NovelToon NovelToon
Warisan Pedang Naga

Warisan Pedang Naga

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Balas Dendam / Mengubah Takdir
Popularitas:2.9k
Nilai: 5
Nama Author: Reijii

Serial ini mengisahkan perjalanan Chen Feng, seorang pemuda yang menjadi satu-satunya keturunan keluarga pemburu naga setelah desa kecilnya di Tanah Seribu Pegunungan dibakar dan orang tuanya terbunuh oleh Sekte Ular Hitam. Dengan bimbingan Ye Linglong, putri dari klan pemburu naga terkemuka, Feng belajar mengendalikan kekuatan naga yang mengalir dalam dirinya—kekuatan yang tidak hanya berasal dari kemarahan akan kehilangan, melainkan dari kedamaian dan pemahaman tentang cinta serta tanggung jawab.

Melalui serangkaian ujian yang menguji keberanian, pengendalian diri, dan pemahaman tentang cinta serta masa lalu, Feng harus menghadapi dendam yang telah berlangsung berabad-abad antara keluarganya dengan Sekte Ular Hitam. Ia menemukan bahwa kekuatan sebenarnya bukanlah dari kemarahan atau kekerasan, melainkan dari kemampuan untuk menerima rasa sakit, menyatukan apa yang terpisah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reijii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 2: Jalan Menjadi Pembela

Dua hari telah berlalu sejak kebakaran desa Chenjia Cun. Langit yang tadinya mendung kini mulai memudar menjadi warna kebiruan muda, menyertai gerakan kereta kuda yang membawa Chen Feng dan Ye Linglong menuju Kota Yunlong. Feng duduk di sudut dalam kereta kayu berukir yang kuat, matanya tetap menatap ke luar ke jalan tanah yang berkelok-kelok melalui hutan bambu yang rimbun.

Kalung perak dengan liontin kepala naga tetap terikat erat di pergelangan tangannya, bahkan ketika dia tidur. Setiap kali ia menyentuhnya, rasa hangat lembut akan mengalir ke seluruh tubuhnya, seolah ada sesuatu yang hidup di dalam liontin itu. Ingatan tentang wajah ibunya yang memucat dan ayahnya yang berjuang hingga akhir masih terus menghantui pikirannya, membuat tangannya terkepal keras hingga paku tangan menusuk kulit.

“Kamu belum makan apa-apa sejak kemarin sore.”

Suara Ye Linglong membuat Feng terkejut sedikit. Ia menoleh dan melihat wanita itu yang sedang duduk di sisi lain kereta, memegang baskom berisi bubur beras dengan irisan daging ayam dan sayuran hijau. Wanginya harum dan menggugah selera, tapi Feng hanya menggeleng perlahan.

“Aku tidak lapar,” jawabnya dengan suara yang kasar.

Linglong menghela nafas perlahan, lalu menempatkan baskom di atas meja kecil di tengah kereta. “Kekuatan tubuhmu akan penting untuk apa yang akan datang. Sekte Ular Hitam tidak hanya terdiri dari Hei Yu saja—mereka memiliki ribuan pengikut yang tersebar di seluruh Tanah Seribu Pegunungan. Mereka bahkan memiliki hubungan dengan beberapa pejabat kerajaan yang tidak jujur.”

Feng mengerutkan kening. “Kenapa mereka begitu ingin mendapatkan Warisan Pedang Naga? Apa sebenarnya pedang itu?”

“Kita akan membahasnya dengan jelas ketika kita sampai di Kota Yunlong,” ujar Linglong sambil menatap jauh ke depan. “Namun bisa kubilang bahwa Pedang Naga bukan hanya sebuah senjata biasa. Ia dibuat dari tulang punggung naga pertama yang bersatu dengan manusia ribuan tahun yang lalu. Dengan kekuatannya, seseorang bisa mengendalikan energi alam semesta atau menghancurkannya sepenuhnya.”

Ketika mereka melewati sebuah jembatan kayu yang menjembatani sungai deras, suara berkuda cepat datang dari belakang. Beberapa orang berpakaian hitam dengan topeng wajah menyerbu dengan kecepatan tinggi, pedang mereka siap untuk menyerang.

“Serangan Sekte Ular Hitam!” teriak salah satu pengawal di depan kereta.

Sebelum Feng bisa bergerak, Linglong sudah berdiri dan mengambil tombak yang selalu dia bawa di sisi tubuhnya. Ia melompat keluar dari kereta dengan kelincahan yang mengagumkan, lalu menghadang salah satu penyerang dengan lengan baja tombaknya yang kokoh.

“Tetap di dalam kereta!” teriaknya ke arah Feng sebelum terjun ke dalam pertempuran.

Tapi Feng tidak bisa tinggal diam melihat orang lain berjuang untuk melindunginya. Ia berdiri dan melihat sekeliling, mencari sesuatu yang bisa digunakan sebagai senjata. Ketika salah satu penyerang berhasil melewati pengawal dan menghadang kereta dengan pedangnya yang menyala api hitam, Feng meraih tongkat kayu yang digunakan untuk menahan tirai kereta dan menghadapinya.

“Anak kecil yang sok berani,” cela penyerang itu dengan suara tersedak karena topengnya. “Kamu tidak pantas menyentuh warisan yang kamu miliki!”

Penyerang itu menyerang dengan cepat, mencoba menusuk dada Feng. Tapi dengan naluri yang tak terduga, Feng membobol serangan itu dan memukul sisi kepala penyerang dengan tongkat kayu. Bunyi keras terdengar ketika tongkat itu menghantam topeng logam, membuat penyerang itu terkilir ke samping.

