NovelToon NovelToon
SILENT PROTOCOL: GHOST IN THE GRID

SILENT PROTOCOL: GHOST IN THE GRID

Status: sedang berlangsung
Genre:Agen Wanita / Identitas Tersembunyi / Action / Fantasi / Cintamanis / Romansa
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: risn_16

Raka adalah seorang "Hantu". Mantan operator elit dari unit rahasia yang keberadaannya tidak pernah diakui oleh negara. Setelah memalsukan kematiannya, ia hidup dalam bayang-bayang sebagai konsultan keamanan independen, memastikan rahasia-rahasia gelap korporasi tetap terkunci rapat.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon risn_16, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

SURAT KALENG DARI BRAZIL

08:30 AM. Teras Belakang Analogue Heart.

Pagi setelah peresmian toko terasa lebih lambat dari biasanya. Sisa sisa perayaan semalam masih terasa beberapa gelas kosong yang belum sempat dicuci berjajar di meja kayu, dan aroma kue almond Ibu Kostas masih menggantung tipis di udara. Raka sedang duduk di kursi rotan, kakinya selonjoran menatap laut yang berkilau. Di tangannya bukan senjata, melainkan sebuah amplop cokelat tua yang permukaannya terasa kasar dan lembap khas kiriman yang telah menempuh perjalanan lintas benua.

Liana keluar dengan langkah malas, mengenakan daster satin tipis yang tertutup oleh kardigan rajut kebesaran. Ia membawa dua cangkir kopi panas, meletakkan satu di depan Raka sebelum duduk di pangkuannya tanpa permisi.

"Apa itu?" tanya Liana sambil menyandarkan kepalanya di bahu Raka yang bidang. "Tagihan air? Atau surat cinta dari penggemar rahasiamu di desa?"

Raka menyesap kopinya, matanya masih terpaku pada perangko yang sedikit pudar. "Bukan tagihan. Ini dari Brasil. Pengirimnya tertulis Toko Kelontong Santos, tapi aku tahu kode ini."

Raka menunjuk ke pojok amplop, di mana terdapat sebuah simbol kecil berbentuk angka 0 yang dilingkari garis putus putus. Kode sandi Unit 09 untuk pesan yang bersifat low priority namun high importance.

Liana segera menegakkan duduknya, kantuknya hilang seketika. "Bimo?"

"Bukan. Bimo ada di sofa kita, masih pingsan karena Ouzo semalam," jawab Raka datar. "Ini dari mantan kurir kita, si Kancil. Dia menetap di Brasil setelah pangkalan kita bubar."

Raka membuka amplop itu perlahan. Di dalamnya tidak ada surat panjang, hanya selembar foto polaroid tua dan selembar kertas kecil berisi deretan angka koordinat dan satu kalimat singkat

"Hujan di Rio tidak pernah berhenti, tapi burung burung mulai kembali ke sarang. Apakah kalian sudah menemukan rumah?"

Liana mengambil foto polaroid itu. Foto itu menampilkan sebuah kafe pinggir pantai yang kumuh di Rio de Janeiro, namun di salah satu sudut foto, terlihat pantulan di kaca jendela seorang pria paruh baya dengan topi fedora yang sedang membaca koran. Wajahnya tidak jelas, namun tanda lahir di tangan kanannya sangat mencolok.

"Itu... Kapten Yudha?" suara Liana bergetar, emosi yang campur aduk antara takut dan tidak percaya.

Raka merangkul pinggang Liana lebih erat, mencoba menyalurkan ketenangan. "Bukan. Yudha sudah tidak punya tubuh fisik, Li. Kita menghancurkannya di Arktik. Tapi ini... ini adalah salah satu tangan Yudha yang dulu sempat menghilang sebelum protokol Self Delete diaktifkan. Kolonel Hendra."

Suasana santai pagi itu mendadak terasa sedikit berat. Liana menatap Raka dengan mata berkaca kaca. "Apakah ini berarti mereka mengejar kita lagi? Apakah kedamaian ini hanya pinjaman?"

Raka menarik napas panjang, lalu mengecup kening Liana. "Dengar aku. Kancil mengirim ini bukan untuk menakuti kita. Dia mengirim ini untuk memberi tahu bahwa burung burung mulai kembali ke sarang. Itu kode bahwa orang orang lama kita mulai mencari perlindungan. Mereka tidak sedang memburu, Li. Mereka sedang bersembunyi. Mereka mencari tempat di mana mereka bisa menjadi manusia lagi, sama seperti kita."

