NovelToon NovelToon
Dewa Level Nol

Dewa Level Nol

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Kultivasi Modern / Action
Popularitas:3.4k
Nilai: 5
Nama Author: Mukaram Umamit

Berawal dari utang panci 1.500 koin emas, Feng—murid "sampah" Level Nol tanpa sihir—justru memutarbalikkan tatanan tiga alam semesta!

Bersenjatakan Sistem Dewa Asal Mula yang menukar kalori makanan menjadi kekuatan fisik pembelah surga, serta ditemani Buntel, naga buncit yang menjadikan pedang pusaka dan zirah dewa sebagai camilan renyah, Feng memulai perjalanan kultivasi paling brutal.

Dari meratakan Balai Penegak Hukum sekte, mengacaukan turnamen elit demi akses kantin gratis, merampok gudang senjata di Alam Dewa, hingga akhirnya meninju Sang Pencipta Kosmos di ujung semesta. Semuanya membuktikan satu hukum mutlak: Sihir paling sakti sekalipun akan hancur lebur di hadapan tamparan sandal jepit orang yang sedang kelaparan!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mukaram Umamit, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

RAJA BABI BESI YANG SALAH PILIH LAWAN

DUAAARRR!

Benturan itu menghasilkan gelombang kejut yang cukup kuat untuk merontokkan daun-daun hitam dari pepohonan di sekitarnya. Raja Babi Besi, yang memiliki bobot setara truk bermuatan penuh, mendengus kaget saat serudukan mautnya tertahan oleh makhluk sekecil bantal sofa. Buntel tidak terpelanting; naga kecil itu justru menempel erat di moncong baja sang raja hutan dengan keempat cakar mungilnya.

"Kyuk! Kyuk!" seru Buntel dengan nada penuh kegembiraan.

Tanpa basa-basi, Buntel membuka rahangnya lebar-lebar—jauh lebih lebar dari ukuran kepalanya sendiri—dan langsung menggigit taring kanan Raja Babi Besi yang setebal paha manusia.

KRETEK... KRAAAK!

"GROOOAAAARRR!"

Raja Babi Besi mengeluarkan raungan memekakkan telinga. Taring bajanya yang legendaris, yang biasanya bisa menembus perisai spiritual kultivator tingkat Master, patah berkeping-keping di bawah gigitan Buntel. Naga kecil itu mengunyah patahan taring tersebut dengan suara renyah, seolah-olah itu hanyalah biskuit sereal di pagi hari.

Feng, yang sedang duduk santai sambil membersihkan sela gigi menggunakan serat dendeng, menggelengkan kepalanya prihatin.

"Waduh, kasihan sekali kamu, Babi," gumam Feng dengan nada sarkas yang kental. "Taring itu butuh berapa ratus tahun untuk tumbuh? Sekarang malah jadi camilan pembuka buat kadal buncit saya. Buntel, jangan rakus! Ingat, kolesterol besi itu tidak bagus buat kesehatan sayapmu."

Raja Babi Besi yang kini kehilangan satu taringnya menjadi gila karena rasa sakit dan penghinaan. Matanya yang merah menyala semakin membara, memancarkan aura kegelapan yang pekat. Ia mulai menghentak-hentakkan kakinya ke tanah, memanggil energi bumi untuk memperkuat lapisan baja di tubuhnya.

SISTEM MEMBERIKAN PERINGATAN KILAT: TARGET MEMASUKI MODE BERSERKER. KEKERASAN KULIT BAJA MENINGKAT DUA KALI LIPAT. KEMUNGKINAN BUNTEL MENGALAMI SAKIT GIGI: NOL PERSEN. KEMUNGKINAN TARGET MATI DIMAKAN HIDUP-HIDUP: SEMBILAN PULUH SEMBILAN PERSEN.

"Sistem, kamu terlalu jujur," batin Feng sambil terkekeh pelan. "Lihat itu, si Babi malah mengeraskan kulitnya. Itu sama saja dengan memesan menu tambahan 'ekstra krispi' buat Buntel."

Raja Babi Besi melakukan manuver memutar, mencoba membanting Buntel dari moncongnya. Namun, naga kecil itu justru melompat ke udara dan mendarat tepat di punggung sang babi. Dengan kecepatan yang sulit diikuti mata, Buntel mulai melakukan 'mukbang' masal. Ia mengoyak lempengan baja di punggung Raja Babi Besi seolah-olah sedang mengupas kulit jeruk.

Krek! Nyam! Kriuk!

"GIIIIIIII!" raungan sang babi kini berubah menjadi jeritan minta ampun.

"Buntel! Berhenti sebentar!" teriak Feng sambil berdiri dari duduknya. "Jangan dimakan semua! Kamu ini kalau sudah ketemu makanan lupa daratan. Ingat janji kita, saya butuh Jantung Besi itu buat bayar utang di Kedai Naga Emas. Kalau jantungnya kamu telan juga, kita berdua bakal jadi buronan tukang cuci piring seumur hidup!"

