NovelToon NovelToon
Cinta Di Orang Yang Sama

Cinta Di Orang Yang Sama

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Cintapertama / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:6.6k
Nilai: 5
Nama Author: Yun Alghff

Seorang Gadis berambut kepang dua dengan kacamata bulat bernama Arabella Bellvania Laurent. Gadis kutu buku yang menyukai kapten basket bernama Arslan. Namun sayang Arslan mengajak Abel berpacaran hanya untuk sebuah permainan dari teman-temannya. Sebuah ciuman pertama bagi Abel terus membekas meski kenyataan pahit bahwa hubungannya adalah sebuah taruhan. 5 tahun berlalu, keduanya belum dapat mendapatkan cinta sejati masing-masing.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yun Alghff, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

13. Hari Bahagia Kakak

Waktu bergulir seperti deret angka yang tak terputus. Lima tahun telah berlalu begitu cepat. Abel bukan lagi gadis berkuncir dua yang gemetar saat berbohong. Ia kini tumbuh menjadi wanita muda yang anggun, mahasiswa psikologi yang tenang, meski di balik kacamatanya, binar matanya selalu menyimpan sedikit kabut rahasia.

Malam itu, kediaman keluarga Laurent disulap menjadi taman bunga yang megah. Alunan musik klasik mengiringi tawa para tamu. Di pelaminan, Reno tampak sangat gagah dengan setelan jas hitamnya, bersanding dengan Sarah, wanita yang telah ia perjuangkan sejak masa kuliah dan menunggu sampai koas Sarah selesai—seorang wanita cerdas dan berhati lembut yang menjadi satu-satunya orang yang bisa menjinakkan sifat keras Reno.

Setelah acara resepsi yang melelahkan, Abel masuk ke kamar pengantin untuk menemui kakak iparnya. Sarah sedang duduk di depan cermin, melepas rangkaian bunga melati dari rambutnya, sementara Reno sedang sibuk menyalami kerabat di lantai bawah.

"Kak Sarah..." panggil Abel pelan.

Sarah menoleh dan tersenyum tulus. "Eh, Abel. Sini, Sayang. Bantuin Kakak lepas kancing belakang gaun ini dong, susah banget."

Abel mendekat, jemarinya yang ramping bergerak lincah membantu Sarah. Di dalam keheningan itu, Sarah bisa merasakan ada sesuatu yang berat di pundak Abel. Sebagai sosok yang dekat dengan Abel selama tiga tahun terakhir, Sarah tahu ada satu ruang di hati adik iparnya itu yang terkunci rapat.

"Abel, kamu kenapa? Dari tadi Kakak liat kamu murung terus," ucap Sarah lembut. "Kamu boleh bohongi Kakak mu, tapi tidak dengan aku. Katakan apa yang mengganjal pikiranmu?"

Abel terdiam sejenak, lalu ia duduk di pinggir tempat tidur, menunduk menatap buket bunga yang tergeletak di sana. "Kak... boleh aku tanya sesuatu?"

"Tentu, apa itu?"

"Apa Kakak pernah merasa... kalau mencintai seseorang itu seperti mencoba memegang air? Semakin erat digenggam, semakin dia hilang, tapi bekas basahnya nggak pernah benar-benar kering di tangan kita."

Sarah menghentikan aktivitasnya dan berbalik menatap Abel dengan penuh empati. "Kamu lagi kangen sama dia, ya? Sosok yang sering kamu ceritakan lewat kiasan itu?"

Air mata yang sejak tadi ditahan Abel akhirnya jatuh juga. "Beberapa hari ini aku terus memimpikannya. Rasa yang aku kubur bertahun-tahun kini menganga kembali. Rindu itu dan rasa kecewa berpadu menjadi satu, menciptakan rasa yang menyesakkan."

Abel menarik napas panjang, suaranya bergetar. "Setelah lima tahun berlalu, aku pikir apa yang Kak Reno lakukan ada benarnya. Kak Reno sangat membencinya. Dia bilang Arslan itu racun. Aku akui itu, karena ulahnya aku merasakan sakit hati paling dalam. Cinta yang aku rasa ternyata sebuah taruhan. Tapi di balik itu semua, Arslan adalah satu-satunya orang yang membuat aku merasa 'terlihat' di saat semua orang menganggap ku hanya debu perpustakaan. Sampai sekarang, aku masih sering bertanya-tanya... apa dia benar-benar pernah mencintaiku, atau aku hanya bagian dari sandiwara yang pernah dia lakukan?"

Abel menceritakan semuanya pada Sarah— hanya pada Sarah, Abel berani mengungkap isi hatinya. Jika Kakaknya tahu bahwa selama ini adiknya masih menyimpan rasa pada Arslan, mungkin Reno akan bertindak sesuatu yang akan menyakiti salah satunya. Hadirnya Sarah membuat Abel merasa diperlakukan layaknya seorang adik pada umumnya.

Sarah mendekat dan memeluk Abel erat. "Kak Reno melakukan semua itu karena dia sayang kamu, Bel. Meski mungkin caranya salah. Tapi Arslan... jika dia benar-benar takdirmu, dia akan kembali dengan cara yang tidak pernah kamu duga."

Tiba-tiba, pintu kamar terbuka. Reno masuk dengan wajah ceria yang mendadak berubah serius saat melihat adiknya menangis di pelukan istrinya.

"Abel? Ada apa? Kenapa nangis di hari bahagia gue?" tanya Reno, suaranya melembut namun tetap protektif.

Abel segera menghapus air matanya dan tersenyum paksa. "Nggak apa-apa, Kak. Cuma terharu akhirnya Kakak ada yang ngurusin, biar nggak galak lagi sama aku."

