NovelToon NovelToon
Bukan Wajahmu Tapi Hatimu

Bukan Wajahmu Tapi Hatimu

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Office Romance / Cewek Gendut
Popularitas:8.9k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

​Linggar adalah seorang sekretaris cerdas dan berhati emas, namun ia selalu merasa rendah diri karena tubuhnya yang gemuk. Karena desakan adiknya, Nadya, Linggar akhirnya mencoba peruntungan di aplikasi kencan. Takut ditolak karena fisiknya, ia nekat menggunakan foto cantik adiknya sebagai profil.
​Di dunia maya, ia bertemu dengan Rangga, pria tampan dan karismatik yang jatuh cinta pada kepribadian Linggar. Namun, Rangga mengira ia sedang jatuh cinta pada wanita di foto tersebut.
​Dunia Linggar runtuh saat ia menyadari bahwa Rangga adalah CEO baru di kantornya—bos besarnya sendiri. Kini, Linggar terjebak dalam dilema besar: tetap bersembunyi di balik identitas palsu atau mempertaruhkan segalanya untuk menunjukkan bahwa yang patut dicintai adalah hatinya, bukan sekadar wajah di foto itu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 3

Keesokan harinya di hari senin pagi dimana matahari baru saja bersinar terang.

Linggar berdiri di depan cermin besar di kamarnya, merapikan blazer berwarna navy yang pas di tubuhnya. Ia menarik napas dalam, berusaha memadatkan kepercayaan dirinya.

Di ruang tamu, ia melihat Nadya sedang duduk santai di sofa. Adiknya itu tampak sangat ceria, sibuk menyuapi Edwin kekasihnya yang baru saja datang menjemput untuk berangkat ke kampus bersama.

"Mbak berangkat dulu, ya!" ucap Linggar sambil menyampirkan tas kerja di bahunya.

"Semangat, Mbak! Jangan lupa, Bos baru berarti peluang baru!" seru Nadya dengan mulut penuh tawa. Edwin hanya melambaikan tangan dengan sopan.

Linggar tersenyum tipis, meski di dalam hati ada gemuruh yang tak kunjung reda.

Ia segera melajukan mobilnya membelah kemacetan menuju gedung perkantoran di kawasan Sudirman.

Hari ini adalah hari besar dimana perpisahan Pak Richard sekaligus penyambutan pimpinan baru.

Sebagai sekretaris senior, Linggar adalah pemegang kendali utama acara ini.

Begitu sampai, ia tidak sempat lagi memikirkan ponselnya yang sedari tadi bergetar di dalam tas.

Ia berlari kecil menuju aula besar, memastikan rangkaian bunga, susunan kursi, hingga mikrotik audio berada dalam kondisi sempurna.

"Semua sudah siap, Linggar?" tanya Pak Richard yang menghampirinya dengan senyum kebapakan.

"Sudah, Pak. Semua sudah sesuai jadwal," jawab Linggar formal, meski jemarinya terasa dingin.

Aula mulai dipenuhi oleh para petinggi perusahaan dan staf penting.

Linggar berdiri tegak di samping Pak Richard di atas podium kecil samping panggung.

Tepat pukul sembilan pagi, pintu ganda aula yang besar itu terbuka perlahan.

Suasana seketika hening saat terdengar suara derap langkah sepatu pantofel yang tegas menggema di lantai marmer yang menciptakan irama yang penuh otoritas.

Seorang pria melangkah masuk dengan setelan jas abu-abu gelap yang dijahit sempurna, membungkus tubuh atletisnya dengan sangat elegan.

Linggar langsung membelalakkan matanya saat melihat pria yang tak lain adalah Rangga.

Pria yang semalam memanggilnya 'sayang' dengan suara rendah yang merdu.

Pria yang katanya hanya bekerja di "perusahaan kecil".

Kini pria itu berdiri hanya beberapa meter darinya, bersiap mengambil alih tongkat estafet kepemimpinan perusahaan tempat Linggar mengabdi selama lima tahun terakhir.

Linggar merasa bumi di bawah kakinya retak. Rangga bukan hanya seorang pria dari aplikasi kencan; ia adalah bos besarnya.

Suasana di dalam aula besar itu terasa semakin menekan.

Lampu kristal yang menggantung di langit-langit seolah menyorot tepat ke arah Linggar, membuatnya merasa telanjang di bawah tatapan pria yang baru saja masuk.

Pak Richard tersenyum lebar, menyambut pria muda di hadapannya dengan antusiasme seorang mentor.