Buntel berhenti sejenak, menoleh ke arah Feng dengan mulut yang masih penuh dengan potongan logam. Naga kecil itu mengerjapkan mata emasnya, tampak sedikit kesal karena acara makannya diinterupsi.

"Kyuk?" Buntel menunjuk ke arah kepala babi itu dengan ekornya.

"Iya, kepalanya boleh kamu bawa pulang buat ganjalan pintu paviliun kita, tapi jantungnya jangan!" perintah Feng tegas.

Raja Babi Besi, melihat ada celah saat 'predator' di punggungnya teralih perhatian, langsung mengambil langkah seribu. Ia berbalik dan berlari sekencang mungkin menembus kabut, menabrak pohon-pohon besar hingga tumbang demi menyelamatkan nyawanya yang tinggal setengah.

"Eh? Mau lari ke mana, Menu Utama?!" seru Feng.

Feng tidak berlari mengejar. Ia hanya menghela napas panjang, lalu menekuk lututnya sedikit. Dengan satu ledakan kekuatan otot kaki yang minimalis, Feng melesat ke depan seperti anak panah yang lepas dari busur.

WUUUSSHH!

Hanya dalam tiga lompatan, Feng sudah mendarat tepat di atas dahan pohon besar di depan jalur lari Raja Babi Besi. Ia melompat turun dan mendarat dengan santai, menghadang jalan sang babi dengan tangan masuk ke saku jubah.

"Mas Babi, lari itu membakar banyak kalori," ucap Feng dengan nada malas. "Kasihan tubuhmu yang sudah bolong-bolong dimakan Buntel. Sini, biar saya bantu akhiri penderitaanmu dengan cepat. Tapi tolong ya, pas saya ambil jantungnya, jangan berontak. Saya malas kalau bajunya kena noda darah, deterjen di sekte itu mahal harganya."

Raja Babi Besi berhenti mendadak, membuat tanah di bawahnya terseret sedalam beberapa sentimeter. Menyadari tidak ada jalan keluar, ia mengeluarkan seluruh sisa energinya. Tubuhnya membara merah, memancarkan panas yang luar biasa. Ia berniat melakukan serangan bunuh diri dengan meledakkan inti energinya.

SISTEM MENGELUARKAN ALARM MERAH: PERINGATAN! TARGET MELAKUKAN SELF-DESTRUCT. ENERGI YANG DIHASILKAN CUKUP UNTUK MERATAKAN RADIUS SERATUS METER. BIAYA KALORI UNTUK MENAHAN LEDAKAN: SATU JAM WAKTU HIDUP.

"Waduh, mainnya bom-boman ya? Tidak sportif sekali," komentar Feng sambil melangkah maju dengan tenang. "Buntel, kalau dia meledak, makananmu hangus lho."

Mendengar kata 'makanan hangus', Buntel yang masih berada di punggung babi itu langsung bereaksi. Ia membuka mulutnya dan menyedot aura merah yang membara dari tubuh Raja Babi Besi seolah-olah sedang meminum jus buah dingin di hari yang panas.

Slurrrppp!

Aura bunuh diri itu padam seketika. Raja Babi Besi kini benar-benar lemas, matanya yang tadi merah perlahan meredup. Tubuhnya limbung dan jatuh berdebam ke tanah, menimbulkan suara dentuman logam yang berat.

Feng berjalan mendekati kepala babi yang sudah tidak berdaya itu. Ia berjongkok dan menepuk-nepuk hidung baja sang babi.

"Nah, begini kan enak. Damai itu indah," ucap Feng ramah. "Sekarang, mari kita bicara soal Jantung Besi—"

Tiba-tiba, telinga Feng menangkap suara desir halus dari arah semak-semak di seberang lapangan kecil itu. Bukan suara monster, melainkan suara gesekan kain sutra yang sangat halus.

"Wah, wah... Siapa sangka si murid sampah Level Nol benar-benar berhasil melumpuhkan Raja Babi Besi," sebuah suara yang dingin dan penuh kesombongan terdengar dari balik kabut.

Tiga sosok pemuda dengan seragam murid inti yang mewah melangkah keluar. Di tengahnya berdiri seorang pemuda berwajah tampan namun memiliki senyum yang sangat licik. Di dadanya tersemat lencana emas berbentuk pedang bersilang—simbol elit dari Faksi Pedang Bersilang yang jauh lebih tinggi tingkatannya dari Wang Gang.

"Kakak Senior Wang Wei!" gumam Budi yang entah sejak kapan sudah membuntuti di kejauhan bersama beberapa murid lainnya, kini mereka mulai berani mendekat karena mengira Feng sudah kelelahan.

Wang Wei menatap tubuh Raja Babi Besi yang sekarat dengan pandangan serakah. Ia sama sekali tidak mempedulikan Buntel yang sedang asyik menjilati sisa baja di kaki babi.

