Novel ini lahir dari rasa ingin mengeksplorasi kisah cinta remaja yang unik, tentang dua orang yang dijodohkan sejak SMA dan bagaimana mereka belajar mengenal satu sama lain. Penulis ingin menampilkan bahwa cinta sejati tidak selalu hadir dengan cara yang mudah atau instan, melainkan tumbuh melalui proses memahami, menerima, dan memilih satu sama lain setiap hari.
Melalui cerita ini, penulis ingin menggambarkan perjalanan emosi remaja yang realistis, mulai dari kebingungan, rasa penasaran, hingga perasaan hangat yang perlahan tumbuh menjadi cinta yang dewasa. Kisah ini juga menekankan bahwa di balik setiap tawa dan momen manis, ada nilai penting tentang keluarga, persahabatan, tanggung jawab, dan kesabaran yang membentuk karakter seseorang.
Cerita ini diharapkan bisa menjadi inspirasi bagi remaja untuk menyadari bahwa hubungan yang baik tidak hanya tentang perasaan, tetapi juga tentang saling menghargai, membangun kepercayaan, dan berani membuat pilihan yang tepat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tama Dias, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 20 ~Langit di rumah kita
Pagi itu, udara terasa berbeda.
Langit Taman Langit lebih biru dari biasanya, seolah tahu bahwa hari ini bukan hari biasa.
Burung-burung berkicau lebih ramai, bunga flamboyan berguguran perlahan, menutupi jalan setapak yang dulu kami bangun dengan tangan penuh tanah dan tawa.
Dan di bawah pohon yang pernah jadi saksi hujan pertama kami, dua kursi kayu sederhana berdiri berdampingan, dihiasi pita putih dan bunga matahari kecil.
Di sanalah aku dan Raka akan mengucap janji — janji baru, yang lahir dari semua janji lama yang pernah kami genggam.
Aku tiba di taman sedikit lebih pagi, ditemani Mama dan beberapa sahabatku.
Gaunku sederhana — kain putih lembut dengan renda di tepi, tanpa hiasan berlebihan. Tapi entah kenapa, aku merasa seperti orang paling bahagia di dunia.
Mama merapikan rambutku, senyumnya lembut. “Kamu kelihatan cantik banget, Ly. Papa kamu pasti bangga.”
Aku memegang tangan Mama. “Terima kasih, Ma. Kalau bukan karena doa Mama, mungkin aku nggak akan sampai di sini.”
Dia tersenyum, matanya berkaca. “Kamu tahu nggak? Waktu dulu kamu cerita dijodohin, Mama sempat takut kamu nggak bahagia. Tapi ternyata, Tuhan tahu yang terbaik buat kamu.”
Aku tertawa kecil, menahan air mata. “Aku juga baru sadar, Ma. Kadang takdir itu bukan soal kebetulan, tapi tentang waktu yang tepat.”
Mama mengangguk, lalu berbisik, “Sekarang pergi, Nak. Waktumu udah tiba.”
Aku menarik napas dalam, menatap jalan setapak yang penuh bunga, dan mulai melangkah perlahan.
Raka berdiri di ujung jalan setapak, dengan jas abu-abu muda dan dasi hijau lembut — warna kesukaanku.
Di sekelilingnya, para tamu berdiri di antara bunga-bunga taman, menatap kami dengan senyum hangat.
Begitu mataku bertemu matanya, semua suara di sekeliling seakan hilang.
Langkahku terasa ringan, tapi jantungku berdetak keras.
Dan saat akhirnya aku berdiri di hadapannya, Raka tersenyum — senyum yang sama sejak SMA, tapi kini lebih dewasa, lebih tenang.
“Ly,” katanya pelan, suaranya bergetar sedikit. “Dulu aku cuma anak SMA yang disuruh kenal sama kamu. Tapi hari ini, aku laki-laki yang bersyukur karena dikasih kesempatan buat milih kamu — lagi, dan lagi.”
Aku menatapnya, tersenyum sambil menahan air mata. “Dan dulu aku cuma gadis yang bingung kenapa harus dijodohin. Tapi ternyata, aku dijodohin sama takdir yang paling baik.”
Semua orang tertawa kecil di antara haru.
