NovelToon NovelToon
SHADOW OF DEATH

SHADOW OF DEATH

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Bad Boy
Popularitas:3.2k
Nilai: 5
Nama Author: Mr.Mounyenk

Kenzo Huang, pria keturunan Jepang&Cina yang terjebak dalam kasus palsu perdagangan barang ilegal, memasuki penjara dengan hati hampa dan sering diintimidasi oleh geng dalam tahanan. Sampai suatu hari, dia diselamatkan oleh Lin Dong – seorang tahanan yang ditangkap karena membela adik perempuannya, Lin Xian Mei. Meski berbeda latar belakang, mereka menjalin persahabatan yang seperti saudara kandung, berbagi cerita tentang keluarga dan harapan masa depan.
Demi membalas kebaikan Lin Dong, Kenzo Huang berjanji untuk mencari jejak dan menjaga adik serta ibu nya.
Dalam perjalanan mencari jejak sang adik Lin Dong, Kenzo Terlibat organisasi dunia bawah Shehua dan menjadikannya pembunuh bayaran yg di kenal dengan sebutan Shadow Of Death

(update setiap hari)

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mr.Mounyenk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab.25 — PENYELAMATAN DI KEGELAPAN

Kenzo terpaku di tempatnya duduk, matanya tak berkedip menatap panggung. Jari-jarinya menggenggam kursi begitu erat hingga buku-buku jarinya memutih.

Di sana, di bawah sorot lampu yang menyilaukan, berdiri Xiu Zhu tetapi bukan sebagai manusia, melainkan seperti barang, seperti hewan, seperti sampah yang sedang dipamerkan untuk dijual.

"Barang spesial malam ini," suara Cao Xiu terdengar licik, mengalir seperti ular yang baru saja melahap mangsanya. "Komandan pasukan elit The Eagle. Wanita yang berani mengintai kita. Siapa yang berminat..."

Ia berhenti sejenak, lalu bertepuk tangan sekali saja. "Memiliki tubuhnya? Memiliki hidupnya?"

Beberapa tangan terangkat dari antara para hadirin seorang para pria tua dengan wajah serakah dan mata penuh nafsu, tangan mereka gemetar ingin meraba. "Sepuluh juta,"

Seru yang satu. "Lima belas,"

Sahut yang lain. "Dua puluh."

Suara-suara itu beradu dengan cepat dan panas, seperti pertarungan, hanya saja yang digunakan bukan tinju atau pedang, melainkan uang—uang untuk membeli hidup seseorang.

Kenzo diam, terlalu diam. Matanya menyala merah, bukan sebagai metafora, melainkan api yang benar-benar ada, api yang ingin membakar semua yang ada di ruangan ini. "(Diam,)" bisiknya dalam hati. "(Jangan gerak.)" Namun tubuhnya ingin bergerak, ingin melompat, ingin membunuh, ingin menghancurkan semua.

"Daniel," ucapnya pelan, hampir tak terdengar, tapi Daniel mendengar—telinganya memang terlatih. "Siapkan orang di luar. Kalau ada apa-apa... serbu."

Daniel mengangguk cepat tanpa berkata-kata. Tangannya menyelinap ke saku, menyentuh ponsel, dan mengetik dengan cepat tanpa perlu melihat layar.

"Tiga puluh juta!" seru seorang pria berjas dari belakang, wajahnya penuh jerawat, tangannya gemetar karena nafsu sekaligus kebencian.

Xiu Zhu hanya diam di panggung, tubuhnya terhuyung-huyung. Matanya terbuka, tapi kosong seperti sudah mati di dalam, seperti sudah tak punya harapan lagi.

("Aku akan selamat kamu,") ucap Kenzo dalam hati, bukan dengan suara. ("Walau harus membunuh semua orang di sini.")

Lelang berlanjut dan harga terus merangkak naik empat puluh juta, lima puluh, enam puluh. Kenzo berdiri perlahan, seperti harimau yang baru saja bangun dari tidurnya, seperti monster yang akhirnya dilepas dari rantainya.