"Feng, aku harus berterima kasih padamu karena sudah melemahkan monster ini untuk kami," ucap Wang Wei sambil menghunuskan pedang panjangnya yang berkilau cahaya biru. "Tapi sayangnya, misi merah ini terlalu berharga untuk diselesaikan oleh seorang sampah sepertimu. Serahkan Jantung Besi itu sekarang, dan aku mungkin akan mengizinkanmu pulang dengan kaki yang masih utuh."

Feng tetap berjongkok, tidak berdiri, tidak juga terlihat takut. Ia hanya menoleh sedikit ke arah Wang Wei dengan tatapan yang luar biasa malas.

"Mas Wang Wei, ya?" tanya Feng sambil menggaruk telinganya. "Aduh, hari ini populer sekali ya faksi kalian. Tadi pagi temannya yang namanya Wang Gang sudah saya terbangkan ke semak-semak. Sekarang Mas datang lagi mau minta jantung? Memangnya saya ini toko organ tubuh?"

Wajah Wang Wei mengeras mendengar nama Wang Gang disebut. "Jangan samakan aku dengan pecundang seperti Wang Gang! Aku adalah murid inti peringkat sepuluh besar! Serahkan misinya, atau kau akan terkubur di hutan ini tanpa ada yang tahu!"

Feng menghela napas panjang, lalu menepuk punggung Raja Babi Besi yang masih bernapas pendek.

"Mas, dengar ya," ucap Feng dengan nada datar namun penuh penekanan. "Saya sedang sangat lapar. Utang saya seribu lima ratus koin emas. Buntel belum makan siang dengan benar. Kalau Mas mau merampok, cari waktu yang pas. Sekarang suasana hati saya sedang sangat buruk karena kadar gula darah saya rendah. Jadi, mending Mas pulang, cuci kaki, terus tidur. Jangan sampai pedang bagus itu saya jadikan tusuk gigi buat Buntel."

"Beraninya kau!" raung Wang Wei. Ia meluncur maju dengan kecepatan yang jauh lebih tinggi dari Wang Gang, pedangnya membelah kabut dengan aura yang mampu memotong besi. "Jurus Pedang Langit Pembelah Jiwa!"

Feng masih berjongkok. Ia hanya mengangkat tangan kanannya ke samping, tanpa menoleh.

"Buntel, ada lalat berisik," gumam Feng pelan.

Sebelum pedang Wang Wei menyentuh Feng, Buntel tiba-tiba menghilang dari punggung babi. Dalam sekejap mata, naga kecil itu muncul tepat di depan bilah pedang Wang Wei yang sedang melesat.

KRAAAKK!

Buntel menangkap bilah pedang pusaka tingkat tinggi itu menggunakan mulutnya, lalu dengan sekali kunyah, pedang itu hancur berkeping-keping.

Wang Wei mematung di tempat. Tangannya yang masih memegang gagang pedang yang kini hanya tersisa sepuluh sentimeter itu bergetar hebat. Matanya menatap horor ke arah naga kecil buncit yang kini sedang menelan potongan pedang pusakanya sambil bersendawa wangi herbal.

"P-Pedangku... Pedang pusaka pemberian guruku..." gagap Wang Wei dengan wajah pucat pasi.

Feng perlahan bangkit berdiri. Ia menatap Wang Wei dengan senyum tipis yang sama sekali tidak terlihat ramah.

"Tuh kan, saya bilang juga apa. Sayang pedangnya, Mas," ucap Feng santai sambil melangkah mendekat. "Sekarang, karena Buntel sudah makan pembuka dari pedang Mas, sepertinya saya harus menagih biaya ganti rugi waktu saya yang terbuang. Mas bawa uang berapa di kantong spasial itu?"

Situasi berbalik seratus delapan puluh derajat. Murid inti yang tadinya ingin merampok kini justru merasa seperti mangsa yang sedang dipojokkan oleh monster yang jauh lebih menakutkan daripada Raja Babi Besi. Di saat yang sama, kabut di sekitar mereka mendadak bergejolak, dan sebuah raungan yang jauh lebih dalam dan kuno terdengar dari bagian hutan yang lebih gelap—seolah sesuatu yang jauh lebih besar dari Raja Babi Besi baru saja terbangun karena keributan itu.

1
Fatur Fatur
cepat bantai sosok berjubah hitam itu thor bikin racun itu tidak mempan pada mcnya
M. Zayden: siap bosku😊
total 3 replies
strivee
smphnjs
Gege
kereen...sangat apik dan epic
M. Zayden: maksi bosku masukannya, saya minta maaf kalau jalan cerita sudah berubah lagi karna saya ada perbaiki ulang🙏
total 1 replies
strivee
bahasa alien
M. Zayden: di skip kak
total 1 replies
Gege
gasss teruus thorr
Gege
apik dan epic
M. Zayden: mkasi bosku😊😊🙏
total 1 replies
Gege
kereen sangat apik dan epic...gasss 10k kata tiap update...
M. Zayden: siap bosku di usahakan karna saya juga kerja bosku
total 1 replies
Gege
mantab thor. gaya bahasanya enak ..
M. Zayden: makasih bosku masukannya 🙏🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!