Devan kaget saat tiba-tiba seseorang masuk seenaknya ke dalam mobilnya, bahkan dengan berani duduk di pangkuannya. Ia bertekad untuk mengusir gadis itu, tapi... gadis itu tampak tidak normal. Lebih parah lagi, ciuman pertamanya malah di ambil oleh gadis aneh itu.
"Aku akan menikahi Gauri."
~ Devan Valtor
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mae_jer, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Diana panik
Devan setia menemani Gauri sampai gadis itu ketiduran. Ia juga sudah mengganti pakaian kering. Mereka sama-sama basah kuyup tadi. Pintu kamar di ketuk oleh Gino. Lelaki itu masuk bersama Sari begitu Devan mengijinkan mereka masuk.
"Gimana keadaannya?" Gino bertanya. Pandangannya tidak lepas dari Gauri yang tertidur pulas.seperti anak kecil. Tangannya menggenggam erat lengan Devan.
Sari juga menatap ke Gauri. Posisi Devan dan gadis itu kalau di lihat teman-teman ceweknya sekarang, mereka pasti akan berteriak histeris. Iri berat. Tapi Sari jelas tidak. Kalau yang duduk di sana adalah Agam, mungkin dia akan iri, namun iri yang masih dalam batas wajar.
"Sudah lebih tenang." ucap Devan.
Gino menghembuskan nafas panjang. Biasanya dia usil menggoda Devan, tapi kali ini sikapnya jauh lebih serius.
"Bagaimana Gauri bisa jatuh ke air?" pertanyaan itu akhirnya keluar dari mulut Gino. Sari pun bertanya-tanya sejak tadi.
Devan langsung menyalahkan dirinya sendiri.
"Ini gara-gara aku. Aku terlalu sibuk bicara di telepon hingga tidak sadar Gauri masuk ke ruangan yang ada kolamnya." wajah pria itu penuh dengan penyesalan. Tapi dia tidak bisa mengubah waktu kan?
Meski begitu, Devan juga penasaran bagaimana Gauri bisa jatuh ke air. Dia ingin tahu, harus diselidiki.
"Gino, kau cari tahu apakah ada cctv di sekitar kolam atau tidak. Aku ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi." katanya.
Gino langsung mengangguk. Ia berdiri, keluar dari kamar itu bersama Sari. Gino ke arah kolam, sedang Sari kembali ke taman belakang Villa.
Semua teman-teman ceweknya langsung berkumpul di dekat dia.
Diana pura-pura mendekat juga. Dari tadi hatinya tidak tenang antara takut ketahuan dia yang mendorong Gauri juga cemburu berat atas perlakuan Devan yang begitu manis pada perempuan itu.
"Dia gimana Sar? Lo kenapa di panggil ke sana? Ah, lo kok beruntung banget sihh." Mila bertanya dengan suara iri. Sari tertawa kecil.
"Gue ngawasin doang. Kalo misalnya Devan sama Gino butuh bantuan perempuan, bisa langsung gue bantu." kata Sari.
"Oh, maksudnya lo yang gantiin baju Gauri gitu."
Sari tidak menjawab hanya tersenyum. Kalau dia jawab bukan dia, bisa-bisa mereka semua langsung heboh lagi dan ketahuan Devan sendiri yang bantuin Gauri ganti baju karena Gauri nolak di sentuh siapa pun.
"Lo beneran yang bantuin perempuan itu ganti baju?" Diana angkat suara bertanya. Dia tidak begitu percaya.
Sari menatapnya lalu menganggukkan kepala. Bohong aja sekalian.
"Kasian banget ya Gauri. Udah sakit gitu, jatoh pula. Gue kasian liat dia kayak gitu. Jadi ke inget adek gue. Adek gue nggak sakit sih, tapi gue takut ngalamin yang sama kayak Gauri." kali ini Ella yang angkat suara.
"Gak usah kasian gitu. Kan dia ada ngurusin. Devan ngurusin banget tuh. Lagian cuman jatoh doang nggak sampe mati, pada heboh banget sih." kata Nini sinis.
"Lo kok tega banget ngomong gitu Ni? Orang sakit lo sinisin kayak gitu. Kasian tahuu." Mila menegur Nini tapi perempuan itu hanya memutar bola matanya malas dan pergi dari sana.
Teman-temannya yang lain menggeleng nggak percaya dengan sikap Nini. Pandangan Sari berhenti ke Diana.
"Din, tadi waktu kita semua ada di sini, sebelum Gauri jatoh, lo ke mana?"
pertanyaan tersebut sontak membuat Diana kaget dan rasa panik dalam hatinya muncul. Kenapa Sari tiba-tiba nanya gitu? Apa jangan-jangan mereka sudah tahu Gauri nggak jatoh sendiri tapi ada yang dorong?
Diana berusaha keras mengontrol emosinya agar tetap terlihat biasa saja. Jangan sampai dia membuat gerakan atau ekspresi yang mencurigakan.
"Gue- gue telponan sama orangtua gue di luar." jawab Diana dengan cepat. Sari mengangguk-angguk.
