kekuatannya menyebabkan dia bisa mengendalikan boneka tapi semakin sering ia menggunakannya ia pun mulai di Kendalikan oleh kekuatan sendiri
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fadhil Asyraf, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10: Inti Kehampaan dan Simpul Penentu Takdir
Mulut Jurang bukanlah sebuah lubang menganga di tanah, melainkan sebuah distorsi spasial, area di mana udara bergetar, waktu terasa melambat, dan cahaya enggan menyentuh. Di tengah formasi batu kuno, Ryo dan Lyra melangkah maju, dikelilingi oleh ketiadaan yang mencekam. Kapten Kael dan Ksatria Templar yang tersisa berdiri di batas area, pedang terhunus, menjaga perimeter dari bahaya yang mungkin muncul dari dalam atau luar. Wajah mereka tegang, mata mereka memancarkan campuran ketakutan dan kepercayaan yang teguh pada Pangeran mereka.
Saat Ryo dan Lyra semakin dekat dengan pusat distorsi, sensasi kehampaan yang dingin menjadi begitu kuat hingga hampir menyesakkan napas. Bisikan-bisikan tanpa suara merayapi pikiran Lyra, mencoba memecah belah konsentrasinya, mengingatkannya pada ketakutan terdalam dan keraguan terbesarnya. Namun, Lyra mengeratkan genggaman tangannya pada Ryo, fokus pada kehangatan dan kekuatan yang terpancar dari Dalang Jiwa itu. Ia adalah jangkarnya, dan ia tidak akan melepaskan.
Ryo menutup mata, membiarkan benang eterik alam semesta membimbingnya. Ia merasakan inti Mulut Jurang. Ia bukan sebuah objek, melainkan sebuah *titik absen*, sebuah ketiadaan yang berkehendak untuk menarik semua keberadaan ke dalam dirinya. Benang-benang kehidupan yang ia rasakan dari Aethelgard terasa ditarik, meregang ke arah titik hampa ini, seolah magnet tak kasat mata menarik serbuk besi.
"Inti Kekosongan," bisik Ryo, suaranya dipenuhi keteguhan. "Ia tidak memiliki jiwa, Lyra. Ia adalah kehampaan itu sendiri yang ingin menjadi ada dengan melahap yang lain."
Lyra mengangguk, matanya menatap ke area gelap di depan mereka, di mana udara seolah beriak seperti air. "Gulungan itu berkata, 'Isi kehampaan dengan keberadaan.' Bagaimana Anda akan melakukannya, Ryo?"
Ryo mengangkat boneka kayunya, Elara. Benang Elara yang samar terasa lebih kuat sekarang, bukan lagi benang kesedihan, melainkan benang pelajaran. "Dengan simpul. Simpul yang tidak mengikat secara paksa, melainkan mengintegrasikan. Aku akan menggunakan benang intiku, benang yang telah diperkuat oleh pelajaran masa lalu, oleh dukungan Ayahanda, oleh kepercayaan para Ksatria, dan oleh... kehadiranmu, Lyra."
Lyra merasakan benang eterik Ryo memancar, semakin kuat, semakin terang. Ia melihat aura merah samar di sekeliling Ryo, berdenyut seirama dengan detak jantungnya. Lyra merasakan benang intinya sendiri terhubung dengan Ryo, sebuah resonansi yang dalam, bukan dominasi. Ia telah menjadi bagian dari Anyaman Ryo, bukan sebagai yang dikendalikan, melainkan sebagai yang mendukung, yang memperkuat.
Ryo melangkah maju, melepaskan genggaman tangan Lyra, dan melangkah sendiri ke ambang Mulut Jurang. Kehampaan itu mencoba menariknya, mencoba mencabut benang-benang keberadaannya. Namun, Ryo berdiri tegak, matanya yang merah menyala, memancarkan tekad yang tak tergoyahkan.
"Aku Dalang Jiwa," Ryo menyatakan, suaranya bergema di ketiadaan yang sunyi. "Aku pengikat benang, bukan pemutus."