"Selamat datang, Rangga Steward. Saya serahkan tongkat estafet ini ke tangan yang tepat."

Kedua pria itu berjabat tangan dengan erat. Rangga membalas dengan anggukan hormat, namun matanya yang tajam tetap terlihat waspada, mencerminkan sosok pemimpin yang tak mudah dikelabui.

Pak Richard kemudian berbalik dan menepuk pundak Linggar dengan bangga.

"Rangga, perkenalkan. Ini adalah Linggar. Dia sekretaris andalan perusahaan ini. Tanpa dia, meja kerja saya mungkin sudah berubah jadi tumpukan kertas yang tak karuan. Dia yang akan membantumu beradaptasi di sini."

Jantung Linggar terasa seperti berhenti berdetak saat merasakan oksigennya di sekitarnya menipis.

Dengan tangan yang sedikit dingin dan gemetar, ia memberanikan diri untuk mendongakkan kepalanya.

Rangga menyodorkan tangannya. Gerakannya tenang, namun memancarkan otoritas yang kuat.

"Rangga Steward," ucapnya pendek.

Linggar menelan salivanya dengan susah payah dan menyambut tangan Rangga, merasakan genggaman pria itu yang kokoh.

"Linggar Anastasya, Pak. Mohon bimbingannya," ucap Linggar dengan suara yang diusahakan seformal mungkin.

Rangga sedikit terdiam. Matanya yang cokelat gelap menyipit, menatap lekat ke arah Linggar.

Ada jeda beberapa detik yang terasa seperti keabadian bagi Linggar.

Genggaman tangan Rangga tidak langsung dilepaskan.

'Suara ini... ' batin Rangga.

Rangga merasa ada sesuatu yang bergetar di ingatannya.

Suara wanita di hadapannya ini memiliki frekuensi dan intonasi yang sangat mirip dengan 'Nadya', wanita yang ia ajak bicara. Namun, ia segera menepis pikiran itu.

Ia menatap sosok Linggar dari atas ke bawah secara sekilas dimana wanita dengan kacamata bingkai hitam, rambut disanggul rapi, dan tubuh yang berisi dalam balutan blazer navy.

Sangat jauh berbeda dengan foto gadis ramping dan modis yang dikirimkan 'Nadya' kepadanya.

Mungkin hanya kebetulan, pikir Rangga dalam hati.

Banyak orang di dunia ini yang memiliki nama yang mirip atau suara yang serupa.

"Senang bertemu denganmu, Linggar. Saya harap kerja sama kita seproduktif yang dikatakan Pak Richard," ucap Rangga akhirnya sambil melepaskan jabatan tangan mereka.

"Tentu, Pak. Saya sudah menyiapkan laporan serah terima di ruangan Anda."

Saat Rangga berbalik untuk berbicara kembali dengan Pak Richard, Linggar menarik napas panjang yang tertahan.

Ia merasa seperti baru saja melewati lubang jarum. Namun, ia tahu ini hanyalah awal dari permainan petak umpet yang berbahaya.

Proses penandatanganan dokumen serah terima jabatan berjalan lancar di ruang CEO yang megah.

Aroma tinta dan parfum maskulin Rangga memenuhi ruangan, membuat konsentrasi Linggar berkali-kali terpecah.

Setelah membubuhkan tanda tangan terakhir, Pak Richard menutup map kulit itu dengan tepukan ringan.

"Nah, sekarang urusan formal selesai," ujar Richard sambil melirik jam tangannya.

"Rangga, Linggar, sebelum saya berangkat ke bandara menuju Yogyakarta sore ini, saya ingin kita makan siang bersama. Anggap saja ini perjamuan selamat datang sekaligus perpisahan."

Linggar merasa perutnya mulas seketika dimana ia harus makan siang dan harus duduk berhadapan dengan Rangga dalam waktu lama.

"Tentu, Pak. Saya yang traktir," jawab Rangga dengan senyum tipis yang tak sampai ke mata.

Saat Pak Richard sedang mengambil jasnya, Linggar dengan gerakan sangat cepat merogoh tasnya.

Di balik saku rahasia, ia mengambil ponsel khusus yang ia gunakan untuk aplikasi kencan.

Dengan jantung berdebar, ia menekan tombol Power hingga layar menggelap sepenuhnya.

'Maaf, Rangga. Aku harus mematikan 'Nadya' sementara waktu agar kau tidak bisa menghubungiku di saat kita duduk di meja yang sama,' batin Linggar dengan wajah yang sedih.

