NovelToon NovelToon
Reinkarnasi Penguasa Langit

Reinkarnasi Penguasa Langit

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Fantasi Timur / Fantasi
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: JUNG KARYA

Ranu Wara lahir di tengah kemiskinan Kerajaan Durja sebagai reinkarnasi Dewa Tertinggi, ditandai dengan mata putih perak dan tanda lahir rasi bintang di punggungnya. Sejak bayi, ia telah menunjukkan kekuatan luar biasa dengan memukul mundur gerombolan bandit kejam hanya melalui tekanan aura.

Menginjak usia tujuh tahun, Ranu mulai menyadari jati dirinya dan menggunakan kekuatan batinnya untuk melindungi orang tuanya dari penindasan pendekar asing. Pertemuannya dengan Ki Sastro, seorang pendekar tua misterius, mengungkap nubuat bahwa Kerajaan Durja berada di ambang kehancuran akibat konspirasi racun dan ancaman invasi. Kini, Ranu harus memilih: tetap hidup tenang sebagai anak saudagar miskin atau bangkit memimpin perjuangan demi melindungi keluarga dan tanah kelahirannya dari lautan api peperangan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon JUNG KARYA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 23: Pelayaran Menuju Selatan dan Badai Arwah

Kemarahan seorang dewa yang terhina adalah bencana bagi alam semesta, namun kemarahan seorang dewa yang merindukan kasih sayang orang tuanya adalah kiamat kecil yang tersembunyi dalam keheningan.

Ranu Wara tidak lagi bersenda gurau. Aura jenaka yang biasanya menyelimuti dirinya menguap, menyisakan hawa dingin yang jauh lebih tajam daripada salju abadi Benua Utara.

Pangeran Lingga dan Nara bisa merasakan tekanan itu. Di dalam ruang kesehatan, udara seolah memadat, membuat setiap tarikan napas terasa seperti menghirup serpihan kaca. Ranu berdiri, mengabaikan luka-luka di tubuh fananya yang belum pulih benar.

Di punggungnya, samar-samar tujuh bintang berdenyut dengan warna merah darah yang mengerikan, tanda bahwa sang penguasa langit sedang dalam mode "Penghukuman".

"Lingga, siapkan burung pengangkut tercepat atau apa pun yang bisa membawa kita ke pelabuhan selatan dalam tiga jam," perintah Ranu. Suaranya rendah, namun mengandung otoritas yang membuat sendi-sendi Lingga bergetar.

"Gusti—maksudku, Ranu—perjalanan ke Benua Selatan membutuhkan waktu berminggu-minggu melintasi Samudra Luas. Burung rajawali sekalipun tidak akan kuat melawan arus udara di sana," jawab Lingga dengan kepala tertunduk.

Ranu menatap Lingga dengan mata perak yang kini berkilat emas. "Aku tidak meminta pendapatmu tentang jarak. Aku meminta sarana. Jika tidak ada burung yang kuat, aku akan menyeret awan itu sendiri untuk membawa kita."

Nara melangkah maju, meletakkan tangannya yang dingin di lengan Ranu. "Ranu, kendalikan amarahmu. Jika kau memaksakan hukum langit di dunia fana saat wadahmu masih lemah, kau hanya akan memberikan kemenangan pada Amangkrat sebelum pertempuran dimulai. Lautan Kematian memiliki Kutukan Penelan Sukma. Semakin besar kekuatanmu, semakin cepat lautan itu akan menghisap nyawamu."

Ranu menarik napas dalam-dalam, mencoba meredam api yang membakar batinnya. Ia tahu Nara benar. Lautan Kematian bukan sekadar wilayah geografis; itu adalah sisa-sisa dari medan perang kuno di mana ribuan dewa dan iblis gugur, menciptakan area yang menolak segala jenis kekuatan surgawi.

"Baiklah," ucap Ranu akhirnya. "Kita gunakan jalur laut. Tapi kita tidak akan menggunakan kapal kayu biasa."

Pelabuhan Naga Hitam

Tiga jam kemudian, menggunakan bantuan dari pengaruh politik Pangeran Lingga, mereka sampai di Pelabuhan Naga Hitam, pintu gerbang menuju samudra selatan. Di sana, Lingga telah menyiapkan sebuah kapal yang terbuat dari Kayu Jati Langit, jenis kayu yang mampu menahan korosi energi hitam.

Namun, suasana pelabuhan tampak kacau. Para pelaut ketakutan. Mereka menunjuk ke arah cakrawala selatan di mana awan hitam berbentuk tengkorak raksasa mulai menutupi matahari.

"Kalian gila jika ingin berlayar hari ini!" teriak seorang nahkoda tua dengan tangan gemetar. "Badai Arwah sedang mengamuk. Lautan Kematian sedang memanggil tumbal!"

Ranu tidak mempedulikan peringatan itu. Ia melompat ke atas geladak kapal diikuti oleh Nara dan Lingga. Sastro yang terhubung melalui ikatan batin terus mengirimkan kilasan gambar—bayangan orang tua Ranu yang diseret ke sebuah pulau yang terbuat dari tulang-belulang di tengah samudra.

"Angkat sauhnya, Lingga!" perintah Ranu.

"Tapi siapa yang akan mengemudikan kapal ini melewati badai, Ranu?" tanya Lingga cemas saat melihat ombak setinggi rumah mulai menghantam dermaga.

"Aku," jawab Ranu pendek.

Ranu berdiri di haluan kapal. Ia menghentakkan kakinya ke geladak. "Bintang Kedua: Kendali Arus Kehidupan!"

