Setiap kali dia menutup mata, dia melihat wajah wajah tentara yang mati. Yang tergeletak dengan mata terbuka kosong. Yang masih memegang pedang meski tangan mereka sudah dingin.

Dia berbaring di kasur darurat di salah satu ruangan menara yang masih utuh, menatap langit-langit kayu dengan pikiran yang tidak bisa diam.

Di kasur sebelah, Eveline juga tidak tidur. Matanya terbuka, menatap ke arah yang sama.

"Kau dengar itu?" bisiknya tiba-tiba.

Ash mendengarkan. Dari luar jendela, terdengar suara tangisan lemah. Seseorang menangisi teman atau keluarga yang mati.

"Aku dengar," jawab Ash pelan.

"Ini perang yang sesungguhnya."

"Ya."

Hening lagi.

"Aku membunuh tujuh orang hari ini," ucap Eveline dengan suara datar. "Aku hitung. Tujuh. Mereka semua punya wajah. Punya nama yang tidak akan pernah aku tahu."

Ash menoleh ke arahnya. "Kau menyesal?"

Eveline diam lama. "Aku tidak tahu. Dulu di Nightshade, aku dilatih untuk tidak merasa apapun saat membunuh. Tapi sekarang... sekarang aku merasa sesuatu. Dan aku tidak suka rasanya."

"Mungkin itu bagus," ucap Ash. "Mungkin itu artinya kau masih manusia."

"Atau itu artinya aku jadi lemah."

"Kau tidak lemah." Ash duduk, menatapnya. "Kau yang paling kuat di antara kita. Kau selalu tahu apa yang harus dilakukan. Kau menyelamatkanku berkali kali hari ini."

Eveline akhirnya menatapnya balik. Matanya terlihat lelah. "Kau juga menyelamatkanku. Saat pemanah itu hampir menembak kepalaku dari belakang."

"Aku hampir terlambat. Kalau kau tidak menghindar sendiri—"

"Tapi kau tidak terlambat. Kau datang." Eveline duduk juga. "Kita masih hidup. Itu yang terpenting."

Mereka terdiam, duduk bersebelahan dalam kegelapan.

"Ash."

"Ya?"

"Besok, kalau ada pertempuran lagi... jangan jadi pahlawan. Tetap hidup. Aku tidak mau kehilanganmu."

Ash merasakan dadanya hangat. "Aku juga tidak mau kehilanganmu."

Eveline meraih tangannya, menggenggamnya erat. Tangannya dingin tapi genggamannya kuat.

Mereka duduk seperti itu sampai akhirnya kelelahan mengalahkan pikiran, dan mereka tertidur masih dalam posisi duduk, tangan saling menggenggam.

---

Pagi datang dengan kabut tebal yang menyelimuti benteng.

Ash terbangun karena suara ribut dari luar. Dia melepaskan genggaman tangannya dengan Eveline dengan hati-hati agar tidak membangunkannya, lalu berjalan ke jendela.

Di halaman, tentara Lunaria sedang sibuk memperbaiki kerusakan. Tembok yang retak ditambal dengan batu sementara. Gerbang yang penyok diperkuat dengan balok kayu. Mayat-mayat dikumpulkan di satu area, ditutup dengan kain putih, menunggu untuk dikremasi atau dikuburkan.

Ash menghitung dalam hati. Setidaknya lima puluh tubuh.

Lima puluh nyawa.

Dalam satu hari.

Ketukan di pintu membuatnya menoleh. Seorang tentara muda masuk dengan wajah pucat.

"Maaf mengganggu. Komandan Aldus memanggil semua petinggi ke menara. Ada... ada sesuatu."

Ash membangunkan Eveline. Mereka berdua turun ke lantai bawah, bertemu dengan Razen yang sudah diperban ketat di bagian rusuk. Wajahnya pucat tapi dia masih bisa berdiri.

"Kau seharusnya istirahat," ucap Ash.

"Aku sudah istirahat cukup," jawab Razen. "Ayo."

Di ruang komando, Aldus berdiri di depan peta dengan ekspresi yang... aneh. Campuran lega dan bingung.

Lyra sudah ada di sana, begitu juga Morgana yang duduk santai di kursi sambil makan apel entah dari mana.

"Kalian datang," ucap Aldus. "Bagus. Aku baru saja terima laporan dari regu pengintai."

"Varnhold?" tanya Razen.

"Mundur. Semua pasukan mereka mundur sepenuhnya dari area Fort Silvergate. Mereka kembali ke wilayah Varnhold."

Hening.

"Apa?" Ash tidak yakin dia mendengar dengan benar. "Mereka mundur? Kenapa?"

"Aku tidak tahu. Tapi regu pengintai melaporkan mereka tidak terlihat seperti kalah. Mereka mundur dengan teratur, bahkan membawa semua mayat rekan mereka." Aldus menatap peta dengan kening berkerut. "Ini tidak masuk akal. Mereka hampir menang. Kenapa mundur sekarang?"

Morgana berhenti mengunyah apelnya. "Nivraeth punya teori~"

Semua orang menoleh ke arahnya.