Tak berselang lama mereka tiba di sebuah restoran kelas atas tak jauh dari kantor.

Suasana restoran itu sangat tenang, hanya suara denting sendok dan musik klasik yang mengalun lirih.

Linggar memilih duduk agak menyamping, berusaha tidak terlalu mencolok di hadapan Rangga.

"Jadi, Rangga," Pak Richard memulai percakapan sambil memotong steak-nya.

"Bagaimana kesan pertamamu tentang kantor ini?"

"Luar biasa, Pak. Terutama sistem administrasinya. Saya lihat Linggar sangat teliti," puji Rangga formal.

Matanya beralih ke arah Linggar. "Hanya saja, saya merasa seperti pernah mendengar suara Anda sebelumnya, Linggar. Benar-benar tidak asing."

Linggar hampir saja menjatuhkan garpunya. Ia segera meminum air putihnya untuk menenangkan tenggorokan yang mendadak kering.

"Mungkin karena saya sering berurusan dengan klien besar, Pak. Siapa tahu kita pernah berpapasan di salah satu meeting," jawab Linggar dan berusaha tetap tenang.

Rangga terdiam, ia merogoh saku jasnya dan mengeluarkan ponsel pribadinya.

Linggar membeku saat melihat Rangga mulai mengetik sesuatu di sana.

Di seberang meja, Rangga sedang mencoba mengirim pesan ke 'Nadya'.

Ia ingin bercerita pada gadis itu tentang betapa anehnya hari pertamanya karena bertemu sekretaris yang suaranya mirip sekali dengan calon istrinya itu.

Namun, dahi Rangga berkerut. Pesannya hanya centang satu.

Ia mencoba menelepon Nadya, namun operator menjawab bahwa nomor tersebut sedang tidak aktif.

"Ada masalah, Rangga?" tanya Pak Richard.

Rangga meletakkan ponselnya di atas meja dengan posisi layar menghadap ke bawah.

"Tidak ada, Pak. Hanya seseorang yang tiba-tiba sulit dihubungi. Padahal tadi pagi dia sangat energik."

Linggar menundukkan kepala, pura-pura sibuk dengan salad di piringnya.

Ia bisa merasakan tatapan menyelidik Rangga yang sesekali singgah padanya.

Rasanya seperti sedang duduk di atas bara api. Kebohongan ini mulai terasa seperti jerat yang mencekik lehernya sendiri.

"Nadya, kenapa ponselmu mati di saat aku membutuhkan suaramu?" gumam Rangga sangat pelan, namun masih bisa tertangkap oleh pendengaran tajam Linggar.

Suasana di meja makan terasa semakin menyesakkan bagi Linggar.

Setiap kali Rangga melirik ponselnya dengan raut wajah kecewa, detak jantung Linggar berpacu dua kali lebih cepat.

"Maaf, Pak Richard, Pak Rangga. Saya izin ke kamar mandi sebentar," pamit Linggar sambil berdiri dengan gerakan yang diusahakan tetap tenang.

Setelah mendapat anggukan dari kedua pria itu, Linggar berjalan cepat menuju toilet restoran yang mewah.

Begitu masuk ke dalam bilik dan mengunci pintu, ia langsung menyandarkan punggungnya ke pintu, napasnya terengah-engah seolah baru saja berlari maraton.

Dengan tangan gemetar, ia merogoh tas dan mengeluarkan ponsel "rahasia" itu.

Ia menekannya lama hingga logo ponsel muncul. Begitu sinyal tertangkap, rentetan notifikasi panggilan tak terjawab dari Rangga masuk bertubi-tubi.

"Maafkan aku, Rangga. Aku tidak punya pilihan," bisiknya pedih.

Jemari Linggar bergerak lincah mengetik pesan balasan.

[Maaf ya, Rangga! Tadi ponselku mati kehabisan baterai. Sekarang aku sudah di kampus, ada kelas tambahan yang dosennya galak banget, jadi ponselnya harus aku silent dan aku nggak bisa angkat telepon dulu. Semangat ya buat hari pertamamu di kantor baru!]

Setelah menekan tombol kirim, Linggar segera mematikan kembali ponsel itu.

Ia tidak ingin mengambil risiko ponselnya berbunyi saat ia kembali ke meja makan.

Kemudian ia membasuh wajahnya di wastafel, menatap pantulan dirinya di cermin.

