NovelToon NovelToon
Istri Rahasia Dosen Killer

Istri Rahasia Dosen Killer

Status: tamat
Genre:Dosen / Nikahmuda / Aliansi Pernikahan / Pernikahan Kilat / Beda Usia / Tamat
Popularitas:28.1M
Nilai: 4.8
Nama Author: Desy Puspita

Niat hati mengejar nilai A, Nadine Halwatunissa nekat mendatangi kediaman dosennya. Sama sekali tidak dia duga jika malam itu akan menjadi awal dari segala malapetaka dalam hidupnya.

Cita-cita yang telah dia tata dan janjikan pada orang tuanya terancam patah. Alih-alih mendapatkan nilai A, Nadin harus menjadi menjadi istri rahasia dosen killer yang telah merenggut kesuciannya secara paksa, Zain Abraham.

......

"Hamil atau tidak hamil, kamu tetap tanggung jawabku, Nadin." - Zain Abraham

----

Plagiat dan pencotek jauh-jauh!! Ingat Azab, terutama penulis gamau mikir dan kreator YouTube yang gamodal (Maling naskah, dikasih suara lalu up seolah ini karyanya)

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Desy Puspita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 35 - Lagi Lagi Umi

"Maaf, Mas ... aku tidak tahu kalau artinya itu."

Nadin tertunduk malu, perkara jalanan becek itu ternyata membawa petaka. Tanpa sadar sang suami dibuat malu karena ulahnya. Nadin tidak berbohong, memang sama sekali tidak mengerti apa maknanya.

Setelah dijelaskan sampai ke akarnya, barulah dia paham dan mengerti kenapa Zain sampai semalu itu. Bahkan, dirinya juga ikut-ikutan malu bahkan menatap sang suami juga tidak berdaya.

Sejak tadi masih fokus dengan luka di jemari Zain. Sebenarnya tidak terlalu parah, hanya saja Nadin agak sedikit berlebihan dan khawatir infeksi nantinya. Mendapati perlakuan sang istri jelas Zain terima-terima saja. Tidak mungkin dia menolak walau lukanya biasa saja. Kapan lagi dipegang-pegang seperti itu, pikir Zain dalam hati.

Hanya luka kecil, tapi Nadin sampai heboh sekali dan mencari obat ke tetangganya karena di rumah tidak terlalu lengkap. Keduanya sepakat untuk masuk ke kamar, selain karena hendak mengobati lukanya, Zain juga butuh ruang untuk menjelaskan hal penting itu pada Nadin.

"Kamu tahunya apa?" Setelah cukup lama diam dan memandangi sang istri yang sejak tadi terdiam, Zain balik bertanya karena memang penasaran.

"Banyak, tapi kalau yang begitu mana aku tahu," ucapnya membela diri, percayalah untuk anak seusia Nadin dan hidupnya lurus-lurus saja memang ucapan Zain tidak akan sampai oleh logikanya.

Zain tahu itu, dan juga sengaja menggunakan istilah yang sekiranya tidak pernah terpikirkan oleh sang istri. Melihatnya bingung dan berusaha berpikir keras agaknya bukan hanya menjadi kebahagiaan di kelas, tapi di rumah.

Sialnya, kurangnya pengetahuan sang istri ke arah sana justru jadi bencana bagi Zain. Mertuanya jadi tahu, dan bisa dipastikan setelah ini mungkin citra Zain sebagai menantu soleh akan tercoreng seketika.

Mengingat hal itu, sungguh Zain ingin segera melarikan diri. Entah itu pulang atau pergi kemana terserah, yang jelas dia angkat kaki dari rumah ini karena malunya Zain sungguh luar biasa, bahkan lebih besar dari tubuhnya sendiri.

"Belajar lagi, biar tahu nanti."

"Apa perlu hal semacam itu dipelajari, Mas?"

"Tentu saja, hukumnya wajib khusus untukmu," ucap Zain tak terbantahkan, seenteng itu dia bicara hingga Nadin yang sudah banyak beban seketika mengeluh tentu saja.

"Kenapa juga jadi wajib? Bukannya hal-hal seperti itu bakal tahu sendiri?"

"Tidak ada ilmu yang murni bisa sendiri, semua yang ada di dunia ini harus dipelajari ... kenapa aku bilang wajib bagimu? Karena mulut kamu ini berbisa dan bisa jadi di masa depan ucapan-ucapanku yang seperti itu justru kamu sampaikan ke pihak lain dan akunya dibuat malu, paham?"

"Kalau soal itu, harusnya mas yang hati-hati dalam bicara ... atau kalau tidak minimal jangan pakai kata-kata kiasan biar aku tahu." Nadin masih merasa dirinya tidak salah, jelas saja dia berjuang di atas kebenaran menurutnya.

