Kevin adalah definisi pekerja korporat yang malang: terjepit di antara makian bos yang toksik dan tumpukan dokumen yang tak ada habisnya. Pelariannya hanyalah dunia anime dan manga di sela waktu lembur yang menyiksa.
Namun, hidupnya berubah total saat sang ayah kalah judi dan terlilit hutang raksasa pada rentenir. Sebagai penebusan dosa finansial ayahnya, Kevin "dijual" dalam sebuah pernikahan kontrak kepada Ashley—pewaris konglomerat yang dingin, perfeksionis, dan terobsesi pada kemewahan.
Kevin mengira hidupnya akan menjadi neraka di bawah telapak kaki Ashley. Namun, kenyataannya justru terbalik.
Di mansion megah itu, Kevin menemukan surga bagi seorang wibu introvert. Tanpa tekanan kantor, tanpa bos yang marah, dan didukung uang bulanan yang melimpah, ia resmi menjadi "pengangguran kaya" yang dilayani 24 jam. Di balik dinding marmer dan kemewahan Ashley, Kevin bebas menikmati hobi dan kemalasannya.
Tapi, apakah Ashley benar-benar hanya butuh suami pajangan, atau ada harga mahal?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon WesternGirl10, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
11
Keesokan harinya, atmosfer di kampus Collux terasa berbeda bagi Kevin. Ia memulai harinya dengan langkah seribu, bergerak lincah di antara koridor gedung fakultas seolah-olah sedang menjalankan misi spionase.
Kevin menghindari Gwen secara terang-terangan. Tingkah anehnya ini tidak luput dari perhatian Mike dan beberapa mahasiswa lain yang menyadari betapa protektifnya Kevin terhadap ruang pribadinya hari ini.
Gwen, yang biasanya dipuja ke mana pun ia melangkah, dibuat kewalahan. Gadis itu terus mencoba mendekati Kevin, mencarinya ke seluruh sudut kampus-mulai dari perpustakaan hingga taman belakang. Namun, Kevin selalu berhasil lolos dari pandangan matanya tepat sebelum Gwen sempat memanggil namanya.
Bukan tanpa alasan Kevin bersikap demikian. Selain karena ia sudah terikat dalam komitmen pernikahan, bayangan Ashley Giovano jauh lebih menghantui. Ancaman Ashley terasa berkali-kali lipat lebih menakutkan daripada kemarahan putri seorang inspektur polisi.
Bagi Kevin, kehilangan nyawa atau masa depan jauh lebih buruk daripada kehilangan predikat "teman" dari seorang primadona kampus.
Di kafetaria yang bising, Kevin akhirnya bisa bernapas sejenak. Ia menjatuhkan kepalanya ke atas meja yang dingin, membiarkan dahinya bersentuhan dengan permukaan kayu yang keras.
Mike, yang sudah duduk di depannya sejak tadi, hanya bisa menggelengkan kepala sambil menghela napas berat.
"Kenapa kau terus menghindarinya seharian ini, sih?" tanya Mike sambil menopang dagu, menatap Kevin yang tatapan matanya terlihat kosong karena kelelahan mental. "Apakah pengawal yang selalu mengikutimu itu melapor pada si 'tante kaya' misterius itu?"
Kevin mengangkat kepalanya sedikit, mendelik tajam. "Sudah kubilang ribuan kali, dia bukan 'tante kaya'. Aku hanya menghindar karena memang tidak tertarik pada Gwen. Itu saja."
"Tapi dia Gwen, Kev! Kau tidak mendengar rumor kalau ada artis papan atas yang pernah melamarnya tapi ditolak mentah-mentah?" Mike mencoba meyakinkan, nadanya penuh ketidakpercayaan.
"Hah? Kenapa aku harus tahu? Aku sibuk dengan tugas yang menggunung," jawab Kevin datar, meski dalam hati ia tahu alasan sebenarnya jauh lebih rumit dari sekadar tugas kuliah.
"Yah, mungkin memang hanya seorang Kevin Hamilton yang rela menolak primadona secantik Gwen."
Kevin membatu sesaat. Nama itu... Hamilton. Sudah cukup lama ia tidak mendengar nama belakang aslinya disebut secara lengkap sejak ia secara resmi masuk ke dalam lingkaran keluarga Giovano. Kevin berdehem kecil, mencoba menetralkan kegugupannya, lalu mengalihkan pembicaraan.
"Kalau begitu, kenapa tidak kau dekati saja dia kalau kau menyukainya?"
Mike terkekeh hambar, menyandarkan punggungnya ke kursi. "Sudah, tahun lalu. Langsung ditolak pada usaha pertama," jawab Mike dengan senyum yang dipaksakan.
"Padahal saat SMA kau cukup populer di kalangan gadis, ternyata lingkungan memang segalanya."
