"Di bawah getah nangka yang lengket dan semut hitam yang merayap, aku tidak hanya mengikat janji pada Mama, tapi juga pada takdir yang sedang mengujiku."
Bagi Raymond, pindah dari Gang Serayu ke Perumnas Mandala adalah sebuah harapan akan kemerdekaan. Di sana, ia melihat Bapaknya—seorang PNS yang resik—berusaha membangun dunia baru melalui kandang-kandang ayam yang ditandai dengan cat di kakinya. Sebuah simbol kepemilikan dan harga diri yang coba dijaga di tengah tanah perantauan.
Namun, udara Mandala yang asri pelan-pelan berubah menjadi pekat oleh asap rokok dan tumpukan kertas nomor togel. Bapak yang dulu dipuja sebagai pahlawan, kini berubah menjadi "Si Teleng"—seorang penjudi yang mempertaruhkan segalanya: gaji bulanan, perabotan rumah, hingga keselamatan keluarganya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Raymond Siahaan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8 : DARI KANTOR KERUMAH, DARI MOTOR KE HATI
Pagi itu, seperti biasa, aku terbangun sebelum alarm berbunyi. Udara masih terasa sejuk ketika aku membuka jendela kamar dan membiarkan cahaya matahari perlahan masuk. Hari itu terasa sedikit berbeda, bukan karena ada agenda khusus di kantor, tetapi karena setiap kali aku melihat motor bekas yang baru kubeli terparkir rapi di ruang tamu depan, ada rasa bangga yang sulit dijelaskan.
Motor itu memang bukan motor baru. Catnya tak lagi mengilap sempurna, ada beberapa goresan halus di bodinya, dan suara mesinnya sedikit lebih berat dibanding motor keluaran terbaru. Namun bagiku, motor itu adalah hasil kerja kerasku sendiri. Aku membelinya dari tabungan yang kukumpulkan selama berbulan-bulan. Sejak hari pertama membawanya pulang, aku berjanji akan merawatnya sebaik mungkin.
Setelah mandi dan bersiap, aku mengelap sedikit bagian spion dan joknya dengan kain bersih. Aku selalu rutin mencucinya setiap akhir pekan dan tak pernah lupa servis berkala di bengkel langganan. Oli selalu kuganti tepat waktu, rantai rutin kulumasi, dan tekanan ban selalu kuperiksa. Aku tidak ingin motorku punya kendala sedikit pun. Bagiku, merawat motor sama seperti merawat kepercayaan—harus konsisten dan penuh perhatian.
Perjalanan menuju kantor terasa menyenangkan. Angin pagi menerpa wajahku, dan suara mesin motor yang stabil membuatku semakin yakin bahwa perawatanku selama ini tidak sia-sia. Di lampu merah, aku sempat melirik pengendara lain dengan motor-motor keluaran terbaru. Tapi alih-alih merasa minder, aku justru tersenyum. Motorku mungkin bekas, tapi kondisinya prima dan selalu siap menemaniku ke mana pun.
Sesampainya di kantor, suasana seperti biasa terasa hangat. Kantorku bukanlah kantor besar dengan gedung menjulang tinggi, tapi di dalamnya penuh dengan orang-orang yang tulus. Kami saling menyapa dengan senyum dan candaan ringan. Tidak ada wajah tegang atau persaingan yang tidak sehat.
Aku sangat bersyukur bekerja di lingkungan seperti itu. Di sini, tidak ada yang suka menjilat atasan demi keuntungan pribadi. Atasanku sendiri orangnya santai dan terbuka. Ia sering bercanda dengan kami, bahkan tak jarang ikut tertawa paling keras ketika ada lelucon yang terlontar di ruang kerja. Hubungan antara senior dan junior pun terasa setara. Tidak ada jarak yang dibuat-buat. Senior dengan sabar mengajari kami yang lebih muda, membimbing tanpa merendahkan.
Hari itu aku menyelesaikan beberapa laporan dan membantu rekan kerja yang kesulitan dengan data. Kami berdiskusi sambil sesekali tertawa. Rasanya seperti bekerja bersama keluarga kedua. Waktu berlalu tanpa terasa, dan ketika jam menunjukkan pukul lima sore, kami mulai bersiap pulang.
