Demi melunasi hutang keluarga, Amara (19) nekat merantau ke Jakarta dengan rahasia tubuh yang tak lazim: ia mampu menghasilkan ASI meski masih perawan. Keajaiban itu membawanya menjadi pengasuh bayi milik Arlan, pengusaha dingin yang dikhianati istrinya.
Saat bayi Arlan menolak segala jenis susu formula, hanya "anugerah" dari tubuh Amara yang mampu menenangkannya. Namun, rahasia itu terbongkar. Bukannya marah, Arlan justru terobsesi. Di balik pintu kamar yang tertutup, Arlan menyadari bahwa bukan hanya putranya yang haus akan kehangatan Amara—ia pun menginginkan "jatah" yang sama.
Antara pengabdian dan gairah terlarang, Amara terjebak dalam jerat cinta sang tuan yang posesif. Apakah ini jalan keluar bagi kemiskinannya, atau justru awal dari perbudakan nafsu yang manis?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon your grace, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 23: Jejak yang Terbakar
Amara keluar dari kamar Arlan dengan langkah yang sangat tidak stabil. Setiap kali kakinya melangkah, rasa perih dan pegal di pangkal pahanya seolah mengingatkan betapa liarnya sesi mandi pagi di bawah shower tadi. Ia sudah mengenakan kembali daster batiknya, namun kini pakaian itu terasa lebih sempit karena tubuhnya yang masih sensitif.
Ia terus menunduk, mencoba menggunakan rambut panjangnya untuk menutupi leher dan dadanya. Ia tahu betul, di balik kain itu, Arlan telah meninggalkan "stempel" kepemilikan yang sangat nyata—bercak-bercak merah keunguan yang kontras dengan kulit putihnya.
Baru saja ia menuruni tangga, sosok Mbak Lasmi sudah berdiri di sana. Langkah Amara terhenti seketika.
"Loh, Amara? Baru turun? Tadi kucari ke kamar Kenzo kok tidak ada," tanya Mbak Lasmi. Matanya menatap Amara penuh selidik. Tiba-tiba, embusan angin menyibak rambut Amara yang menutupi lehernya.
Mbak Lasmi terkesiap. "Amara! Itu lehermu kenapa?!"
Amara refleks menutup lehernya. "I-ini... digigit nyamuk, Mbak."
"Nyamuk apa yang gigitnya sampai berbentuk bibir begitu, Ra?" Mbak Lasmi berbisik tajam. "Ini bukan nyamuk. Ini bekas... ya Tuhan, Amara! Apa Tuan Arlan semalam masuk ke kamarmu?!"
Tepat saat itu, Arlan turun dengan setelan jas kerjanya yang rapi. Arlan berhenti di depan dapur, menatap kedua wanita itu dengan tatapan dingin yang mematikan.
"Ada masalah, Lasmi?" tanya Arlan datar. "Amara tadi membantuku mencari dokumen penting sampai subuh. Jadi wajar kalau dia bangun agak siang."
Arlan melangkah mendekati Amara, dengan sengaja tangannya mengusap bahu gadis itu. "Kembalilah ke kamar Kenzo. Dan jangan lupa... gunakan syal yang kuberikan. Udara pagi ini... sangat tajam untuk kulitmu."
Siang itu, seorang kurir meletakkan sebuah kotak hitam besar di depan pintu kamar Amara. Dengan jantung berdebar, Amara membukanya. Matanya membelalak lebar. Di dalamnya berisi tumpukan líñğéríé berbahan brokat transparan, Ğ-śťříñğ dengan tali-tali rumit, hingga stocking jaring yang sangat provokatif.
Tepat saat ia menyentuh kain tipis itu, ponselnya bergetar. Nama "Tuan Arlan" terpampang di layar.
"Sudah terima paketnya, Amara?" suara bariton Arlan terdengar.
"S-sudah Tuan... tapi ini... ini terlalu transparan," bisik Amara.
"Pilih satu yang paling tipis, pakai, dan ambil foto tubuhmu. Kirimkan padaku sekarang juga," perintah Arlan tanpa basa-basi. "Jika dalam lima menit foto itu tidak ada, aku akan pulang sekarang juga dan menghukummu di depan Mbak Lasmi."
Amara gemetar. Dengan tangan berkeringat, ia memilih sebuah líñğéríé hitam yang hanya terdiri dari helaian kain ťílé transparan. Ia menanggalkan seluruh pakaiannya, membiarkan tubuhnya yang penuh tanda merah itu terbungkus kain tipis yang sama sekali tidak menutupi púťíñğñýá maupun area báẃáhñýá yang mulus.
Ia mengambil foto selfie, memperlihatkan dadanya yang membal dan lekukan pinggangnya. Amara memejamkan mata saat menekan tombol send.
Arlan yang sedang berada di ruang rapat, membuka pesan itu. Rahangnya mengeras seketika. Foto itu memperlihatkan Amara yang nampak begitu polos namun liar. Púťíñğñýá yang pink kemerahan nampak menonjol menabrak kain, dan dari sudut foto, Arlan bisa melihat sedikit area vñá*-nya yang baru ia cukur habis semalam.
Arlan berdeham, menyesuaikan posisi duduknya karena ķéjáñťáñááññýá tiba-tiba menegang hebat di balik celana mahalnya. Ia mengetik balasan singkat:
"Sangat menggoda. Basahi jarimu dan masukkan ke báẃáh śáñá, lalu ambil foto satu lagi. Aku ingin melihat seberapa báśáh kau merindukanku sekarang, atau aku akan menyuruh supir menjemputmu ke kantor untuk melakukannya di báẃáh meja rapat ini."
Amara yang membaca pesan itu hampir menjatuhkan ponselnya. Ia merosot duduk di lantai, merasa tubuhnya mulai memanas hanya karena perintah lewat teks tersebut.