"Lo nggak liat Gauri jatohnya gimana berarti?" Tanya Sari lagi.
"Nggak. Gue lagi di luar, Sar," jawab Diana cepat, terlalu cepat.
Sari mengamati wajahnya beberapa detik, terlalu pucat, terlalu gelisah. Tapi sebelum ia sempat menambahkan sesuatu, Mila sudah memotong,
"Udahlah, jangan ditanya-tanya gitu. Yang penting sekarang Gauri baik-baik aja."
Sari tersenyum kecil.
"Iya, cuma nanya doang. Kan tadi Gauri sempet berdiri deket kolam, gue pikir ada yang ngeliat."
Diana hampir tersedak napasnya sendiri.
"Emang… emang kenapa? Lo mikir dia jatoh gara-gara apa?"
"Bukan gue, tapi Devan. Devan pengen tahu kenapa Gauri sampe jatoh. Dia pengen tahu kronologinya. Gino lagi meriksa kalo ada cctv atau nggak di sekitar kolam."
Perkataan Sari langsung membuat sekujur tubuh Diana panas dingin seketika. CCTV? Kalau ada rekaman… selesai sudah hidupnya. Ia memaksa tersenyum, meski bibirnya gemetar halus. Waktu mendorong Gauri tadi, dia tidak memikirkan apa-apa, sampai cctv. Saking dia bencinya melihat perempuan gila itu.
"Masa sih sampai segitunya?" suaranya berusaha dibuat santai, namun samar terdengar lirih.
"Iya lah," sahut Sari, seolah tak menyadari kepanikan Diana.
"Gauri kan sakit. Kalau kejadian kayak gitu nggak jelas penyebabnya, ya wajar Devan khawatir. Dia tadi hampir gila loh."
Mila mengangguk cepat.
"Iya, gue lihat sendiri. Devan langsung loncat ke air begitu lihat Gauri tenggelam. Serem sumpah."
Diana mencengkeram ujung bajunya diam-diam. Punggungnya basah oleh keringat dingin.
"Semoga aja ada CCTV-nya," gumam Ella polos.
"Biar jelas, Gauri jatohnya gimana."
Diana makin panik dalam hati.
"Eh itu Gino!"
Dan ketika nama Gino di sebut, Diana menelan ludahnya keras. Ia merasa tubuhnya hampir limbung.
"Sudah cek, cctv-nya ada?" tanya Sari. Yang lain ikut menatap Gino, menunggu jawabannya. Gino menggeleng akhirnya, sekalian membuat Diana bernafas lega.
"Tempat seperti ini, kenapa mereka nggak pasang cctv?" Gino tampak kesal.
Yang lain pun tampak tidak puas.
"Gue ke Devan dulu, kasih tahu dia." kata Gino kemudian. Sari dan yang lain mengangguk. Mereka melihat kepergian Gino yang masih keliatan sekali dia sedang kesal.
"Din, mau ke mana?" Ella bertanya begitu melihat Diana hendak pergi.
"Mm, gue mau ke kamar bentar, ambil jaket. Di sini dingin banget." katanya beralasan.
"Oh ya udah."
Diana melanjutkan langkahnya. Dan perempuan itu tak luput dari perhatian Sari. Sari merasa gerakan Diana terlalu aneh, tidak seperti biasanya.
kayaknya perlu di tindak tegas si sundal Diana , secara sekolah tempat dia mengajar adalah yang punya Gauri , ya mending di cutik aja Diana dari sana , bila perlu di blacklist biar nangis dan menderita . dan pastinya dikejar penagih hutang. biar nyahok dia .
lanjut terus kak semangat moga sehat slalu 😍😍😍
Agam baguslah mengingatkan pada Devan untuk tidak terlalu terbawa emosi. Walaupun salah, Risa itu ibu kandung Devan.
Agam menelepon Gino supaya ke rumah Risa, mengikuti Devan. Agam takut Devan tidak bisa mengendalikan diri.
Devan sudah berhadapan dengan mamanya. Risa ingin memeluk Devan, namun tangannya langsung di tepis Devan.
Waduh mamanya tidak tahu menahu tentang Devan dan Gauri, malah salah bicara ini.
Devan membentak mamanya, marah sekali istrinya di bilang gila.
Perdebatan antara anak dan ibu kandung berakhir Devan menampar mamanya, sebagai peringatan terakhir katanya.
Diana. Apakah Devan juga akan bikin perhitungan dengan Diana.
Gino datang - sedikit bicaranya. Semoga Risa bisa mengerti.
Sekarang giliran Diana nih, menghadapi kemarahan Devan... Aku harap sih si Diana dibuat jera, biar kapok ngga gangguin Gauri lagi...
Orang seperti Gauri malah harusnya dijagain, diberi kasih sayang.. Tapi, kok ini malah dijahatin.
Sumpah, aku gedeg banget sama Diana 😆 Lanjut kak Author, semangat 🙏☺
Istri macam apa kau ini? 🤧
wah.. wah.. wah..
mbak Diana, siap2 ya...