"Mereka dapat perintah dari atas. Dari seseorang yang lebih penting dari komandan lapangan." Morgana melempar sisa apelnya keluar jendela. "Mungkin dari Sang Raja sendiri~"

"Tapi kenapa Raja memerintahkan mundur saat mereka hampir menang?" Lyra menggeleng. "Itu tidak seperti strateginya."

Sebelum ada yang bisa menjawab, suara terompet terdengar dari luar.

Tapi bukan terompet perang.

Terompet kedatangan.

Aldus langsung berlari ke jendela. "Itu... itu bendera Lunaria! Reinforcement datang!"

Mereka semua berlari keluar menara, ke halaman depan.

Dari gerbang luar yang rusak, pasukan masuk dengan formasi rapi. Setidaknya tiga ratus tentara dengan armor biru bersih, belum tersentuh pertempuran. Di depan mereka, beberapa anggota Lunar dengan jubah biru gelap berkibar.

Dan di tengah mereka semua, melayang beberapa meter di atas tanah dengan sihir angin, adalah sosok yang membuat dadanya Ash lega sekaligus kagum.

Violet.

Rambutnya yang ungu berkibar meski tidak ada angin. Matanya bersinar ungu terang. Di sekelilingnya, puluhan pedang sihir melayang, berputar pelan seperti menari.

Dia mendarat dengan anggun di depan menara, pedang-pedang itu menghilang seperti cahaya yang padam.

Aldus langsung membungkuk hormat. "Yang Mulia. Anda datang."

"Maaf terlambat, Komandan." Violet menatap sekeliling benteng yang rusak, wajahnya menegang. "Aku terjebak dengan masalah politik di ibu kota. Begitu aku bisa kabur dari rapat tak berguna itu, aku langsung ke sini."

Dia menoleh ke Ash, Eveline, dan Razen. Matanya melembut sedikit. "Kalian selamat. Syukurlah."

"Hampir tidak," jawab Razen jujur. "Kalau bukan karena Morgana, aku sudah mati."

Violet menatap Morgana yang berdiri agak jauh sambil melambai ceria. Dia mengerutkan kening sedikit, tapi tidak berkomentar.

"Situasi sekarang bagaimana?" tanya Violet ke Aldus.

"Varnhold mundur pagi ini. Semua pasukan mereka kembali ke wilayah sendiri. Kami tidak tahu kenapa."

Violet terdiam, wajahnya menjadi serius. "Aku tahu kenapa."

Semua orang menunggu.

"Kemarin malam, duta Varnhold datang ke istana. Membawa surat dari Darius sendiri." Violet mengeluarkan gulungan perkamen dari jubahnya. "Ini adalah deklarasi gencatan sementara. Varnhold menawarkan negosiasi damai."

"Damai?" Aldus terdengar tidak percaya. "Setelah mereka menyerang kita?"

"Bukan damai permanen. Gencatan sementara untuk negosiasi. Mereka bilang serangan ini adalah..." Violet membaca perkamen dengan nada sinis, "...'tindakan pertahanan preventif karena Lunaria dianggap menyimpan senjata berbahaya'."

"Omong kosong!" Lyra hampir berteriak.

"Aku tahu itu omong kosong. Semua orang tahu itu omong kosong." Violet menggulung perkamen kembali. "Tapi secara politik, aku tidak bisa tolak tawaran negosiasi begitu saja. Itu akan membuat Lunaria terlihat seperti agresor di mata kerajaan lain."

"Jadi kita harus berpura-pura setuju?" Razen menggeleng. "Sementara mereka mempersiapkan serangan berikutnya?"

"Tepat sekali." Violet menatap mereka semua. "Ini adalah jeda. Bukan akhir. Varnhold sedang bermain politik sambil mempersiapkan kekuatan untuk serangan yang lebih besar."

Dia berbalik ke arah pasukan yang datang bersamanya. "Tapi kita juga akan gunakan waktu ini. Aldus, aku bawa tiga ratus tentara dan sepuluh battle mage untuk memperkuat benteng ini. Perbaiki semua kerusakan. Perkuat pertahanan. Siapkan jebakan sihir di area sekitar."

"Siap, Yang Mulia."

Violet menoleh ke Ash, Eveline, dan Razen. "Kalian bertiga sudah melakukan yang terbaik. Aku akan kirim kalian kembali untuk istirahat."

"Tapi—" mulai Ash.

"Ini perintah." Violet menatapnya dengan mata yang tidak bisa dibantah. "Kalian sudah buktikan diri kalian di perang sungguhan. Kalian selamat. Itu sudah lebih dari cukup, dan yang paling penting kalian bukan tentara Lunaria, jadi kalian tak boleh ada disini terlalu lama. Sekarang kalian butuh waktu untuk pulih. Secara fisik dan mental."

Razen terdiam, lalu mengangguk. "Anda benar. Kami butuh istirahat."

"Tapi tidak ke ibu kota," lanjut Violet. "Ibu kota sedang tegang dengan negosiasi politik. Kalian akan kembali ke Vairlion."

"Kenapa Vairlion?" Ash terkejut.