Seketika, kapal kayu itu bersinar biru cerah. Air di bawah kapal mendadak menjadi tenang, sementara di sekeliling mereka ombak masih mengamuk dahsyat. Kapal melesat maju dengan kecepatan yang mustahil, membelah samudra seperti anak panah yang lepas dari busurnya.

Memasuki Badai Arwah

Dua hari pelayaran yang seharusnya memakan waktu dua minggu dilewati hanya dalam hitungan jam. Namun, saat mereka memasuki wilayah Lautan Kematian, warna air berubah menjadi hitam pekat dan kental. Suara tangisan ribuan arwah mulai terdengar dari balik kabut, mencoba merayap masuk ke dalam pikiran mereka.

"Jangan dengarkan suara mereka!" teriak Nara sambil melepaskan panah-panah cahaya untuk membakar tangan-tangan hitam yang mencoba memanjat lambung kapal.

Pangeran Lingga menghunus pedang Candra Kirana, menebas setiap bayangan yang mencoba mendekat. "Tekanan di sini... luar biasa. Ranu, aku merasa hawa murniku membeku!"

Ranu tidak bergeming di haluan. Wajahnya pucat, keringat dingin membasahi dahinya. Ia sedang menahan beban kutukan seluruh lautan agar tidak menghancurkan kapal tersebut. Tiba-tiba, dari dalam air hitam, muncul sesosok makhluk raksasa. Itu adalah Kraken Kehampaan, penjaga perbatasan yang sudah terinfeksi oleh parasit Langit Kesepuluh.

Tentakelnya yang dipenuhi mata-mata merah membelit kapal, membuat kayu jati langit berderit keras.

"Wira Candra... kau datang untuk mati di makammu sendiri?" suara parau bergema dari dasar laut.

"Makamku?" Ranu mendongak, menyeringai ngeri. "Aku adalah pencipta bintang. Lautan ini hanyalah kolam ikan bagiku."

Ranu melompat tinggi ke udara. Di tengah badai dan tarikan gravitasi kutukan yang luar biasa, ia merentangkan tangannya. "Bintang Keenam: Penghancur Keraguan!"

Bukannya menggunakan pedang, Ranu mengubah dirinya menjadi sebuah pilar cahaya yang menghujam tepat ke jantung Kraken tersebut. Ledakan energi terjadi di bawah air, menciptakan tsunami yang hampir membalikkan kapal mereka. Tubuh Kraken itu hancur menjadi debu putih yang justru memurnikan air laut di sekitarnya untuk sementara.

Ranu mendarat kembali di geladak, terbatuk darah emas. Tubuhnya bergetar hebat.

"Ranu!" Nara menangkapnya. "Sudah kubilang, jangan gunakan kekuatan sebesar itu di sini! Wadahmu bisa pecah!"

"Aku... aku tidak punya waktu, Nara," bisik Ranu sambil mengusap darah di bibirnya. "Ibu... aku bisa mendengar jantungnya berdetak sangat lemah. Mereka sedang mempersiapkan upacara Pembalikan Takdir di Pulau Tulang."

Pengkhianatan di Atas Kapal

Di tengah situasi kritis itu, Pangeran Lingga tiba-tiba memegang kepalanya dan berteriak kesakitan. Pedang Candra Kirana miliknya mendadak berubah warna menjadi hitam legam.

"Lingga! Apa yang terjadi?!" seru Nara.

Lingga menatap Ranu dengan mata yang kini berubah menjadi putih kosong. "Dia... dia ada di kepalaku... Amangkrat..."

Ternyata, saat Lingga menusuk Jenderal Kehampaan di akademi tempo hari, setetes darah iblis telah masuk ke dalam luka di tangan Lingga, menunggu saat yang tepat untuk aktif. Dan di Lautan Kematian, di mana pertahanan mental berada di titik terendah, Amangkrat berhasil mengambil alih kesadaran sang pangeran pedang.

Lingga mengayunkan pedangnya ke arah Ranu yang sedang lemah.

"Matilah, Sang Penguasa Langit!" teriak Lingga dengan suara Amangkrat.

Nara mencoba menghalanginya, namun Lingga yang telah dirasuki memiliki kekuatan yang jauh lebih besar dan liar. Ranu, yang masih terduduk lemas, hanya menatap sahabat barunya itu dengan pandangan sedih.

"Amangkrat... kau pikir kau bisa meminjam tangan temanku untuk membunuhku?" ucap Ranu pelan.

Di tengah badai yang mengamuk, di atas kapal yang hampir hancur, dan dengan ancaman dari temannya sendiri, Ranu menyadari bahwa ia tidak bisa lagi bermain-main. Ia harus melakukan sesuatu yang sangat berisiko: Membagi Sukma.

"Nara, pegang tubuhku. Apapun yang terjadi, jangan biarkan tubuh ini jatuh ke laut," perintah Ranu.

Ranu memejamkan mata. Dari tubuh remajanya, keluar sebuah proyeksi cahaya berbentuk pria dewasa yang sangat agung—sosok asli Sang Hyang Wira Candra. Sosok roh itu melayang menuju Lingga, menembus pedang hitamnya, dan langsung masuk ke dalam dahi sang pangeran.

"Keluar dari teman duniaku, pengkhianat!" suara roh Ranu menggelegar di dalam alam bawah sadar Lingga.

Pertempuran batin antara dua dewa di dalam tubuh seorang manusia pun dimulai, sementara kapal mereka terus melaju kencang menuju Pulau Tulang yang kini sudah terlihat di kejauhan, dikelilingi oleh ribuan naga arwah yang haus darah.

......................

1
JUNG KARYA
bantu supportnya kak 🙏
JUNG KARYA
Komentarnya dong kak, juga satu like kalian sangat berarti untuk semangat author ini lho, apalagi kalau mau beri rating di novel ini 😁...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!