Sebelum benar-benar meninggalkan kantor, aku menyempatkan diri mampir ke toko kecil di dekat gerbang. Sudah menjadi kebiasaanku untuk membawa cemilan setiap pulang kerja. Entah itu gorengan, roti, atau jajanan pasar, aku senang melihat senyum keluarga ketika aku datang dengan kantong plastik berisi makanan kecil. Hari itu aku membeli beberapa kue dan sedikit keripik favorit adikku.
Perjalanan pulang terasa sedikit lebih ramai, tapi aku tetap menikmati setiap detiknya. Tepat pukul enam sore, aku sudah sampai di depan rumah. Dengan hati-hati, kuparkirkan motor ke dalam rumah agar aman. Aku selalu memastikan posisinya rapi, standar terpasang dengan benar, dan stang terkunci. Sebelum masuk, aku sempat mengusap joknya sebentar, seolah mengucapkan terima kasih karena sudah menemaniku seharian tanpa masalah.
Begitu masuk ke dalam rumah, aroma masakan langsung menyambutku. Mama sedang duduk di ruang tengah, dan seperti biasa, beliau sudah menyiapkan secangkir teh manis hangat untukku. Aku duduk di sampingnya, menikmati tegukan pertama yang terasa begitu menenangkan setelah seharian bekerja.
“Sana ceritakan, bagaimana suasana kantor hari ini?” tanya mama dengan senyum lembut.
Aku pun mulai bercerita. Tentang candaan di kantor, tentang atasan yang ikut tertawa bersama kami, tentang bagaimana senior membantu junior tanpa memandang siapa lebih lama bekerja. Mama mendengarkan dengan penuh perhatian, sesekali mengangguk bangga.
Di dapur, terdengar suara minyak mendesis. Kakakku sedang memasak. Ia memang sangat senang memasak, dan setiap kali ada waktu luang, dapur seperti menjadi dunianya sendiri. Hari itu, ia membuat bakwan. Aroma sayuran dan tepung yang digoreng membuat perutku kembali lapar, meski tadi sempat makan di kantor.
Tak lama kemudian, kakak keluar membawa sepiring bakwan hangat lengkap dengan sambal buatannya sendiri. Warna bakwannya keemasan, terlihat renyah di luar. Aku mengambil satu, mencelupkannya ke sambal, lalu menggigitnya perlahan.
“Oh, ini enak sekali,” kataku sambil tersenyum puas.
Bakwan itu renyah di luar, lembut di dalam, dengan rasa sayuran yang pas. Sambalnya pedas-manis, membuat setiap gigitan terasa semakin nikmat. Momen sederhana seperti itu selalu menjadi bagian favorit dalam hariku—duduk bersama keluarga, menikmati makanan buatan rumah, dan berbagi cerita.
Setelah puas menikmati bakwan dan menghabiskan teh manis, aku pun beranjak mandi. Air dingin menyegarkan tubuh yang lelah. Setelah berganti baju, aku merebahkan diri di kasur. Rasa capek dari kantor mulai terasa, tapi ada kepuasan tersendiri karena hari itu berjalan lancar.
Seperti kebiasaanku sebelum benar-benar beristirahat, aku membuka media sosial, khususnya Instagram. Aku menggulir layar perlahan, melihat berbagai unggahan teman-teman. Hingga akhirnya, mataku berhenti pada satu profil yang selalu berhasil menarik perhatianku.
Namanya Nisa. Seorang mahasiswi di UMSU. Di bio profilnya tertulis tentang kecintaannya pada pendidikan dan berbagai organisasi kampus yang ia ikuti. Dari foto-fotonya, terlihat ia aktif dalam seminar, kegiatan sosial, dan diskusi kampus. Tapi bukan hanya itu yang membuatku tertarik.
Senyumnya begitu manis, dengan lesung pipit yang muncul di kedua pipinya. Ada aura ceria dan cerdas yang terpancar dari setiap unggahannya. Ia tampak percaya diri, namun tetap sederhana. Aku mengagumi caranya membagikan pemikiran tentang pentingnya pendidikan dan kontribusi untuk masyarakat.