"Kota netral. Aman. Tempat yang baik untuk pulih dan melatih diri tanpa tekanan politik atau perang." Violet tersenyum tipis. "Jalani kehidupan normal di sana, biar kami yang akan menjaga Lunaria dengan tangan kami sendiri."

Eveline menatap Ash, lalu Razen. Mereka berdua mengangguk pelan.

"Baik," ucap Ash. "Kami akan kembali ke Vairlion."

"Bagus." Violet menoleh ke Lyra. "Atur kereta untuk mereka. Berangkat sore ini jika memungkinkan."

"Siap, Yang Mulia."

Violet berjalan mendekat ke Ash. Dia meletakkan tangannya di bahu Ash, menatapnya dengan mata serius.

"Kau sudah merasakan perang yang sesungguhnya sekarang. Ini bukan petualangan. Ini bukan quest dari guild. Ini adalah tempat di mana orang mati. Di mana teman hilang. Di mana keputusan salah berarti tidak ada kesempatan kedua."

Ash mengangguk pelan.

"Tapi kau selamat. Dan kau jadi lebih kuat." Violet tersenyum sedikit. "Aku bangga padamu. Pada kalian bertiga. Kalian tidak lari saat situasi sulit. Itu membutuhkan keberanian yang besar."

Dia melepaskan tangannya dan mundur. "Pulanglah ke Vairlion. Istirahat. Latih diri kalian. Dan ketika aku panggil lagi, aku harap kalian sudah siap untuk apa yang akan datang."

"Apa yang akan datang?" tanya Eveline.

Violet menatap ke arah perbatasan, ke arah Varnhold yang tersembunyi di balik pegunungan.

"Perang yang sesungguhnya. Ini baru permulaan."

---

Sore harinya, Ash, Eveline, dan Razen berdiri di depan kereta yang sudah disiapkan. Lyra mengecek persediaan untuk perjalanan, memastikan semuanya ada.

Morgana sudah ada di dalam kereta, berbaring santai di bangku sambil bersenandung.

"Nivraeth ikut ke Vairlion~! Nivraeth dengar kota itu punya makanan enak~!"

Ash tidak protes lagi. Keberadaan Morgana sudah seperti jaminan kesalamatan bagi mereka, meskipun dia tak tahu apa tujuannya, tapi dia yakin Morgana tidak akan membiarkan mereka mati.

Violet datang untuk melihat keberangkatan mereka. Dia memberikan sebuah kristal kecil berwarna ungu ke Lyra.

"Ini komunikasi jarak jauh. Kalau ada sesuatu yang darurat, hancurkan kristal ini dan aku akan tahu. Aku akan datang secepat mungkin."

Lyra menggenggam kristal itu erat. "Terima kasih, Yang Mulia."

Violet mengangguk, lalu menatap Ash, Eveline, dan Razen sekali lagi.

"Sampai bertemu lagi. Semoga dalam keadaan yang lebih baik."

Mereka naik ke kereta. Kusir mengetuk dinding, kuda mulai bergerak.

Ash menatap keluar jendela, melihat Fort Silvergate yang rusak tapi masih berdiri. Melihat Violet yang melambaikan tangan pelan.

Lalu benteng itu perlahan menghilang di belakang pepohonan.

Di dalam kereta, semua orang diam.

Razen menatap tangannya yang masih sedikit gemetar dari luka kemarin. Eveline menatap kosong ke depan, pikirannya entah di mana. Morgana sudah tertidur dengan senyum di wajahnya.

Dan Ash... Ash merasakan sesuatu yang aneh di dadanya.

Bukan titik emas Uroboros yang berdenyut.

Bukan titik mana alami yang sudah hampir habis.

Tapi sesuatu yang lain. Sesuatu yang lebih... manusiawi.

Kelegaan.

Kelegaan karena mereka selamat.

Kelegaan karena perang berhenti, setidaknya untuk sementara.

Kelegaan karena dia tidak perlu melihat mayat lagi. Untuk sekarang.

Tapi di balik kelegaan itu, ada juga sesuatu yang gelap.

Ketakutan.

Ketakutan bahwa ini baru permulaan.

Ketakutan bahwa perang berikutnya akan lebih buruk.

Ketakutan bahwa dia tidak akan cukup kuat untuk melindungi orang-orang yang dia sayangi.

Dia menutup matanya, mencoba mengusir pikiran itu.

*Aku harus bertamabah lebih kuat,* pikirnya. *Kami sudah selamat hari ini. Dan akan ku pastikan kami juga akan selamat di masa depan.*

Kereta melaju melewati pegunungan, meninggalkan Fort Silvergate dan semua kenangan buruknya di belakang.

Tapi kenangan itu tidak akan hilang.

Kenangan itu akan tetap bersama mereka.

Selamanya.

1
anak panda
lantorrr thorrrr
anak panda
🔥🔥🔥
Varss V
Di usahakan secepat, dan sebanyaknya ka, kalo suka tolong kasih rating dan like nya ya🙏
anak panda
upp torre
Varss V
oke, makasih
anggita
ikut ng👍like aja, iklan👆.
anak panda
semangat torr
Varss V: Makasih ka
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!