"Seratus juta."

Suaranya datar dan dingin, tanpa emosi, namun cukup membuat semua orang menoleh dengan terkejut. Cao Xiu tersentak, matanya menyipit mencoba menilai siapa pria ini.

"Seratus juta dari Tuan Kenzo," ucapnya, suaranya tetap licik meski keraguan mulai terlihat. "Ada yang lebih tinggi?"

Sunyi. Seperti sunyi sebelum badai, sebelum pembunuhan terjadi.

"Seratus juta sekali. Seratus juta dua kali. Seratus ju—"

"Seratus lima puluh juta," potong suara dari belakang. Pria lain, lebih tua dan lebih gemuk, wajahnya penuh luka dan tangan penuh cincin, matanya memancarkan dendam.

Kenzo menoleh perlahan. Matanya bertemu dengan mata pria itu dingin, menusuk, seperti dua bilah pedang yang saling bertabrakan.

"Seratus lima puluh juta dari Tuan Wei," Cao Xiu tersenyum lebar, seolah menemukan pertunjukan yang lebih menarik. "Ada yang lebih tinggi lagi?"

Kenzo berdiri tegak, tangan di saku, jari-jarinya menggenggam pisau yang dingin dan tegang. "Dua ratus juta," ucapnya lebih keras, lebih berbahaya, lebih gila.

Wei terkejut, wajahnya memerah karena kemarahan dan kebencian, tapi juga karena ketakutan. Ia melihat mata Kenzo itu bukan mata manusia, melainkan mata monster.

"Tuan Wei?" Cao Xiu menunggu, menikmati ketegangan ini.

Wei diam terlalu lama, lalu bertepuk tangan cepat, seperti tanda menyerah. "Dua ratus juta untuk Tuan Kenzo. Xiu Zhu... milik Tuan Kenzo."

Xiu Zhu diturunkan dari panggung dan dibawa ke arah Kenzo. Langkahnya terhuyung-huyung, matanya masih kosong, seolah tak mengenali siapa pun, seolah tak percaya apa yang terjadi.

Kenzo duduk kembali dengan tenang, seolah tak ada yang baru saja terjadi, seolah ia baru membeli sebotol anggur, bukan manusia, bukan nyawa. Cao Xiu mengamatinya dari panggung, matanya menyipit penuh curiga, meski senyumnya tetap tersungging seperti ular, seperti pedang yang terselubung.

"Baik," ucapnya lantang, suaranya menggema. "Acara lelang selesai. Sekarang..."

Ia bertepuk tangan dua kali. Pintu besar di belakang panggung terbuka lebar.

"Acara puncak malam ini—pertarungan bebas!"

Dua pria besar bertato dan bertelanjang dada masuk, darah mengering di wajah mereka bekas dari pertarungan sebelumnya, dari malam-malam lain yang sama kejamnya.

"Di sebelah kiri, Li Wei, Sang Macan dari Utara!"

Li Wei berdiri seperti gunung tubuh kekar berotot, wajah penuh luka yang bertumpuk seperti peta perang. Matanya kecil tapi tajam, seperti mata binatang yang selalu lapar. Tangan besarnya diikat sarung tinju kotor dan berdarah, siap menghancurkan apa pun yang menghalanginya.

"Di sebelah kanan, Zhou Ming, Sang Serigala dari Selatan!"

Zhou Ming lebih atletis, tidak sebesar lawannya, tapi lebih cepat dan lebih licik. Matanya besar penuh hitungan, seperti predator yang sedang mengintai. Gerakannya ringan seperti angin, seperti bayangan yang tak terlihat.

"Bertarung sampai salah satu jatuh! Tidak ada aturan! Tidak ada ampun!"

Bel berbunyi nyaring. Li Wei bergerak duluan—tinju kanannya melayang keras seperti palu godam ke arah wajah Zhou Ming. Zhou Ming menghindar dengan cepat, seperti angin, seperti bayangan. Tinju itu meleset, hanya mengenai udara, namun angin yang tercipta cukup keras untuk membuat rambut Zhou Ming berkibar.

