NovelToon NovelToon
SHADOW OF DEATH

SHADOW OF DEATH

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Bad Boy
Popularitas:5.4k
Nilai: 5
Nama Author: Mr.Mounyenk

Kenzo Huang, pria keturunan Jepang&Cina yang terjebak dalam kasus palsu perdagangan barang ilegal, memasuki penjara dengan hati hampa dan sering diintimidasi oleh geng dalam tahanan. Sampai suatu hari, dia diselamatkan oleh Lin Dong – seorang tahanan yang ditangkap karena membela adik perempuannya, Lin Xian Mei. Meski berbeda latar belakang, mereka menjalin persahabatan yang seperti saudara kandung, berbagi cerita tentang keluarga dan harapan masa depan.
Demi membalas kebaikan Lin Dong, Kenzo Huang berjanji untuk mencari jejak dan menjaga adik serta ibu nya.
Dalam perjalanan mencari jejak sang adik Lin Dong, Kenzo Terlibat organisasi dunia bawah Shehua dan menjadikannya pembunuh bayaran yg di kenal dengan sebutan Shadow Of Death

(update setiap hari)

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mr.Mounyenk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB.31 — BADAI UTARA

Kenzo berdiri di tengah aula besar Wangguan. Tempat yang sama di mana dulu dia pernah mengumpulkan tiga ratus orang, kini terasa berbeda. Tidak lagi tiga ratus, tapi jauh lebih banyak. Kehadiran mereka terasa seperti tekanan yang nyata, meski tidak ada kata yang diucapkan.

Dari pintu barat, Zhao Bowen masuk dengan langkah tenang, diikuti tiga ratus orang yang seragam. Semua mengenakan jas hitam, semua bersenjata, semua diam, seperti bayangan yang siap meluncur. Dari pintu timur, Lu Tong masuk dengan rombongan yang sama. Seragam hitam, senjata lengkap, wajah tanpa ekspresi. Dari pintu selatan, Tong Feng muncul, juga dengan tiga ratus orang, seragam hitam, senjata lengkap, diam tanpa suara.

Sembilan ratus orang sekarang mengisi aula. Semua menatap Kenzo. Semua menunggu isyaratnya. Kenzo menatap mereka satu per satu, melihat kesungguhan dalam mata mereka. Tidak ada kata-kata, tidak ada pergerakan, hanya tatapan yang berbicara lebih keras dari apapun.

Dia mengangkat tangan.

Satu jari.

Dua jari.

Tiga jari.

Semua mengerti.

Tidak perlu kata, tidak perlu penjelasan.

“Kita pergi ke utara,” suaranya terdengar. Pertama kali dia bicara di hadapan mereka semua. Suaranya tidak keras, tapi cukup jelas sehingga semua mendengarnya. “Ke tempat Cao Xiu. Ke tempat dia bersembunyi. Bukan untuk bicara, bukan untuk negosiasi. Untuk menghancurkannya, untuk membunuhnya.”

Kenzo menatap reaksi mereka. Tidak ada yang bergerak. Tidak ada yang bicara. Tapi di mata mereka, ada hal yang sama. Ada rasa haus darah, rasa haus balas dendam yang sama.

“Yang takut,” katanya lagi, “silakan pergi sekarang. Tidak ada yang menghalangi.”

Tidak ada yang bergerak. Hanya diam.

“Bagus,” Kenzo menyatakan.

Malam itu, Kota Bai Ma tidur nyenyak, tidak tahu apa yang sedang terjadi. Sembilan ratus orang meninggalkan Wangguan dalam gelap. Semua bergerak tanpa suara. Mobil, motor, truk, semuanya hitam, tanpa lampu. Konvoi itu tampak seperti ular raksasa yang meliuk di jalan, bergerak perlahan menuju utara.

Di mobil pertama, Kenzo duduk di samping Zhao Bowen. Tidak ada yang bicara. Hanya suara mesin yang berdengung, hanya gemuruh jalanan yang mengiringi perjalanan mereka.

Pagi menjelang dengan kabut tebal saat mereka sampai di perbatasan utara. Sebuah kota kecil, tempat Cao Xiu berkuasa. Markas Cao Xiu berdiri di hadapan mereka, gedung tua dengan tembok tinggi dan pintu besi. Tapi pintu itu terbuka lebar, seperti undangan, atau mungkin perangkap.

Kenzo turun dari mobil, menatap gedung itu. Matanya memperhatikan setiap detail, mencoba menakar kemungkinan. Cao Xiu berdiri di atap gedung, sendirian, tangan terbuka seakan menyambut kedatangan mereka.

“Shadow of Death!” teriak Cao Xiu, suaranya bergema di pagi yang sunyi. “Kau datang! Aku telah menunggu mu!”

Kenzo diam, menatapnya, lalu melangkah maju sendiri.

“Kau sendirian?” tanya Kenzo dengan tenang.

Cao Xiu tertawa panjang, tawa gila yang menusuk telinga. “Bukan! Bukan sendirian!”

Dia bertepuk tangan, sekali, dua kali. Dari gedung, dari gang, dari atap, orang-orang muncul. Banyak. Sangat banyak. Semua bersenjata, semua siap menghadapi serangan. Sekitar lima ratus hingga enam ratus orang, mungkin lebih.

