Malu memiliki suami seorang kuli bangunan, Nadira Maheswari terus mendesak Arga untuk menceraikannya.
Semula permintaan itu ditolak oleh Arga. Ia tidak ingin putri semata wayang mereka tumbuh tanpa orangtua yang lengkap.
Namun, setelah mengetahui istrinya ternyata telah memiliki pria lain, akhirnya Arga menyerah. Ia merasa egois karena menahan wanita yang tidak bisa dia bahagiakan, bahagia bersama pria lain.
"Kalau kamu merasa sanggup bertanggung jawab atas dia, datanglah kemari. Temui aku secara jantan!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nelramstrong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ibu, Andini Kangen
Andini menunggu panggilannya dijawab dengan tak sabaran. Panggilan pertama, gagal tanpa jawaban.
"Yah, kok Ibu nggak angkat teleponnya ya, Ayah? Apa ibu sibuk?" Gadis itu duduk dengan bahu merosot tajam.
"Ya mungkin aja. Kita tunggu Ibu kamu telpon balik. Sekarang, Ayah mau mandi dulu. Kamu habiskan makanannya, ya."
Arga meletakan ponselnya di dekat televisi dan bergegas pergi ke kamar mandi.
Selepas kepergian Arga, Andini yang masih ingin mengobrol dengan ibunya, meraih benda pipih itu dan mencoba menghubungi lagi.
"Ibu, ayo angkat. Andini cuma mau denger suara ibu. Andini kangen," gumam gadis itu penuh harap.
Kuah makanan di piring kini tak lagi terlihat menarik.
Dering pertama, masih belum ada jawaban.
Andini merasakan jantungnya berdegup kencang, khawatir usahanya kali ini gagal lagi. Namun, di dering terakhir, panggilan mendapat jawaban.
Tak membuang-buang waktu, Andini langsung berseru, "Ibu... Andini kangen!"
Tut-tut-tut
Ekspresi Andini berubah murung saat melihat panggilan yang sempat tersambung itu kini terputus. "Loh, kok mati sih? Bukannya barusan diangkat," gumam gadis itu kecewa.
"Mungkin bener kata Ayah, Ibu lagi sibuk." Ia meletakan ponsel itu ke tempat semula dan melanjutkan menghabiskan makanan yang sudah dingin.
Di dalam kamar jauh dari desa...
Nadira dan Gina kini saling berhadapan dengan ekspresi yang berbeda. Gina menatap calon menantunya dengan tatapan terkejut, karena tiba-tiba muncul dan merampas ponsel di tangannya.
Sementara Nadira, keringat dingin bermunculan saat menatap calon ibu mertuanya, namun berusaha dia sembunyikan dengan ekspresi tenang.
"Kenapa Mama lancang banget ambil Hpku?!"
Gina menggeleng lemah. "Mama hanya khawatir itu penting, Nadira. Makanya Mama angkat."
Nadira mendengus dingin. "Ini privasi ku, Ma. Mama nggak bisa angkat sembarang panggilan dari hpku!" tegasnya lalu melangkah pergi meninggalkan kamar itu dengan hati berdebar.
"Untuk apa Mas Arga menghubungiku? Apa dia sengaja ingin semua orang di rumah ini tau jika aku punya anak dan pernah menikah?"
"Dia pasti iri setelah tau aku bahagia di sini," batin Nadira sambil mencengkram ponselnya erat.
Tanpa Nadira ketahui, Gina sempat mendengar seruan seorang anak yang memanggilnya ibu. "Siapa anak itu? Kenapa dia manggil Nadira dengan sebutan Ibu?" gumam Gina heran, sebuah dugaan melintas dalam benaknya.
"Apa dia sebenarnya sudah punya anak?"
Malam harinya, suara deru mobil terdengar beriringan memasuki halaman rumah. Gina langsung membuka mata, tahu bahwa suami dan putranya baru saja pulang.
Ia menoleh ke arah pintu, bersiap menyambut Bima yang selalu menemuinya lebih dulu ketika sampai di rumah. Dan betul saja. Kurang dari satu menit, pintu kamarnya terbuka dan sosok putra semata wayangnya muncul sambil tersenyum lebar.
"Malam, Ma."