Zain yang kini dibuat terkejut akan ucapan sang istri hanya meneguk salivanya pahit. Agaknya, julukan *beo syar'i* yang melekat pada Nadin bukanlah isapan jempol belaka.

Beberapa kali Zain mendengar julukan itu, mahasiswi yang tak hanya pintar secara akademik ini memang terkenal pandai berdebat dan juga aktif organisasi. Hanya saja, di kelas Zain memang diam karena dosennya sendiri tidak mengizinkan siapapun bicara sejak kelas dimulai hingga selesai.

Kini, dengan sendirinya dia membuktikan bahwa mental berdebat dan adu argumentasi yang dimiliki sang istri tidak dapat disepelekan. Selalu saja ada jawaban dikala dia merasa posisinya tidak salah.

Tentang topik permasalahan mereka, memang benar adanya Zain lah yang perlu berhati-hati dalam bicara. Bukan dirinya harus mengorbankan waktu demi memperlajari ribuan kalimat konyol yang berkaitan dengan kegiatan di ranjang seperti tadi malam.

Walaupun sadar kesalahan bukan hanya ada pada Nadin, pria itu tetap merasa sebagai korban yang telah dipermalukan oleh sang istri dihadapan mertuanya. Lagi dan lagi, dia memakai jurus balik marah seperti kemarin.

Begitu dalam Zain menarik napas sebelum kemudian dia embuskan begitu perlahan. Nadin sadar akan hal itu, tapi kali ini dia tidak mau membujuk seperti kemarin. Karena kenapa? Dia sudah tahu cara untuk menghadapi pria itu bagaimana.

Tanpa menunggu perintah, tanpa menunggu kode atau semacamnya, Nadin berjinjit dan mengecup pipi Zain begitu singkat. Cara minta maaf paling mujarab karena detik itu juga Zain tersenyum tipis, padahal kecupannya teramat singkat lantaran kaki Nadin tak begitu kuat untuk berjinjit lebih lama.

"*I'm sorry, Mr Zain*," ucap Nadin begitu lembut seraya mendongak, matanya yang bening membuat suaminya tak berdaya, pria itu tersenyum simpul sebelum kemudian menunduk demi menyesuaikan tinggi Nadin.

"*That's okay, but don't do it again, my beautiful wife*." Nadin hanya meminta maaf dengan kalimat formal, tapi Zain justru membalas dengan kata-kata manis yang membuat detak jantung Nadin seolah tak normal.

Tak lama usai melontarkan kata itu, Zain juga ingin membalas ciumannya. Namun, satu centi lagi menuju tersentuh, teriakan Umi Fatimah dari luar seketika menyadarkan keduanya.

"Halwa ...."

Kedua kalinya suara umi terdengar, Zain menghela napas kasar seraya melihat ke arah pintu yang tadi sempat Zain tutup. "Bentar, Mas."

Zain mengangguk, menjauhkan wajahnya dan mempersilahkan sang istri untuk menemui uminya. Seketika itu juga Zain menggigit bibir seraya menggerutu dalam hati. "*Sebenarnya umi ada di pihakku atau tidak*?"

.

.

Cukup lama Zain menunggu, istrinya keluar entah untuk apa. Baru saja hendak kembali merebahkan tubuhnya di atas tempar tidur, sang istri kembali tiba-tiba masuk dengan wajah sumringah seolah baru saja menang lotre.

"Kenapa kamu?"

"Jalan-jalan yuk, Mas."

Zain mengerutkan dahi, kebetulan dia sangat bosan menunggu malam di kamar, mendengar ajakan Nadin jiwanya seolah bangkit. "Jalan-jalan?" tanya Zain memastikan, jujur dia tidak ingin berekspetasi tinggi karena khawatir diajak jalan kaki ke depan gang sana.

"Heum, umi minta beliin payet ... yang kemarin kurang katanya."

"Jalan kaki?"

Khawatir sekali jika kakinya itu digunakan untuk berpergian jauh, dia pikir Nadin akan setega itu. "Tengkurap, Mas," balas Nadin sebal sendiri yang membuat Zain tergelak saat itu juga.

"Kan nanya, Sayang apa salahnya?"

"Sudah jelas-jelas aku bawa helm dua, ya naik motorlah."

Boddoh memang Zain, dia kembali terbahak menertawakan dirinya. Musnah sudah rasa malu yang tadi bahkan membuatnya tidak berani keluar, begitu mendengar ajakan Nadin pria itu segera beranjak tentu saja.