Aku tersenyum sendiri sambil melihat salah satu fotonya yang diambil saat acara kampus. Dalam hati, aku bertanya-tanya, apakah suatu hari nanti aku bisa mengenalnya lebih dekat? Mungkin sekadar menyapa lewat pesan, atau memberi komentar yang tulus pada unggahannya.
Hari itu terasa lengkap. Dari pagi dengan motor kesayanganku, suasana kantor yang hangat tanpa perbedaan senior dan junior, hingga sore penuh kehangatan bersama keluarga dan secangkir teh manis buatan mama. Ditambah lagi dengan senyum Nisa yang menutup hariku dengan harapan kecil di dalam hati.
Sebelum memejamkan mata, aku berpikir bahwa kebahagiaan ternyata tidak selalu tentang hal besar. Ia bisa hadir lewat motor bekas yang dirawat dengan penuh cinta, tawa bersama rekan kerja, bakwan hangat buatan kakak, dan senyuman seorang mahasiswi yang diam-diam mengisi pikiran. Dengan perasaan syukur, aku pun terlelap, siap menyambut hari esok yang mungkin akan membawa cerita baru.
Malam itu, setelah cukup lama menatap profil Nisa di Instagram, jariku mulai terasa dingin. Bukan karena udara kamar, melainkan karena gugup. Entah sudah berapa kali aku membuka dan menutup kolom pesan langsung di profilnya. Ada rasa ragu yang berbisik, “Bagaimana kalau tidak dibalas?” Tapi ada juga suara lain yang lebih berani, “Kalau tidak dicoba, kau tak akan pernah tahu.”
Aku menarik napas panjang.
Akhirnya, dengan hati-hati, aku mulai mengetik.
“Salam kenal Nisa. Perkenalkan, saya Raymond. Saya sering melihat postingan kamu tentang pendidikan dan kegiatan organisasi. Keren sekali. Semoga tidak keberatan ya kalau saya menyapa.”
Aku membaca ulang pesan itu berkali-kali. Terasa sederhana, sopan, dan jujur. Tidak berlebihan, tidak pula terlalu singkat. Setelah memastikan tak ada salah ketik, jariku perlahan menekan tombol kirim.
Pesan itu pun meluncur. Jantungku berdegup sedikit lebih cepat dari biasanya. Rasanya aneh, hanya mengirim pesan singkat saja bisa membuatku seperti ini. Aku meletakkan ponsel di samping bantal, mencoba bersikap seolah tidak terlalu peduli. Tapi lima detik kemudian, aku sudah meraihnya kembali untuk memastikan pesan itu benar-benar terkirim.
Terkirim.
Belum dibaca.
Aku tersenyum kecil. “Ya sudah, yang penting sudah berani,” gumamku pelan.
Malam semakin larut. Aku mencoba memejamkan mata, tetapi pikiranku masih melayang pada satu notifikasi yang belum muncul. Bagaimana kalau ia menganggapku aneh? Bagaimana kalau pesanku tenggelam di antara banyaknya DM lain? Tapi di sisi lain, aku percaya satu hal: niat baik tidak pernah salah.
Keesokan paginya, seperti biasa, aku bangun lebih awal. Rutinitas pagi kembali kulakukan. Aku membersihkan motorku sebentar, memeriksa ban dan rem sebelum berangkat kerja. Deru mesin yang stabil sedikit menenangkan pikiranku. Aku berusaha fokus pada hari ini, bukan pada pesan yang kukirim semalam.
Di perjalanan menuju kantor, aku mencoba menikmati udara pagi seperti biasa. Namun jujur saja, setiap kali ponsel di saku celanaku terasa bergetar, hatiku ikut bergetar. Meski sebenarnya itu hanya notifikasi grup kantor atau promo belanja.
Sesampainya di kantor, suasana tetap hangat seperti biasanya. Kami bercanda, menyelesaikan pekerjaan bersama, dan saling membantu tanpa memandang siapa senior atau junior. Atasanku bahkan sempat melempar candaan tentang laporan yang hampir salah format, membuat ruangan penuh tawa.
