Menjadi Takara tidaklah mudah. Bagaimana rasanya sahabatmu satu-satunya sekaligus orang yang kamu cintai dalam diam dimiliki oleh jutaan orang di dunia? Dia bersinar terang, terlalu terang hingga Takara tak sanggup melihatnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soju Kimchizz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bersaing dengan Bayangan Masa Lalu
Berita tentang kepulangan Takara dari rumah sakit sampai ke telinga Jake melalui salah satu staf agensi yang juga bekerja di lokasi proyek. Jake menghela napas panjang, sebuah beban berat seolah terangkat dari dadanya. Namun, kelegaan itu hanya bertahan sekejap sebelum kabar lanjutannya datang seperti hantaman ombak dingin.
"Takara sudah di apartemennya, Jake. Tapi sepertinya dia tidak sendirian. Arlo mengambil cuti demi merawatnya di rumah."
Jake mengepalkan tangannya di bawah meja rias. Di depan cermin, ia melihat wajahnya sendiri yang tampak sangat kontradiktif, seorang idola yang dicintai jutaan orang, namun kalah telak oleh seorang pria biasa dalam hal menjadi "ada".
"Selalu dia," desis Jake pedih. "Saat Takara jatuh, Arlo yang tangkap. Saat Takara sakit, Arlo yang jaga. Terus gue... gue ngapain aja selama ini?"
Suasana di waiting room gedung agensi cukup ramai dengan tawa para member lainnya yang baru saja selesai melakukan latihan fisik. Di tengah keriuhan itu, Ni-ki menghampiri Jake yang sedang melamun menatap jendela.
"Hyung, acara malam akrab agensi tiga hari lagi, kita diminta bawain satu lagu," ucap Ni-ki sambil menepuk bahu Jake. "Manajer bilang ini acara santai, tapi semua staf proyek juga bakal diundang, termasuk tim arsiteknya Takara."
Jake tersentak. Malam akrab agensi. Itu artinya Takara akan hadir. Dan itu artinya, ia akan melihat Takara bersama Arlo dalam jarak yang sangat dekat, di bawah pengawasan seluruh mata orang-orang di agensi.
"Satu lagu, ya?" tanya Jake pelan.
"Iya, lagu ballad yang biasa lo suka," jawab Ni-ki. "Lo oke kan, Hyung? Kok muka lo mendadak pucat lagi?"
Jake hanya memaksakan sebuah senyum tipis. "Gue oke, Ki. Kasih tahu yang lain, gue bakal latihan vokal lebih keras buat lagu ini."
Sementara itu, di apartemen Takara, suasana terasa sangat tenang. Arlo sedang di dapur, membuatkan bubur ayam hangat dan memotong beberapa buah segar. Takara duduk di sofa dengan balutan selimut tebal, menatap layar TV yang mati.
"Jangan banyak pikiran dulu, Ra," ucap Arlo sambil meletakkan nampan makanan di depan Takara. "Dokter bilang stres kamu itu pemicu utamanya."
Takara menatap Arlo, lalu beralih ke ponselnya yang sedari tadi menunjukkan pesan-pesan masuk dari Jake yang belum ia balas. Ia merasa bersalah, namun ia juga merasa bahwa ini adalah jalan yang benar.
"Arlo, tiga hari lagi ada acara agensi. Kamu... mau dateng sama aku kan?" tanya Takara ragu.
Arlo berhenti memotong apel, lalu menatap Takara dalam-dalam. "Kalau itu yang kamu mau untuk nunjukin ke semua orang, termasuk dia, bahwa kita serius, aku bakal ada di sana."
Takara mengangguk pelan. Ia tahu malam akrab itu akan menjadi medan perang emosi. Ia akan melihat Jake di atas panggung, dan Jake akan melihatnya di bawah sana, menggandeng tangan pria lain.
———
Lampu kota Seoul yang berkedip di balik jendela besar apartemen Takara menjadi satu-satunya sumber cahaya temaram di ruangan itu. Takara terbangun dengan tenggorokan yang terasa gersang. Dengan langkah kaki yang masih sedikit gontai, ia keluar dari kamar menuju meja makan untuk mengambil segelas air.
Namun, langkahnya terhenti saat matanya menangkap sosok pria yang tertidur dalam posisi duduk di sofa ruang tamu. Arlo. Pria itu masih mengenakan kemeja yang sama dengan yang ia pakai saat menjemput Takara dari rumah sakit, hanya saja kini kancing atasnya sudah terbuka dan lengannya digulung hingga siku.
Arlo tidak pulang. Ia benar-benar menepati janjinya untuk menjaga Takara sepanjang malam, bahkan jika itu berarti ia harus tidur dengan posisi yang tidak nyaman.