Ada gerangan apa uminya sampai meminta beli payet ke tempat yang Zain ketahui cukup jauh dari sini. Padahal toko di depan sana juga pasti ada, hanya saja sebagai menantu Zain menurut saja.

"Aku saja yang bawa," ucap Nadin yang kini naik lebih dulu ke atas motornya.

"Aku saja, sejak kapan suami dibonceng?"

"Sejak hari ini, tangan mas luka ... jadi biar aku saja, buruan naik." Nadin juga bisa keras kepala, kemungkinan besar hal itu terjadi karena dia sudah merindukan motornya hingga luka Zain yang sekecil itu dia jadikan alasan. "Bisa?" tanya Zain ragu sekali, sama sekali tidak ada yakinnya.

"Bisa, aku dulu pas SMA jago balap, Mas," celotehnya seraya mulai menghidupkan motor yang agaknya sudah lama tidak digunakan itu.

"Oh iya? Balap apa?"

"Balap karung," jawab Nadin santai tanpa menatap Zain yang kini terdiam dan lidahnya mendadak kelu. "*Menyesal aku bertanya*."

.

.

- **To Be Continued** -

1
Nurul Aisyah
nah loh ditagih kan wkwkwk 🤣
Zaara
aska bikin bengek mulu🤣🤣🤣
Zaara
serius q bacanya ngakak ga jdi sedih 🤣🤣🤣
Nurul Aisyah
cie cie wkwkwk
Bucinnya Baekhyun🐶