Li Wei tak pernah berhenti. Tinju kiri, kanan, kiri lagi setiap pukulan bisa menghancurkan tulang, setiap pukulan bisa meremukkan kepala. Tangan besarnya bergerak seperti mesin, seperti maut yang datang berulang kali.

Zhou Ming terus menghindar, mengelilingi lawannya seperti serigala yang mengintai mangsa. Ia menunggu, menghitung, mencari celah. Setiap gerakan Li Wei tercatat di matanya setiap napas, setiap kelemahan.

Li Wei mulai frustrasi. Ia batuk dan napasnya memburu. Tubuh besarnya menjadi beban—setiap gerakan memakan energi, setiap pukulan yang meleset membuatnya semakin lelah. Keringat mengalir dari dahi ke pipi, lalu ke dagu.

"Berdiri diam, pengecut!" bentaknya seperti guntur, seperti binatang yang terjebak. Matanya merah penuh amarah dan keinginan menghancurkan.

Zhou Ming tersenyum tipis seperti pisau. Ia tak menjawab—kata-kata adalah untuk yang lemah. Ia adalah serigala, dan serigala hanya butuh taring.

Ia bergerak cepat, sangat cepat. Lututnya naik ke perut Li Wei.

BRAAAKK!

Li Wei terhuyung, batuk, darah keluar dari mulutnya, tapi ia tak jatuh.

Macan tak tahu cara menyerah Macan hanya tahu cara membunuh.

Ia balas dengan siku ke kepala Zhou Ming. Braaakk! Zhou Ming terpental ke pagar besi dengan bunyi dentang yang nyaring.

Telinganya berdenging, dunianya berputar, tapi ia masih berdiri, masih sadar. Seperti serigala yang terluka, ia menjadi lebih berbahaya, lebih ganas.

Li Wei mendekat perlahan, seperti gunung yang bergerak, seperti maut yang datang. Setiap langkah membuat lantai bergetar, setiap langkah seperti denting jam kematian. Zhou Ming melihat celah kecil, tapi cukup.

Ia bergerak merunduk, menyelinap di bawah lengan Li Wei, lalu mencakar dengan lima jari ke wajah lawannya.

BRUAKKK!

Lima garis merah muncul, darah mengalir dari dahi ke pipi, lalu ke dagu. Li Wei berteriak panjang dan menyiksa, seperti binatang yang terluka, seperti raja yang dihina.

Tapi ia tak berhenti tak pernah berhenti.

Tangan kanannya naik, mencengkeram leher Zhou Ming, mengangkatnya seperti anak kecil, seperti sampah.

Kekuatan mengerikan kekuatan yang hanya dimiliki monster. "Kau... mati..." ucapnya parau, penuh darah dan kemarahan. Matanya merah seperti api, seperti neraka.

Zhou Ming tercekik, wajahnya memerah, matanya melotot. Tangan dan kakinya bergerak mencakar dan menendang, tapi tak bisa lepas seperti serigala yang terjebak, seperti predator yang menjadi mangsa.

Ia melihat celah satu celah lagi. Kakinya naik ke perut Li Wei, tepat di bawah tulang rusuk tempat yang lunak, tempat yang berbahaya, tempat yang dilindungi otot tapi tidak cukup.

BRAAAKK!

Li Wei terkejut, napasnya tertahan, tangannya melemah. Zhou Ming jatuh ke lantai, batuk, menghirup udara seperti orang yang baru saja tenggelam, seperti serigala yang kembali ke darat.

Li Wei mundur beberapa langkah, tangan memegangi perut, wajahnya pucat, tapi matanya masih tajam, masih lapar, masih ingin membunuh.

Zhou Ming bangkit perlahan. Napasnya masih terengah-engah, tapi senyum serigala kembali terpatri di wajahnya senyum predator yang menemukan mangsa yang layak.

