NovelToon NovelToon
Variabel Yang Mencari Nilai Sejati

Variabel Yang Mencari Nilai Sejati

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Ketos
Popularitas:296
Nilai: 5
Nama Author: Erna Lestari

Oskar Biru Arkais sorang pemuda yang berusaha mencari arti cinta Sejati,
Dan Si Mahira Elona Luis si Gadis Tomboy yang Tak Pernah Percaya akan Adanya cinta Sejati

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erna Lestari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 3

"Judul buku itu adalah senyum dan cantikmu

dua hal yang sederhana yang sanggup

Memenangkan hatiku"

_*Oskar Biru Arkai*s

Pintu kayu rumah sederhana itu terbuka dengan suara berderak saat Elona masuk, membawa tas yang sudah sedikit basah dan wajahnya masih terpapar tetesan air hujan yang belum hilang. Aroma harum rebusan sayur sudah menyebar di setiap sudut rumah kecil yang penuh dengan kesan hangat.

“Nenek, aku sudah datang!” panggil Elona sambil meletakkan tasnya di sudut ruang tamu yang juga berfungsi sebagai ruang makan.

Suara sendok dan wajan dari dapur segera terdengar berhenti, lalu muncul sosok neneknya yang berusia sekitar tujuh puluh tahun dengan rambut perak yang selalu diikat rapi. Wajahnya keriput tapi selalu penuh senyum.

“Darlingku sudah pulang! Kok baju basah begini ya?” tanya neneknya dengan nada khawatir, mendekat untuk menyentuh dahi Elona. “Jangan sampai kamu sakit ya. Cepat mandi saja, nenek sudah mulai memasak.”

“Baik, Nenek. Nanti aku bantu setelah mandi,” jawab Elona dengan senyum hangat. Dia segera menaiki tangga kayu yang sedikit berderit menuju kamar kecil yang dia tempati bersama neneknya. Di kamar itu, ranjang kecil berbaring rapi bersebelahan dengan lemari kayu tua yang penuh dengan baju-bajunya – kebanyakan celana panjang, kaos polos, dan seragam pramuka serta sekolah.

Setelah beberapa menit, Elona keluar dari kamar dengan mengenakan baju tidur kasual berwarna biru muda dan rambutnya yang masih basah sudah dikunci dengan ikal sederhana. Dia langsung masuk ke dapur yang tidak terlalu luas tapi sangat rapi. Kompor gas kecil menyala dengan stabil, panci berisi sup sedang mendidih, dan di atas talenan ada sayuran yang sudah dipotong siap dimasak.

“Nenek, aku yang masaknya saja ya. Nenek duduk dulu sebentar,” ujar Elona sambil mengambil apron yang digantung di dinding. Dia dengan gesit mengambil wajan dan menyalakan kompor lain untuk menumis bumbu.

Neneknya hanya tersenyum dan duduk di kursi kecil di dekat dapur, melihat cucunya yang sibuk bekerja. “Kamu sudah capek kan dari latihan pramuka? Kalau perlu kita makan saja yang sisa makanan kemarin.”

“Tidak apa-apa, Nenek. Aku juga mau masak untukmu. Selain itu, aku ada cerita sedikit ” ujar Elona sambil mengaduk bumbu yang sudah mulai harum. Dia mulai menceritakan tentang bagaimana dia terkunci di ruang ganti dan ditolong oleh ketua OSIS yang terkenal dingin itu.

“Oskar Biru Arkais ya? Anak dari keluarga Pak Arkais Cemara k kan?” tanya neneknya dengan mata yang sedikit membesar. “nenek pernah bertemu istrinya beberapa tahun yang lalu saat dia datang ke pameran untuk membeli kain tradisional. Wanita yang baik hati sekali.”

Elona mengangguk sambil menambahkan sayuran ke dalam wajan. “Ya, Nenek. Orangnya memang terlihat dingin tapi baik hati juga ternyata. Bahkan tidak mau aku bayarin dia es batu.”