bener bener sih zain 🤣🤣🤣🤣
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
𝙡𝙖𝙝 𝙣𝙖𝙙𝙞𝙣𝙚 𝙠𝙖𝙩𝙖𝙣𝙮𝙖 𝙖𝙡𝙞𝙢 𝙩𝙥 𝙣𝙜𝙪𝙢𝙥𝙖𝙩𝙣𝙮𝙖 𝙨𝙖𝙢𝙥𝙚 𝙠𝙖𝙩𝙖 𝙝𝙚𝙬𝙖𝙣 𝙜𝙞𝙩𝙪 𝙠𝙖𝙣 𝙖𝙣𝙚𝙝 𝙩𝙧𝙨 𝙢𝙖𝙡𝙖𝙝 𝙣𝙮𝙖𝙡𝙖𝙝𝙞𝙣 𝙤𝙧𝙖𝙣𝙜 𝙡𝙖𝙞𝙣 𝙡𝙖𝙜...
mira maryati
kerennnn musibah membawa berkah 🤭
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
𝙥𝙖𝙡𝙞𝙣𝙜 𝙜𝙖 𝙨𝙪𝙠𝙖 𝙨𝙖𝙢𝙖 𝙤𝙧𝙖𝙣𝙜 𝙮𝙜 𝙣𝙜𝙖𝙠𝙪𝙣𝙮𝙖 𝙩𝙚𝙢𝙚𝙣 𝙙𝙚𝙠𝙚𝙩 𝙩𝙥 𝙨𝙚𝙜𝙖𝙡𝙖 𝙥𝙚𝙣𝙜𝙚𝙣 𝙩𝙖𝙪 𝙖𝙡𝙞𝙖𝙨 𝙩𝙚𝙧𝙡𝙖𝙡𝙪 𝙤𝙫𝙚𝙧 𝙠𝙚𝙥𝙤𝙣𝙮𝙖 𝙢𝙖𝙨𝙖𝙡𝙖𝙝 𝙥𝙧𝙞𝙗𝙖𝙙𝙞 𝙩𝙚𝙢𝙚𝙣𝙣𝙣𝙮𝙖 𝙨𝙚𝙣𝙙𝙞𝙧𝙞 𝙮𝙜 𝙨𝙚𝙝𝙖𝙧𝙪𝙨𝙣𝙮𝙖 𝙟𝙞𝙝𝙖𝙣 𝙣𝙜𝙚𝙧𝙩𝙞 𝙠𝙖𝙡𝙖𝙪 𝙣𝙖𝙙𝙞𝙣𝙚 𝙜𝙖 𝙢𝙖𝙪 𝙘𝙚𝙧𝙞𝙩𝙖 𝙗𝙚𝙧𝙖𝙧𝙩𝙞 𝙜𝙖 𝙪𝙨𝙖𝙝 𝙩𝙧𝙨2𝙖𝙣 𝙣𝙮𝙚𝙧𝙖𝙣𝙜 𝙥𝙚𝙣𝙜𝙚𝙣 𝙩𝙖𝙪 𝙠𝙧𝙣 𝙞𝙩𝙪 𝙣𝙖𝙢𝙖𝙣𝙮𝙖 𝙜𝙖 𝙥𝙪𝙣𝙮𝙖 𝙖𝙙𝙖𝙗.
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
𝙨𝙮𝙪𝙠𝙪𝙧𝙡𝙖𝙝 𝙜𝙖 𝙜𝙖𝙣𝙜𝙜𝙪 𝙡𝙜 𝙝𝙖𝙢𝙖𝙣𝙮𝙖 𝙡𝙖𝙜𝙞𝙖𝙣 𝙗𝙡𝙤𝙠𝙞𝙧 𝙨𝙖𝙟𝙖 𝙨𝙚𝙢𝙪𝙖 𝙩𝙚𝙣𝙩𝙖𝙣𝙜 𝙢𝙖𝙣𝙩𝙖𝙣 𝙠𝙖𝙡𝙖𝙪 𝙪𝙙𝙖𝙝 𝙜𝙖 𝙥𝙚𝙣𝙩𝙞𝙣𝙜 𝙢𝙖𝙝 𝙣𝙜𝙖𝙥𝙖𝙞𝙣𝙨𝙝 𝙙𝙞𝙨𝙞𝙢𝙥𝙖𝙣 𝙯𝙖𝙞𝙣 𝙣𝙤 𝙨𝙖𝙢𝙖 𝙢𝙚𝙙𝙨𝙤𝙨𝙣𝙮𝙖.
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
𝙨𝙖𝙢𝙖2 𝙨𝙖𝙡𝙖𝙝, 𝙣𝙖𝙙𝙞𝙣𝙚 𝙝𝙖𝙧𝙪𝙖𝙣𝙮𝙖 𝙩𝙖𝙣𝙮𝙖 𝙗𝙖𝙞𝙠 𝙗𝙖𝙞𝙠 𝙨𝙖𝙢𝙖 𝙯𝙖𝙞𝙣 𝙟𝙖𝙣𝙜𝙖𝙣 𝙡𝙖𝙣𝙜𝙨𝙪𝙣𝙝 𝙢𝙖𝙧𝙖𝙝 𝙩𝙖𝙣𝙥𝙖 𝙗𝙞𝙘𝙖𝙧𝙖 𝙥𝙚𝙡𝙖𝙣2 𝙙𝙪𝙡𝙪 𝙢𝙖𝙚𝙣 𝙟𝙖𝙢𝙗𝙖𝙠 𝙩𝙧𝙨 𝙯𝙖𝙞𝙣 𝙟𝙪𝙜𝙖 𝙨𝙖𝙡𝙖𝙝𝙣𝙮𝙖 𝙠𝙖𝙧𝙚𝙣𝙖 𝙨𝙖𝙖𝙩 𝙞𝙨𝙩𝙧𝙞𝙗𝙨𝙚𝙙𝙖𝙣𝙜 𝙨𝙚𝙧𝙞𝙪𝙨 𝙝𝙖𝙧𝙪𝙨𝙣𝙮𝙖 𝙩𝙖𝙣𝙜𝙜𝙖𝙥𝙞 𝙙𝙜𝙣 𝙩𝙞𝙙𝙖𝙠 𝙗𝙚𝙧𝙘𝙖𝙣𝙙𝙖 𝙠𝙧𝙣 𝙖𝙙𝙖 𝙢𝙖𝙨𝙖𝙣𝙮𝙖 𝙨𝙖𝙖𝙩 𝙨𝙚𝙧𝙞𝙪𝙨 𝙣 𝙗𝙚𝙧𝙘𝙖𝙣𝙙𝙖 𝙗𝙚𝙙𝙖 𝙟𝙜𝙣 𝙖𝙥𝙖2 𝙙𝙞 𝙖𝙣𝙜𝙜𝙖𝙥 𝙨𝙚𝙥𝙚𝙡𝙚 𝙩𝙞𝙖𝙥 𝙖𝙙𝙖 𝙮𝙜 𝙨𝙚𝙧𝙞𝙪𝙨/𝙣𝙚𝙧𝙘𝙖𝙣𝙙𝙖 𝙝𝙖𝙧𝙪𝙨 𝙗𝙞𝙟𝙖𝙠 𝙣𝙮𝙞𝙠𝙖𝙥𝙞 𝙥𝙙 𝙩𝙚𝙢𝙥𝙖𝙩𝙣𝙮𝙖.