Ia memejamkan mata. Ia memproyeksikan benang intinya ke dalam inti Kekosongan. Pertarungan batin yang dahsyat pun pecah. Ryo merasakan benang intinya diregangkan hingga batas terkuatnya, mencoba ditarik, dirobek, dihancurkan menjadi kehampaan. Ia melihat gambaran-gambaran mengerikan melintas di benaknya: Elara yang kosong, Aethelgard yang hampa, wajah-wajah orang yang ia cintai menjadi ketiadaan. Rasa sakit dan penderitaan dari semua jiwa yang Kekosongan telah lahap membanjiri kesadarannya, mengancam untuk memecah belah akalnya.
Namun, Ryo berpegangan pada benang intinya. Ia berpegangan pada kenangan Elara, bukan lagi sebagai penyesalan, melainkan sebagai peringatan. Peringatan akan harga dari kekuatan yang tidak terkendali, dan harga dari kehampaan. Ia merasakan benang Lyra yang kuat, stabil, menyalurkan keberadaan. Ia merasakan benang-benang para Ksatria Templar yang ia ikat dalam Anyaman Suci, sebuah paduan suara tekad dan kepercayaan yang mendukungnya.
"Aku akan mengikatmu!" Ryo berbisik, memusatkan seluruh energinya.
Ia mulai membentuk simpul. Bukan simpul fisik, melainkan simpul eterik, simpul kesadaran. Ia tidak mencoba menghancurkan Kekosongan, karena ia tidak memiliki bentuk untuk dihancurkan. Ia mencoba mengikatnya, mengintegrasikan ketiadaan itu ke dalam Anyaman Kehidupan, mengisi kekosongan itu dengan keberadaan. Ia menciptakan sebuah simpul paradoks: sebuah ketiadaan yang terikat pada keberadaan, sebuah hampa yang diisi oleh harmoni.
Lyra, dari ambang Mulut Jurang, merasakan gejolak energi yang luar biasa. Ia melihat aura merah Ryo bergolak hebat, kemudian mulai memudar, diserap oleh kehampaan. Jantungnya berdebar kencang. Apakah Ryo gagal? Apakah benang intinya tercabut?
"Ryo!" Lyra berteriak, mencoba menjangkau Ryo, tetapi Kapten Kael menahannya.
"Ini pertarungannya, Nona Lyra," kata Kael, wajahnya pucat. "Kita hanya bisa percaya."
Kemudian, sesuatu yang luar biasa terjadi. Aura merah Ryo tidak lagi memudar, melainkan mulai memancar kembali, namun kali ini ia membawa serta warna-warna lain: biru yang menenangkan dari Lyra, emas yang teguh dari para Ksatria, bahkan ungu samar dari Elara. Benang-benang ini tidak lagi mencoba menarik Ryo keluar dari Kekosongan, melainkan mengalir ke dalam Kekosongan itu sendiri, memenuhi kehampaan itu dengan kehadirannya.
Inti Kekosongan, yang semula menarik dan menghancurkan, kini terasa seperti... menahan. Ia tidak lagi mencoba mencabut, melainkan mencoba untuk memahami. Ia tidak lagi hanya menyerap, melainkan mencoba untuk merasakan.
Sebuah simpul terbentuk. Sebuah simpul yang mengikat inti kehampaan itu dengan benang-benang keberadaan. Bukan dominasi, melainkan integrasi. Sebuah ketiadaan yang kini menjadi bagian dari anyaman, tidak lagi sebagai pemutus, melainkan sebagai titik hening, titik netral di tengah simfoni kehidupan.
Mulut Jurang bergetar hebat. Distorsi spasial itu mulai menyusut, kabut hitam yang menyelubunginya mulai menipis. Dingin yang mencekam perlahan menghilang, digantikan oleh keseimbangan yang aneh.