Bima duduk di tepi ranjang dan membetulkan anak rambut ibunya. "Nadira mengurus Mama dengan baik kan?" tanya pria itu, memastikan.
Gina tersenyum lemah. "Nadira sangat telaten ngurus Mama, Bima. Kamu pandai mencari istri."
"Ya, itu sudah tugasnya. Jika ingin jadi menantu di keluarga ini, dia harus tahu aturannya," kata Bima.
Gina menatap putranya dengan sendu. Ia tahu Bima sangat menyayanginya, tak tak menyangka cara pikir pria itu justru mengikuti ayahnya, di mana seorang istri harus mengemban tugas, sebagai orang yang mengerjakan semua pekerjaan rumah dan mengurus semua orang.
"Jangan terlalu keras pada Nadira, Bima. Dia calon istrimu. Jangan sampai, dia berakhir seperti Mama sekarang," pesan Gina sambil mengusap punggung tangan putranya.
Bima menggeleng dan menggenggam tangan dingin ibunya. "Ma, Mama nggak perlu mikirin dia. Lagipula, Bima kerja cari uang untuk dia. Sudah sepantasnya dia membantu Bima dengan mengurus keluarga kita."
"Bima... kamu nggak ngerti."
"Udah. Bima nggak mau denger Mama bahas dia lagi. Ini udah jadi tugas dia. Kalo dia merasa nggak sanggup, aku akan batal menikahinya."
"Aku hanya ingin punya istri yang patuh padaku dan sayang sama Mama!" tegas pria itu.
Gina akhirnya menyerah memberi pengertian. "Bima, sebenarnya ada yang ingin Mama tanyakan pada kamu tentang Nadira."
Ekspresi wajah Bima mendadak tegang, namun dia langsung menguasainya. "Kenapa dengan Nadira, Ma? Dia nggak buat salah kan sama Mama?"
Gina menggeleng lemah. "Bukan, bukan soal itu."
"Terus?"
Jantung Bima berdebar kencang. Ia khawatir ibunya tahu soal kebenaran tentang status Nadira.
"Tadi, ada yang menelpon Nadira. Mama sempet denger suara seorang anak perempuan yang memanggilnya ibu..."
Degh!
"Kamu jujur pada Mama, siapa anak itu? Apa dia anak Nadira?" Sorot mata Gina penuh harapan akan kebenaran.
Bima terdiam cukup lama, sebelum sebuah tawa meluncur dari bibirnya. Tawa yang terdengar kaku.
"Anak siapa maksud Mama? Nggak mungkin itu anak Nadira. Mama pasti salah denger," sahut Bima berusaha menyingkirkan kecurigaan ibunya.
"Tapi Mama yakin, itu suara anak perempuan, Bima. Dia memanggil Nadira Ibu."
"Ma, sepertinya Mama kurang istirahat. Mama istirahat dulu, ya. Aku juga capek, mau istirahat," pungkas Bima sembari bangkit berdiri.
"Bima, kalo kamu nggak tahu soal ini. Coba kamu selidiki. Bisa jadi gadis itu beneran anak dari Nadira," pinta Gina yang berpikir putranya tidak mengetahui apapun.
"Iya, Ma. Demi ketenangan Mama, aku akan menyelidiki nya. Tapi, jangan ceritakan ini pada Papa ataupun Nenek. Aku akan memastikannya lebih dulu," pesan Bima sambil tersenyum tipis, namun sorot matanya memancarkan aura kemarahan yang berkobar.
Gina mengangguk mengerti. Ia menatap punggung putranya yang menjauh dan menghilang di balik pintu.
"Semoga dugaanku salah," batinnya gelisah.
Bima berjalan menaiki tangga sambil menyingsingkan lengan bajunya, seolah tengah bersiap masuk ke sebuah pertempuran.
Tiba di depan kamar Nadira, pria itu langsung membuka pintu dengan kasar, membuat wanitanya terlonjak kaget.
"Mas Bima."
Tubuh Nadira terpaku saat melihat Bima datang dengan ekspresi kemarahan yang siap meledak.
Bima menutup pintu dengan sebelah kaki, lalu melangkah mendekati Nadira.
Plak!
"Mas!" pekik Nadira.
Bersambung...