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
𝙤𝙬𝙝 𝙯𝙖𝙞𝙣 𝙣𝙪𝙩𝙪𝙝 𝙥𝙬𝙣𝙜𝙖𝙠𝙪𝙖𝙣 𝙩𝙪𝙝 𝙣𝙖𝙙.😄
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
𝙝𝙖𝙙𝙚𝙪𝙪𝙝𝙝 𝙣𝙜𝙚𝙧𝙚𝙣𝙙𝙖𝙝𝙞 𝙣𝙖𝙙𝙞𝙣𝙚 𝙙𝙜𝙣 𝙣𝙜𝙖𝙣𝙜𝙜𝙖𝙥 𝙣𝙖𝙙𝙞𝙣𝙚 𝙬𝙖𝙣𝙞𝙩𝙖 𝙧𝙚𝙣𝙙𝙖𝙝𝙖𝙣 𝙨𝙖𝙢𝙗𝙞𝙡 𝙩𝙚𝙧𝙩𝙖𝙬𝙖 𝙙𝙞𝙠𝙞𝙧𝙖 𝙡𝙚𝙡𝙪𝙘𝙤𝙣 𝙖𝙥𝙖, 𝙖𝙥𝙖 𝙡𝙖𝙜𝙞 𝙗𝙞𝙡𝙖𝙣𝙜 𝙙𝙞 𝙙𝙚𝙥𝙖𝙣 𝙨𝙪𝙖𝙢𝙞𝙣𝙮𝙖 𝙮𝙖 𝙟𝙚𝙡𝙖𝙨 𝙖𝙪𝙩𝙤 𝙣𝙜𝙖𝙢𝙪𝙠 𝙡𝙖𝙝 𝙨𝙞𝙠𝙞𝙧𝙖 𝙣𝙖𝙙𝙞𝙣𝙚 𝙥𝙖𝙠 𝙖𝙥𝙖... 𝙖𝙣𝙜𝙜𝙖𝙧𝙖 𝙢𝙪𝙡𝙪𝙩𝙢𝙪 𝙣 𝙠𝙚𝙥𝙞𝙣𝙩𝙖𝙧𝙖𝙣𝙢𝙪 𝙨𝙚𝙧𝙩𝙖 𝙠𝙚𝙙𝙪𝙙𝙪𝙠𝙖𝙣𝙢𝙪 𝙨𝙚𝙗𝙖𝙜𝙖𝙞 𝙙𝙤𝙨𝙚𝙣 𝙜𝙖 𝙨𝙚𝙨𝙪𝙖𝙞 𝙙𝙜𝙣 𝙖𝙠𝙝𝙡𝙖𝙠𝙢𝙪.
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
𝙡𝙖𝙜𝙞𝙖𝙣 𝙟𝙞𝙝𝙖𝙣 𝙖𝙣𝙚𝙝 𝙗𝙞𝙖𝙧𝙥𝙪𝙣 𝙠𝙖𝙢𝙪 𝙩𝙚𝙢𝙖𝙣 𝙙𝙚𝙠𝙖𝙩𝙣𝙮𝙖 𝙣𝙖𝙙𝙞𝙣𝙚 𝙩𝙥 𝙪𝙩𝙠 𝙢𝙖𝙨𝙖𝙡𝙖𝙝 𝙥𝙧𝙞𝙗𝙖𝙙𝙞 𝙜𝙖 𝙝𝙖𝙧𝙪𝙨 𝙭 𝙠𝙖𝙢𝙪 𝙩𝙖𝙪 𝙠𝙧𝙣 𝙤𝙧𝙖𝙣𝙜 𝙗𝙪𝙩𝙪𝙝 𝙥𝙧𝙞𝙫𝙖𝙨𝙞.
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
𝙯𝙖𝙞𝙣 𝙠𝙖𝙮𝙖𝙠 𝙗𝙤𝙘𝙖𝙝 𝙮𝙜 𝙢𝙞𝙣𝙩𝙖 𝙙𝙞 𝙗𝙚𝙡𝙞𝙞𝙣 𝙥𝙚𝙧𝙢𝙬𝙣 𝙨𝙖𝙢𝙖 𝙘𝙤𝙠𝙡𝙖𝙩 𝙣𝙜𝙚𝙧𝙚𝙣𝙜𝙚𝙠𝙣𝙮𝙖.😄
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
𝙬𝙖𝙙𝙪𝙪𝙪𝙝𝙝𝙝 𝙨𝙚𝙧𝙚𝙢 𝙖𝙢𝙚𝙩 𝙝𝙪𝙠𝙪𝙢𝙖𝙣𝙣𝙮𝙖.😄
NORA SAFITRI
oooooeh, Zain😍😍
Maya Mawardi
somplak emang
Maya Mawardi
mati kutu
Maya Mawardi
menarik dan menghibur banget
Maya Mawardi
ya ampuuun beneran pasangan somplak ini mah ketawa terus jadinya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!