Ryo terhuyung mundur, Lyra segera menangkapnya. Wajahnya sangat pucat, dan ia dipenuhi keringat dingin, namun ada senyum kemenangan di bibirnya. Boneka kayu Elara kini bersinar samar, sebuah cahaya keperakan yang lembut, seolah jiwa Elara akhirnya menemukan kedamaian.
"Aku berhasil," Ryo terengah-engah, suaranya lemah namun dipenuhi kelegaan. "Aku tidak menghancurkannya, Lyra. Aku... mengikatnya."
"Apa artinya itu, Pangeran?" tanya Kael, yang kini berada di samping mereka, menatap takjub pada Mulut Jurang yang perlahan kembali normal.
"Kekosongan itu tidak akan lagi melahap jiwa," Ryo menjelaskan, suaranya sedikit lebih kuat. "Ia tidak akan lagi mencabut benang. Ia masih ada, di sana, sebagai Mulut Jurang. Tapi ia tidak lagi memiliki kehendak untuk menghancurkan. Ia telah diikat. Diintegrasikan ke dalam anyaman keberadaan, sebagai sebuah titik netral. Sebuah pengingat akan bahaya kehampaan, tetapi tidak lagi ancaman aktif."
Lyra menatap Ryo, matanya dipenuhi kekaguman. Ia telah menyaksikan bukan hanya seorang Dalang Jiwa menggunakan kekuatannya, tetapi seorang manusia mengatasi ketakutan dan masa lalunya untuk menyelamatkan dunia.
Benteng Aethel kini dipenuhi sorak sorai. Berita kemenangan mereka akan menyebar dengan cepat ke seluruh Aethelgard. Kekosongan telah dihentikan, bukan dengan kekerasan, melainkan dengan pemahaman dan keseimbangan.
Ryo memegang boneka Elara, cahaya keperakan dari boneka itu perlahan memudar, meninggalkan rasa damai. Ia tersenyum, senyum yang tulus, senyum yang telah ia cari sepanjang hidupnya. Ia tidak lagi merasa bersalah, tidak lagi merasa terbebani. Elara telah membimbingnya, dan ia telah berhasil.
"Pulang," kata Ryo, menatap Lyra, lalu ke Kapten Kael dan para Ksatria. "Kita telah melindungi Aethelgard. Sekarang saatnya membangun kembali."
Perjalanan kembali ke Aethelgard adalah sebuah proses yang berbeda. Mereka tidak lagi dikejar ketakutan, melainkan diiringi harapan. Ryo tidak lagi bersembunyi dari kekuatannya, ia merangkulnya. Ia adalah Dalang Jiwa, bukan Dalang yang memanipulasi, melainkan Dalang yang menuntun, yang mengikat, yang menjaga keseimbangan.
Raja Aethelgard menyambut mereka sebagai pahlawan. Ryo, Dalang Jiwa, tidak lagi menjadi figur yang ditakuti dan terasing, melainkan seorang pangeran yang dicintai dan dihormati. Ia masih merasakan benang-benang eterik, namun kini ia merasakannya dengan pemahaman dan kebijaksanaan, bukan dengan beban.
Lyra tetap di sampingnya, bukan hanya sebagai tabib, tetapi sebagai penasihat terdekatnya. Ia adalah mata Ryo ke dunia fisik, akal sehatnya, dan jangkar spiritualnya. Ikatan mereka telah terjalin kuat, lebih kuat dari benang apapun.
Aethelgard akan pulih. Luka-luka akibat Kekosongan akan sembuh. Namun, pengalaman itu telah mengubah mereka semua. Dan di tengah semua itu, Pangeran Ryo, Dalang Jiwa, telah menemukan takdir sejatinya: bukan untuk memerintah dengan kontrol absolut, tetapi untuk menjaga anyaman kehidupan, mengikat harmoni, dan memastikan bahwa tidak ada lagi kehampaan yang dapat melahap esensi jiwa.
Dan di dalam dirinya, di benang intinya, ia tahu bahwa Elara akhirnya telah menemukan kedamaian, dan ia sendiri, akhirnya bebas.