Rasa haru menjalar di dada Takara. Ia meletakkan gelas airnya, lalu kembali ke kamar untuk mengambil sebuah selimut tebal dan hangat. Ia melangkah sepelan mungkin, mencoba tidak menimbulkan suara agar tidak mengusik mimpi pria itu.
Saat Takara perlahan membungkuk untuk menutupi tubuh Arlo dengan selimut, ia tidak menyadari bahwa Arlo sebenarnya adalah seorang light sleeper. Begitu ujung selimut menyentuh bahunya, tangan Arlo tergerak cepat namun lembut.
Dalam sekejap, Arlo menarik pergelangan tangan Takara, membuat gadis itu sedikit terpekik pelan karena terkejut.
"Eh, Arlo... aku cuma mau..."
Takara tidak sempat menyelesaikan kalimatnya. Tarikan lembut itu membuatnya terduduk di sisi sofa, tepat di samping Arlo.
Alih-alih melepaskannya, Arlo justru membawa Takara ke dalam dekapannya.
Takara membiarkan kepalanya bersandar di dada bidang pria itu. Ia bisa mendengar detak jantung Arlo yang stabil dan menenangkan.
Berbeda dengan debaran jantung Jake yang selalu penuh gairah dan emosi yang meledak-ledak, detak jantung Arlo terasa seperti pelabuhan yang aman. Hangat, tenang, dan terasa sangat tulus.
"Maaf, aku bangunin kamu ya?" bisik Arlo, suaranya serak khas orang baru bangun tidur. Tangannya kini mengusap lengan Takara yang terbalut selimut.
"Enggak, aku yang bangun karena haus," jawab Takara pelan. Ia mengeratkan sandarannya, menghirup aroma maskulin Arlo yang bercampur dengan wangi sabun yang bersih.
"Makasih ya, Arlo. Kamu beneran nggak pulang."
"Aku nggak bakal bisa tidur kalau nggak tau kamu aman di depan mataku," balas Arlo tulus. Ia mencium puncak kepala Takara singkat.
Di pelukan Arlo, Takara merasa dunia luar, termasuk segala hiruk-pikuk tentang ENHYPEN, fans yang agresif, dan egoisme Jake, terasa sangat jauh. Untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, ia merasa tidak perlu menjadi "orang kuat". Ia hanya perlu menjadi Takara yang dijaga.
Namun, di sudut hatinya, ia tahu bahwa dalam tiga hari lagi, ia harus berdiri di acara malam akrab agensi. Ia harus menghadapi Jake dengan status barunya sebagai kekasih Arlo.
"Arlo," panggil Takara lirih.
"Ya?"
"Tolong jangan lepasin aku, apa pun yang terjadi di acara agensi nanti."
Arlo mengeratkan pelukannya, seolah memberikan janji bisu. "Aku nggak akan pernah lepasin, Ra. Kecuali kamu sendiri yang minta."
Takara memejamkan mata, membiarkan keheningan malam dan deru napas Arlo menjadi distraksi dari badai di kepalanya. Di dalam pelukan ini, ia mencoba menata ulang kepingan hatinya yang hancur.
"Tolong, berlabuhlah di sini," pinta Takara dalam hati, memohon pada perasaannya sendiri agar mau menetap pada Arlo.
Ia tahu betul betapa besarnya ruang yang selama ini diisi oleh Jake. Selama bertahun-tahun hidup di Brisbane hingga pindah ke Korea, Jake adalah poros dunianya. Begitu besarnya cinta yang ia pendam, hingga Takara tidak pernah mengizinkan satu pria pun masuk ke hidupnya. Ia tidak pernah punya pasangan, bukan karena tidak ada yang mendekat, tapi karena standar dan ruang di hatinya sudah habis dipesan oleh sosok sahabat masa kecilnya itu.
Kini, Arlo datang dengan segala ketulusannya. Arlo adalah orang pertama yang berhasil mendobrak pintu yang selama ini terkunci rapat.
"Kamu mikirin apa, Ra?" tanya Arlo lembut, seolah bisa merasakan kegelisahan yang masih tersisa dari denyut nadi Takara.
"Mikirin betapa anehnya hidup ini," bohong Takara pelan. "Dulu aku pikir bakal sendirian selamanya."
Arlo mengeratkan pelukannya, dagunya bersandar di puncak kepala Takara. "Sekarang nggak lagi. Aku nggak akan biarin kamu ngerasa sendirian lagi, meskipun itu artinya aku harus bersaing sama bayangan masa lalu kamu.”
Takara tersentak kecil. Arlo tahu. Pria itu sadar betul bahwa ia sedang bertarung dengan hantu bernama Jake Brisbane. Namun, fakta bahwa Arlo tetap memilih tinggal membuat Takara merasa sangat berhutang budi sekaligus merasa dicintai dengan cara yang paling sehat.