Namun gerakan itu juga membuat Feng kehilangan keseimbangan. Ketika dia mencoba untuk berdiri lagi, dia melihat bayangan lain sedang menghampiri dari belakang. Hidungnya tercium bau darah dan bunga mati yang menyengat—bau yang sama dengan Hei Yu pada malam pembantaian desa.

“Kamu adalah anak Chen Wei yang malang,” ujar penyerang itu dengan suara yang rendah dan menggigil. “Saya adalah Bai Hu, salah satu dari Empat Ksatria Gelap Sekte Ular Hitam. Saya akan membawa kepalamu sebagai hadiah untuk pemimpin kita!”

Bai Hu mengeluarkan cakar besi yang panjang dari sarung tangannya, lalu menyerang dengan kecepatan yang membuat Feng tidak bisa menghindar. Tapi tepat ketika cakar itu akan menusuk dadanya, kalung di pergelangan tangannya tiba-tiba menyala terang dengan cahaya keemasan. Sebuah bidang energi transparan muncul di depan Feng, memantulkan serangan Bai Hu hingga dia terlempar ke belakang.

“Bagaimana mungkin… kamu sudah bisa mengaktifkan perlindungan warisan tanpa pelatihan?” bisik Bai Hu dengan suara tak percaya.

Pada saat yang sama, Linglong berhasil mengalahkan semua penyerang lainnya dan melompat kembali ke sisi kereta. Ia melihat Bai Hu dengan wajah yang penuh kemarahan. “Bai Hu! Kamu telah menjadi buronan kerajaan karena pembunuhan lebih dari seratus orang. Hari ini adalah hari terakhirmu!”

Linglong menyerang dengan tombaknya yang cepat seperti kilat. Bai Hu menanggapi dengan cakar besinya, dan pertempuran antara keduanya menghasilkan percikan api setiap kali senjata bertabrakan. Feng melihat dengan mata terpaku—gerakan Linglong begitu anggun dan penuh kekuatan, seperti seorang peri peperangan yang turun dari surga.

Namun jelas bahwa Bai Hu adalah musuh yang tangguh. Ia berhasil menghindari serangan serius Linglong dan bahkan berhasil membuat sayatan kecil di lengannya. Ketika ia siap untuk menyerang balik dengan penuh kekuatan, Feng merasakan energi panas lagi mengalir dari kalungnya. Kali ini, dia tidak menahannya—ia mengarahkan kedua tangannya ke arah Bai Hu dan merasakan bagaimana energi itu keluar dari tubuhnya seperti kilat keemasan.

Energi itu mengenai sisi tubuh Bai Hu, membuatnya terlempar ke dinding batu dekat sungai dengan suara ledakan. Ketika debu dan percikan batu menghilang, ia sudah tidak ada lagi—hanya menyisakan beberapa serpihan baju hitam dan darah yang menyatu dengan air sungai.

Linglong menoleh ke arah Feng dengan ekspresi yang bercampur antara kagum dan khawatir. “Kamu belum pernah belajar bagaimana mengendalikan kekuatan itu, tapi kamu bisa mengarahkannya dengan tepat. Ini sangat luar biasa… tapi juga sangat berbahaya. Jika kamu tidak bisa mengontrolnya, kekuatan itu bisa membunuhmu atau orang-orang di sekitarmu.”

Feng melihat tangannya yang masih sedikit memancarkan cahaya keemasan. Rasa kekuatan yang dia rasakan membuatnya merasa bahwa dia bisa melakukan apa saja, tapi dia juga merasakan betapa tidak stabilnya energi itu di dalam dirinya.

“Aku harus belajar mengontrolnya,” ujar Feng dengan suara yang tegas. “Aku harus menjadi cukup kuat untuk membunuh Hei Yu dan semua anggota Sekte Ular Hitam yang terlibat dalam pembantaian desa ku.”

Linglong mengangguk perlahan, lalu menyentuh luka di lengannya dengan lembut. “Kita akan sampai di Kota Yunlong besok pagi. Ayahku, Ye Tianhong, adalah pemimpin Keluarga Ye dan juga seorang ahli dalam seni bela diri dan kontrol energi naga. Dia akan membantu kamu belajar—asal kamu bersedia mendengarkan dan belajar dengan sungguh-sungguh.”

Ketika kereta melanjutkan perjalanannya, matahari mulai terbenam di balik pegunungan, menciptakan warna jingga dan merah yang indah di langit. Feng menatap ke arah langit itu, lalu menatap kalung di tangannya. Ia berjanji pada dirinya sendiri dan pada roh orang tuanya bahwa dia akan menjadi cukup kuat. Cukup kuat untuk membalas dendam, dan cukup kuat untuk melindungi orang-orang yang akan datang ke dalam hidupnya.

Di kejauhan, jauh di atas puncak Gunung Tianwu, seekor naga putih berdiri diam di atas tebing tinggi. Matanya yang biru kebiruan menatap arah di mana kereta Feng dan Linglong pergi, seolah-olah memantau setiap langkah perjalanan mereka menuju takdir yang sudah ditentukan.

1
andi
luar biasa
sambo
👌👌👌
lukman
krren
ciko
luar biasa
bara
mantap
Nanik S
Lanjut terus
Nanik S
Untungnya Ye Fang masih selamat
adul
kerrn
adul
lanjut
zaka
kerrn
dfos
mantap
fajar
👍👍👍
fajar
✊️✊️✊️
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!