Cao Xiu turun perlahan dari atap dengan tangga, seperti raja yang berjalan dengan penuh percaya diri. “Kau pikir aku bodoh? Kau pikir aku tidak siap? Aku tunggu kau, dari kemarin, dari lusa. Aku siapkan semuanya, untuk kau.”

Kenzo menatap ke belakang, melihat sembilan ratus orangnya. Semua siap, semua menunggu isyarat. Dia mengangkat tangan, pelan, namun semua mengerti. “Serang.”

Pertempuran pecah dengan dahsyat. Ini bukan duel, ini perang nyata. Suara tembakan menggelegar, darah memercik, teriakan menggema.

Kenzo bergerak cepat, sangat cepat. Dia masuk ke tengah kerumunan tanpa senjata, hanya tangan dan kaki. Pukulan menghantam, tulang patah, tubuh jatuh berserakan. Tendangan menghancurkan dada, orang-orang terlempar. Cao Xiu menatap dari kejauhan, tertawa gila, lalu lari ke dalam gedung.

Kenzo mengejar, tidak peduli sekelilingnya. Tangannya meraih leher satu orang, patah, jatuh. Kakinya menghantam dada orang lain, menghancurkan. Dia terus maju. Satu, dua, tiga, sepuluh orang, tapi jumlah musuh terlalu banyak.

Di barisan depan, Zhao Bowen bersama tiga ratus orangnya berlari ke tengah. “Semua ke tengah! Lindungi Kak Kenzo!” serunya. Gelombang pasukan menekan lawan. Lu Tong di sisi kiri melihat celah di barisan musuh, “Serang sana!” Tiga ratus orang menembus titik lemah, menusuk ke jantung pertahanan. Tong Feng di sisi kanan memerintahkan pasukannya ke atap untuk menghadapi musuh yang menembak dari atas. Chaos total.

Cao Xiu di dalam gedung menyadari, ini tidak cukup. Sembilan ratus lawannya berhadapan dengan enam ratus, tujuh ratus orang. Tidak ada cukup perlindungan. Dia melihat Kenzo di luar, membunuh dengan presisi seperti monster di arena. Kepanikan mulai terlihat, wajahnya pucat. Dia mencoba melarikan diri melalui pintu rahasia, tapi Kenzo tidak memberi kesempatan.

Kenzo masuk ke gedung, mencium bau darah dan tembok yang lembab. Dia mendengar langkah cepat di tangga dan mengejar. Satu lantai, dua lantai, tiga lantai, sampai di atap. Pintu di tendang.

BRRAAKKK!

Cao Xiu berada di tepi, tidak ada jalan keluar.

“Kau,” kata Kenzo, menatap langsung ke mata Cao Xiu.

Cao Xiu berbalik, wajah pucat, tapi senyum gila tetap tersungging. “Kau pikir kau menang? Kau pikir ini selesai? Aku hanya satu dari banyak. Serigala Hitam masih ada, mereka masih ada. Mereka akan datang untukmu.”

Kenzo tidak bergeming. Dia melangkah mendekat. “Aku Tidak peduli. Kau mati sekarang.”

Tangan Kenzo meraih leher Cao Xiu, kuat dan cepat. Tulang patah.

BRRAAKKK!

Cao Xiu mati, tubuhnya jatuh lemas seperti kain. Kenzo melepaskan, menatap mayat tanpa perasaan. Dia mengangkat kepala, menatap ke utara, ke tempat Long Fei, ke Serigala Hitam. “(Aku tunggu,)” bisiknya.

Pertempuran selesai di bawah. Sekitar enam ratus anggota Cao Xiu mati, atau melarikan diri, atau menyerah. Sisanya, dua ratus atau tiga ratus orang, berlutut di depan gedung. Zhao Bowen, Lu Tong, dan Tong Feng berdiri menunggu Kenzo.

Kenzo turun dari atap, menatap para tawanan. “Kau, mau ikut aku atau mati?” satu per satu orang itu memilih ikut, takut tapi kagum. Kenzo mengangguk, tanpa senyum, tanpa kegembiraan. Ini bukan kemenangan, ini hanya langkah, satu dari banyak langkah yang harus diambil.

Malam itu, Wangguan kembali, aula besar dipenuhi seribu dua ratus orang. Semua menatap Kenzo yang berdiri di tengah. “Mulai sekarang,” kata Kenzo, “utara milik kita. Bukan Cao Xiu, bukan Hong Feng. Kita.”

Semua diam sejenak, lalu tepuk tangan perlahan, semakin kencang, seperti guntur yang bergema. Kenzo tidak merespons. Pikirannya sudah pergi jauh, ke Xiu Zhu, ke Daniel, ke yang benar-benar penting.

FLASHBACK – EKSEKUSI

Penjara Hei Nan. Dinding batu yang kotor dan berbau kematian. Hari itu berbeda, bukan hari biasa. Semua napi dikumpulkan di halaman besar, berbaris diam. Petugas bersenjata mengawasi dari setiap sudut.