Keduanya kemudian bekerja sama menyajikan makanan di atas meja – sup sayur hangat, tumis kangkung, dan telur balado yang masih panas. Saat mereka mulai makan sambil berbincang santai, nyala lampu bohlam di ruang makan memberikan cahaya hangat yang membuat rumah sederhana itu terasa lebih penuh kasih sayang.

Mobil mewah berwarna hitam melaju dengan tenang memasuki komplek rumah-rumah mewah di daerah elite Jakarta Selatan. Setelah melalui gerbang besi yang otomatis terbuka, mobil berhenti di depan rumah bergaya modern dengan taman yang terawat rapi.

Biru keluar dari mobil ,tadi sore saat pulang sekolah ia pergi ke rumah sakit tempat ayahnya Bekerja untuk mengambil mobil . Pagar kaca tinggi di sekeliling rumah memberikan privasi penuh bagi keluarganya. Dia masuk ke dalam rumah melalui pintu utama yang terbuka oleh pembantu yang sudah menunggunya.

“Selamat datang, Mas Biru,” sapaan pembantu dengan sopan. “Nyonya sudah menunggu di ruang makan.”

Biru mengangguk dan langsung menuju kamar untuk mengganti baju basahnya. Rumah yang luas dengan lantai marmer bersih itu terasa sunyi meskipun ada beberapa pembantu yang sedang bekerja. Di kamar tidurnya yang luas dengan dekorasi berwarna netral, dia mengganti baju dengan celana panjang hitam dan kaos lengan panjang putih.

Setelah siap, dia turun ke lantai dasar dan masuk ke ruang makan yang besar dengan meja makan kayu mahoni yang bisa menampung sepuluh orang. Ayahnya, Dr. Arkais Cemara – seorang pria tinggi dengan wajah tegas yang merupakan direktur rumah sakit swasta ternama – sedang membaca koran sambil menunggu. Ibunya, Clara Cemara – seorang desainer busana terkenal dengan gaya berpakaian yang selalu elegan – sedang menyusun alat makan dengan cermat.

“Kamu datang terlambat sedikit, Biru,” ujar ayahnya tanpa mengangkat kepala dari koran. “Besok pagi kita punya janji dengan teman bisnis ayah yang anaknya akan masuk sekolahmu tahun depan.”

“Baik, Ayah” jawab Biru sambil duduk di tempatnya.

Ibunya segera menyapa dengan senyum hangat. “Kamu basah sayang ? Jangan sampai sakit ya,Ibu sudah menyuruh Bi Asih membuat sup ayam hangat untukmu.”

Setelah semua orang duduk, mereka mulai makan dengan suasana yang lebih tenang daripada riang. Ayahnya sering membicarakan tentang pekerjaannya di rumah sakit dan rencana untuk mengembangkan layanan baru, sementara ibunya bercerita tentang acara pameran busana yang akan dia gelar bulan depan.

“Kemarin aku melihat anaknya Bu Luis di sekolah, Clara,” ujar ayahnya tiba-tiba sambil meniriskan sup ke dalam mangkuknya. “Mahira Elona kan namanya? Dia ketua pramuka bukan? Anak yang cakap dan disiplin sekali menurut gurunya.”

Biru yang tengah sedang makan tiba-tiba berhenti sejenak sebelum melanjutkan lagi. Ibunya mengangguk. “Ya, benar. Ibunya dulu adalah teman baikku sebelum menikah. Sayangnya nasibnya tidak terlalu baik. Sekarang Elona tinggal bersama neneknya yang menjual makanan tradisional di pasar.”

“Anak yang pantas diberikan dukungan,” ujar ayahnya dengan suara tegas. “Kalau ada kesempatan, tolong berikan bantuan yang mungkin bisa kamu berikan sebagai ketua OSIS, Biru.”

Biru mengangguk perlahan. “Baik, Ayah. Aku akan memperhatikannya.”

Saat makan malam berlanjut, pikiran Biru kembali terbang ke wajah Elona yang ceria tadi sore. Dua dunia yang begitu berbeda, namun entah mengapa rasanya ada sesuatu yang menghubungkannya dengan gadis itu.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!