"Woi! Kenapa wajah kalian seperti orang habis melihat hantu di pagi buta begini?"

Bimo muncul di ambang pintu teras dengan rambut yang benar benar mirip sarang burung dan sebuah kompres es yang ditempelkan di dahinya. Ia berjalan sempoyongan menuju kursi kosong.

"Bim, lihat ini," Raka menyodorkan foto dan kertas itu.

Bimo menyipitkan matanya, mengamati foto itu selama beberapa detik, lalu menghela napas panjang. "Ah, si Hendra. Tua tua keladi. Aku dengar dia sekarang jadi bandar asuransi di Rio. Dia tidak akan mengganggu siapa siapa, Raka. Dia terlalu sibuk menikmati uang pensiunan gelapnya."

Bimo duduk bersandar, memejamkan matanya sambil mengeluh. "Kalian ini terlalu sensitif. Itulah masalahnya kalau orang militer mencoba hidup normal. Setiap surat masuk dianggap bom, setiap orang asing dianggap mata mata."

"Tapi Bim, dia tahu tentang kita?" tanya Liana cemas.

"Semua orang di jaringan kita tahu kalian masih hidup, Li. Kalian adalah legenda. Hantu dan Ratunya yang melarikan diri ke pelabuhan biru. Tapi mereka tidak akan mencari kalian," Bimo membuka satu matanya, menatap mereka dengan tatapan yang sangat jujur dan emosional. "Karena bagi mereka, kalian adalah simbol harapan. Kalau kalian bisa selamat dan bahagia, berarti mereka juga punya kesempatan. Mereka menjagamu dari jauh, bukan untuk memburu, tapi untuk memastikan harapan itu tidak mati."

Liana perlahan merilekskan bahunya. Air matanya yang tadi sempat menggenang kini tidak jadi jatuh. Ia menatap Raka, yang juga tampak sedang mencerna perkataan Bimo.

Raka meremas pelan kertas koordinat itu, lalu meletakkannya di asbak dan menyulutnya dengan pemantik hingga menjadi abu. "Kau benar, Bim. Kurasa aku harus berhenti berpikir seperti seorang point man."

"Nah, gitu dong! Bagus!" Bimo berdiri dengan semangat yang dipaksakan. "Sekarang, karena aku sudah memberimu pencerahan spiritual, bisakah kalian memberiku sarapan yang layak? Perutku rasanya seperti sedang meretas dirinya sendiri."

Liana tertawa, ia bangkit dari pangkuan Raka dan menjulurkan lidahnya pada Bimo. "Masak sendiri! Kau tamu yang tidak tahu diri."

"Raka! Lihat istrimu! Dia kejam sekali pada penyelamat hidupnya!" keluh Bimo sambil mengekor Liana masuk ke dapur.

Raka tetap di teras sejenak, menatap sisa abu kertas di asbak. Ia merasakan beban sepuluh tahun terakhir benar benar mulai luruh. Surat dari Brasil itu bukan ancaman, melainkan surat pelepasan. Sebuah pengakuan dari masa lalu bahwa mereka telah bebas.

Ia masuk ke dalam, melihat Liana dan Bimo yang sedang berdebat seru tentang cara menggoreng telur yang benar. Liana menoleh ke arahnya, memberikan senyum paling manis yang pernah Raka lihat senyum yang penuh dengan rasa aman.

Raka menghampiri Liana, mengabaikan protes Bimo, dan memeluknya dari belakang tepat di depan kompor. Ia membisikkan sesuatu di telinga Liana yang membuat wajah wanita itu merona merah padam.

"Raka! Masih ada orang di sini!" teriak Bimo sambil menutup mata dengan tangannya yang memegang spatula.

"Maka pergilah ke depan dan sapu lantai toko, Bim," sahut Raka santai tanpa melepaskan pelukannya.

Pagi itu, di bawah sinar matahari Yunani, rahasia dari Brasil itu hanya menjadi catatan kaki kecil dalam buku kehidupan baru mereka. Mereka bukan lagi hantu yang melarikan diri, melainkan manusia yang sedang menikmati kopi, candaan sahabat, dan cinta yang tidak lagi perlu disembunyikan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!