Di tengah, sebuah tiang kayu tinggi berdiri kokoh. Seorang pria, Long Fei, Ketua Serigala Hitam, berlutut. Wajahnya monster dengan wujud manusia, terlibat dalam tiga puluh kasus pembunuhan, pemerkosaan, dan penyelundupan narkoba. Hari ini, dia akan mati.

Lin Dong berdiri di barisan napi, saksi dari eksekusi. Dia bukan kriminal. Dia berada di sini karena memilih melindungi adiknya, Lin Xian Mei, dari tangan kaki kanan Serigala Hitam yang ingin memperjualbelikan adiknya.

Hakim bicara panjang, formal, namun Long Fei tidak peduli. Matanya tertuju pada Lin Dong, tersenyum seperti ular. Dia tahu siapa yang berani menjadi saksi, siapa yang merusak bisnisnya.

Petugas datang, memasang tali di leher Long Fei. Dia tidak melawan, tidak takut. Menatap langit untuk terakhir kali. “Serigala tidak mati,” bisiknya. “Mereka hanya tidur.”

Tali ditarik,

BRRAAKKK!

Tubuh Long Fei jatuh, lemas, mati. Senyum dingin masih tersisa di wajahnya.

Lin Dong melihat, tidak lega, tidak senang. Dia tahu ini baru awal. Serigala Hitam akan membalas dendam, ke dia, ke Xian Mei. Beberapa bulan kemudian, Lin Dong tewas di tangan Serigala Hitam. Dendam mereka telah terbalaskan. Tapi mereka salah. Mereka membunuh orang yang salah.

Lin Dong punya teman. Kenzo. Kenzo tidak pernah lupa. Hua Mao, petinggi Serigala Hitam, mati di tangan Kenzo, bukan karena perintah atau bisnis, tapi karena dendam, karena Lin Dong. Hubungan berantai ini seperti domino. Long Fei dieksekusi. Lin Dong menjadi saksi. Lin Dong dibunuh. Kenzo membalas dendam. Hua Mao mati. Sekarang, sisa Serigala Hitam menunggu, tidak tahu bahwa mereka juga bagian dari rantai. Rantai itu akan putus. Oleh Kenzo.

...$ BERSAMBUNG $...

1
Aisyah Suyuti
seru
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘѕ⍣⃝✰
tak kira saya xinmei gak ketolong
se ʕ⁠´⁠•⁠ᴥ⁠•⁠`⁠ʔ an
/Cry/ "aku nggak bisa bayangin gimana perasaan nya yang campur aduk begitu"
se ʕ⁠´⁠•⁠ᴥ⁠•⁠`⁠ʔ an
/Whimper/ "kok tiba-tiba jadi genre horor begini Thor"
se ʕ⁠´⁠•⁠ᴥ⁠•⁠`⁠ʔ an
/Hammer/ "khodam nya keluar ya Thor"
se ʕ⁠´⁠•⁠ᴥ⁠•⁠`⁠ʔ an
/Determined/ "wahhh! laki-laki sejati, aku salut padamu sobat!"
se ʕ⁠´⁠•⁠ᴥ⁠•⁠`⁠ʔ an
/Applaud/ "bisa di spill alasannya, kok bisa keluar tanpa bersyarat?"
se ʕ⁠´⁠•⁠ᴥ⁠•⁠`⁠ʔ an
/Proud/ "santai bener ya, hidupnya Kenzo"
se ʕ⁠´⁠•⁠ᴥ⁠•⁠`⁠ʔ an
/Scare/ "hah? napi? beneran nih!"
se ʕ⁠´⁠•⁠ᴥ⁠•⁠`⁠ʔ an
/Panic/ "ehh? siapa ya?"
se ʕ⁠´⁠•⁠ᴥ⁠•⁠`⁠ʔ an
/Sneer/ "jualan nasi kucing aja kak, pasti laris"
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘѕ⍣⃝✰
Lin dong yang mengawali, Kenzo yg mengakhiri.
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘѕ⍣⃝✰
semoga Kenzo hanya kehilangan empati bukan kehilangan cinta.
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘѕ⍣⃝✰
sumpah terganggu sama tanda titik di setiap katanya.
🔵🍃⃝⃟𝟰ˢ🫦≛⃝⃕|ℙ$ Avi🦐ˢ⍣⃟ₛ
baguss weh😍😍😍 saya suka saya suka
Capt Blacksheep TUAN PERAMAL🐑
👍
Capt Blacksheep TUAN PERAMAL🐑: awkk awok
total 4 replies
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘѕ⍣⃝✰
nama perempuan nya Kenzo juga belum hapal sekarang tambah lagi nama anak buahnya Kenzo yg namanya susah diingat.
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘѕ⍣⃝✰
nah loh sapa tuh Kenz, kira-kira mau dibeli baik-baik Xiu nya atau diambil cara paksa?
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘѕ⍣⃝✰
Kenzo partner Kamu diculik tuh
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘѕ⍣⃝✰
bergabung dengan visi dan misi masing masing, yg pasti gak ada ketulusan. tapi semoga aja Kenzo gak dapat cewek lagi.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!