Aku bersyukur memiliki lingkungan kerja seperti ini. Tempat yang sehat, tanpa persaingan tidak sehat dan tanpa budaya menjilat. Tempat di mana setiap orang dihargai karena usahanya.
Sekitar pukul sebelas siang, saat aku sedang menyelesaikan satu file penting, ponselku bergetar lagi. Kali ini getarannya berbeda—entah kenapa terasa lebih “bermakna”. Aku melirik layar.
Notifikasi Instagram.
Jantungku langsung berdetak lebih cepat.
Dengan perlahan, aku membuka aplikasi itu. Tanganku sedikit berkeringat. Di kolom pesan masuk, ada satu balasan.
Dari Nisa.
Aku menelan ludah sebelum membukanya.
“ Salam kenal juga Raymond Terima kasih ya sudah menyapa dan sudah mengapresiasi postingan saya. Senang bisa kenal.”
Seketika, senyumku melebar tanpa bisa kutahan. Rasanya seperti baru saja lulus ujian besar. Balasannya ramah. Tidak dingin. Tidak singkat. Bahkan ada emoji senyum di sana.
Aku mencoba menenangkan diri agar tidak terlihat terlalu antusias. Aku tidak ingin membalas terlalu cepat dan terlihat terburu-buru, meski sebenarnya aku ingin langsung mengetik panjang lebar.
Beberapa menit kemudian, aku membalas dengan hati-hati.
“Terima kasih sudah membalas, Nisa. Saya salut dengan semangatmu di bidang pendidikan. Jarang sekali melihat mahasiswa yang aktif dan konsisten seperti itu. Semoga suatu hari bisa berbagi cerita tentang pengalaman organisasi.”
Setelah kukirim, aku meletakkan ponsel dan kembali fokus bekerja. Kali ini, perasaanku jauh lebih ringan. Entah bagaimana, hanya dengan satu balasan itu, hari terasa lebih cerah.
Sepanjang hari, aku tetap menjalankan tugasku dengan baik. Membantu rekan kerja, berdiskusi, dan menyelesaikan target. Tapi di sela-sela itu, ada rasa hangat yang terus menemani. Bukan euforia berlebihan, melainkan rasa syukur karena keberanianku semalam tidak sia-sia.
Sore harinya, sebelum pulang, aku kembali membeli cemilan untuk keluarga. Kali ini aku memilih pisang goreng dan sedikit kue lapis. Dalam perjalanan pulang, aku tersenyum sendiri mengingat balasan Nisa. Motor bekasku melaju dengan mantap, seolah ikut merasakan kebahagiaanku.
Sesampainya di rumah pukul enam sore, seperti biasa, kuparkirkan motor dengan rapi di dalam rumah. Mama sudah menungguku dengan secangkir teh manis hangat. Kakakku sedang memotong bahan di dapur, mungkin merencanakan menu baru untuk malam ini.
Sambil menikmati teh, aku bercerita pada mama tentang hari di kantor. Tapi kali ini, ada cerita tambahan yang kusimpan sendiri di dalam hati—tentang pesan sederhana yang akhirnya berbalas.
Malam itu, setelah mandi dan berganti baju, aku kembali membuka Instagram. Ada satu balasan lagi dari Nisa.
Percakapan kecil mulai terjalin. Tentang kesibukannya di kampus. Tentang pandangannya mengenai pendidikan. Tentang pentingnya memberi dampak, sekecil apa pun itu.
Aku menyadari satu hal: keberanian kecil semalam telah membuka pintu pada kemungkinan yang lebih besar. Mungkin ini baru langkah awal. Mungkin juga hanya akan menjadi percakapan biasa. Tapi apa pun hasilnya nanti, aku bangga pada diriku sendiri.
Karena kadang, hidup bukan hanya tentang merawat motor agar tetap berjalan mulus. Tapi juga tentang berani menyalakan mesin keberanian dalam hati, lalu melaju menuju sesuatu yang sebelumnya hanya berani kita kagumi dari jauh.