Angin berembus lembut, menggoyangkan daun flamboyan di atas kami.
Pendeta taman kecil itu tersenyum. “Baiklah, sekarang waktunya janji.”
Raka menatap mataku dalam-dalam, dan suaranya tenang.
“Aku janji, Ly, buat terus tumbuh bareng kamu. Buat tetap melangkah meski kadang tanahnya retak. Buat nyiram cinta kita bahkan di musim paling kering. Dan buat selalu jadi rumah tempat kamu pulang, di bawah langit apa pun.”
Aku menahan napas, air mata jatuh sebelum sempat kutahan.
“Aku janji juga, Rak,” kataku pelan. “Buat nggak cuma berdiri di sampingmu waktu kamu kuat, tapi juga waktu kamu lemah. Buat terus percaya, bahkan kalau dunia lagi nggak berpihak. Dan buat terus cinta kamu, bukan karena sempurna, tapi karena kamu nyata.”
Beberapa orang meneteskan air mata. Mama tersenyum dari kejauhan.
Ketika cincin disematkan ke jariku, aku tahu — bukan cincin itu yang mengikat kami, tapi perjalanan panjang yang kami lewati bersama.
“Dengan ini,” kata sang penghulu taman, “kalian resmi menjadi suami istri.”
Tepuk tangan pecah.
Burung-burung terbang, dan bunga-bunga yang digantung di pohon berjatuhan pelan ke tanah.
Aku menatap Raka, dan dia berbisik, “Akhirnya, Ly. Taman terakhir kita berubah jadi rumah.”
Aku tersenyum. “Dan langitnya… tetap sama.”
Hari-hari setelah pernikahan berjalan seperti mimpi yang berjalan pelan.
Kami pindah ke rumah kecil di pinggir kota — rumah yang Raka rancang sendiri.
Rumah itu sederhana, tapi setiap sudutnya terasa hidup. Ada jendela besar yang menghadap ke taman kecil, ada rak kayu untuk buku-bukuku, dan di halaman belakang, Raka menanam flamboyan kecil yang kami beri nama “Langit.”
“Kenapa namanya Langit?” tanyaku waktu itu.
Raka tersenyum. “Karena dari dulu, langit selalu jadi saksi kita. Sekarang, biar dia jadi bagian dari rumah kita juga.”
Tiga bulan pertama pernikahan kami penuh tawa dan penyesuaian kecil.
Aku yang suka bangun pagi, Raka yang suka tidur siang.
Aku yang rapi, Raka yang kadang menaruh sketsa di mana-mana.
Tapi justru di hal-hal sederhana itulah kami belajar: pernikahan bukan tentang menyatukan dua orang yang sama, tapi tentang belajar menyesuaikan dua dunia yang berbeda, lalu membuatnya seirama.
Suatu malam, aku menemukan Raka duduk di teras, menatap langit.
“Belum tidur?” tanyaku.
Dia menoleh. “Nggak bisa. Aku mikir.”
Aku duduk di sampingnya. “Mikir apa?”
“Mikir gimana caranya jadi suami yang baik buat kamu.”
Aku tersenyum kecil. “Kamu nggak perlu sempurna, Rak. Aku cuma butuh kamu jadi dirimu yang dulu — yang selalu belajar, yang sabar, yang tahu kapan diem dan kapan peluk.”
Dia tertawa kecil. “Jadi aku udah lulus, ya?”
“Baru semester satu,” jawabku sambil tertawa.
Kami terdiam, menatap bintang.
“Ly,” katanya pelan, “kamu sadar nggak, dulu kita sering liat langit buat nyari satu sama lain. Sekarang, kita liat langit dari rumah yang sama.”
Aku menggenggam tangannya. “Dan langitnya, meski nggak selalu cerah, tetap milik kita.”
Setahun berlalu.
Pohon flamboyan di halaman tumbuh tinggi.
Rumah kami kini sering dipenuhi anak-anak dari sekitar yang datang belajar menanam — Alya, si guru taman yang tak pernah bisa lepas dari dunia hijaunya.
Raka sering membantu mereka membuat miniatur taman, sementara aku mengajarkan mereka cara menyiram dan menjaga akar.