Setelah itu ia kembali ke meja makan, ia melihat perubahan ekspresi di wajah Rangga.

Pria itu tampak lebih santai, bahkan ada secercah senyum tipis di bibirnya sambil menatap layar ponsel sebelum akhirnya menyimpannya kembali ke saku jas.

"Sudah lebih baik, Linggar?" tanya Pak Richard ramah saat melihat sekretarisnya kembali.

"Sudah, Pak. Terima kasih," jawab Linggar singkat.

Rangga mendongak, menatap Linggar dengan tatapan yang sulit diartikan.

"Ternyata dugaan saya salah, Linggar. Saya baru saja mendapat kabar dari teman saya. Dan dia sedang sibuk kuliah. Jadi suara yang saya dengar tadi mungkin memang hanya kemiripan belaka."

Linggar berusaha tersenyum kaku agar tidak membuat curiga.

"Dunia ini sempit, Pak. Kadang frekuensi suara seseorang memang bisa terdengar sama bagi pendengar yang sedang merindukan seseorang."

Rangga sedikit tertegun mendengar jawaban Linggar yang cukup berani dan puitis itu.

"Merindukan seseorang? Anda cukup intuitif untuk seorang sekretaris."

"Itu salah satu keahlian saya, Pak. Memahami apa yang tidak terucap," balas Linggar, yang dalam hati sebenarnya ingin menangis karena ironi ucapannya sendiri.

Pesanannya akhirnya datang dan di depan hidangan mewah itu, Linggar harus berjuang menelan makanannya di bawah pengawasan Bos barunya yang mulai menaruh minat bukan pada wajahnya, tapi pada setiap kalimat yang keluar dari bibirnya.

1
merry yuliana
hmmmmm pertarungan dimulai...kemana hatimu akan berlabuh linggar...sehat dan semangat terus kak..ditunggu crazy upnya
Fitra Sari
lanjut kk
my name is pho: ok kak
besok sahur ya🥰
total 1 replies
falea sezi
lanjut donk
my name is pho: ok kak 🥰
total 1 replies
falea sezi
mending resain pergi jauh
falea sezi
kpn kebongkar jangan bertele tele
falea sezi
cwek munafik gini banyak di fb pasang fto orang buat gaet cowok g jujur ma fisik diri sendiri
falea sezi
jd inget film India yg Rani Mukerji hitrik trs papu siapa ya lupa nama e q
merry yuliana
hmmmm jia you linggar jangan takut pasti ada lelaki yang benar2 melohatmu sebagai dirimu sendiri
Alis Yudha
kenapa aku ikut mewek ya/Whimper/
Nabila
linggar ini kayak aku, kata ibuku duku aku sakit sampai di opnam, harus sering minum obat, padahal eaktu kecil badan ku kecil katanya, karena kebanyakan minum obat sampai sekarang berat badanku bertambah terus, dak tahu mungkin itu sistem metabolismenya berubah sekarang saya umur 38thn dengan bb 115kg, mau nurunin susah banget.memang benar punya badan gemuk itu incecure banget, mau deket ma cowok malu banget kalau dikata2in.
awesome moment
maapkeun. koq jd berharap linggar g bertahan y. biar rangga nyesel. 🤭🤭🤭
kucing kawai
Bagus /Good/
my name is pho: terima kasih kak 🥰
total 1 replies
Fitra Sari
lanjut KK doubel up donkk 😍😍🙏
awesome moment
bagusnya....linggar stl sadar dri koma, menghilang. ke mana, seterah. dgn keprofesionalannya, dia kn bisa menclok jd tenaga profesional dimana2. buat linggar ketemu lingk yg tpt dan org yg tpt. biar j rangga nyesel bin nyesek. udh ngebully linggar c. biar tau rasane diabaikan. biar tau rasane bertahan dalam sakit tp g bisa ngeluh. stl rangga ngerasain yg dirasain linggar, seterah author wis. kn jodoh ditangan author. seblm.nya...tolong, buat rangga merasakan kesakitan linggar
my name is pho: siap 🥰
total 1 replies
Hesty Rahayu
kapok kamu rangga..syukurin...
Fitra Sari
lanjut lagi kk
awesome moment
blm titik, kan? msh koma ta?😉
my name is pho: 🤭🤭 sabar kak.
total 1 replies
awesome moment
tebakan hayooo...koma ato titik?
awesome moment
y bgitulah...org kecewa
Fitra Sari
lanjut KK 😍😍😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!