"Yah, walaupun aku 'agak' berandalan saat SMA, tapi untungnya otakku cukup pintar sampai bisa masuk Collux melalui jalur prestasi," balas Mike, mencoba mencairkan suasana.
"Aku tak bisa membantahnya. Aku ingat dulu aku selalu ingin mengalahkanmu dalam peringkat kelas, tapi kau selalu selangkah di depan." Kevin menatap Mike dengan intens.
Tatapan Mike beralih pada barang-barang yang dibawa Kevin.
"Tapi jujur saja, perusahaan mana yang sebenarnya memberimu beasiswa?"
Kevin terdiam cukup lama. Tenggorokannya terasa kering. Haruskah dia menyebutkan bahwa Ashley, istrinya sendiri, berencana memberikan Giotech C&T padanya?
"Salah satu anak perusahaan Giotech Corp," jawab Kevin akhirnya. Jawaban itu cukup untuk membuat Mike menganga.
"Jangan bilang Giotech Titan?" Mike menggebrak meja pelan, membuat beberapa orang di meja sebelah menoleh. "Itu menjawab teka-teki kenapa kau memiliki ponsel dan laptop model terbaru mereka bahkan sebelum resmi dirilis!"
"Ahahaha..." Kevin tertawa canggung. Ia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, bingung bagaimana harus menjelaskan semuanya tanpa membongkar rahasia pernikahannya dengan Ashley.
Namun, tawa Kevin terhenti seketika saat sebuah aroma parfum mawar yang sangat ia kenali menusuk indra penciumannya. Sebuah tangan lembut mendarat di bahu Kevin, dan suara manis yang mematikan terdengar di telinganya.
"Ketemu," bisik Gwen.
Gwen menggeser kursi dan duduk tepat di samping Kevin, mengabaikan Mike yang mendadak kikuk. "Kenapa kau lari dariku, Kevin? Apa aku melakukan kesalahan?" Gwen menatap Kevin dengan mata bulatnya yang berkaca-kaca, sebuah taktik rayuan yang jarang gagal.
"Aku... aku hanya sibuk, Gwen," jawab Kevin berusaha menjaga jarak.
"Sibuk?" Gwen mendekatkan wajahnya, membuat Kevin bisa merasakan napas gadis itu di pipinya. "Atau kau takut kalau kau terus bersamaku, kau akan benar-benar jatuh cinta padaku? Aku tahu kau memperhatikanku tadi di kelas. Jangan berbohong, Kevin. Matamu tidak bisa menipu."
Kevin menelan ludah. "Gwen, ini tempat umum..."
"Lalu? Aku tidak peduli dunia tahu kalau aku menyukaimu," potong Gwen dengan suara lembut namun tegas. Ia meraih tangan Kevin di bawah meja, mengusapnya perlahan. "Kau tahu, aku bisa memberikan apa pun yang kau butuhkan untuk kariermu. Ayahku, koneksiku... atau hanya diriku sendiri sebagai teman bicaramu setiap malam."
Rayuan maut itu terus mengalir, membuat Kevin merasa terpojok.
Untungnya, dering ponsel di saku Kevin menyelamatkannya. Sebuah pesan singkat dari Jonathan: "Nyonya Ashley sudah tiba di mansion."
Wajah Kevin pucat pasi. Ia segera berdiri, hampir menjatuhkan kursinya.
"Aku harus pergi, Mike. Gwen, maaf, aku ada urusan mendadak."
Sesampainya di mansion mewah yang kini ia tinggali, Kevin merasakan suasana yang berbeda. Biasanya, Ashley akan menyambutnya dengan tatapan dingin atau langsung sibuk dengan tablet kerjanya. Namun malam ini, lampu ruang tengah temaram, dan Ashley duduk di sofa besar dengan menyilangkan kaki, tampak tidak fokus pada dokumen di depannya.
"Kau terlambat sepuluh menit," ucap Ashley tanpa menoleh. Suaranya tidak terdengar marah, melainkan... lesu.
"Ada sedikit kendala di kampus, Ash," jawab Kevin pelan sambil melepas jaketnya.
Ashley berdiri, berjalan mendekati Kevin. Bukannya menginterogasi seperti biasanya, ia justru menyandarkan kepalanya di dada Kevin, menghirup aroma pakaian suaminya itu. "Kau bau parfum wanita," gumamnya, suaranya terdengar lemah dan kekanak-kanakan secara tiba-tiba.
"Ash?" Kevin terkejut dengan perubahan sikap ini.
Ashley melingkarkan lengannya di pinggang Kevin. "Apakah gadis pirang itu masih mengejarmu?" Ashley mendongak, matanya yang biasanya tajam kini terlihat menuntut perhatian.
Kevin hanya bisa terpaku. Ashley Giovano yang dingin dan menakutkan, kini berubah menjadi sosok yang haus perhatian dan emosional dalam sekejap mata.