Mereka berhadapan lagi dua binatang, dua monster, sama-sama terluka, sama-sama berdarah, sama-sama ingin membunuh.

Li Wei bergerak, tak cepat tapi kuat. Setiap langkah membuat lantai bergetar, setiap langkah seperti denting jam kematian, seperti gunung yang akan runtuh, seperti bencana yang datang. Zhou Ming tak mundur, tak menghindar kali ini ia menunggu, menunggu Li Wei datang, menunggu celah terakhir.

Jarak tiga langkah.

Dua.

Satu.

Li Wei mengayunkan tinju kanannya keras, terakhir, semua tenaga, semua amarah, semua kebanggaan. Pukulan yang bisa menghancurkan batu, pukulan yang bisa meremukkan kepala.

Zhou Ming bergerak. Tak menghindar, tak mundur ia maju, merunduk lebih rendah, lebih cepat, lebih licik. Tinju Li Wei meleset di atas kepalanya, hanya mengenai udara. Angin yang tercipta cukup keras, tapi tidak cukup.

Zhou Ming ada di bawah, di dalam, di celah yang ia tunggu, di celah yang ia hitung, di celah yang akan mengakhiri semua. Tinju ke atas, ke rahang Li Wei.

BRAAAKK!

...$ BERSAMBUNG $...

1
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘѕ⍣⃝✰
nah loh sapa tuh Kenz, kira-kira mau dibeli baik-baik Xiu nya atau diambil cara paksa?
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘѕ⍣⃝✰
Kenzo partner Kamu diculik tuh
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘѕ⍣⃝✰
bergabung dengan visi dan misi masing masing, yg pasti gak ada ketulusan. tapi semoga aja Kenzo gak dapat cewek lagi.
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘѕ⍣⃝✰
owalah saya kira Buu komandan berbeda ternyata sama kaya sapa itu namanya yg bos nya Kenzo? Liu klu gak salah.
ᴠͥɪͣᴘͫ ⛩️ ⃝𝕸𝖗.𝕸ཧཱོ࿐☯️: sengaja biar nanti pada nebak sendiri di akhir bakal dengan siapa Kenzo 🤭
total 1 replies
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘѕ⍣⃝✰
Udah ada berapa perempuan diantara Kenzo nih? Empat ya
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘѕ⍣⃝✰
kasihan Lin, miris... gak rela Lin sama Kenzo.
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘѕ⍣⃝✰
sama Liu kan cuma kebutuhan, bukan cinta.
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘѕ⍣⃝✰
ini berbaju gak ceweknya?
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘѕ⍣⃝✰
Jangan sampe gadis yg diselamatkan Kenzo naksir juga.
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘѕ⍣⃝✰
cuma sama Lin Xian Mei Kenzo bisa grogi
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘѕ⍣⃝✰
kenapa cuma mata kiri? kenapa gak dua-duanya. apa ada kelebihan Dimata Kenzo lepas dari penjara.
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘѕ⍣⃝✰
jadi sebenernya Kenzo ini jahat atau GK ya
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘѕ⍣⃝✰
Liat saja nanti kalau YueYan sedikit lebih dewasa, Kenzo pasti tergoda juga.
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘѕ⍣⃝✰
berapa banyak target yg harus dihabisi Kenzo.
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘѕ⍣⃝✰
Wow Kenzo sama Liu ternyata
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘѕ⍣⃝✰
Jarak cuma sepuluh tahun, tunggu saja dewasanya Yueyan
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘѕ⍣⃝✰
bukan permainan Liu kan sabotase panti ini?
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘѕ⍣⃝✰
wuih Nenek minum bir? aman? gak apa" gitu?
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘѕ⍣⃝✰
oh Kenzo tinggal di panti dgn Yue ya saya kira cuma nginap. awas Yue nanti jatuh hati dgn Kenzo
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘѕ⍣⃝✰
akankah Kenzo dipertemukan kembali dgn Yue
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!