Anak-anak memanggil kami “Om Raka” dan “Bu Ly.”
Suatu hari, saat anak-anak sudah pulang, Raka berdiri di tengah taman kecil kami, menatap ke atas.
“Ly,” katanya pelan, “aku pengen taman ini jadi warisan.”
Aku menatapnya bingung. “Warisan?”
“Iya,” katanya. “Biar nanti, siapa pun yang datang ke sini bisa ngerasa tenang. Karena buatku, taman bukan cuma tempat tumbuhnya bunga. Tapi tempat di mana hati bisa istirahat.”
Aku tersenyum. “Kamu selalu bisa ngomong hal yang bikin aku jatuh cinta lagi.”
Dia tertawa. “Makanya aku arsitek taman, bukan cuma arsitek gedung.”
Kami duduk di bawah flamboyan itu lagi, pohon yang sama yang kami tanam waktu pertama pindah.
Dan seperti dulu, kami diam lama — bukan karena kehabisan kata, tapi karena tenang itu sudah cukup berbicara.
Waktu terus berjalan.
Beberapa tahun berlalu, dan rumah kecil kami menjadi saksi segalanya — tawa, tangis, perdebatan, dan pelukan.
Raka kadang terlalu sibuk, aku kadang terlalu lelah. Tapi setiap kali malam datang, kami selalu menemukan satu hal yang sama: duduk di bawah langit.
Malam itu hujan turun.
Aku berdiri di jendela, memandangi tetes air yang membasahi daun flamboyan.
Raka datang dari belakang, menyelimutiku dengan selimut tipis.
“Hujan pertama tahun ini,” katanya pelan. “Selalu ngingetin aku sama kamu.”
Aku tersenyum. “Dan aku selalu inget gimana kita mulai.”
Dia menatap ke luar jendela. “Kita mulai dari taman kecil, dan sekarang kita punya rumah sendiri. Tapi rasanya, semuanya masih sama — hangat, sederhana, dan penuh cinta.”
Aku menatap langit yang tertutup awan. “Langitnya pun masih sama, Rak.”
Dia menoleh padaku, menatap dengan mata yang lembut seperti dulu. “Dan kamu, Ly, masih jadi alasan kenapa aku pengen terus liat langit setiap hari.”
Kami berdiri lama di sana, membiarkan suara hujan mengisi ruang di antara kami.
Dan aku sadar, mungkin inilah arti dari langit di rumah kita — bukan langit biru sempurna, tapi langit yang tetap di atas, meski badai datang, meski malam turun.
Beberapa tahun kemudian, aku menemukan buku catatan lama di rak kayu.
Buku yang dulu kupakai untuk menulis surat-surat untuk Raka — dari masa SMA sampai lamaran kami.
Halaman terakhir berisi tulisan tanganku sendiri:
“Taman terakhir ini bukan akhir dari cerita kita, tapi awal dari rumah yang akan kita tanam bersama.”
“Dan aku janji, setiap kali langit berubah warna, aku tetap memilih kamu.”
Aku menutup buku itu pelan.
Raka datang dari belakang, menatap buku itu di tanganku. “Masih kamu simpen?”
Aku tersenyum. “Iya. Karena di setiap halaman, ada kita.”
Dia merangkul bahuku. “Dan di setiap hari setelah ini, masih ada kita juga.”
Kami melangkah ke luar, berdiri di bawah pohon flamboyan yang kini sudah tinggi.
Langit sore tampak jingga, persis seperti dulu saat semuanya dimulai.
“Aku pengen langit ini tetap jadi saksi,” kata Raka pelan.
Aku menatapnya. “Saksi apa?”
“Saksi bahwa cinta kita nggak berhenti di taman.”
Aku tersenyum. “Tapi terus tumbuh… di rumah yang kita tanam bersama.”
Dia menggenggam tanganku.
Dan di bawah langit yang sama, dengan angin yang membawa aroma tanah dan kenangan, kami tahu — cinta kami sudah jadi sesuatu yang lebih besar dari sekadar kisah.
Ia sudah jadi bagian dari hidup, dari rumah, dari langit itu sendiri.
✨ Tamat —DIJODOHKAN SAAT SMA ✨