Setelah pesta selesai, semuanya kembali pada aktivitasnya. Kini suasana di kediaman Laurent berubah total menjadi penuh kehangatan yang selama ini hanya dirasakan Abel melalui layar video call. Kepulangan Ayah dan Bunda dari Jerman membawa kelengkapan yang selama ini hilang dari rumah itu. Bau masakan rumahan, tawa yang memenuhi ruang makan, dan kehadiran Sarah sebagai anggota keluarga baru menciptakan harmoni yang sempurna.

Seharian mereka sibuk untuk mempersiapkan acara keluarga. Malam itu, meja makan kayu panjang yang biasanya hanya diisi oleh Reno dan Abel, kini penuh dan sesak. Bunda sibuk menata piring-piring berisi masakan khas Nusantara yang sangat ia rindukan, sementara Ayah duduk di kepala meja, berbincang serius namun santai dengan Reno mengenai perkembangan teknologi di tanah air.

"Sarah, Bunda benar-benar berterima kasih kamu mau sabar menghadapi Reno yang keras kepala ini," ujar Bunda sambil menuangkan teh hangat untuk menantunya.

Sarah tertawa kecil, melirik Reno yang sedang asyik mengunyah rendang. "Reno sebenarnya lembut banget, Bun. Cuma memang protektifnya itu kadang luar biasa, apalagi kalau sudah menyangkut Abel."

Ayah tertawa mendengar ucapan Sarah. "Itu turunan dari Ayah. Dulu Bunda juga diproteksi habis-habisan."

Abel hanya tersenyum tipis mendengarkan percakapan itu. Ia merasa sangat bersyukur. Kehadiran Sarah benar-benar menjadi jembatan. Sarah adalah orang yang bisa menenangkan Reno saat emosinya meluap, dan menjadi pendengar yang baik bagi Abel saat ia merasa terkekang.

Setelah makan malam usai, Ayah dan Bunda memanggil Reno dan Sarah ke ruang kerja untuk membicarakan hadiah pernikahan—sebuah aset perusahaan yang akan dikelola Reno di Indonesia. Abel memilih untuk duduk di balkon belakang, menatap taman yang diterangi lampu-lampu hias, cukup lama.

Sarah menyusulnya membawa dua cangkir cokelat panas. Ia memberikan satu pada Abel.

"Lagi mikirin apa, Bel? Tadi Ayah bilang kamu akan mulai magang minggu depan ya?" tanya Sarah lembut.

Abel mengangguk. "Iya, Kak. Di perusahaan teknologi yang baru buka cabang di Jakarta. Entah bagian apa yang harus aku pegang, meneliti isi pikiran orang-orang, mungkin."

Sarah tertawa mendengar ucapan Abel. "Tidak apa-apa dong, mungkin bagian HRD yang menerima karyawan baru. Kamu ini 'kan pintar, jadi bisa memilah orang-orang yang berkompeten untuk bergabung di perusahaan."

Abel hanya tersenyum, mungkin ada benarnya juga. Ia harus mulai fokus pada satu kegiatan, agar dapat melupakan Arslan dengan cepat. Bermimpi kembali tentangnya membuat dada Abel sakit. Abel hanya berharap semoga tidak ada lagi pertemuan dengan Arslan yang menyesakan dadanya.

Saat rumah mulai sepi dan semua orang sudah masuk ke kamar masing-masing, Reno menghampiri Abel yang masih berada di depan laptopnya. Reno meletakkan sebuah kotak kecil di meja Abel.

"Hadiah dari gue. Karena lo udah jadi adek yang baik dan nggak 'aneh-aneh' selama gue sibuk ngurusin nikahan kemarin," ucap Reno dengan nada gengsi yang khas.

Abel membukanya. Sebuah smartwatch keluaran terbaru yang terintegrasi dengan sistem keamanan yang Reno buat sendiri.

"Ini ada sensor daruratnya. Kalau ada apa-apa, lo tinggal tekan dua kali, lokasimu langsung masuk ke HP gue dan Sarah," jelas Reno.

Abel tertawa. "Tetap aja ya, Kak. Nggak bisa lepas dari tracking."

Reno mengacak rambut Abel. "Itu karena gue sayang sama lo, Bel. Gue cuma mau pastiin adek gue aman sekarang. Dunia kerja itu lebih keras dari dunia sekolah."

"Tapi aku bukan anak kecil lagi, Kak."

" Bagi gue lo tetap adik kecil gue. Lo harus bahagia, Bel. Kakak gak mau lo terus bersedih." Ucap Reno dan memeluk adiknya.

1
Ariany Sudjana
tetap waspada yah dokter Arslan, bagaimanapun kamu dokter, konglomerat pula, pasti banyak pelakor yang ingin menjadi istri kamu
Mifhara Dewi: bumbu kehidupan tetap akan di sajikan. tunggu bab selanjutnya ya Kak
total 1 replies
Ariany Sudjana
puji Tuhan, tinggal langkah selanjutnya Arslan dan Abel
Mifhara Dewi: mau seperti apa nantinya Kak? langsung sat set atau belok2 dulu?
total 1 replies
Naomi Willem Tuasela
semangatttt Thor 👊🏼😇💙💗
Mifhara Dewi: terimakasih Kak
total 1 replies
Mifhara Dewi
Satu saran dari kalian adalah penyemangat untuk ku terus berkarya 🥰🙏
Dwi Sulistyowati
lanjut kak seru cerita nya
Mifhara Dewi: di tunggu updatenya ya kak. kita usahakan 1 hari bisa up 3 bab
total 1 replies
kucing kawai
Bagus bngt
Mifhara Dewi: terimakasih banyak Kak
total 1 replies
kucing kawai
up yg banyak ya thor
Mifhara Dewi: terimakasih kak, di tunggu ya bab selanjutnya.
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!